
Ia baru saja selesai menelepon ketika Rachel muncul dari lorong dan menghampiri dirinya. “Jenson, kau harus melakukan sesuatu terhadap Jesica.”
Jenson bersandar dan memandangi Rachel. Wanita itu kelihatan menakjubkan. Rachel sudah cukup istirahat, ia terlihat sehat dan gusar. “Ada apa dengan Jesica? Bukankah ini waktu tidur siangmu sayang?”
“Itulah yang akan aku bicarakan pada kamu.” Kegusaran tampak di antara kedua alis Rachel, membuat Jenson puas. “Aku sudah tidak membutuhkan tidur siang."
“Tapi, aku rasa kau belum benar-benar pulih sayang.”
“Aku sudah pulih, aku tidak perlu lagi tidur siang dan terus menerus beristirahat, itu sangat membosankan, bukannya membuat aku sembuh malah makin membuatku stres.”
“Apa kau sudah pergi ke dokter untuk menanyakan kondisi fisikmu saat ini?.”
Dicopotnya sebuah ikat rambut dari rambutnya dan mulai memain-mainkannya dengan jemarinya. “Aku sudah pergi ke dokter dan dia mengatakan bahwa aku baik-baik saja, aku sudah boleh melakukan aktivitas seperti biasanya.”
“Aku pikir dia akan mengatakan bahwa kau mempunyai kepala sekeras batu.”
“Itu sangat tidak lucu Jenson, aku sedang serius, aku sedang tidak bercanda.”
“Menurut aku itu sangat lucu, tapi memang benar bukan kalau kepalamu seperti batu yang sangat keras.”
__ADS_1
“Kau tahu tidak, saat aku menemui Jesica untuk meminta satu gelas teh hangat, Jesica sangat terlihat agak kesal denganku.”
“Memang Jesica kesal denganmu karena apa? Apa kau sudah menanyakannya kepada Jesica?”
Rachel memicingkan mata. “Dia bilang ke aku katanya dia kesal karena aku pulih dengan sempurna tanpa perawatan dari dirinya. Maksudku adalah, aku kan sekarang sudah sembuh, tetapi kalau Jesica terus tetap mengomel dan menungguiku, aku bisa sakit lagi, saat ini kan kondisiku sudah membaik tapi dia ingin merawatku, padahal aku sudah tidak perlu di rawat lagi.” Pernyataan itu bergaung tatkala Rachel berdiri tegak di hadapannya, dengan dagu yang didongakkan, menatapnya seakan-akan ia tak pernah sakit satu hari pun dalam hidupnya.
“Dia sangat menyayangimu, seperti aku meyayangimu. Lalu kau mau aku melakukan apa?”
Rachel menampar tangan Jenson dengan ikat rambut talinya. "Berhenti-lah menggombal, aku bukan penari-penari itu."
"Memang bukan, kau adalah istriku."
Jenson paham bahwa sanjungan Jesica ingin membuat Rachel cemburu. “Wanita itu cepat mengerti juga,“ Ia menghentikan bantahan Rachel dengan mengangkat sebelah tangannya. “Aku tak pernah menolak apa pun permintaanmu, jadi aku garus apa?”
"Jenson, Jesica mulai membuatku gila dengan selalu mencerewetiku, lama-lama aku bisa stres mendengar cerewetnya mulut Jesica.” Rachel memiringkan kepalanya. “Lalu menurutmu bagaimana?”
“Jesica akan terlalu sibuk beberapa hari yang akan datang untuk bisa mencereweti dirimu. Dia akan mengurusi pesta makan malam yang akan datang nanti.”
“Pesta makan malam apa maksudmu? aku tidak mengerti.”
__ADS_1
“Pesta makan malam yang akan kita selenggarakan minggu depan untuk semua saudara kita, kita akan berpesta di malam itu dan aku pastikan semua saudara kita akan datang di malam itu.”
“Kau memang gila Jenson.”
“Sudah kau nikmati saja pesta malam nanti, dan kau persiapan dirimu untuk bertemu dengan saudara kita yang tercinta.”
“Terserah kau saja Jenson, aku tidak pernah cinta kepada mereka, mungkin hanya kau saja yang sangat mencintai mereka.”
“Yang sangat aku cintai hanya kau Rachel.”
"Aku bosan mendengar gombalan tipuanmu." Rachel melirik ke arah telepon, teringat bahwa Jenson sedang menggunakannya ketika ia muncul dari lorong. “Kau sedang merencanakan apa?”
“Cuma menyiapkan skenarionya. Kau tenang saja ini akan berjalan dengan lancar.” Jenson menggerak-gerakkan kakinya, sudah membayangkannya. “Aku pikir kita akan meminta Jesica menyiapkan piranti pecah-belah yang terbaik, meskipun aku ragu kita punya waktu untuk mempergunakannya.”
“Jenson.” Rachel tak ingin kelihatan seperti pengecut, tapi kecelakaan itu telah mengajarkannya sesuatu tentang berhati-hati dan terus menjaga diri. “Kita tidak hanya akan mengundang para saudar kita. Salah satu seorang dari mereka sudah ingin mencoba membunuh kita apa kau tidak ingat itu? Aku hampir mati Jenson karena mereka, aku benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran kamu, kau sungguh gila.”
“Aku tahu Rachel. Hanya saja....”
“Hanya saja apa Jenson? kau malah mengundang mereka semua untuk datang ke rumah Kakek Robert, kau mau kita benar-benar di bunuh dengan mereka?”
__ADS_1
“Dengarkan aku dulu, tapi kita harus tetap mencari tahu siapa yang sudah mencoba membunuh kita, kau tenang saja serahkan semuanya kepadaku, aku yakin ini akan berjalan dengan lancar, dan aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu Rachel apalagi mencoba membunuhmu.”