Surat Wasiat Kakek Robert

Surat Wasiat Kakek Robert
Chapter 46


__ADS_3

Kepala Rachel dimiringkan ke belakang, mengundang, menggoda. Jenson mengencangkan genggamannya. Jari-jarinya dihunjamkan ke rambut wanita itu dan tersesat dalam ketebalannya. Ia merasakan rasa butuh itu merayapi tubuhnya sehingga ia menegang menghadapi ketundukan Rachel yang tiba-tiba dan tak disangka-sangka. Rachel tak pernah menyerahkan diri, dan sebelum saat ini Jenson tak mengetahui betapa menggairahkannya mendapati Rachel melakukan itu. Tanpa memikirkan waktu dan tempat, mereka menjatuhkan diri ke sofa.


Mereka bercinta tanpa terburu-buru, tanpa bara api, tanpa desir angin. Penuh perhatian, mereka saling memberi. Sebuah sentuhan, sebuah rasa, gumaman permintaan. Api berkobar pelan di belakang mereka sementara malam mulai meruap di balik jendela. Jari saling mengusap bibir saling menjelajahi sehingga mereka mempelajari kekuatan perangsangan tanpa kata-kata. Meskipun sudah menjadi sepasang kekasih selama berminggu-minggu, untuk pertama kalinya mereka menyertakan cinta pada nafsu.


Ruangan itu sepi, penerangannya remang-remang. Jika Rachel tak pernah mencari-cari cinta, cinta itu menemukannya di sana, terbungkus dalam pelukan Jenson. Mereka lebih mendekat, namun nyaman. Lebih jauh mereka menyelam, namun dengan santai. Saat mereka menyatu, Rachel merasakan garis kemandiriannya yang tegas menjadi retak dan membiarkan Jenson menerobos.


Kebahagian yang mengiringinya menuju kepuasan puncak itu.


Mereka masih berdekapan, setengah mengantuk, ketika telepon berdering. Sambil bergumam penuh keluh-kesah, Jenson mengulurkan tangan melewati kepalanya ke arah meja dan mengangkat gagang telepon.


“Halo.”


“Bisa bicara dengan Jenson Dirgantara?”


“Yeah, ini Jenson.”


“Jenson, aku Fanny.”


Jenson mengucek-ngucek matanya sambil berusaha mengingat-ingat wajah si empunya nama. Fanny, si pirang mungil yang tinggal di apartemen di sebelahnya. Samar-samar ia ingat pernah meninggalkan nomor telepon kediaman kakeknya kalau-kalau sesuatu yang penting dikirim ke apartemennya. “Hai.” Dilihatnya mata Rachel berkejap dan terbuka.


“Jenson, aku tak suka melakukan ini, tapi aku harus menelepon. Aku sudah menelepon polisi, mereka sedang dalam perjalanan ke sini.”


“Polisi?” Ia berjuang menuju ke posisi setengah duduk. “Apa yang terjadi?”


“Kau telah dirampok.”


“Apa?” Sontak ia berdiri, nyaris menjatuhkan Rachel ke lantai. “Kapan?”


“Aku tak yakin. Aku sampai ke rumah beberapa menit yang lalu dan memperhatikan pintumu tidak tertutup dengan benar. Kupikir kau kembali, jadi aku mengetuknya. Lalu, kudorong pintu itu sampai terbuka sedikit. Tempat itu seperti kapal pecah. Aku segera pergi ke sini dan memanggil polisi. Mereka memintaku untuk menghubungimu dan.”


“Terima kasih, malam ini aku akan mencoba datang.”

__ADS_1


“Oke. Hey, Jenson, aku turut menyesal.”


“Yeah. Nanti kita ketemu.”


“Jenson?” Rachel menyambar tangannya segera setelah Jenson menutup telepon.


“Seseorang masuk ke apartemenku.”


“Oh, tidak.” Rachel sudah menduga ketenangan itu tidak akan bertahan lama. “Apa kau berpikir orang itu...”


“Aku tidak tahu.” Ia menyusupkan tangannya ke rambutnya. “Mungkin. Atau itu mungkin seseorang yang memperhatikan bahwa aku tidak berada di rumah selama beberapa waktu.”


Rachel merasakan kemarahan dalam diri Jenson, tapi ia tahu ia tak sanggup meredakannya. “Kau harus pergi.”


Setelah mengangguk, digamitnya tangan Rachel. “Pergilah bersamaku.”


“Jenson, salah satu dari kita harus berada di sini menemani Jesica dan Nyoman.”


“Kau harus pergi,” ulang Rachel. “Kalau pelakunya salah satu dari anggota keluarga kita, mungkin kau bisa menemukan sesuatu untuk membuktikannya. Pokoknya kau harus melakukannya. Aku akan baik-baik saja.”


“Aku tidak ingin kejadian kemarin saat aku pergi terulang lagi.”


Rachel mengangkat sebelah alisnya. “Aku bukannya tidak mampu, Jenson.”


“Tapi kau akan sendirian.”


“Ada Bruno. Jangan memandangku seperti itu,” perintahnya. “Dia mungkin memang tidak ganas, tapi dia pasti tahu bagaimana caranya menggonggong. Setiap pintu dan jendela akan kukunci.”


Jenson menggelengkan kepala. “Tidak cukup baik.”


“Baiklah, kita akan memanggil polisi lokal. Mereka sudah mendapatkan laporan dari Zephaniah mengenai para penyusup itu. Kita akan menjelaskan bahwa aku akan sendirian malam ini dan meminta mereka mengawasi tempat ini.”

__ADS_1


“Lebih bagus.” Lantas ia bangkit. “Kalau ini jebakan…”


“Jika begitu kali ini kita akan bersiap diri.” Jenson termangu, memikirkannya, lalu mengangguk. “Aku akan memanggil polisi.”


...****************...


Begitu Jenson berlalu, Rachel memasang gerendel berat di pintu utama. Meskipun mereka sudah menghabiskan waktu satu jam penuh, ia bersyukur Jenson bersikeras untuk memeriksa semua pintu dan jendela bersama-sama dirinya. Rumah itu, dengan Rachel aman di dalamnya, sudah terkunci rapat.


Secara keseluruhan rumah itu terlalu sunyi.


Sambil tetap berjaga-jaga, Rachel pergi ke dapur dan mulai mengaduk-aduk peralatan dapur dan panci-panci. Ia terpaksa sendirian, tapi bukan berarti ia mesti berdiam diri begitu saja. Ia ingin bersama Jenson, berada di sampingnya sewaktu laki-laki itu menghadapi pendobrakan apartemennya. Apakah sama frustrasinya bagi Jenson untuk pergi seorang diri, Rachel bertanya-tanya, seperti halnya bagi dirinya untuk tetap tinggal di sini? Itu tak terhindarkan. Ada dua orang yang sudah tua di rumah yang tak bisa ditinggalkan. Dan mereka perlu makan.


Ayam itu dimaksudkan untuk menjadi wujud suatu usaha bersama dan semacam jeda dari hidangan-hidangan sembrono yang selama ini sudah mereka ciptakan. Jenson mengklaim dirinya mengetahui setidaknya dasar-dasar bagaimana menggoreng sampai garing. Sewaktu ia secara sukarela melibatkan diri dengan ayam itu, Rachel ditugaskan untuk menghaluskan kentang. Rachel menganggap kompetisi, jika bukan yang lainnya, bakal memperbaiki hasil akhirnya.


Rachel bekerja sendirian dan memutuskan bahwa usahanya untuk memasak akan menjauhkan pikirannya dari masalah-masalah segar. Memerlukan teman, dipijitnya tombol unit di dinding dapur dan memutar-mutar saluran radio sampai ia menemukan stasiun yang memutar musik country. Suara Dolly Parton melengking nyaring. Penuh perasaan puas, diambilnya salah satu buku masak milik Jesica dari lemari dan mulai mencari bagian indeksnya. Ayam goreng dibuat untuk piknik, renungnya. Apa susahnya?


Dua meja dibuatnya penuh dan berhamburan benda-benda, dan tepung sudah membalut pergelangan tangannya sewaktu telepon berdering. Menggunakan selembar lap, Rachel merenggut gagang pesawat telepon yang ada di dapur. Kakinya sedang mengetuk-ngetuk lantai mengikuti irama menarik lagu On the Road Again.


“Halo.”


“Rachel Cecilion?”


Sambil memusatkan pikiran, Rachel meregang kan kabel telepon ke meja dan memungut sepotong ceker ayam. “Ya.”


“Dengar baik-baik.”


“Bisa lebih keras bicaranya?” Seraya menyelipkan lidah di antara gigi-giginya, Rachel mencelupkan ceker ayam itu ke adonan tepungnya. “Aku tidak begitu jelas mendengarmu.”


“Aku harus memperingatkanmu dan tidak ada banyak waktu. Kau dalam bahaya. Kau tidak aman di rumah itu, jangan sendirian.”


Rachel terdiam membeku, hingg masakan itu terjatuh ke lantai dan mendarat di kakinya. “Apa? Siapa ini?”

__ADS_1


“Dengarkan saja. Kau sendirian karena sudah di atur. Seseorang akan mencoba mendobrak rumah itu malam ini.”


__ADS_2