
"Menurutmu ini karena sesuatu yang dia makan?”
“Jesica sudah mengawasi makanannya seperti ibu sambung anjing ini.” Tiba-tiba Bruno meronta dan menggigil serta berupaya melegakan diri dari apa yang telah menyerang perutnya. Lelah berusaha, ia kembali berbaring sambil berganti-ganti posisi. “Sesuatu yang diminumnya,” gumam Jenson.
Rachel menimang dan memanjakan Bruno, ia membelai anjing itu dengan lembut. “Seharusnya sedikit sampanye tadi tidak membuatnya sakit.” anjing itu sudah mulai bisa beristirahat, Rachel menjadi sedikit lebih rileks. “Nyoman tidak akan senang melihat apa yang di tinggalkan Bruno di karpet. Mungkin sebaiknya aku…” Bicaranya terputus saat Jenson menyambar lengannya.
“Berapa banyak sampanye yang kau minum?”
“Hanya seteguk. Kenapa...” Bicaranya terputus lagi, melotot ke arah Jenson. “Kau pikir ada sesuatu yang salah di dalam sampanyenya?”
“Kupikir aku seorang idiot karena tidak mencurigai hadiah tanpa pengirim.” Jenson menyambar dagu Rachel. “Hanya seteguk. Kau yakin? Bagaimana keadaanmu?”
Kulit Rachel memang terasa dingin, tapi ia masih mampu menjawab dengan penuh ketenangan. “Aku baik-baik saja. Lihat gelasku, masih penuh.” Ia menoleh untuk melihat sendiri gelas itu. “Kau pikir sampanye itu diracuni?”
“Kita akan mencari tahu.”
Nalarnya bekerja, membuat Rachel menggelengkan kepala. “Tapi, Jenson, sampanye itu kan di segel dengan rapih. Bagaimana cara memasukkan racun ke dalamnya?”
“Pada bab awal penayangan Logan, aku menggunakan muslihat seperti ini.” Jenson kembali berpikir, mengingat-ingat bagaimana ia mengetes teorinya dengan menambahkan pewarna makanan ke dalam sebotol Dom Perignon. “Si pembunuh meracuni sampanye itu dengan cara menembakkan sianida melalui sumbat itu secara hipodermis.”
“Fiksi,” cetus Rachel, seraya berupaya melawan desiran yang bergelora. “Itu hanya fiksi.”
“Botol itu akan kita bawa ke Lab untuk dites.”
__ADS_1
Gemetar, Rachel menelan ludah. “Dites di Lab?” ucapnya tersengal-sengal. “Baiklah, kurasa itu keputusan yang tepat agar kita yakin. Apa kau mengenal seseorang yang bekerja di Lab?”
“Kita pemilik Lab itu.” Jenson mengamati anak anjing yang tengah tertidur itu. “Atau kita akan menjadi pemiliknya beberapa bulan lagi. Itu hanya satu dari banyak alasan mengapa seseorang mungkin mengirimi kita sampanye yang diracuni.”
“Jenson, jika sampanye itu memang benar sudah diracuni…” Rachel mencoba membayangkannya dan mendapati bahwa hal itu nyaris tidak mungkin. “Kalau sampanye itu diracuni,” ulangnya, “Ini bukan lagi sekadar lelucon.”
Jenson memikirkan apa yang mungkin telah terjadi jika perhatian mereka tidak teralihkan dari sampanye itu. “Ya, ini bukan lagi sekadar lelucon.”
“Ini tidak masuk akal.” Gelisah dan berjuang untuk menenangkan dirinya sendiri, Rachel bangkit. “Vandalisme bisa kulihat, permainan picik yang mengganggu bisa kumengerti, tapi aku tidak bisa begitu saja menuduhkan semua ini pada keluargaku. Kita mungkin terlalu membesar-besarkan masalah ini. Bruno terlalu heboh sendiri. Sebetulnya dia bisa saja sudah mengidap penyakit sejak di toko hewan.”
“Aku sudah mengirimnya ke dokter hewan untuk di vaksin sebelum dia dikirim ke sini kemarin.” Nada suara Jenson memang tenang, namun matanya dipenuhi bara. “Dia sehat-sehat saja, Rachel, sampai dia melompat ke sampanye yang tumpah itu.”
Satu kali memandang ke arah Jenson memberitahu Rachel bahwa penalarannya tidak berguna. “Baiklah. Sampanye itu seharusnya memang diperiksa supaya kita bisa berhenti berspekulasi. Kita tidak bisa melakukan apa-apa tentang itu sampai besok lusa. Sementara itu, aku tidak ingin berpanjang-panjang membicarakannya.”
“Bukan.” Ia mengangkat Bruno yang mengerang, lalu mendekapnya di dadanya. “Tapi sampai itu terbukti, aku tidak ingin berpikir bahwa salah seorang anggota keluargaku mencoba membunuhku. Aku akan membuatkan Bruno minuman hangat, lalu aku akan membawanya naik. Malam ini aku akan menjaganya.”
“Baiklah.” Melawan kombinasi frustrasi dan marah, Jenson berdiri di depan perapian.
...****************...
Saat tengah malam Jenson tak bisa tidur, ia juga tak bisa bekerja, akhirnya ia memutuskan untuk melihat Rachel dan Bruno di kamarnya.
Rachel membiarkan lampu menyala remang-remang di ruangan itu sehingga selimut dan seprainya tampak kemerah-merahan. Di luar, hujan mengalir sangat deras. Jenson melihat Rachel meringkuk di tempat tidur yang lebar, selimut menyelubunginya sampai ke dagu. Api di perapian nyaris padam. Di permadani di depan perapian, anak anjing itu mendengkur. Rachel sudah menyelimutinya dan menyiapkan mangkuk pendek berisi sesuatu yang sepertinya adalah teh hangat. Jenson membungkuk di samping si anjing.
__ADS_1
“Kawanku yang malang,” gumamnya. Saat ia membelai Bruno, anjing itu bergerak-gerak, mengerang, kemudian terdiam lagi.
“Kurasa dia sudah merasa lebih baik.”
Jenson menoleh, melihat cahaya yang terpancar di mata Rachel. Rambutnya kusut, kulitnya pucat dan lembut. Bahunya, yang dicondongkan, tampak dari balik selimutnya. Rachel kelihatan cantik, menggairahkan, menggoda. Jenson mengatakan pada dirinya sendiri bahwa ia sudah sinting, Rachel tidak termasuk dalam kriteria wanita cantik yang ada listnya.
Jenson kembali menengok ke anjing itu. “Biarkan Bruno tidur, kau bisa menambahkan kayu bakarnya agar anjing ini hangat.” Jenson mengaduk-aduk kotak penyimpanan kayu bakar, lalu memasukkan sebatang di perapian.
“Terima kasih. Kamu tidak bisa tidur?”
“Begitulah.”
“Aku juga.” Mereka duduk terdiam selama beberapa saat, Rachel di tempat tidur besar, Jenson di permadani dekat perapian. Api berkobar menjilati kayu yang baru saja ditambahkan ke dalamnya, membinarkan cahaya dan bayangan ke segala penjuru. Rachel mendekap lututnya. “Jenson, aku takut.”
Itu bukanlah pengakuan yang mudah di ucapkan oleh seorang Rachel, tapi Jenson sangat menghargai pengakuan Rachel. “Kita bisa pergi dari rumah ini untuk melupakan semua masalah ini dan menikmati liburan.”
Rachel tidak mengatakan apa-apa selama semenit, tapi ia mengamati Jenson dengan cermat. Wajahnya dipalingkan ke arah api sehingga ia terpaksa mengira-ngira bagaimana perasaan Jenson dari caranya berbicara. “Itukah yang ingin kau lakukan?”
Jenson berpikir tentang Kakek Robert, lalu berpikir tentang Rachel. Setiap otot dalam tubuhnya menegang. “Tentu.” Ia mengucapkan itu dengan begitu entengnya. “Aku juga harus memikirkan diriku sendiri.”
“Untuk seseorang yang mencari nafkah dengan cara mengarang cerita, kau ini pembohong yang buruk.” Rachel menunggu sampai Jenson berbalik untuk menatapnya. “Kau tidak ingin pergi kemana pun. Yang kau inginkan adalah mengumpulkan semua anggota keluarga kita dan menginterogasi mereka satu-persatu," ucap Rachel. “Tapi hal terakhir yang kau inginkan adalah menyerah.”
“Ya, aku memang ingin menyerah.” Jenson bangkit dan, dengan tangan di saku, berjalan bolak-balik di depan perapian. Ia dapat mencium bau asap dan kayu terbakar bercampur dengan aroma ringan salah satu botol yang disimpan di lemari Rachel. “Bagaimana denganmu? Dari awal kau sudah tidak ingin terlibat dengan masalah ini. Aku yang membujukmu supaya berubah pikiran. Aku merasa bersalah dan bertanggung jawab.”
__ADS_1