
“Kurasa dengan surat perjanjian membuat kita memiliki batasan mengenai apa yang boleh dan tidak boleh kita lakukan. Baiklah aku bisa beres-beres dan pindah dari apartementku dalam tiga hari. Paling lama empat hari, dan di hari kelima kita bisa menikah,” ucap Rachel. "Aku hanya ingin pernikahan yang biasa saja, cukup pemberkatan tanpa adanya pesta dan hal yang lainnya."
“Oke.” Detik itu juga bahunya menjadi rileks, Jenson tersadar bahwa ia sempat tegang menanti penolakan Rachel. Saat ini ia tak ingin mempertanyakan kenapa hal itu begitu penting baginya. “Setuju?” ucap Jenson mengulurkan sebelah tangannya.
Rachel mendongakkan kepala tepat sebelum telapak tangannya bertemu dengan telapak Jenson. “Setuju,” ia mengiyakan. Rachel terkejut mendapati tangan Jenson keras dan tulangnya agak menonjol, ia mengira tangan itu akan lembut dan lembek. Apalagi yang dilakukan Jenson hanyalah mengetik. Mungkin enam bulan yang akan datang akan diramaikan oleh beberapa kejutan darinya.
“Bisakah kita memberitahu yang lain?” ucap Rachel
“Mereka pasti ingin membunuh kita karena warisan itu.”
Senyum Rachel pelan-pelan memudar, menarik sudut-sudut wajahnya. “Aku tahu. Kita coba untuk tidak merasa senang melihat kesusahan orang lain.”
Ketika mereka keluar, beberapa kerabat mereka yang sedang berkeluh kesah sudah tumpah ruah di koridor, mereka saling berdebat bersama-sama.
“Kau menghabiskan bagianmu untuk barbel dan jus wortel,” tuduh Yagil pada David. “Setidaknya aku tahu apa yang harus kulakukan dengan uangku,” ucap David.
“Dia akan menghabiskannya untuk taruhan pertandingan sepak bola,” timpal Walt seraya mengembuskan asap cerutu yang serasa mencekik leher.
“Kau bisa menggunakan bagianmu untuk mengambil kursus cara berbicara dalam kalimat yang lengkap dan jelas.” Yosef menyeruak dari balik asap dan merapikan dasinya. “Aku satu-satunya putra Robert yang masih hidup. Harusnya aku yang mendapatkan warisan lebih banyak, kenapa jadi dua bocah ingusan itu yang mendapatkan warisan.”
“Kakek Robert jauh lebih kompeten dibandingkan kalian semua walau di satukan sekaligus.” ia merasa frustrasi bercampur muak, Rachel melangkah maju. “Kakek memberikan dengan tepat, apa yang dia ingin kalian satu per satu miliki.”
Yagil mengeluarkan sebuah kotak rokok pipih berwarna keemasan sambil melirik sepupunya. “Tampaknya Rachel berubah pikiran soal uang itu. Well, kau akan mengambil uang warisan itu kan?”
Jenson meletakkan tangannya di bahu Rachel dan merem*snya pelan sebelum gadis itu sempat kabur. “Tenanglah, sepupu,” bisik Jenson.
“Well, kurasa itu cukup adil.” Istri David angkat bicara seraya mengulurkan tangan. Ia menyalami Rachel dan Jenson dengan gagah. “Mestinya kau membuat gym di tempat ini untuk membesarkan otot badanmu. Ayo David, kita pulang!”
__ADS_1
Tanpa bicara, David mengikuti istrinya keluar.
“Cuma ada otot di dalam kepala dia,” gumam Yosef “Ayo, Mona kita juga pulang.” Ia berjalan mendahului istrinya, tapimkemudian ia berhenti cukup lama untuk melotot pada Rachel dan Jenson.
Rachel memberi Yosef senyumnya yang termanis. “Semoga perjalanan pulangmu menyenangkan Paman Yosef,” ujarnya.
“Surat pengesahan hakim,” gerutu Walt, lalu melangkahkan kaki untuk pergi.
“Oh, Jenson.” Sambil mengerjapkan bulu mata, Bianca merangkul lengan Jenson. “Menurutmu, kapan aku bisa mendapatkan cermin Rose Black Pinkku? Aku sudah tidak sabar memilikinya.”
Jenson memandangi wajah cantik berbentuk hati itu. Bola matanya semurni birunya air di iklim tropis. Ia berterima kasih pada Kakek Robert karena tidak menyuruhnya menikah dan menghabiskan enam bulan bersama Sepupu Bianca. “Aku yakin Mrs. Zephaniah akan mengirimkannya padamu secepat mungkin.”
“Ayolah, Bianca, kami akan mengantarkanmu ke bandara.” Yagil meraih lengan Bianca dan menepuknya, lalu tersenyum pada Rachel. “Aku khawatir, apa jadinya jika aku tidak mengenalmu dengan lebih baik. Kau tidak akan sanggup bertahan enam hari bersama Jenson, apalagi enam bulan. Kalian sama-sama mudah naik darah,” ucapnya yakin pada Jenson. “Belum seminggu juga kalian akan saling membunuh.”
“Jangan menghabiskan uang Pak Tua itu dulu,” Jenson memperingatkan. “Kami akan melalui enam bulan itu karena satu alasan saja, untuk membuatmu dongkol.” Ia tersenyum saat mengatakan itu, senyum akrab penuh arti mencabut segala keangkuhan di wajah Yagil.
“Yagil,” ujar Bianca ketika mereka melangkah keluar. “Apa yang akan kau lakukan dengan semua korek api itu?.”
“Membakar jembatan," jawab Yagil malas.
“Apa kau khawatir bermusuhan dengan mereka?" tanya Jenson ke Rachel.
Sambil mengangkat bahu, Rachel mengayunkan kaki ke arah vas bunga mawar, lalu memandangi Jenson. “Well, aku tak pernah punya kesulitan dalam memusuhimu. Menurutmu kenapa, ya?”
“Kakek Robert selalu bilang bahwa kita ini terlalu mirip satu sama lain.”
“Sungguh?” tanyanya dengan angkuhnya, Rachel menaikkan sebelah alisnya. “Kau dan aku, Jenson Dirgantara, nyaris tak punya kesamaan apa pun.”
__ADS_1
“Kalau begitu kita punya enam bulan untuk membuktikannya," ucapnya di kuasai oleh dorongan hati, Jenson mendekat dan menempatkan sebuah jarinya di bawah dagu Rachel. “Dalam enam bulan ini kita mungkin akan mengalami bermacan-macam hal, tapi bosan bukan salah satu dari itu.”
"Ya, aku akan tinggal bersamamu hanya demi Kakek Robert. Nanti aku akan menyiapkan peralatan-peralatanku di sini, aku ingin tetap bisa bekerja dan berkarya mesti hanya terkurung di dalam rumah selama enam bulan,” ucap Rachel.
“Aku pun akan tetap menulis naskah seperti biasanya, dan akan aku kirim melalui email,” ucap Jenson.
Rachel memungut sebatang mawar dari vas itu. “Kok kamu bisa menyebut naskah tak masuk akal itu sebagai tulisan?”
“Bagaimana dengan bebatuanmu? Bagaimana kau bisa menyebut berbatuan aneh yang kau rangkai itu sebagai seni.”
Pipi Rachel merah padam karena kesal, hal itu justru membuat Jenson merasa senang.
“Kau tidak akan mengenali seni jika seni itu datang dan menggigit hidungmu. Perhiasan-perhiasanku yang lebih dahulu melakukan itu, agar kau bisa menghargainya."
Senyum Jenson menyiratkan minat penuh suka cita. “Memangnya berapa nilai untuk perhiasan konyolmu itu?"
Rachel merogoh-rogoh tasnya, mencari selembar tisu, bersin di atasnya, kemudian menutup rapat tasnya. “Yang jelas lebih mahal dari pada wanita-wanita yang kau kencani itu!!"
Mrs. Zhepaniah datang menghentikan perdebatan mereka berdua. “Apa aku bisa menyimpulkan bahwa kalian berdua memutuskan untuk menerima syarat-syarat wasiat itu?”
Enam bulan, pikir Rachel. Ini akan jadi musim hujan yang sangat, sangat panjang.
Enam bulan, pikir Jenson. Ia akan menjadikan aster pertama yang ditemukannya di bulan Desember berubah menjadi warna merah tua.
“Kau bisa mulai menghitung hari di akhir minggu ini,” ucap Jenson kepada Mrs. Zhepaniah, kemudian beralih ke Rachel “Setuju, Sepupu?”
Rachel mendongak. “Setuju.”
__ADS_1