
“Hanya sok pamer kalau kau membelinya demi tujuan status sosial.”
“Dan, tentunya, kau tidak begitu.”
“Aku tidak begitu, aku membelinya karena biar hemat bensin saja.” Ketika Rachel mendengus, Jenson menoleh untuk menyeringai padanya. “Dan karena kelihatannya sangat bagus kalau ditumpangi wanita berambut warna merah seperti kamu ini.”
“Dan berwarna pirang, juga cokelat sangat indah bukan?"
“Rambut mu merah bukan cokelat, rambut sendiri saja tidak tahu apa warnanya”
“Rambutku pirang dan cokelat bukan merah, sudah diam kau jangan komentar tentang rambut ku.”
“Rambut merah,” tegas Jenson seraya memain-mainkan rambut Rachel dengan jemarinya.
“Sudah jangan mainkan rambut ku nanti kusut.”
“Aku suka rambutmu, sangat indah.”
“Yah memang rambut ku sangat indah.”
“Yeah.”
Seharusnya itu tak membuat Rachel tersenyum, tapi nyatanya sebaliknya. Rachel masih tersenyum sewaktu mereka mulai menyusuri jalanan panjang dan berliku itu. “Kita tak bisa mengeluh pada petugas jalan,” ucapnya malas-malasan. “Kecuali pada dua minggu bulan lalu, jalanan cukup lapang.” Ia melirik tumpukkan lumpur sisa banjir yang sudah dipinggirkan ke sisi jalan.
“Sayang sekali mereka menolak membersihkan jalan raya, hanya menyingkirkan lumpur itu ke sisi jalan.”
“Sangat mengganggu pengendara.”
“Kau tahu kau senang mengendarai traktor kecil itu. Kakek Robert selalu mengatakan bahwa saat ia mengendarai itu membuatnya merasa tangguh dan macho.”
__ADS_1
“Sampai-sampai dia mengendarainya keliling lapangan seperti orang gila.”
“Ya memang kakek tua itu terlihat agak gila.”
“Yeah, gitu-gitu juga dia kakek kita.”
“Yeah kau benar, aku sangat menyayangi Kakek Robert.”
“Aku merasa kakek tua itu sudah seperti orang tua aku, cuman Kakek tua itu yang bisa ngertiin aku, ya walaupun sedikit nyeselin.”
“Kau benar Jenson, cuman. Kakek Robert yang bisa ngertiin kemauan kita, dan cuman kakek tua itu yang menyayangi kita.”
“Yeah kau dan aku sama-sama sangat menyayangi kakek tua itu bukan?.”
“Yead aku sangat menyayangi nya.”
Saat mereka sampai di tikungan, Jenson menginjak rem dan menurunkan persneling. Rachel mencondongkan tubuhnya ke depan dan mengutak-atik stereo. “Kebanyakan orang memang mempunyai peralatan semacam ini di ruangan mereka masing-masing.”
“Kau juga tidak punya stereo untuk diletakkan di sana,” kenangnya. “Televisi pun kau tidak ada.”
“Apa kau mau membelikan untukku?.”
“Masih banyak barang yang harus ku beli, aku memilih untuk membeli barang-barang ku saja di banding membelikan mu televisi.”
“Dasar pelit.”
“Aku tidak pelit, aku hanya hemat saja.”
Jenson mengangkat bahu, tapi langsung mengingat apa yang hilang dari apartemennya. “Asuransi akan menggantinya.”
__ADS_1
“Polisi menanganinya seolah-olah itu pendobrakan biasa, tetapi aku yakin ini bukan pendobrakan biasa, pasti ada seseorang yang sudah mengincar apartemenku sejak lama.” Rachel berpindah saluran. “Mungkin memang pendobrakan biasa, kau jangan berpikir macam-macam lah, serahkan semuanya ke polisi biar mereka yang urus.”
“Atau itu boleh jadi hanya tabir asap. Seandainya saja kita...” Bicara Jenson terputus saat mereka mendekati tikungan lagi. Ia kembali menginjak rem namun kali ini, pedal itu sama sekali tidak berfungsi. Jenson merasa sangat panik, bagaimana bisa pedal remnya tidak berfungsi, ini sangat berbahaya untuk mereka, mereka belum ingin mati dan belum ingin menyusul kakek tua itu.
“Jenson, kalau kau sedang mencoba membuatku terkesan dengan kemampuan mengemudimu, itu tidak berhasil. Jenson ini sungguh tidak lucu kau jangan membuatku panik.“ Secara naluriah, Rachel mencengkeram pegangan pintu itu sekuat tenaga yang ia punya, ketika mobil itu meluncur dengan kecepatan yang tinggi menuruni tikungan.
Memegangi kemudi dengan sebelah tangannya saja, Jenson lalu menarik rem darurat. Mobil itu terus meluncur turun dengan kecepatan di atas rata-rata. Dicengkeramnya kemudi itu dengan kedua tangannya dengan sekuat tenaga dan berupaya melawan tikungan berikutnya. “Sialan remnya blong, bagaimana bisa seperti ini.” Sambil berkata begitu, Jenson melirik ke arah penunjuk kecepatan yang bercokol di angka tujuh puluh.
Buku-buku jari Rachel seketika memutih. “Tanpa rem, kita tidak akan bisa selamat sampai ke bawah nanti.”
Tak terpikir oleh Jenson untuk berbohong. “Ya, itu bisa jadi kita tidak akan selamat” Ban-ban berdecit saat Jenso memutari tikungan berikutnya. Tanah berhamburan dilindas roda ketika mobil itu mulai meluncur tak terkendali. Terdengar suara gesekan logam saat sayap roda menyeruduk pagar.
“Bagaimana bisa remnya blong, apa kau tidak memeriksa mobil sebelum kita pergi?.”
“Aku sudah meriksa mobil 2 hari yang lalu, mobil masih aman-aman saja tidak ada kerusakan.”
“Lalu kenapa sekarang bisa blong?.”
“Yeah mana aku tau, kemarin aman-aman saja kok.”
“Aku belum siap untuk menyusul kakek Robert.”
“Yah kau pikir aku siap?.”
Rachel menyaksikan jalanan berliku berputar-putar di hadapannya. Penglihatannya menjadi samar lalu jelas. Rambu sebelum tikungan-S menyatakan supaya para pengemudi mempertahankan kecepatan pada angka tiga puluh. Sedangkan kecepatan Jenson di tujuh puluh lima. Rachel memejamkan matanya, ia merasa sangat takut saat itu juga. Tatkala ia membukanya dan melihat tumpukan lumpur yang berserakan di pinggir jalan di hadapan mereka, ia berteriak. Dengan hanya beberapa detik tersisa, Jenson berupaya membanting setir. Percikan lumpur beterbangan ketika mobil itu tergelincir menyusuri tumpukan lumpur yang sangat licin itu.
Dengan mata yang terbuka lebar, Jenson memandangi jalanan di hadapannya dan berjuang mengantisipasi setiap tikungan yang akan mereka lalui. Butiran peluh membanjiri dahinya. Ia mengenal jalan itu, itulah yang membuatnya merasa sangat takut. Kurang dari tiga mil lagi, tikungan yang sudah tajam itu akan semakin curam. Dengan kecepatan tinggi, mobil itu akan langsung menubruk pagar lalu akan langsung jatuh di tebing yang ada di dekatnya. Permainan yang sudah dimulai Robert’s akan berakhir dengan penuh kekerasan.
Jenson merasakan ketakutannya sendiri, kemudian ia menelannya sendiri. “Cuma ada satu kesempatan, mau tidak mau kita harus membelok di jalan kecil yang menuju penginapan tua. Jalan itu letaknya setelah tikungan itu.” Jenson tak mampu membuang pandangannya dari jalanan untuk melihat ke arah Rachel Jari-jarinya dihunjamkan ke kemudi. “Berpeganganlah dengan kuat.”
__ADS_1
Rachel akan mati. Benaknya mati rasa karena memikirkan hal itu. Rachel belum siap untuk mati masih banyak pekerjaan yang akan ia kerjakan, membuat kalung, membuat gelang dan yang lainnya. Didengarnya suara ban berdecit kala Jenson mencoba menyeret mobil itu keluar dari sana. Mobil itu melaju miring, nyaris terbalik. Ia melihat deretan pohon berlalu saat mobil bergulir di ujung licin jalan kecil itu. Hampir saja, sesaat, ban mobil seakan-akan mencengkeram tanah yang dilindasnya. Tapi tikungan itu terlalu tajam, dan kecepatan mobil terlalu cepat. Tak terkendali, mobil itu terhuyung-huyung menabrak pepohonan yang ada di sana.
“Aku sangat sayang denganmu dan aku sangat mencintaimu,” bisik Rachel, dan menggapai Jenson sebelum dunianya menjadi gelap.