Surat Wasiat Kakek Robert

Surat Wasiat Kakek Robert
Chapter 52


__ADS_3

“Aku sedang sibuk sekarang, aku tidak mau di ganggu untuk saat ini.”


“Aku tahu, aku sudah mengganggu jadwal kerjamu, tapi aku punya alasan bagus.”


“Kau membiarkan hawa dingin masuk,” keluh Rachel. Dulu, mungkin ia akan membanting pintu di depan muka Jenson tanpa berpikir dua kali. Kali ini ia menutupnya di belakang Jenson.


“Tapi dsini juga tidak begitu hangat.”


“Buatku baik-baik saja kalau aku sedang bekerja.”


“Salahkan Jesica. Dia yang menyuruhku untuk membawa makanan, dan dia bersikeras supaya aku membawamu serta.” Jenson memandangi Rachel lemah lembut. “Gadis itu terlalu lama mengurung diri di gudang. Perlu sinar matahari.”


“Aku mendapatkan banyak sinar matahari,” sangkal Rachel. Namun gagasan untuk pergi keluar cukup menarik baginya. Tidak akan ada ruginya berbincang-bincang dengan pembuat perhiasan di pusat perbelanjaan. “Aku ingin menyelesaikan ini dulu.”


“Aku tidak sedang terburu-buru, jadi kau santai saja.”


“Bagus. Kalau begitu tunggu setengah jam lagi, apa kau mau menunggu ku?.”


“Ia akan ku tunggu.”


Rachel hendak mengganti bor itu dengan obor untuk pembuat perhiasan. Karena tidak mendengar pintu terbuka atau tertutup, ia berbalik dan melihat Jenson sedang memeriksa penggiling. “Jenson,” ucapnya jengkel.


“Silakan, jangan buru-buru.”


“Kau tak ada pekerjaan memangnya?”


“Saat ini aku sedang tidak ada pekerjaan,” jawabnya riang.


“Tidak menulis soal kejar-kejaran mobil?”


“Tidak. Lagi pula, aku belum pernah melihatmu bekerja.”

__ADS_1


“Penonton membuatku lekas marah.”


“Luaskan pandanganmu, Sayang. Anggap saja aku sedang magang.”


“Aku tak yakin pandanganku bisa seluas itu.”


Tak gentar, Jenson menunjuk meja kerjanya.


“Apa benda itu?”


“Benda itu,” sebut Rachel tegang, “anting-anting. Efek air terjunnya dibuat dengan kawat kuningan dan beberapa potong perak. Aku masih punya sisa dari sebuah gelang.”


“Tak ada yang terbuang percuma,” gumam Jenson. “ Jadi apa langkah selanjutnya?”


Sambil menarik napas dalam-dalam, Rachel memutuskan bahwa lebih mudah mengikuti permainan dari pada mengusir Jenson keluar. “Aku baru saja selesai memperbaiki lengkung-lengkung pada kawatnya. Aku gunakan ketebalan dan panjang yang berbeda-beda untuk menghasilkan efek mengalir bebas. Potongan perak itu aku potong dan kususun menjadi butiran panjang berbentuk air mata. Sekarang aku mematrinya ke ujung-ujung kawat itu.”


Perubahan itu segera direalisasikannya, kemudian beranjak sedikit supaya Jenson bisa menonton. Setelah ia meletakkan sebongkah patri di samping masing-masing ujung kawat, Rachel menggunakan obor itu untuk mengalirkan panas sehingga patri itu meleleh. Dengan sabar dan cakap, diulanginya prosedur itu sampai kedua belas butiran air mata itu tertempel.


Jenson mendengar nada sinis itu dan tertawa seraya meraih tangan Rachel. “Kau menginginkan sanjungan? Beberapa menit yang lalu aku melihat tumpukan logam. Sekarang aku melihat ornamen yang membangkitkan minat. Penuh hiasan dan eksotis.”


“Memang seharusnya eksotis,” balas Rachel. “Jessica Miland akan mengenakannya dalam film itu. Itu akan dijadikan hadiah dari seorang kekasih lama. Countess itu menyatakan bahwa pria itu pangeran Turki.”


Jenson mengamati kalung itu lagi. “Sangat sesuai.”


“Kalung itu jatuhnya akan bagus, dengan kawat kuningan dan perak yang dijalin bersama. Butir air mata yang paling bawah akan bergantung mendekati pinggangnya.” Puas, tapi tahu bahwa ia tak boleh menyentuh logam itu sebelum patrinya menjadi dingin, Rachel mengangkat sketsanya tinggi-tinggi. “Ms. Miland sangat spesifik. Dia tak menginginkan yang biasa, tidak juga yang klasik. Semua yang dikenakannya harus mendukung nuansa mistik karakter yang bakal dimainkannya.”


Diturunkannya sketsa itu lalu dirapikannya peralatannya. Ia akan mematri bagian simpainya dan menjalin kawat di bagian leher kalau mereka sudah kembali dari kota. Kemudian kalau ada waktu, ia akan memulai proyek selanjutnya. Lencana burung merak bersepuh emas dengan ekor benang emasnya yang ha lus sepanjang tiga inci setidak-tidaknya akan menyita dua minggu waktunya.


“Benda ini berpotensi sebagai senjata pembunuh,” renung Jenson sambil memungut sebuah pemoles dan memeriksa ujung besinya yang berliku.


“Maaf?”

__ADS_1


Jenson menyukai cara Rachel mengatakannya, sehingga bahkan sambil menengok pun ia masih mendongak angkuh. “Untuk sebuah jalan cerita.”


“Jauhkan peralatanku dari cerita-ceritamu yang aneh itu.” Rachel merebut pemoles itu dari Jenson dan menaruhnya di tempatnya. “Mau membelikanku makan siang di luar?” Dicopotnya celemeknya lalu disambarnya jaketnya.


“Aku baru akan memintamu melakukan hal yang sama.”


“Aku memintanya lebih dulu.” Rachel mengunci bengkel itu dan menyambut datangnya dingin. “Hujannya mulai sedikit reda.”


“Beberapa minggu lagi, lima lusin bunga yang ditanam roberti semasa tahap berkebunnya akan mulai berkembang.”


Tampaknya tak mungkin ketika kau merasakan udaranya, melihat genangan air dimana mana, namun musim panas sudah mendekat. “Musim hujan rasanya tak begitu panjang.”


“Memang.” Jenson merangkul bahu Rachel. “Aku tak pernah berharap enam bulan itu akan berlalu begitu cepat.”


Sambil tertawa, Rachel menyamakan langkahnya dengan langkah Jenson. “Kita masih punya sebulan untuk dilalui.”


“Sekarang kita harus menjaga sikap,” Jenson mengingatkan Rachel. “Letnan Randall terus mengawasi kita.”


“Aku rasa kita sudah melewatkan kesempatan kita.” Rachel berbalik untuk merangkul leher Jenson. “Ada saat-saat aku ingin memukulmu dengan benda tumpul.”


“Sama,” balas Jenson sambil menurunkan mulutnya. Bibir Rachel terasa dingin.


Di jendela samping, Jesica menurunkan tirai kembali. “Lihat itu!” Sambil terkekeh, ia memberi tanda pada Nyoman. “Sudah kubilang ini akan berhasil, mereka semakin akrab dan kemungkinan memiliki anak semakin banyak.'


Sementara Nyoman mengikuti Jesica mengintip di jendela, Rachel menginjakkan genangan air kemudian menyiratkan nya ke wajah Jenson. “Jangan terlalu berharap dulu,” rutuknya.


Rachel kabur ke garasi. Ia menunduk sedetik sebelum air terlempar ke pintunya. “Usahamu masih belum berhasil, sayang.” ia mengangkat pintu itu, dan melesat ke dalam dan melompat masuk ke mobil Jenson. Puas dengan diri sendiri, ia duduk manis di kursinya. Ia yakin, Jenson tidak akan mengotori interior mobilnya yang tak bernoda dengan sebuah air kotor. Jenson membuka pintu, bergulir ke sebelahnya, dan menghujani kepala Rachel dengan bercikan air. Rachel masih memekik ketika Jenson memutar kunci mobil itu.


“Aku lebih jago pada jarak dekat.”


Rachel terbatuk-batuk saat membersihkan rambunya itu. “Orang mungkin menyangka bahwa mobil sok pamer ini pasti dikemudikan oleh pria yang lebih sok pamer.”

__ADS_1


__ADS_2