
“Terserah kau saja Jenson, aku sudah memperingatimu, kau ingat-ingat lagi mereka sudah mencoba membunuh kita Jenson.”
“Tapi gagal kan? mereka gagal membunuh kita.” Jenson meraih dagu Rachel. “Apakah kau tak berpikir bahwa dia bakal mencoba lagi? mereka akan terus mencoba membunuh kita sampai mereka berhasil kau harus tahu itu, dan kita tidak mungkin diam saja, Polisi juga tak bisa terus-menerus menjaga kita, tidak bisa terus menerus berjaga di depan rumah kakek Robert. Dan,” tambahnya sambil mengepalkan tangan. “Aku tidak bersedia membiarkan yang lalu berlalu begitu saja Rachel, aku tidak akan membiarkan mereka hidup dengan tenang. Enak saja mereka hidup dengan tenang sedangkan kita harus terus berjaga untuk menyelamatkan diri kita sendiri. ” Tatapannya menyapu bekas luka di kening Rachel yang tertutup dengan rambut yang berwarna merahnya itu. Dokter mengatakan bahwa luka itu berangsur memudar, namun kenangan Jenson akan hal itu tidak akan pernah memudar apalagi ini menyangkut dengan istrinya. “Kita akan menyelesaikannya, dengan caraku, kau tenang saja tidak perlu cemas dan khawatir, aku akan selalu menjagamu sampai kapan pun, kau tinggal menurut apa yang akan aku perintahkan, aku mau kau menjadi pemeran utama dalam rencana aku kali ini.”
“Aku sungguh tidak menyukai ide kamu kali ini Jenson.”
“Rachel.” Jenson tersenyum penuh pesona dan mencubit pipi Rachel. “Percayalah padaku Rachel, aku akan melakukan ini sesuai dengan rencanaku dan aku pastikan aku tidak akan mengecewakanmu. Aku akan mencari tahu siapa yang sudah berani untuk mencoba membunuh kita Rachel.”
Kenyataan bahwa ia memang mempercayai Jenson hanya membuat Rachel lebih gugup lagi. Kali ini dirinya sedikit ragu dengan keputusan yang di ambil Jenson. Tapi Rachel harus percaya kepada suaminya itu bahwa semuanya akan baik-baik saja. Sambil menghela napas panjang, digamitnya tangan Jenson. “Mari kita katakan pada Jesica bahwa kita akan berpesta minggu depan dan kita akan mengundang semua saudar kita. Agar Jesica bisa menyiapkan hidangan untuk saudar kau tercinta.”
“Saudar kau juga Rachel, mungkin kau yang sangat mencintai mereka di banding dengan aku.”
“Aku sangat tidak sudi untuk mencintai mereka.”
“Ayo kita ke Jesica untuk membicarakan ini.” Jenson dan Rachel pergi untuk menemui Jesica dan memberitahu kepada nyoman dan Jesica bahwa minggu depan akan ada pesta yang sangat indah di rumah kakek Robert, Jenson dan Rachel meminta Jesica dan Nyoman menyiapkan semuanya dengan rapih.
__ADS_1
“Aku minta tolong kepada kalian untuk menyiapkan nya dengan rapih.”
“Apa kalian yakin ingin mengundang semua saudara untuk datang ke rumah Robert?.”
“Aku yakin Nyoman, kau tenang saja ini akan menjadi urusanku, kau dan Jesica jalankan saja yang sudah aku perintahkan, aku janji kepada kalian dengan aku mengundang semua kerabat datang ke rumah Robert tidak akan terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan, aku akan selalu menjaga kalian.”
“Baik kalau begitu, tapi kalian harus tetap berhati-hati.”
“Kau tenang saja Jesica, kita akan selalu berhati-hati.”
Sampai saat mobil pertama tiba, Rachel yakin tak ada seorang pun yang akan datang di pesta itu. Ia berdiskusi soal rencana Jenson, berargumentasi, tak setuju, menjadi kagum, dan pada akhirnya menyerah. Teatrikal, putusnya. Ia menanti-nanti acara itu dan ingin melihat wajah saudarnya setelah 6 bulan berlalu.
Ia mengenakan gaun mini hitam yang sangat anggun dan seksi tanpa tali untuk pesta itu. Untuk pemanis, ia menambahkan seuntai kalung perak murni yang diciptakannya dengan gaya ledakan bintang besar. Anting-anting bercorak senada menjuntai nyaris sampai ke dagunya. Kalau Jenson menginginkan drama, Rachel tak bisa membantahnya. Sementara pesta makan malam itu semakin dekat, saraf-sarafnya membaja menguatkan tekadnya dan bersiap-siap untuk bertemu dengan saudaranya dan harus mendengarkan celotehan yang keluar dari mulut saudaranya itu.
Ketika Jenson melihat Rachel di puncak tangga, pria itu tak mampu berkata-kata, betapa indah dan cantinya istrinya yang berada di hadapannya sekarang ini. Ia sangat berharap setelah ini Rachel tak menceraikannya.
__ADS_1
“Sangat sempurna istriku, sangat sangat sempurna,” ucap Jenson saat Rachel melangkah menuruni tangga utama. Berdiri di dasar tangga itu dalam setelan gelap, Jenson tampak tak terkalahkan. “Pemeran utama wanita yang pintar, cantik dan seksi.” Jenson meraih tangannya. “Dingin dan seksi. Hitchcock pasti akan menjadikanmu seorang bintang di filmnya.”
“Kau jangan pura-pura lupa dengan apa yang terjadi pada Janet Leigh.”
Jenson tertawa dan memutar-mutar salah satu anting Rachel. “Apa kau merasa gugup Rachel?”
“Tak segugup yang aku kira. Kalau ini tidak berhasil...”
“Kalau begitu kita tidak akan rugi apa-apa. Kau tahu apa yang mesti kau lakukan kan, kau saat ini menjadi peran utama yang sangat penting Rachel.”
“Kita sudah sering sekali melatihnya. Memar-memarnya masih ada.”
Jenson mencondongkan tubuh dan mengecup kedua bahu polos Rachel, mereka berdiri begitu dekat, nyaris mulut ke mulut. “Kedengarannya tamu pertama kita sudah tiba di depan,” gumamnya kala mereka mendengar suara mobil. Ia mengecup bibir Rachel singkat. “Semoga sukses sayang.”
Rachel mengerutkan hidungnya di belakang punggung Jenson. “Itulah yang aku takutkan.”
__ADS_1
Dalam setengah jam, semua orang yang hadir pada pembacaan surat wasiat itu, kecuali Zephaniah, sekali lagi mereka berada di perpustakaan milik Robert. Tak seorang pun terlihat serileks seperti keadaan hampir enam bulan sebelumnya. Kakek Robert tampak bersinar-sinar dari lukisan cat minyak di atas. Dari waktu ke waktu Rachel selalu menatap lukisan itu, setengah mengharapkannya untuk mengedipkan mata. Demi memberi hadirin apa yang mereka harapkan dengan kedatangan mereka, Rachel dan Jenson terus-menerus berdebat tentang apa saja yang terlintas di benak mereka. Waktunya memulai permainan, gumam Rachel.