Surat Wasiat Kakek Robert

Surat Wasiat Kakek Robert
Chapter 48


__ADS_3

Tanpa berpikir panjang, Jenson mengelap air hujan yang ada di wajah Rachel. “Aku sudah pergi sejauh sepuluh mil, dan tak mampu menghilangkan perasaan tidak enak itu. Perasaan itu terlalu kuat. Aku memutuskan untuk berhenti di sebuah pom bensin dan menelepon tetanggaku.”


“Tapi apartemenmu.”


“Aku bicara pada polisi, memberi mereka daftar barang-barang berhargaku. Kita akan pergi dari rumah ini dalam satu atau dua hari ini.” Rambut Rachel sudah basah karena air hujan dan melebar ke jaketnya. Jenson memikirkan apa yang mungkin telah terjadi dan melawan dorongan untuk mengguncang-guncang Rachel. “Aku tak bisa meninggalkanmu sendirian.”


“Aku baru mulai percaya bahwa kau bisa bersikap ksatria.” Rachel menciumnya. “Itu menjelaskan kenapa kau tidak pergi, tapi apa yang kau lakukan di tengah hutan?”


“Gara-gara firasatku.” Jenson membungkuk untuk memungut panci itu. Ia menyimpulkan, pukulan yang mantap dengan benda itu, dan ia pasti akan jatuh terkapar.


“Lain kali kalau kau punya firasat, jangan berdiri di ujung hutan dan mengawasi rumah itu.”


“Aku tidak melakukannya.” Jenson meraih tangan Rachel dan mengarah kembali ke rumah. Ia menginginkan Rachel berada di dalamnya lagi, di balik pintu-pintu yang terkunci.


“Aku melihatmu.”


“Aku tidak tahu siapa yang kau lihat.” Dengan geram, Jenson ganti menatap si anjing. “Kita tahu ini tidak akan terjadi seandainya kau tidak membiarkan anjing ini keluar rumah. Aku memutuskan untuk memeriksa sekeliling rumah ini sebelum masuk, dan aku melihat jejak-jejak kaki. Aku mengikutinya, lalu pergi ke hutan.” Ia melirik melewati bahu Rachel, masih tegang karena marah. “Aku baru saja sampai di belakang siapa pun yang membuat jejak-jejak itu sewaktu Bruno mencoba menyerang. Aku mulai mengejar.” Ia menyumpah dan menepuk panci itu dengan telapak tangannya. “Aku semakin memperkecil jarak sewaktu hewan ini berlari di antara kakiku dan membuat wajahku mendarat di jalan. Saat itu, kau mulai berteriak pada si anjing. Siapa pun yang kukejar punya cukup waktu untuk menghilang.”


Rachel menyumpah-nyumpah. “Jika saja kau membiarkanku mengetahui apa yang sedang terjadi, kita bisa saling membantu.”


“Aku tidak mengetahui apa yang terjadi sampai hal itu sudah terjadi. Dalam setiap kondisi, kesepakatannya adalah kau tetap tinggal di dalam dengan pintu dikunci.”


“Anjing itu harus keluar,” rutuk Rachel. “Dan aku mendapat telepon.” Ia melihat ke belakang dan mendesah. “Seseorang menelepon untuk memperingatkanku.”


“Siapa?”

__ADS_1


“Aku tidak tahu. Kupikir itu suara laki-laki, tapi aku tidak begitu yakin.”


Jenson mencengkeram lengan Rachel lebih erat lagi. “Apa dia mengancammu?”


“Bukan, itu bukan ancaman. Siapa pun orang itu, sepertinya dia paham apa yang sedang terjadi dan tidak menyenanginya. Itu sudah jelas. Dia... dia bilang seseorang akan mencoba mendobrak Robert’s, dan aku harus keluar.”


“Dan, tentu saja, kau mengiyakan ucapan itu dengan lari ke hutan membawa panci. Rachel.” Kali ini ia mengguncang-guncang tubuh istrinya “Kenapa kau tidak menghubungi polisi?”


“Karena aku pikir ini tipuan lagi dan aku menjadi marah karenanya.” Ia memandangi Jenson dengan keras kepala. “Ya, awalnya ini membuatku takut, lalu tiba-tiba saja aku menjadi marah. Aku tidak suka diintimidasi. Ketika aku melihat seseorang di hutan. Aku hanya ingin balas melawan.”


“Mengagumkan” kata Jenson seraya menyambar bahu Rachel. “Bodoh.”


“Kau melakukan hal yang sama persis.”


“Tidak sama persis. Kau punya otak, kau punya gaya. Kau bahkan juga punya nyali. Tapi, Rachel, kau bukan juara tinju kelas berat. Bagaimana kalau kau berhadapan dengan siapa pun yang ada di luar sana dan dia ingin bermain kasar?”


“Baiklah.” Dengan gerakan cepat, Jenson menyangkutkan kakinya ke belakang kaki Rachel dan membuat bokong gadis itu mendarat di jalan. Rachel tak punya kesempatan untuk mengeluh sebelum Jenson berdiri tepat di hadapannya, menggerak-gerakkan panci itu. Bruno memutuskan bahwa itu semacam permainan dan melompat ke atas Rachel. “Mungkin aku kembali besok dan menemukanmu setengah terkubur di sini.” Sebelum Rachel sempat berbicara, Jenson menariknya sampai berdiri kembali. “Aku tak kan mengambil risiko itu.”


“Kau melakukannya waktu aku sedang lengah,” sangkalnya.


“Diamlah.” Jenson menyambar bahunya lagi, dan kali ini cengkeramannya tidaklah lembut. “Kau sanggat penting, Rachel. Kita akan masuk ke dalam dan memanggil polisi. Kita akan memberitahu mereka semuanya.”


“Apa yang bisa mereka lakukan?”


“Kita lihat saja.”

__ADS_1


Rachel menghela napas panjang, lalu bersandar di dada Jenson. Pengejaran itu mungkin mendebarkan, tapi lututnya belum berhenti bergetar. “Oke, mungkin kau benar. Kita toh tidak mencapai kemajuan apa-apa sekarang.”


“Memanggil polisi bukan berarti menyerah, ini hanya mengubah caranya.” Jenson menggamit kedua tangan Rachel, mengecupnya dan menghangatkannya. “Aku tidak akan membiarkan sesuatu hal pun terjadi padamu.”


Bingung oleh kebahagiaan yang diberikan oleh Jenson lewat kata-kata itu, Rachel berupaya menyingkirkan tangan Jenson. “Aku bisa mengurus diriku sendiri, Jenson.”


Jenson tersenyum tapi tidak melepaskan tangan Rachel. “Aku percaya istriku hebat. Ayo pulang. Aku lapar.”


“Dasar lelaki,” ucap Rachel, butuh meriangkan suasana. “Kau memikirkan perutmu, ya Tuhan, ayamnya!” Meloloskan diri, Rachel melesat menuju ke rumah.


“Aku tidak selapar itu.” Jenson mengejarnya. Rasa lega itu datang lagi sewaktu Jenson menyambar dan menggendongnya. Sewaktu ia mendengar Rachel berteriak di hutan, menyadari bahwa gadis itu ada di luar dan rapuh, darahnya seolah berhenti mengalir. “Nyatanya,” katanya sambil mengayunkan Rachel tinggi-tinggi, “aku tidak bisa memikirkan masalah yang lebih mendesak selain makan.”


“Jenson.” Rachel meronta, namun tertawa. “Kalau kau tidak menurunkanku, tidak akan ada ayam untuk dimakan.”


“Kita makan di tempat lain saja.”


“Aku meninggalkan kompor dalam keadaan menyala. Mungkin tak ada lagi yang tersisa dari ayam itu kecuali tulang-tulang yang hangus.”


“Masih ada sup.” Bersama itu, didorongnya pintu dapur sampai terbuka.


Bukannya asap tebal dan percikan berantakan yang mereka temui, mereka melihat piring hidangan berisi ayam garing berwarna kecokelatan yang ditumpuk tinggi-tinggi. Jesica sudah membersihkan tumpahan adonannya, dan sudah merendam pancinya di bak cuci piring.


“Jesica? Kenapa kau tidak istirahat?"


“Pekerjaanku,” tukasnya, tapi sekilas melirik mereka dari samping. Sejauh yang diketahuinya, rencananya berjalan sempurna. Ia mengira Rachel dan Jenson telah memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar dan menghirup udara segar sementara makan malam dimasak, dan, seperti layaknya orang muda yang lupa waktu.

__ADS_1


“Seharusnya kau ada di tempat tidur,” Rachel mengingatkan.


“Sudahlah. Aku sudah cukup lama berada di tempat tidur.” Dan hari-hari penuh sedikit kegiatan atau tak ada kegiatan nyaris membuatnya bosan sampai menangis. Tapi bagaimanapun juga nilainya sepadan untuk melihat Pandora berada di dalam dekapan Michael. "Aku sudah lebih baik, sehingga aku bisa menghidangkan makan malam.”


__ADS_2