Surat Wasiat Kakek Robert

Surat Wasiat Kakek Robert
Chapter 54


__ADS_3

Perlahan-lahan Jenson mulai siuman. Ia terluka, dan saat itu ia tak mengerti apa sebabnya, apa yang sudah terjadi pada dirinya. Hanya ada suara-suara ribut yang ia dengar. Akhirnya ia menoleh ke arah suara itu. Sewaktu membuka mata, ia melihat seorang anak laki-laki bermata lebar dan berambut hitam tengah melongo di balik jendela mobil.


“Tuan, hei, Tuan. Apa kau baik-baik saja?, apa kau butuh pertolongan? Hei tuan aku di sini”


Terpana, Jenson langsung membuka pintu mobil. “Tolong bantu aku carikan pertolongan segera,” ucapnya susah payah, berjuang supaya tak jatuh pingsan lagi. Ia menarik napas dalam-dalam untuk menjernihkan kepalanya ketika anak itu berlari menelusuri hutan. “Rachel.” Rasa takut menyeruak di tengah-tengah kabut. Tak lama kemudian, ia sudah mencondongkan tubuhnya mendekati Rachel.


“Hey Rachel bangun sayang, ayo bangun aku yakin kau pasti kuat.”


Lalu jemarinya gemetaran saat mencoba mencari denyut di leher Rachel, tapi ia menemukannya. Darah dari luka di dahi gadis itu menetes membasahi wajahnya dan tangan Jenson. Ditempelkannya jarinya ke luka itu sambil mencari-cari kotak P3K di laci kecil di dekat kemudi. Ia sedang menghentikan perdarahannya dan memeriksa adanya patah tulang sewaktu Rachel mengerang. Jenson harus mencegah dirinya sendiri agar tidak menyeret Rachel, dan mendekapnya erat-erat.


“Hey Rachel ayo bangun, kau pasti kuat.”


“Jenson,” ucap Rachel mulai sadar.


“Aku di sini Rachel, ayo bangun buka matamu.”


“Pelan-pelan Jenson,” gumamnya ketika Rachel mulai bergerak-gerak. “Kau jangan bergerak dulu.” Sewaktu Rachel membuka mata, ia melihat mata itu berkaca-kaca dan tidak terfokus. “Kau baik-baik saja kan, aku sangat khawatir denganmu,” Dengan lembut, disangganya wajah Rachel dengan tangannya dan kembali menenangkannya. Perlahan-lahan mata Rachel menjadi terfokus. Saat itu terjadi, Rachel langsung menggapai tangan Jenson.


“Remnya…“


“Yeah.” Sesaat disandarkannya pipinya ke pipi Rachel. “Perjalanan tadi sungguh menegangkan, tapi sepertinya kita berhasil melaluinya.”


Bingung, Rachel mengamati sekelilingnya. Mobil itu sudah berhenti berjalan, bersandar miring pada sebatang pohon. Onggokan lumpur teballah yang telah melambatkan mereka sehingga mencegah tabrakan itu menjadi fatal. “Kita, kau dan aku baik-baik saja?” Air mata itu bercucuran saat Rachel meraih wajah Jenson dengan tangannya seperti yang tadi telah dilakukan Jenson padanya. “Kau baik-baik saja.”


“Aku sangat baik.” Pergelangan tangan Jenson berdenyut-denyut bagaikan dihunjam alat pelubang beton dan kepalanya pusing luar biasa, namun ia masih hidup. Tatkala Rachel mulai bergerak, Jenson menahannya. “Jangan, jangan bergerak dulu. Aku tak tahu seberapa parah kau terluka. Ada seorang anak. Dia sedang mencari pertolongan, kau tunggu sebentar yah jangan gerakkan badanmu dulu.”


“Cuma kepalaku saja yang aku gerakkan.” Rachel meraih tangan Jenson, dan melihat darah yang ada. “Oh Tuhan, kau berdarah Jenson. Di mana?” Sebelum ia bisa memulai pencariannya yang kalut, Jenson menggenggam kedua tangannya.

__ADS_1


“Bukan aku yang berdarah. Tapi kau. Kepalamu terluka. Mungkin kau gegar otak.”


Gemetaran, Rachel mengangkat tangan lalu menyentuh perban di kepalanya. Luka di balik perban itu terasa sakit, tapi ia berupaya meredamnya. Kalau ia terluka, berarti ia masih hidup. “Aku kira aku sudah mati dan aku kira sekarang aku sudah bersama kakek Robert si kakek tua konyol itu.” Dipejamkannya matanya, tapi air mata menerobos bulu-bulu matanya. “Aku kira kita berdua sudah mati. Aku takut kalau aku tidak bisa melihatmu lagi.”


“Kita baik-baik saja.” Mereka mendengar lengkingan sirene menggaung di jalanan pegunungan itu. Jenson terdiam sampai Rachel membuka matanya lagi. “Kau tahu apa yang terjadi?”


Kepala Rachel terasa sakit, tapi pikirannya jernih. “Aku yakin ini percobaan pembunuhan.”


Jenson dengan cepat mengangguk, tak menoleh sewaktu ambulans mendekati jalan kecil berlumpur itu. “Aku sudah lelah menanti, Rachel. Aku sudah lelah terus-menerus menunggu.”


...****************...


Letnan randall menemukan Jenson di ruang tunggu UGD. “Kelihatannya kau mendapat sedikit kesulitan.”


“Kesulitan yang sangat besar.”


“Cuma keseleo. Beberapa luka, goresan, dan sakit kepala yang teramat sangat sakit. Terakhir kali aku lihat, mobilku sudah tampak seperti akordeon.”


“Kami membawanya. Ada yang perlu kami periksa?”


“Remnya. Sepertinya rem mobilnya blong sewaktu aku mulai menuruni pegunungan itu.”


“Kapan terakhir kali kau mempergunakan mobilmu?” Randall menggenggam buku catatannya.


“Sepuluh hari, dua minggu yang lalu. Tetapi saat dua hari yang lalu aku cek remnya aman-aman saja tidak blong.” Dengan lelahnya Jenson mengusap pelipisnya. “Aku sudah pergi ke Malang untuk berbicara pada polisi mengenai perampokan di apartemenku.”


“Di mana kamu simpan mobilmu?”

__ADS_1


“Aku selalu simpan mobil di dalam garasi.”


“Apakah di kunci?”


“Di garasi?” Jenson memalingkan tatapannya ke arah gang tempat Rachel dibawa. “Tidak. Kakekku memasang salah satu dari beberapa remote control beberapa tahun yang lalu. Tak pernah berfungsi kecuali kalau kau menyalakan televisi. Tapi dia mencabutnya kembali dan tak pernah mengganti kuncinya. Mobil Rachel juga ada di sana,” tiba-tiba ia teringat. “Jika....”


“Kami akan segera memeriksanya,” ucap Randall enteng. “Apakah Miss Cecilion bersamamu?”


“Yeah, dia sedang bersama dokter di dalam ruangan.” Untuk pertama kalinya sejak berminggu-minggu yang lalu, Jenson mendapati dirinya sangat menginginkan sebatang rokok. “Kepalanya terluka.” Ia menatap tangannya sendiri dan mengenang darah Rachel membasahi tangan itu. “Aku akan menemukan pelakunya, Letnan, lalu aku akan....”


“Jangan katakan apa pun padaku yang mungkin bisa aku gunakan nanti,” Randall memperingatkan. Ada beberapa orang yang mempergunakan ancaman sebagai sarana untuk melepas ketegangan atau melegakan diri. Randall tak menganggap Jenson Dirgantara salah seorang dari mereka. “Biarkan aku melakukan tugasku, Mr. Dirgantara.”


Jenson memandanginya, tajam dan mantap. “Seseorang sedang memainkan permainan, permainan yang mematikan, terhadap seseorang yang sangat penting bagiku. Jika kau berada pada posisiku, akankah kau memutar-mutar ibu jarimu dan menunggu?”


Randall tersenyum, sedikit saja. “Kau tahu, Jenson, aku tak pernah melewatkan acaramu. Hiburan bagus. Urusan semacam ini mirip dengan apa yang ada di acaramu itu.”


“Mirip yang ada di acaraku,” ulang Jenson perlahan-lahan.


“Masalahnya adalah semua hal di dunia ini tidak berjalan sebagaimana di televisi. Tapi itu memang sungguh mengasyikkan untuk ditonton. Itu dia, lady-mu datang.”


Jenson langsung bangkit dan bergegas menghampiri Rachel.


“Aku baik-baik saja, kau tenang saja aku wanita yang sangat kuat.” katanya pada Jenson sebelum pria itu sempat bertanya.


“Tidak sepenuhnya begitu.” Di belakang Rachel, seorang dokter berjas putih berdiri tidak sabar. “Miss Cecilion mengalami gegar otak.”


“Dia menaruh beberapa jahitan di kepalaku dan ingin menjadikanku tawanannya.” Rachel tersenyum manis pada dokter itu dan menggandeng lengan Jenson. “Ayo pulang.”

__ADS_1


__ADS_2