
“Kami hanya memainkan beberapa tipuan,” gumamnya.
“Pembunuhan tingkat pertama bukanlah sebuah tipuan.”
“Kami tak pernah…” Ia menatap Jenson dengan terkejut. “Bukan pembunuhan,” akhirnya ia berucap, mendekap Mega sama eratnya seperti Mega mendekapnya.
“Kau juga tidak ingin meminum sampanyenya kan, David?”
“Di situlah aku ingin berhenti.” Masih terisak, Mega berbalik dari pelukan suaminya. “Aku bahkan menelepon dan mencoba memperingatkan Rachel. Aku sudah menganggap itu salah, tipuan yang keji, tapi kami memerlukan uang. Bisnis Gym itu sudah menyita semua yang kami punya. Kami pikir jika kami bisa membuat kalian bertengkar satu sama lain, kalian akan melanggar syarat surat wasiat itu. Hanya itu saja. David dan aku tinggal di pondok dan menunggu. Lalu dia pergi ke ruang kerja Rachel dan mengobrak-abrik isinya. Kalau Rachel berpikir bahwa kau yang melakukannya.....”
“Aku tak pernah menganggap Rachel akan berpikir begitu,” timpal Bianca. Dua butir air mata bercucuran di pipinya. “Sungguh, semua tampaknya konyol dan menarik.”
Jenson mengamati sepupu cantiknya yang sedang menangis. “Jadi kau turut ambil bagian.”
“Yah, aku tidak benar-benar melakukan. Tapi ketika Bibi Patience menjelaskannya padaku…”
“Patience?” Ada pola dan semakin banyak pola. Pola baru muncul.
“Morgan berhak mendapatkan bagiannya.” Wanita tua itu mere*as-r*mas tangannya dan melihat ke segala arah kecuali ke pisau berlumur darah itu. “Kami pikir kami bisa membuat salah seorang dari kalian pergi, lalu semua akan berjalan seperti seharusnya.”
“Dengan aksi pembunuhan?”
“Jangan mengada-ada” Yosef nyaris terdengar tenang dan kaku lagi. “Rencananya hanya membuatmu keluar dari rumah. Aku tidak melakukan apa pun kecuali mengunci Rachel di gudang bawah tanah. Ketika aku mendengar soal sampanye, aku memang agak ragu, tapi itu kan tidak fatal.”
“Ngomong-ngomong soal sampanye.” Itulah yang ditunggu-tunggu Jenson. “Jadi siapa yang mengirim?”
“Yagil orangnya,” ungkap Mega. “Yagil yang menyiapkannya, dia berjanji tidak akan ada masalah dengan itu.”
“Semuanya turut ambil adil, Jenson. Setiap orang dalam ruangan ini punya andil," kilah Yagil
“Jadi kau yang mau meracuniku,” Jenson mendekat selangkah. “Ada juga yang mengutak-atik mobilku.”
Yagil menggerakkan bahunya lagi, tapi Jenson melihat butiran keringat di atas bibirnya. “Semua orang di ruangan ini mempunyai andil. Ada yang bersedia menyerahkan diri?” Napasnya semakin menderu saat ia mundur. “Salah seorang dari mereka panik dan melakukan ini. Kalian tidak akan menemukan sidik jariku pada pisau itu.”
__ADS_1
“Saat seseorang melakukan satu kali percobaan pembunuhan,” ucap Jenson tenang, “mudah untuk membuktikan bahwa orang itu mencoba lagi.”
“Salah seorang dari mereka pasti sudah menghapus jejak sepatu di dekat mobilmu, jadi kau tak dapat membuktikan aku pelakunya.”
Dengan gerakan cepat, Jenson menyambar rahang Yagil dan membuatnya terhuyung. Sebelum Yagil sempat terjatuh, Jenson mencengkeram kerahnya. “Aku tak pernah menyebut-nyebut soal menghilangkan jejak.”
Menyadari bahwa dirinya terjebak, Yagil menyerang membabi buta. Tinju melayang, mereka menjatuhkan diri ke lantai. Sebuah lampu Tiffany jatuh berkeping-keping. Mereka bergulingan, saling mengunci, membentur sebuah meja Belker dan membuat meja itu terguncang-guncang. Terkejut dan tak berdaya, yang lain mundur dan memberi mereka ruang.
“Jenson, itu sudah cukup.” Rachel memasuki ruangan itu, rambutnya kusut dan pakaiannya acak-acakan. “Kita kedatangan tamu.”
Yang ternyata adalah seorang dari kepolisian untuk menangkap semua saudaranya.
...****************...
Dua jam kemudian, Rachel dan Jenson mengadakan pesta kecil di perpustakaan. “Aku tak pernah menyangka itu akan berhasil,” kata Rachel sambil mengunyah daging.
“Tapi nyatanya begitu mudah menjebak mereka semua."
“Letnan Randall kelihatannya tidak terlalu senang.”
Rachel mengusap bagian belakang lehernya. “Apa kau tahu betapa tidak nyamannya berperan sebagai orang mati?”
“Kau hebat.” Jenson mencondongkan tubuh untuk menciumnya. “Kau seorang bintang sayang.”
“Pisau dengan darah palsu itu sentuhan yang bagus. Tapi, jika mereka semua tetap bersatu…”
“Dari telepon itu, kita sudah tahu bahwa seseorang sudah mulai lelah dengan permainan mereka. Dan ternyata Mega sudah muak.”
“Aku sedang menimbang-nimbang untuk menanam modal pada gym mereka.”
“Aku setuju.”
“Menurutmu apa yang akan terjadi pada mereka?”
__ADS_1
“Menurutku Yosef akan dibebaskan bersama yang lainnya kecuali Yagil. Kupikir kita tak perlu khawatir soal harus menghadapi gugatan terhadap surat wasiat itu. Zephaniah sudah mengurusnya...“ Jenson mengangkat segelas sampanye, namun Rachel menolak untuk minum.
"Kau tidak ingin merayakan keberhasilan kita?"
Rachel mengambil selembar kertas kecil dari tas kecilnya yang ia letakan di atas meja. "Aku hamil," ia mengulurkan hasil USG kepada Jenson.
Jenson memandangi hasil itu dengan ekspresi yang tidak akan pernah di inginkan oleh ibu hamil mana pun. "Aku hanya memberikan informasi saja, bukan meminta pertanggung jawabanmu. Kita hanya hanya tinggal menunggu dua minggu dan semuanya selesai, kau bisa kembali pada penari-penari bahenolmu dan aku akan mengurus bayi ini sembari mengurus perhiasanku."
“Tidak.” Jenson menggamit tangan Rachel sebelum Rachel sempat bangkit. "Aku tidak ingin kehilangan kalian, aku ingin mengurus bayi kita bersamamu."
"Kalau begitu mengapa wajahmu seperti itu?"
Jenson berjongkok memeluk pinggang Rachel dan menghujani perutnya dengan banyak ciuman. "Aku akan sangat menyesal jika terjadi apa-apa dengan bayi kita waktu kecepakaan itu," tanpa terasa Jenson menitikan air matanya. Air mata kebahagiaan dan juga ke khawatiran atas apa yang terjadi pada Rachel kemarin.
Rachel mengelus kepala Jenson dengan lembut. "Bayi kita baik-baik saja, dia aman dan sehat di dalam sana."
Jenson dan Rachel meneruskan obrolan mereka di sofa, Rachel menyandarkan tubuhnya di dada Jenson, sementara Jenson masih mengamati hasil USG bayi mereka. "Berapa usia janin kita? Mengapa kecil sekali seperti kacang?"
"Baru tiga minggu."
"Kapan kau periksa? Mengapa kau tak mengajakku mengengok bayi kita? Aku juga kan ingin melihatnya, mendengar detak jantungnya," protes Jenson dengan wajah kesalnya, ia mendorong tubuh Rachel agar duduk tegak.
"Aku tahu sewaktu kita kecelakaan, dokter yang memberitahuku. Aku meminta dokter untuk merahasiakannya darimu karena aku ragu kau akan menerima bayi ini."
Jenson melotot. "Aku memang bukan pangeran berkuda putih seperti yang ada dikepalamu, tapi aku betul-betul mencintaimu dan bayi ini, aku menginginkan kalian berdua lebih dari apa pun di dunia ini." Rasa kesalnya hanya berlangsung singkat sebab Rachel memberinya kado paling istimewa dalam hidupnya.
"Untuk pemeriksaan selanjutnya, dan anak-anak kita yang lainnya, kau wajib mengajakku!!" Jenson menunduk dan kembali memeluk pinggang Rachel, menghujani perut istrinya dengan banyak kecupan.
Rupanya dari kejauhan Jessica dan Nyoman mendengar kabar bahagia tersebut, mereka menitikan air mata bahagianya. "Kita akan memiliki cucu, dan mereka tetap bersama di rumah ini."
“Jenson hentikan, ini geli sekali," keluh Rachel.
Jenson mendongak, pandangannya tertuju pada potret kakek Robert, begitu pula dengan Rachel yang ikut memandangi potret kakeknya. "Kakek telah menempatkan kita di tempat yang dia inginkan. Kubayangkan dia sedang tertawa terbahak-bahak.” Digosokkannya pipinya ke pipi Jenson. “Aku hanya berharap dia berada di sini untuk menyaksikan cicitnya lahir.”
__ADS_1
Jenson mengangkat sebelah alisnya. “Siapa bilang dia tidak akan menyaksikan kita?” Jenson menarik Rachel ke dalam pelukannya.
...-SELESAI-...