Surat Wasiat Kakek Robert

Surat Wasiat Kakek Robert
Chapter 14


__ADS_3

Jenson mematikan laptopnya. Sesaat ia duduk dalam kesunyian, ia tahu ia bisa bekerja di rumah kakek Robert. Ia sudah pernah melakukannya, tapi tak pernah dalam jangka waktu yang lama. Yang tidak diketahuinya adalah ia bisa bekerja dengan begitu baiknya, begitu cepat ataupun begitu memuaskan. Sebenarnya, ia tak pernah menduga bisa berteman baik dengan Rachel. Memang bersamanya tidak seperti piknik, renung Jenson seraya memain-mainkan pensil yang sudah tumpul di antara jemarinya.


Mereka bertengkar, tentunya, itu juga sudah pasti mereka akan bertengkar, setidaknya mereka tidak saling mencabik. Atau setidaknya cabikannya tidak terlalu besar. Setelah dipikir-pikir, ternyata ia menikmati malam sewaktu mereka bermain kartu, tanpa ada alasan lain kecuali tantangan untuk mencoba menangkap basah kecurangan Rachel. Sejauh ini ia belum berhasil melakukannya.


Jenson merasa ia memiliki ketertarikan aneh yang dirasakannya terhadap wanita itu. Itu tidak ada di naskah. Namun sejauh ini ia masih mampu mengabaikan, mengendalikan, maupun menyembunyikannya. Tapi akan ada saatnya… Ada saatnya, batin Jenson sambil bangkit dan meregangkan tubuh, ia ingin membungkam mulut bawel Rachel dengan cara yang lebih memuaskan. Cuma untuk melihat seperti apa akibat yang terjadi setelahnya, tuturnya pada diri sendiri. Rasa ingin tahu terhadap orang lain adalah bagian dari sifatnya. Ia penasaran sekali melihat bagaimana reaksi gadis itu jika ia menariknya ke dalam dekapannya dan menciumnya sampai lemas.


Ia membiarkan tawa kecilnya meledak saat beringsut ke arah jendela. Lemas? Rachel? Wanita seperti Rachel tak pernah melunak. Jenson mungkin bisa memuaskan rasa ingin tahunya, tapi ia akan mendapatkan tinju di perut sebagai balasannya. Bahkan hal itu mungkin cukup sepadan nilainya….


Rachel bukannya diam saja. Ia yakin itu sejak hari pertama mereka berjalan bersama dari bengkel kerjanya. Jenson melihatnya di wajahnya, mendengarnya, betapa pun singkatnya nada suaranya. Mereka berdua telah saling mengamati selama dua minggu. Atau dua puluh tahun, Jenson berspekulasi.


Dengan wanita lain, ia tak pernah merasakan perasaan persis dengan yang dirasakannya terhadap Rachel Cecilion. Rikuh, tertantang, marah. Kenyataannya ia hampir selalu mudah menghadapi wanita. Ia menyukai mereka karena feminitas mereka, kekuatan dan kelemahan mereka yang ganjil, gaya mereka. Mungkin itulah alasan bagi kesuksesannya dalam berhubungan, meskipun ia secara hati-hati membuatnya menjadi jangka pendek.


Jika ia memacari seorang wanita, itu karena ia tertarik padanya, bukan pada hasil akhir hubungannya. Betul, ia tertarik pada Rachel, tapi ia tak pernah mempertimbangkan untuk memacarinya. Mengejutkan baginya bahwa ia mendapati dirinya sekali atau dua kali mempertimbangkan untuk merayunya.

__ADS_1


Merayu, tentunya, adalah masalah yang sangat berbeda dari memacari. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, ia tidak tahu apakah mencoba sedikit merayu Rachel akan sepadan nilainya dengan risiko yang mesti ia tempuh.


Jika ia menawarkan makan malam dengan cahaya lilin atau berjalan-jalan di bawah sinar retempuh malam ataupun malam gila penuh gairah bersama Rachel akan membalasnya dengan ucapan-ucapan sarkastis. Yang akan, tanpa mampu dihindari, memicu beberapa bantahan pedas darinya sendiri. Komedi putar itu akan dimulai lagi.


Dalam keadaan apa pun, yang diinginkan Jenson terhadap Rachel bukanlah percintaan. Ia Cuma ingin memuaskan rasa ingin tahunya. Dalam beberapa keadaan, yang terbaik adalah mengingat-ingat apa yang terjadi pada si kucing pemberani itu. Tapi saat memikirkan Rachel, tatapannya diarahkan ke ruang kerjanya.


Mereka berdua tidak sungguh-sungguh berbeda renung Jenson. Rachel bisa bersikeras dari mulai matahari terbit sampai terbenam bahwa mereka sama sekali tak punya kesamaan, tapi kakek Robert lebih mampu menggambarkan keadaan yang sebenarnya. Mereka berdua cepat naik darah, berpendirian keras, dan sangat bernafsu dalam melindungi profesi masing-masing. Ia mengurung diri bersama laptopnya selama berjam-jam. Sedangkan Rachel mengurung diri bersama peralatan dan obornya. Hasil akhir pekerjaan mereka masing-masing adalah hiburan. Dan lagi pula, itu adalah…


Lamunannya terhenti ketika melihat pintu ruang kerja Rachel itu terbuka. Aneh, ia tidak berpikir Rachel sudah kembali. Ruang kerja Jenson terletak di bagian yang berlawanan dengan rumah bila dilihat dari garasi, jadi ia pasti akan mendengar suara mobil Rachel, tapi ia berpikir Rachel akan memberikan pesanannya dulu.


Ia nyaris menabrak Nyoman. “Rachel sudah kembali?” selidiknya.


“Belum, Tuan.” jawabnya, lega karena tidak diseruduk oleh Jenson. “Katanya dia mungkin akan lama di mall dan berbelanja keperluan kewanitaannya. Kita tak perlu khawatir jika...”

__ADS_1


Tapi Jenson sudah berada di tengah-tengah koridor.


Seraya menghela napas meratapi kegesitan yang tak dimilikinya lagi selama tiga puluh tahun belakangan ini, Nyoman melangkah pelan-pelan menuju ruang tamu untuk menyalakan perapian.


Secara tiba-tiba angin menerpa Jenson begitu ia melangkahkan kaki di luar, mengingatkannya bahwa ia tidak sempat mengambil jaketnya. Kala ia mulai bergegas menuju ruang kerja Rachel, wajahnya menjadi dingin dan otot-ototnya menjadi hangat. Tak ada seorang pun di sana, ia sedikit menurunkan kecepatan langkahnya.


Seorang anak iseng yang berkeliaran? Jenson menduga-duga. Rachel beruntung jika saja anak iseng itu tidak mengantongi separuh dari batu-batu berharganya. Itu layak sekali baginya.


Tapi Jenson berubah pikiran begitu berdiri di depan pintu bengkel kerja wanita itu.


Kotak-kotak dijungkir-balikkan sehingga permata-permata, bebatuan, serta manik-manik berserakan dimana-mana. Bergulung-gulung tali dan benang ikat telah diurai, dikusutkan, juga diikatkan dari satu dinding ke dinding lain. Ia harus mendorong beberapa di antaranya untuk membuka jalan masuk. Apa yang biasanya nyaris murni dalam susunan, kini menjadi kekacauan yang teramat sangat. Kawat-kawat emas dan perak sudah ditekuk dan dipatahkan, peralatan-peralatan dicampakkan begitu saja di lantai.


Jenson berlutut dan memungut sebutir zamrud. Benda itu berkilau-kilau kehijauan di telapak tangannya. Kalau bukan pencuri yang masuk ke sini, putusnya, pasti orang itu orang yang ceroboh dan berpikiran pendek.

__ADS_1


“Ya Tuhan!” Rachel menjatuhkan tasnya sampai mengeluarkan bunyi gedebuk, lalu melotot.


Sewaktu Jenson berbalik, ia melihat Rachel berdiri di depan pintu, sepucat es dan kaku. Jenson menyumpah-nyumpah, berharap ia punya waktu sebentar saja untuk menyiapkan diri menghadapi Rachel. “Tenang dulu,” ucapnya sambil meraih lengan gadis itu.


__ADS_2