
Tepat saat Mrs. Zephaniah meninggalkan kediaman Kakek Robert, hujan deras kembali mengguyur kediaman Kakek. Di luar sana udara cukup dingin untuk membuat kulit Rachel serasa tertusuk-tusuk, ia bergegas mengganti gaunnya dengan pakaian hangat.
Rachle merundukkan kerah jaketnya, dan ia mulai menyusuri lorong yang mengarah ke ruang kerjanya. Udara dingin di hari itu serasa menusuk tubuh. Ia menyukainya kesunyian sebab Jenson pun kembali ke kamarnya, dan ringannya udara.
Di Korea Rachel pernah nyaris terkena radang paru karena tak mampu menghindari badai hujan, ia terjebak di Busan ketika hendak mendatangi kediaman sahabatnya. Hujan deras yang terjadi dengan sangat mendadak itu membuatnya harus meneduh di sebuah cafe yang hampir tergenang banjir.
Musim hujan bagi Rachel sendiri merupakan waktu untuk hal-hal yang mendasar. Kehangatan, makanan, pekerjaan. Ada saatnya Rachel hanya menginginkan hal-hal yang mendasar, namun ada kalanya tidak.
Saat ia di New York ia berdebat selama berjam-jam tentang perserikatan, politik, dan hak-hak sipil, karena kenyataannya adalah ia menyukai perdebatan. Ia menginginkan rangsangan dari seseorang yang berbeda pandangan dengannya dalam isu-isu yang banyak dibicarakan maupun yang konyol. Ia menginginkan tantangan, panas dan latihan untuk otaknya. Tetapi…
Ada saatnya ia sangat menginginkan kesunyian, gemercik hujan yang turun dari langit, serta janji akan segelas minuman hangat di dekat perapian. Dan ada saatnya, walau ia sendiri pun jarang mengakuinya, ia menginginkan bahu seseorang untuk menyandarkan kepalanya dan sebelah tangan untuk digenggam, ia berharap suatu hari akan menemukan pria idamannya.
Ia dibesarkan untuk menganggap kemandirian sebagai kewajiban, bukannya pilihan. Kedua orang tuanya memiliki hubungan yang paling seimbang, merata satu sama lain. Rachel melihat mereka sebagai sesuatu yang langka di dunia di mana skala-skalanya terlalu sering bergeser tanpa arah. Pada usia delapan belas tahun, Rachel memutuskan untuk tidak menetap kecuali mendapatkan pasangan. Pada usia dua puluh tahun, ia memutuskan bahwa pernikahan bukanlah untuknya. Ia malah mencurahkan segala gairah, tenaga, dan daya khayalnya kepada pekerjaannya.
__ADS_1
Dedikasi sepenuh hatinya mendapat balasan yang setimpal. Ia sukses, bahkan terkemuka di bidangnya, dan secara kreatif ia puas. Itu lebih dari yang bisa dicapai oleh banyak orang.
Sekarang ia membuka pintu masuk ruang kerjanya. Ruangan itu sangat besar dan berbentuk persegi, lantainya terbuat dari kayu yang keras dan dindingnya berpanel, Kakek Robert tidak percaya pada hal-hal primitif. Setelah menekan tombol, ruangan itu dibanjiri cahaya.
Sesuai instruksinya, koper dan kotak-kotak yang dikirimkannya sudah disusun di salah satu bagian dinding itu. ia menghitung ada lima meja kerja, dengan ruangan yang memiliki pencahayaan dan ventilasinya juga baik sekali.
Tidak akan mmemakan waktu lama, pikir Rachel, untuk mengubah ruangan ini menjadi ruang kerja yang teratur dan produktif.
Butuh waktu tiga jam.
Uang yang diinvestasikannya pada bahan-bahan itu telah mengeruk warisan yang didapatnya dari neneknya, juga tabungan yang dikumpulkannya selagi magang. Imbalannya sesuai. Rachel mengambil sebuah map dan mengusapnya dengan telapak tangannya. Imbalannya sangat-sangat setimpal.
Ia sanggup memalsukan perak menjadi emas, menggabungkan dua jenis logam dan menciptakan desain yang luar biasa rumit hanya dengan menggunakan sedikit manik-manik ataupun kulit kerang. Logam dapat dibentuknya menjadi untaian tipis bak benang maupun gumpalan-gumpalan besar yang padat. Rachel sanggup melakukan apa pun yang ia pilih, dengan peralatan yang nyaris sama persis dengan yang digunakan oleh seniman di masa dua abad yang lalu.
__ADS_1
Kesinambungan dan jenisnya yang beraneka ragam selalu menarik hati Rachel. Ia tak pernah menciptakan dua karya yang sama persis. Hal itu baginya adalah buatan pabrik, bukannya basil karya. Suatu kali, karyanya bergaya sederhana dan anggun, desainnya klasik. Karya itu cukup laris dan memberinya sedikit kebebasan artistik. Kali lain, karyanya berani dan garang, serta berlebih-lebihan. Dorongan hatilah yang memandu Rachel, bukan tren. Jarang, jarang sekali, ia bersedia membuat suatu karya sesuai dengan gaya tertentu. Kecuali jika gaya, ataupun kliennya, menarik baginya.
Ia pernah menolak pesanan seorang presiden karena menurutnya ide orang itu terlalu biasa, tapi ia bersedia memenuhi permintaan seorang ayah baru untuk membuat sebentuk cincin karena menurutnya ide pria itu unik. Rachel diberitahu bahwa ibu baru itu tak pernah melepaskan mata rantai emas yang dijalin itu dari jemarinya. Tiga mata rantai, satu untuk setiap bayi kembar tiga yang dilahirkan wanita itu.
Saat ini Rachel baru saja selesai membuat desain seuntai kalung bertingkat tiga yang dipesan oleh suami seorang penyanyi terkenal, syarat yang diajukan pria itu pada Rachel. Pria itu menginginkan banyak zamrud di kalung itu. Dan pria itu sudah membayar, renung Rachel, untuk selusin zamrud yang dipesannya tepat sebelum meninggalkan New York. Zamrud-zamrud itu berbentuk persegi, masing-masing tiga karat, dan berwarna hijau mencolok yang membuatnya amat berharga.
Rachel tahu, itu adalah kesempatan besar baginya, secara profesional dan yang paling penting, secara artistik. Kalau kalung itu sukses, bukan cuma ulasan yang akan muncul di buku kenangannya, melainkan juga penerimaan. Ia akan lebih leluasa melakukan lebih banyak hal yang diinginkannya tanpa kompromi.
Triknya adalah untuk merangkai untaian itu supaya melekat seperti besi dan tampak seperti sarang laba-laba. Bebatuan itu akan terjuntai dari setiap tingkatnya seakan-akan tercelup di sana.
Selama dua jam selanjutnya, ia mengerjakan emasnya.
Di apit oleh pemanas ruangan di pojok-pojok ruangan dan bunga api dari peralatannya, udara menjadi pengap. Butir-butir keringat bercucuran di balik baju hangatnya, tapi ia tak peduli. Bahkan, ia nyaris tak memperhatikan saat emas itu menjadi liat. Lagi dan lagi, dibentangkannya kawat itu di drawplate, dirapikannya bagian-bagian yang kusut dan perlahan-lahan mengubah ukuran serta bentuknya. Ketika kawat itu sudah terlihat seperti rambut bidadari, ia mulai menggunakan jemarinya, memuntir dan mengepangnya sampai sesuai dengan rancangan yang ada di benak dan kertas gambarnya.
__ADS_1
Karya itu akan sederhana—anggun, namun sederhana. Zamrud-zamrudnya akan membawa kilaunya sendiri saat ia merangkaikannya.