Surat Wasiat Kakek Robert

Surat Wasiat Kakek Robert
Chapter 13


__ADS_3

Sebuah mobil berbelok di tikungan jalan dan menghilang dari pandangan. Hujan turun rintik-rintik. Lampu neon menerangi genangan-genangan air. Keadaannya agak muram, bukannya meriah. Ada semacam perasaan kelabu dan menyedihkan di bagian kota ini. Gang-gang kecil, klub-klub murahan, mobil-mobil penyok. Si pirang mungil yang berbusana rapi itu berjalan cepat-cepat. Ia gugup, bukan sifatnya, namun tidak tersesat. Close-up pada amplop di tangannya. Amplop itu lembap karena hujan. Jari-jarinya membuka dan menutup benda itu. Decit ban muncul di layar dan ia tersentak. Cahaya biru dari klub itu berkelap-kelip di wajahnya saat ia berdiri di luar. Ia termangu. Memindah-mindahkan amplop itu dari satu tangan ke tangan yang lain. Tiga tembakan, lalu....


Itulah naskah drama yang tengah Jenson buat sebelum tiga ketukan terdengar di pintu ruang kerja Jenson. Sebelum ia menjawab suara ketukan itu, Rachel telah terlebih dahulu melenggang masuk. “Selamat hari pernikahan sementara yang kedua minggu, Sayang.”


Jenson mendongak di balik laptopnya, ia lebih sering terjaga di malam hari, mengerjakan cerita yang sudah terbentuk di benaknya. Sekarang pukul sembilan pagi, dan ia cuma minum segelas kopi untuk membuatnya segar sepanjang hari. Kopi dan rokok merupakan senjata pamungkasnya untuk membuat naskah, tapi sayangnya adegan yang sempat tercetus di benaknya seketika menghilang karena kedatangan Rachel.


“Iih... kau ini mau apa sih?” Jenson mengulurkan tangannya ke dalam semangkuk kacang dan mendapati dirinya sudah memakan semuanya kecuali dua butir yang tersisa.


“Dua minggu penuh tanpa ada tulang yang patah.” Rachel mencondongkan tubuh, dan menjulurkan lidahnya ke arah Jenson, lalu ia menarik sebuah kursi yang berada di sudut ruangan, karena hanya itulah satu-satunya tempat kosong yang tersedia di ruang jerja Jenson. Dikibaskannya debu di pojok meja di sampingnya, dan meninggalkan segaris corengan. “Dan mereka selalu bilang kalau kita tidak akan bisa bertahan.”


Rachel kelihatan segar dengan rambut merah liarnya yang disisir ke belakang, ia tampak nyaman dalam baju hangat dan celana panjang yang terlalu besar baginya. Jenson merasa seolah-olah Rachel baru saja keluar dari gua.


Kaus lengan panjang yang dikenakannya sudah robek di bagian kelim bahunya sejak dua tahun yang lalu, tapi ia tetap menyukainya. Beberapa minggu sebelumnya, ia menolong seorang teman mengecat apartemen. Noda cat di celana jinsnya menunjukkan bahwa temannya sangat menyukai warna merah jambu.


Rachel tersenyum padanya bagaikan seorang guru taman kanak-kanak yang ceria dan antusias. Aroma tubuhnya segar, bersih, mirip bunga-bunga di tanan. “Kita punya peraturan tentang menghormati ruang kerja orang lain bukan,” Jenson mengingatkan.


“Oh, jangan cepat ngambek sayang, santai aja aku ingat akan hal itu kok.” Rachel mengatakannya dengan senyum meyakinkan yang sama. “Lagi pula, kau tidak pernah memberiku jadwal jam kerjamu, jadi aku tidak tahu kalau kau sedang bekerja. Dan yang kuperhatikan selama beberapa hari terakhir ini, kau terlalu sibuk Jenson.”


“Aku baru mulai menjalani treatment untuk episode baru.”


“Sungguh?” Rachel menarik kursinya ke sebelah Jenson dan ia bersandar pada bahu Jenson. “Hmm,” ucapnya, meskipun ia bertanya-tanya siapa yang telah menembak siapa. “Well, aku rasa itu tidak akan butuh waktu lama.”

__ADS_1


“Kenapa kau tidak bermain dengan manik-manikmu saja?”


“Sekarang kau bersikap kasar di saat aku datang ke sini untuk mengajakmu pergi bersamaku untuk jalan-jalan.” Rachel beranjak dari tempat duduknya dan ia berpindah ke bagian ujung meja.


Rachel tidak tahu pasti mengapa ia bisa bersikap manis dan ramah musuh sekaligus suami sementaranya. Mungkin karena kalung zamrud itu hampir selesai dan bahkan sudah melampaui standarnya sendiri. Mungkin karena dalam dua minggu terakhir ini ia menemukan semacam kesenangan dengan hadirnya Jenson.


Jenson memicingkan mata. “Untuk apa, tumben sekali.?”


“Aku ingin membeli beberapa bahan yang dibutuhkan Jesica.” Ia menganggat cangkang kura-kura yang menjadi hiasan di meja kerja Jenson, dan Rachel menelusurinya dengan jemarinya. “Aku pikir kau ingin keluar sebentar.”


Jenson sebenarnya sangat ingin keluar. Sudah dua minggu sejak kedatangannya ke rumah Kakek Robert ia belum sama sekali keluar, tapi kemudian ia balik memandangi kertas di mesin printernya. “Kira-kira makan waktu berapa lama?”


“Oh, dua-tiga jam aku rasa.” Rachel menggerakkan bahunya. “Pulang pergi saja butuh waktu satu jam, aku mau ke PIM ada ice cream enak di sana.”


“Baiklah.” Rachel bangkit dari meja, sedikit terkejut karena kekecewaan yang dirasakannya. Konyol, pikirnya. Ia senang mengemudi sendirian sambil menyetel radio keras-keras. “Jangan biarkan jari-jarimu itu keseleo,” ledeknya.


Jenson mulai merutukkan sesuatu di belakang Rachel, karena mangkuk kacangnya sudah kosong, “Rachel, bagaimana kalau kau membelikan aku beberapa gram pistachio?”


Rachel berhenti di depan pintu, ia mengangkat Sebelah alisnya. “Pistachio?”


“Iya, stokku sudah habis, Kau tidak keberatankan?” Jenson meraih sekotak roko dan mengambilnya satu batang. Satu isapan panjang yang dalam, membuat pikirannya kembali tenang.

__ADS_1


Rachel melirik ke mangkuk kosong itu dan nyaris tersenyum. “Aku rasa, aku tidak keberatan.”


“Dan satu majalah nasional.”


Alis gadis itu bertaut naik. “Apa kau mau membuatkan daftar titipanmu untukku?”


Jenson menggeleng. “Jadilah anak manis. Lain kali bila Jesica butuh bahan-bahan makanan, aku akan ikut.”


Rachel memikirkannya selama sesaat. “Baiklah kalau begitu, kacang dan majalah.”


“Dan beberapa batang pensil serta penghapusnya!” seru Jenson.


Rachel membanting pintu dengan cerdiknya.


...****************...


Nyaris dua jam berlalu sebelum Jenson memutuskan bahwa ia berhak mendapatkan segelas kopi lagi. Alur ceritanya berjalan sesuai dengan yang direncanakannya, penuh lika-liku. Para penggemar Logan Run mengharapkan greget yang sekali-sekali diberi percikan warna dan keajaiban. Naskah seperti itulah yang bisa laku di pasaran.


Mengesampingkan soal mediumnya, Jenson menikmati pekerjaannya menulis untuk layar kaca. Ia senang mengetahui bahwa ceritanya bisa menjangkau berjuta-juta orang setiap minggu, dan selama satu jam mereka bisa melibatkan diri dengan tokoh yang telah ia ciptakan.


Kenyataannya, Jenson menyukai Logan Run kepahlawanan yang segan namun mantap, humor dan segala kekurangannya. Ia membuat Logan manusiawi dan dapat berbuat kekeliruan, juga malas-malasan karena di dalam bayangan Jenson, pahlawan-pahlawan terbaik selalu seperti itu.

__ADS_1


Rating dan surat penggemar membuktikan bahwa ia telah mencapai sasaran. Naskah Logan-nya sudah membuatnya mendapatkan sambutan hangat dan beberapa penghargaan, seperti halnya naskah satu babak yang ditulisnya telah membuatnya mendapatkan hal yang sama. Tapi naskah itu mendapatkan beberapa ratus komentar baik, sebagian besar dari para pemirsa di Jakarta. Logan’s Run menjangkau semua kalangan. Mulai dari orang dewasa hingga anak-anak.


Jenson memandang televisi sebagai kotak ajaib yang semua orang berhak menikmati sejumput keajaiban dari dalamnya.


__ADS_2