Surat Wasiat Kakek Robert

Surat Wasiat Kakek Robert
Chapter 15


__ADS_3

Rachel menepisnya dengan paksa dan menerobos ke dalam ruang kerjanya. Manik-manik bergulir dan berlompatan di kakinya. Selama sesaat, hanya  ada  rasa terkejut dan tak percaya. Lalu muncul-lah amarah dalam diri Rachel. “Bagaimana kau bisa?” ucapnya sewaktu berpaling kembali ke arah Jenson. Wajah Rachel kini tidak lagi pucat. Wajahnya berubah memerah marah, matanya menyala-nyala  persis seperti zamrud yang masih digenggam Jenson.


Jenson yang tak siap, hampir saja terkena serangan tinju yang Rachel arahkan ke wajah tampannya. Udara berdesing dekat wajahnya saat tinju itu luput, Jenson berhasil menangkap lengan Rachel sebelum gadis itu mencoba menyerangnya lagi. “Tunggu sebentar,” ucapnya, tapi Rachel sudah melemparkan dirinya sendiri dengan kasar ke arah Jenson dan membuat mereka berdua membentur rak. Apa saja yang masih tertinggal di rak itu terguncang atau berjatuhan.


Butuh beberapa waktu, dan beberapa memar di kedua kubu, sebelum akhirnya Jenson berhasil memelintir lengan Rachel ke belakang dan membuatnya diam.


“Hentikan.” Jenson terus menekan Rachel sampai wanita itu memelototinya, matanya kering penuh kemarahan. “Kau berhak marah, tapi kau tidak akan mendapatkan apa pun dengan memukuliku.”


“Aku tahu kau sanggup melakukan tindakan murahan,” cerca Rachel sambil mengertakkan gigi. “Tapi aku tidak percaya kau sanggup melakukan tindakan sekotor ini.”


“Percayalah pada apa pun yang ingin kau percaya,” ucap Jenson, tapi ia merasakan tubuh Rachel gemetar saat berupaya mengendalikan diri. “Rachel,” suara Jenson melunak. “Aku tidak melakukan ini. Lihat aku,” tuntutnya sedikit gemetar. “Kenapa aku mesti melakukan ini?”


Karena ingin menangis, suara dan mata Rachel tampak berat. “Baiklah, coba kau jelaskan, mengapa semua ini terjadi?”


Kesabaran bukanlah kelebihannya, tapi Jenson mencobanya. “Rachel, dengarkan aku. Cobalah berpikir jernih sebentar dan dengarkan aku. Aku sampai di sini beberapa menit sebelum kau datang. Melalui jendela ruang kerjaku, aku melihat dari jendela ruang kerjamu ada seseorang keluar, lalu aku pun ke mari, dan inilah yang kutemukan.”


Rachel baru saja akan mempermalukan dirinya sendiri. Ia merasakan pelupuk matanya berkaca-kaca dan membenci hal itu. “Lepaskan aku.”


Dengan hati-hati, Jenson melepaskan lengan Rachel dan melangkah mundur. “Belum lebih dari sepuluh menit sejak aku melihat seseorang keluar dari sini. Kurasa dia mengambil jalan melaluintangga belakang yang tembus ke gudang lalu pintu gerbang belakang.”


Rachel mencoba berpikir, dan menghapus kemarahan di benaknya. “Kau boleh pergi,” ucapnya tenang. “Aku harus beres-beres dan melakukan pengecekan.”


Sesuatu yang panas tercekat di tenggorokan Jenson akibat pengusiran itu. Mengingat reaksinya sendiri sewaktu membuka pintu ruang kerja itu, ia menelannya begitu saja. “Aku akan memanggil polisi kalau kau mau, tapi aku tidak tahu apakah ada benda yang dicuri.” Ia membuka genggamannya dan menunjukkan zamrud itu.


“Aku tak bisa membayangkan ada pencuri yang meninggalkan batu seperti ini begitu saja.”

__ADS_1


Rachel merampas zamrud itu dari tangan suaminya. Sewaktu menggenggamnya, ia merasakan jemarinya tertusuk pisau. Zamrud itu sepertinya keluar dari kawat yang dililitkan di sekelilingnya.


Jantungnya berdebar kencang saat berjalan ke arah meja kerjanya. Ada sisa-sisa kalung yang sudah dikerjakannya selama dua minggu. Tingkat-tingkat halus nan indah itu sudah tercerai-berai, zamrud yang sebelumnya bergantungan dengan anggun, kini berserakan. Rachel mengumpulkan bagian-bagiannya dengan tangan seraya melawan dorongan untuk berteriak.


“Ini kan?” Jenson memungut selembar sketsa dari lantai. Di kertas, kalung itu tampak menakjubkan, sekaligus penuh daya khayal dan berani. Jenson menganggap yang digambar Rachel itu berhak disebut sebagai seni. Ia membayangkan bagaimana rasanya jika seseorang menggunting salah satu naskahnya. “Kau sudah hampir selesai.”


Rachel meletakkan bagian-bagian itu di meja. “Tinggalkan aku sendiri.” Ia merundukkan badan dan mulai mengumpulkan bebatuan dan manik-manik.


“Rachel," ucapnya ketika gadis itu mengabaikannya, Jenson mencengkeram bahunya dan mengguncangnya. “Rachel, aku ingin membantu.”


Rachel memandanginya dengan tatapan dingin. “Sudah cukup yang kau lakukan, Jenson. Sekarang tinggalkan aku sendiri,” pintanya.


“Baiklah.” Jenson melepaskannya dan melesat pergi. Kemarahan dan frustrasi melewati lorong. Di tengah-tengah ia berhenti, menyumpah-nyumpah dan mengharapkan sebatang rokok.


Rachel tak punya hak untuk menuduhnya. Lebih buruk lagi, Rachel tak punya hak untuk membuat Jenson merasa bertanggung jawab atas kejadian itu. Rasa bersalah yang dirasakannya nyaris sekuat yang akan dirasakan Rachel. Dengan tangan di saku, Jenson berdiri sambil kembali menatap ruang kerja dan mengutuk wanita itu.


Ia nyaris mulai melangkah menuju kamarnya, saat ia mengingat betapa terkejut dan sakitnya Rachel di depan pintu ruang kerja itu. Sambil menyebut dirinya sendiri bodoh, Jenson berbalik lagi.


Saat membuka pintu ruang kerja itu lagi, kekacauannya masih sama seperti terakhir kali Jenson melihatnya. Ada Rachel yang duduk di tengah-tengah ruangan, di lantai dekat bangku kerjanya. Ia sedang menangis diam-diam.


Jenson merasakan kepanikan lelaki yang murni saat dihadapkan dengan air mata feminin, dan terkejut karena air mata itu datang dari Rachel yang tak pernah mencucurkannya. Ia merasa simpati pada seseorang yang sepertinya selalu bisa mendaratkan pukulan tepat pada sasaran. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Jenson menghampirinya dan merangkul tubuh Rachel.


Tubuh Rachel menegang, tapi Jenson sudah memperkirakannya. “Aku sudah menyuruhmu pergi," ucap Rachel.


“Yah. Kenapa aku mesti mendengarkanmu?” Jenson membelai rambutnya.

__ADS_1


Rachel ingin beringsut ke atas pangkuan lelaki itu dan menangis selama berjam-jam.


“Aku tidak menginginkanmu di sini,” Rachel terisak.


“Aku tahu. Anggap saja aku pangeran berkudah putih yang ada dalam imajinasimu.” Jenson mendekapnya.


“Aku menangis cuma karena marah.” Sambil mendengus, diarahkannya wajahnya ke kemeja Jenson.


“Tentu.” Jenson mengecup bagian atas kepalanya. “Silakan marah. Aku sudah terbiasa dan siap menerimanya.”


Rachel mengatakan pada dirinya sendiri bahwa itu karena ia dilemahkan oleh rasa terkejut dan sedih, tapi ia bisa rileks dalam pelukan Jenson. Air matanya tumpah ruah. Ketika menangis, ia menangis dengan sepenuh hati. Ketika tangisnya selesai, ia sudah pulih.


Setelah air matanya mengering, ia duduk nyaman dalam dekapan Jenson. Aman. Ia takkan mempertanyakannya sekarang. Bersamaan dengan marah, datang rasa malu yang tidak biasa ia hadapi. Ia sudah bersikap jahat pada Jenson. Tapi pria itu kembali lagi dan mendekapnya. Siapa yang bisa mengira bahwa pria itu bisa bersikap sabar, atau penyayang? Atau cukup kuat untuk membuatnya menerima keduanya. Rachel menghela napas panjang dan membiarkan matanya terpejam sejenak. Aroma tubuh Jenson semerbak di hidungnya.


“Maafkan aku, Jenson.”


Rachel sungguh lembut. Bukankah ia baru saja membatin bahwa wanita itu takkan bersikap begitu?


Dibiarkannya pipinya menyapu rambut Rachel.


“Aku betul-betul minta maaf,” ucap Rachel panuh rasa bersalah. Saat ia memalingkan kepalanya, bibir Rachel menyentuh pipi Jenson. Hal itu mengejutkan mereka berdua. Kontak semacam itu hanyalah untuk kekasih atau suami istri.


“Aku tidak bisa berpikir sewaktu tiba di sini. Aku...” Bicaranya terhenti sejenak, takjub oleh mata Jenson meneduhkannya. Mengapa ia tidak pernah memperhatikan hal itu sebelumnya? “Aku perlu membereskan ini semua.”


“Yeah.” Jenson menelusuri pipi Rachel dengan ujung jemarinya. Wanita itu sungguh lembut. Lebih lembut dari yang ia pikirkan sebelumnya. “Kita berdua perlu membereskannya.”

__ADS_1


Begitu nyamannya ia dalam dekapan Jenson. “Aku belum bisa berpikir, langkah selanjutnya tapi yang jelas aku ingin membereskannya.” Bibir Rachel hanya berjarak satu inci dari bibir Jenson, itu terlalu dekat untuk diabaikan, tapi terlalu jauh untuk dirasakan.


“Nanti kita pikirkan sama-sama,” ucap Jenson. Saat Jenson menyentuhkan mulutnya ke mulut Rachel, Rachel tidak berpaling, namun menerimanya.


__ADS_2