
Rachel dan Jenson sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing, mereka berpapasan hanya saat jam makan saja sesuai dengan perjanjian yang mereka buat, setelah itu mereka kembali ke ruang kerja mereka masing-masing, mereka terlalu sibuk untuk bisa mengejek satu sama lain.
Di sisi lain mereka berdua merasakan kepuasan terhadap diri sendiri, karena bulan pertama berhasil mereka lewati. Satu bulan berlalu, tinggal lima bulan lagi.
Ketika mereka hendak melewati bulan kedua, Jenson harus ke kantor selama seharian penuh untuk menangani masalah pernaskahan yang harus diurusnya. Ia pergi dengan perasaan jengkel seperti beruang, dan berulang kali merutuk soal kebodohan.
Rachel bersiap menikmati saat-saat kepergian Jenson, ia tak perlu membagi rumah kakeknya dengan orang lain selama beberapa jam. Ia bisa melakukan apa pun yang diinginkannya tanpa khawatir seseorang datang mengintip ataupun berkomentar pedas. Itu akan menyenangkan sekali.
Tapi di malam hari Rachel nampak bosan, ia mendapati dirinya mencungkil-cungkil makan malamnya, lalu mengamati teras tempat Jenson memarkirkan kendaraannya, melalui tirai brokat yang berat. Aku tidak merindukan pria itu, ia meyakinkan dirinya sendiri. Itu cuma karena ia telah terbiasa ditemani seseorang di rumah itu.
Bukankah itu salah satu alasan mengapa sebelumnya ia tidak tinggal bersama seseorang? Ia ingin menghindari segala bentuk ketergantungan. Dan ketergantungan adalah alami saat kau berbagi tempat tinggal, bahkan jika kau membaginya dengan seekor ular berkaki empat, jadi ia menunggu Jenson pulang.
Lama setelah Nyoman dan Jesica pergi tidur, Rachel masih menunggu Jenson. Ia berkata pada dirinya sendiri bahwa ia tidak pergi tidur karena ia tidak lelah.
Rachel berjalan-jalan di lantai satu, ia melangkah menuju ruang kerja kakek. Ruang bermain bisa menjadi istilah yang lebih pantas. Dekorasinya percampuran antara tempat bermain video game dan ruangan untuk berdisko dengan komponen-komponennya yang bercita rasa seni serta sofanya yang rendah melengkung.
Ia berpaling ke televisi besar tiga puluh empat inci, kemudian menetapkan acara pertama yang tampil. Ia tidak menontonnya. Ia cuma ingin ditemani.
Ada dua meja pinball yang diutak-atiknya nyaris satu jam penuh demi mengalahkan skor tinggi yang sudah diraih kakek. Sebuah warisan lagi. Lalu ada video game berukuran besar yang menampilkan serangan terhadap planet Zarbo. Di bawah sistem pertahanan Rachel yang serampangan, planet itu meledak tiga kali sebelum ia berhasil melanjutkan permainan ke tingkat berikutnya. Ada juga permainan catur yang sudah terkomputerisasi, tapi ia menganggap otaknya terlalu malas untuk memainkannya. Akhirnya ia meregangkan diri di atas sofa berjarak dua meter di muka televisi. Hanya untuk beristirahat, bukannya menonton.
Tak lama kemudian, ia sudah menonton satu acara televisi larut malam tentang polisi. Dengan kepala disangga kedua tangan, sebelah kaki disandarkan ke atas sofa, ia bersantai dan membiarkan dirinya dihibur.
Ban-ban yang berdecit dan lesatan-lesatan peluru. Ketika Jenson sampai di depan pintu, Rachel tidak memperhatikannya. Jenson mengalami hari yang melelahkan dan terpaksa menghadapi jalanan ibu kota yang luar biasa macet dalam perjalanan pulang.
Nyatanya ia sempat berpikir untuk menginap semalam di hotel, ia mendapatkan undangan si asisten produser, seorang wanita berambut cokelat yang rapi dengan mata cokelatnya yang besar. Namun ia lebih memilih untuk tidur sendirian di rumah Kakek, bagiamana pun ia terikat pernikahan jadi tak ingin tidur wanita lain selama masih menikah dengan Rachel, meski wanita itu tak melarangnya untuk bercinta dan menjalin kasih dengan siapapun.
Jenson berniat merangkak ke atas, menjatuhkan diri di ranjangnya dan tidur sampai siang, tapi melihat cahaya dan mendengar bunyi ribut. Ia melihat Rachel menonton televisi sembari berbaring di sofa menyaksikan tayangan ulang pada pukul satu dini hari. Wanita itu kelihatan ingin tahu seolah-olah tengah bersenang-senang.
Bukan acara yang jelek, renung Jenson, mengenali serial itu. Bahkan, ia pernah menulis beberapa naskah untuk serial itu pada masa-masa awal kariernya. Tokoh utamanya memiliki akal licik juga sikap canggung yang membuat si pelaku mengeluarkan cukup banyak informasi untuk membuatnya ditangkap pada akhir acara.
Jenson mengamati Rachel yang bergerak-gerak dengan nyamannya di sofa. Jenson menunggu sampai jeda iklan. “Well, ternyata kamu nonton TV juga.”
Rachel memang nyaris terjatuh, bergulir dengan cepatnya untuk melihat ke belakang, ke arah pintu masuk. Ia bangkit, mengerutkan dahi dan memutar otak untuk mencari alasan yang dapat diterima. “Aku tidak bisa tidur,” katanya, yang memang benar adanya. Ia tidak akan menambahkan satu lagi alasannya, yaitu karena Jenson tidak ada di rumah.
__ADS_1
“Kurasa televisi memang dibuat untuk penderita insomnia. Valium untuk pikiran.” Jenson letih, sungguh letih, tapi ia menyadari betapa senang dirinya karena Rachel menyambutnya dengan cara ini. Ia mendekatinya, melompat duduk di sebelahnya, dan menyandarkan kakinya di meja kopi yang dibuat dari batangan kayu yang gemuk bulat.
“Acara ini tidak didasari oleh premis untuk menemukan siapa yang melakukan kejahatan. tapi pada bagaimana si pahlawan menjebak mereka untuk mengkhianati dirinya sendiri,” ucap Jenson,menghela napas. Senang sekali rasanya tiba di rumah.
Rachel berpura-pura tidak tertarik, tapi beringsut sedemikian rupa sehingga ia masih dapat melihat layar. “Jadi, bagaimana naskahmu?”
“Sukses.” Jenson melepas sebelah sepatunya dengan menggunakan ujung sepatu yang satu lagi. “Setelah beberapa jam menyalahkan casting director, naskah itu tetap utuh.”
Jenson kelihatan lelah. Benar-benar lelah, Rachel menyadarinya pria itu tak cukup sanggup membungkukkan tubuhnya untuk mencopot sepatunya yang sebelah lagi. Pria itu hanya mengeluarkan gerutuan singkat.
“Aku tidak mengerti kenapa orang mau begitu repot mengurusi sesuatu yang berlangsung cuma satu jam setiap minggunya.”
Jenson membuka sebelah matanya untuk memandangi Rachel. “Kau tak mengerti dunia hiburan televisi.”
“Apa sih bagusnya? Ada kejahatan, jagoannya mengejar penjahat dan menangkapnya sebelum credit title di bagian akhir film keluar. Sepertinya cukup sederhana dan membosankan.”
“Aku berterima kasih padamu karena telah mengucapkan itu, nanti akan kuucapkan pada rapat produksi yang akan datang.”
“Sungguh, Jenson, bagiku sepertinya semua berjalan cukup membosankan, apa kau tak merasakannya? kau sudah mengerjakan pekerjaan ini selama bertahun-tahun.”
Rachel tersenyum simpul. “Aku sudah pernah mendengarnya.”
“Yah, padukan itu dengan tabiat artistik, perlombaan rating, dan anggaran yang membengkak. Jangan lupa mempertimbangkan para eksekutif di jaringan. Keadaannya tak berjalan begitu mulus selama empat tahun. Kalau Logan dibuat sampai empat tahun lagi, keadaannya juga takkan berjalan mulus. Itulah bisnis pertunjukan.”
Rachel menggerakkan bahunya. “Sepertinya itu cara yang bodoh untuk mencari nafkah.”
“Memang,” Jenson mengiyakan, dan jatuh terlelap.
Rachel membiarkannya tertidur sejenak selama dua puluh menit berikutnya sementara ia sendirian menyaksikan si polisi licik yang canggung mengencangkan tali pada sang mitra bisnis yang serakah. Puas karena keadilan sudah ditegakkan, Rachel bangkit untuk mematikan televisi dan meremangkan lampu di ruangan itu.
Aku bisa meninggalkan Jenson di sini, pikirnya seraya mengamati Jenson yang sedang tertidur. Saat itu Jenson kelihatan cukup nyaman dengan kondisinya, Rachel menghampiri pria itu untuk mengusap rambut yang jatuh di dahinya.Tapi Jenson mungkin terbangun dengan leher yang kaku. Sebaiknya kubawa dia ke atas, ke tempat tidur, putus Rachel, dan mengguncang-guncangkan bahu pria itu.
“Jenson.”
__ADS_1
“Mmm?”
“Ayo ke tempat tidur.”
“Kupikir kau tidak akan memintanya,” gumamnya, dan meraih Rachel dengan setengah hati.
Rachel mengguncang-guncangnya lebih kuat lagi. "Ayolah, suami, akan kubantu kau ke atas.”
“Sutradaranya benar-benar bodoh,” gerutunya saat Rachel menyeretnya supaya berdiri, dengan sebelah tangan merengkuh pinggang Jenson, Rachel mulai menuntunnya keluar dari ruangan itu.
“Dia terus-terusan mengeluhkan naskahku.”
“Ada orang menyebalkan seperti itu? Sebentar lagi kita akan menaiki tangga,” Rachel memberitahunya.
“Katanya dia menginginkan lebih banyak pengaruh emosional di babak kedua. Yang benar saja,” rutuk Jenson ketika Rachel sudah setengah menyeretnya menaiki tangga. “Apa yang dia tahu soal pengaruh emosional?”
“Sudah jelas dia bermental kerdil.” Tersengal-sengal ia menopang Jenson memasuki kamarnya. Pria itu lebih berat dari kelihatannya. “Sekarang kita sudah tiba di kamar.” Dengan sedikit strategi serta tekad membara, didorongnya Jenson ke tempat tidur. “Nah, begini nyaman, kan?” ia meninggalkan pria itu yang masih berpakaian lengkap, Rachel menyelimutinya dengan selembar selimut
“Tidakkah kau mau mencopot celanaku dulu?”
Rachel menepuk kepala Jenson. “Jangan harap.”
“Ayolah.”
“Kalau aku menolongmu melucuti pakaian semalam ini, aku mungkin akan mengalami mimpi buruk.”
“Bukankah kau sangat tergila-gila padaku?” Tempat tidur itu terasa bagai surga. Jenson bisa berkubang seminggu penuh di sana.
“Kau mulai mengigau, Jenson. Akan kuminta Nyoman membawakanmu teh hangat dan madu besok pagi.”
Jenson memaksa dirinya membuka mata dan tersenyum pada Rachel. “Kenapa kau tidak merayap ke sampingku? aku bisa memberimu pelukan hangat."
Rachel mencondongkan badannya, mendekat sampai bibirnya tinggal beberapa inci saja jaraknya dari bibir Jenson. Napas mereka berpadu cepat dan intim. Sesaat Rachel terus begitu sementara rambutnya jatuh menyentuh pipi Jenson. “Dalam mimpimu,” bisiknya.
__ADS_1
Jenson mengangkat bahu, menguap, dan menggulingkan badan. “Ayolah!”
"TIDAK..." Rachel lalu melangkah pergi dengan membanting pintu kamar Jenson.