Surat Wasiat Kakek Robert

Surat Wasiat Kakek Robert
Chapter 47


__ADS_3

“Seseorang?” Rachel memindahkan telepon itu dan mendengarkan baik-baik. Dari suaranya yang terdengar gemetar, Rachel tak menangkap sebuah ancaman melaikan kegugupan. Rachel yakin bahwa itu adalah suara laki-laki. “Kalau kau mencoba untuk menakut-nakutiku...”


“Aku tidak menakut-nakutimu, aku mencoba untuk memperingatkanmu. Ketika aku mengetahui…” suara itu kini terdengar pelan dan jauh. “Seharusnya kalian tidak mengirim sampanye itu, karena aku tidak bisa membayangkan apa yangbterjadi selanjutnya."


Tiba-tiba saja Rachel merasa perutnya melilit. Di luar jendela dapur, keadaannya gelap, sungguh sangat gelap. Ia hanya seoraang diri berada di rumah bersama dua orang pelayan tua yang sedang sakit. “Tolong beritahu siapa dirimu, dan bantu aku menghentikan apa yang tengah terjadi.”


“Aku sudah mempertaruhkan segalanya dengan memperingatkanmu. Kau tidak mengerti. Keluar, keluarlah dari rumah itu segera.”


Apakah ini suatu cara? ucap Rachel pada diri sendiri. Cara untuk membuatnya keluar dari rumah. Rachel menegakkan bahu, namun pandangannya beralih dari satu jendela kosong ke jendela kosong lainnya. “Aku tidak akan pergi ke mana-mana. Kalau kau ingin membantu, katakan siapa yang mesti kutakuti.”


“Keluar saja,” ulang suara itu sebelum pembicaraan terputus.


Rachel terpaku sambil menggenggam gagang telepon yang terdiam. Minyak di penggorengannya mulai bergolak, bersaing dengan suara radio. Setelah mengamat-amati jendela dan mendengarkan, Rachel meletakkan telepon pada tempatnya. Ini tipuan, ujarnya dalam hati. Ini hanya tipuan untuk membuatnya keluar dari rumah dengan harapan ia menjadi cukup takut untuk tetap tinggal di luar. Ia tidak akan ditendang keluar begitu saja oleh suara gemetaran di telepon.


Lagi pula, Jenson sudah memanggil polisi. Mereka tahu ia sendirian di rumah. Jika menangkap tanda-tanda akan timbul masalah, ia hanya perlu mengangkat telepon.

__ADS_1


Tangannya tidak benar-benar mantap, tapi ia kembali memasak dengan gusar. Dimasukkannya ayam bertepung ke penggorengan, memeriksa kentang yang sudah dimasak, dan memutuskan bahwa menikmati segelas kecil anggur sementara bekerja adalah gagasan yang bagus. Ia tengah menuangkannya sewaktu Bruno berlari-lari ke dapur dan mengitari kakinya.


“Bruno.” Rachel membungkuk dan merangkul anjing itu. Binatang itu terasa hangat dan padat. “Aku sangat senang kau di sini, kau yang akan menemani aku selama Jenson tidak ada,” gumamnya. Tapi sejenak, ia membiarkan dirinya berharap dengan amat sangat akan hadirnya Jenson.


Bruno menjilati wajahnya, melompat-lompat dengan ceroboh ke arah meja, lalu melaju ke pintu. Menabrak pintu itu, ia mulai menggonggong.


“Sekarang?” tanya Rachel “Masa kau tidak bisa menunggu sampai besok pagi.” Bruno melesat kembali ke Rachel, mengitarinya, kemudian kembali lagi ke pintu. Ketika ia sudah menjalani rute itu tiga kali, Rachel jadi kasihan. Telepon itu tak lebih dari sekadar tipuan, tipuan ceroboh. Lagi pula, batinnya sambil membuka kunci, tidak akan apa-apa baginya untuk membuka pintu dan melihat-lihat keadaan di luar rumah.


Begitu ia membukanya, Bruno langsung melompat keluar. Anjing itu mulai mengendus-endus dengan sibuknya sementara Rachel berdiri menggigil di ambang pintu dan memaksa matanya menembus kegelapan. Musik dan aroma masakan berpadu di belakangnya.


Hanya bayangan, sepertinya bayangan itu terpisah perlahan dari sebatang pohon dan membuat bentuknya sendiri. Sosok manusia. Sebelum Rachel sempat bereaksi, Bruno mulai menggonggong dan melesat melintasi genangan air.


“Jangan, Bruno! Ayo kembali.” Tanpa memberi dirinya kesempatan untuk berpikir, Rachel menyambar jaket hijau tua yang digantung di samping pintu kemudian mengenakannya. Untuk berjaga-jaga, diraihnya sebuah panci bergagang besi sebelum melesat untuk mengejar anjing itu. “Bruno!”


Si anjing sudah sampai di ujung hutan dan sudah bersemangat. Sambil mengumpulkan kepercayaan diri, Rachel meneruskan pengejarannya. Siapa pun yang telah mengintai rumah itu sudah melarikan diri saat melihat bayangan anak anjing yang ceroboh dan gendut itu. Rachel mendapati dirinya rentan akan bahaya, tapi ia menolak ditakut-takuti oleh seorang pengecut. Tanpa antusiasme sebesar Bruno, Rachel berlari cepat menuju hutan. Kehabisan napas dan perasaan tak dapat dihancurkan, ia berhenti cukup lama untuk melihat ke sekelilingnya dan mendengarkan. Sesaat tak ada apa-apa, lalu di sebelah kiri, ia mendengar salakan dan suara-suara ribut.

__ADS_1


“Kejar dia, Bruno!” teriaknya, dan mengarah ke asal kekacauan itu. Merasa penuh semangat karena pengejaran itu, Rachel memberi dukungan pada si anjing, lalu mengubah arah sewaktu mendengar Bruno balas menggonggong. Saat berlari, rintik hujan berjatuhan dan ranting-ranting pohon, membuat dingin dan basah merayapi bagian belakang lehernya. Gonggongan itu bertambah liar. Dan dalam ketergesaannya, Rachel terjatuh karena tersandung pohon tumbang. Ia meludahkan hujan seraya menyumpah-nyumpah, berjuang untuk kembali berdiri. Bruno melompat keluar dari hutan dan membuatnya terjerembap lagi.


“Bukan aku.” Berbaring telentang, Rachel mendorong si anjing. “Sialan kau, Bruno, kalau kau tidak…” Bicaranya terputus sewaktu tubuh anjing itu menjadi tegang dan mulai menggeram. Terbaring di jalan, Rachel melihat ke atas dan menangkap sesosok bayangan bergerak di antara pepohonan. Ia lupa bahwa ia terlalu angkuh untuk takut pada seorang pengecut.


Walaupun tangannya mati rasa karena kedinginan, digenggamnya pegangan panci itu. Ia bangkit berdiri, berjalan pelan-pelan menuju pohon terdekat. Berjuang untuk menjaga supaya napasnya tak bersuara, ia menguatkan diri untuk menyerang sekaligus mempertahankan diri. Kerabat atau orang asing, ia akan menjaga dirinya sendiri. Namun lututnya gemetaran. Bruno menjadi tegang dan mencondongkan dirinya ke depan. Begitu Bruno melakukannya, Rachel mengangkat pancinya tinggi-tinggi dan bersiap untuk mengayunkannya.


“Apa yang sedang terjadi?”


“Jenson!” Panci itu mendarat di jalan saat ia mengikuti tuntunan Bruno dan menghambur ke pelukan Jenson. Sesak oleh rasa lega, dihujaninya Jenson dengan kecupan-kecupan di sekujur wajah lelaki itu. “Oh, Jenson. Aku senang sekali ternyata kau.”


“Yeah. Kau memang tampak senang sewaktu mengayunkan panci itu. Kehabisan hair spray?”


“Ini mudah ditenteng.” Sekonyong-konyong Rachel mundur dan melotot ke arah sepupunya. “Keparat kau, Jenson, kau menakutiku setengah mati. Seharusnya kau sedang dalam perjalanan menuju Malang, bukannya berkeliaran di hutan seperti tadi.”


“Dan seharusnya kau mengunci diri di dalam rumah.”

__ADS_1


“Memang begitu seandainya kau tidak berkeliaran di hutan. Kenapa?”


__ADS_2