
Januari bulannya angin yang membekukan, hujan petir dan langit kelabu. Kedinginan mengisi hari, dengan esok yang menunggu tak terelakkan. Januari bulannya tungku perapian yang terlalu sering digunakan, Rachel sangat menyukai hangatnya perapian, embun pagi yang menghiasi jendela kamar, dan suhu di dalamnya tetap dingin walaupun pemanasnya sudah dinyalakan. Ia bekerja sampai jari-jarinya mati rasa dan menikmati setiap detiknya.
Sepanjang bulan itu, jalan menuju kediaman kakek Robert sering tak bisa dilalui karena banjir. Rachel tak keberatan jika ia tidak bisa keluar. Itu berarti tak seorang pun bisa masuk. Ac dan lemari pendingin hampir tak pernah digunakan, yang ada hanya banyaknya batangan kayu yang ditumpuk di samping pintu dapur. Menurut pendapatnya, mereka sudah memiliki apa yang mereka perlukan. Hari-hari terasa pendek dan produktif, malam terasa panjang dan santai. Sejak insiden sampanye itu, musim dingin ini menjadi tenang tanpa banyak peristiwa yang berarti.
Tanpa banyak peristiwa yang berarti, renung Rachel, bukanlah istilah yang tepat. Dengan sebuah gerakan cepat dan hati-hati, disimpannya ujung sepotong gelang tebal yang terbuat dari tembaga. Bukannya tak ada sesuatu pun yang terjadi. Tidak ada masalah yang bersumber dari luar, melainkan bersumber dari Jenson Dirgantara.
Jenson berhasil membuat serumpun bunga violet di sela-sela taman. Rachel yakin bahwa diperlukan sebuah tongkat ajaib untuk menghasilkan bunga ungu kecil itu di bulan Januari. Sewaktu ia menanyakannya pada Jenson, pria itu hanya tersenyum dan mengatakan bahwa bunga violet tidak berduri. Jawaban macam apa itu? Rachel bertanya-tanya, seraya memeriksa jepitan gelang itu dengan kaca pembesar. Ia puas dengan caranya merancangnya sehingga serasi dengan desain gelangnya.
Lalu, pernah suatu ketika ia keluar dari kamar mandi dan mendapati kamar tidurnya diterangi lusinan lilin. Kala ia menanyakan apakah listriknya padam, Jenson cuma tertawa dan menariknya ke tempat tidur.
Di lain waktu, saat makan malam, Jenson meraih tangannya dan membisikan kalimat cinta yang menggelikan di telinganya tepat sebelum subuh. Sekali waktu Jenson pun pernah bergabung dengannya di pancuran air tanpa diundang dan membungkam protesnya dengan membasuh setiap inci tubuhnya dengan tangannya sendiri. Rachel benar. Jenson Dirgantara tidak mengikuti aturan. Pria itu mulai menyusupi hatinya.
__ADS_1
Rachel memindahkan gelang itu dari catuknya lalu mulai menggosoknya hingga mengilap. Ia sudah membuat setengah lusin gelang lain dalam dua minggu terakhir ini. Gelang-gelang besar berbongkah-bongkah, beberapa menggunakan batu mencolok dan beberapa yang lain menampilkan ukir-ukiran ornamen. Gelang-gelang itu sesuai dengan suasana hatinya yang berani, berpendirian keras, dan sedikit konyol. Ia belajar untuk mempercayai nalurinya, dan nalurinya mengata kan bahwa gelang-gelang itu bakal terjual lebih cepat dari yang dikiranya dan ditiru sama cepatnya.
Ia tidak keberatan dengan peniruan tersebut. Bagaimana pun juga, hanya ada satu dari setiap tipe yang sungguh-sungguh merupakan kreasi Rachel Cecilion. Tiruan akan dikenali sebagai tiruan karena tidak mempunyai sesuatu yang spesial, individualitas dari yang asli.
Penuh kepuasan, dibalikkannya gelang itu dengan tangannya. Tak seorang pun akan salah membedakan karyanya dengan yang imitasi. Ia memang sering menggunakan kaca, bukannya bebatuan berharga atau semi berharga, karena kaca mengekspresikan suasana hatinya pada saat itu. Tapi setiap perhiasan yang dibuatnya membawa cirinya, opini dan kejujurannya. Ia tak pernah memikirkan harga ketika ia berkarya ataupun nilainya di pasar. Ia menciptakan apa yang perlu ia ciptakan terlebih dahulu, kemudian setelah selesai, sisi praktisnya mengira-ngira keuntungan yang akan diperolehnya. Selera seninya bervariasi pada satu perhiasan ke perhiasan lain, namun tak pernah berbohong.
Menatap gelang itu, Rachel menghela napas. Tidak, selera seninya tak pernah berbohong, tapi apakah ia sendiri melakukannya? Dapatkah ia yakin emosinya semurni perhiasan yang dibuatnya? Perasaan bisa ditiru. Perasaan bisa dicurangi. Sudah berapa kali dalam beberapa minggu terakhir ini ia berpura-pura? Bukan berpura-pura merasa, pikir Rachel, tapi berpura-pura tidak merasa. Ia adalah wanita yang selalu membanggakan kejujurannya. Kebenaran dan kemandirian berjalan bergandengan dengan seperangkat nilai yang dimiliki Rachel. Tapi ia berbohong terus-menerus pada dirinya sendiri, bentuk penipuan yang paling buruk.
Sudah waktunya untuk berhenti, batin Rachel. Sudah waktunya untuk menghadapi kebenaran perasaannya walaupun hanya dalam hati maupun pikirannya saja.
Tapi bertapa pun ia menafikan rasa hatinya, ia tetap mencintai Jenson. Rachel mengusap uap di jendela dan memandangi hujan di luar. Jenson tak boleh tahu ia mencintainya sebab itu akan membuat lelaki itu membusungkan dada, pikir Rachel sambil merengut. Jenson bakal membusungkan dada, sebelum berpindah ke penaklukan berikutnya. Rachel tentunya tak cukup bodoh untuk berpikir bahwa Jenson tertarik pada hubungan jangka panjang. Sudah jelas, ia sendiri juga tak tertarik pada hubungan semacam itu, ucapnya dalam hati saat mulai membereskan peralatannya.
__ADS_1
Pilihan lain adalah kabur. Setelah enam bulan selesai, ia bisa naik mobil, mengemudi ke bandara dan terbang ke mana saja sejauh mungkin dari Jenson. Melarikan diri adalah istilah yang lebih tepat lagi. Dengan begitu, ia tidak hanya menjadi pengecut, tapi juga pengkhianat. Tidak, ia tak kan mengecewakan Kakek Robert ia tidak akan lari. Berarti hanya ada satu pilihan.
Ia akan mempertahankan keadaan sekarang. Ia akan tinggal bersama Jenson, tidur dengannya, berbagi dengan Jenson berbagi apa saja kecuali apa yang ada di hatinya. Ia akan menjalani dua bulan yang masih tersisa ini dan menyiapkan diri untuk pergi begitu saja tanpa penyesalan.
Jenson mulai sampai pada hatinya, Rachel mengakui. Sampai padanya di tempat yang belum pernah disentuh lelaki lain. Rachel mencintainya karena itu. Ia membencinya karena itu. Dengan suasana hati yang sama kacaunya seperti pikirannya, ia mengunci diri di ruang kerjanya dan menyusuri halaman.
“Dia datang.” Dengan sebuah rencana baru yang siap diwujudkan Jesica menjauh dari jendela dapur dan memberi tanda pada Nyoman.
“Itu tidak akan berhasil.”
“Tentu saja akan berhasil. Kita akan mendorong anak-anak itu untuk bersama selamanya demi kepentingan mereka sendiri. Dan dua orang yang bertengkar seperti mereka sepantasnya memiliki seorang bayi agar mereka bisa rukun.”
__ADS_1
“Kita mencampuri yang bukan urusan kita.”
“Omong kosong!” Jesica duduk di kursi di belakang meja dapur. “Coba, siapa lagi yang bisa ikut campur kalau bukan kita? Siapa yang akan berkeliaran di rumah besar yang kosong ini kalau mereka kembali ke apartement mereka masing-masing? Sekarang ambil lap itu dan kipasi aku. Membungkuklah sedikit dan terlihat lemah.”