
Rachel duduk di tengah kamarnya yang digelapkan selama persis lima belas menit dan ia cuma mendengarkan saja. Yang perlu ia lakukan hanyalah pergi keluar tanpa ketahuan orang lain, sisanya akan mudah.
Ia membuka pintu kamarnya yang berderit, ia menahan napas, menunggu dan mendengarkan sebentar. Tak ada suara apa-apa. Sekarang atau tidak sama sekali, batinnya seraya merapatkan jaket. Ia merogoh sakunya dalam-dalam, diambilnya sebuah senter, dua kotak korek api, dan sekaleng kecil hair spray. Sebaik tongkat kebesaran, pikir Rachel, seandainya saja kau bertemu dengan sesuatu yang tidak bersahabat. Ia berjingkat-jingkat menuju koridor dan mulai menuruni tangga perlahan-lahan dengan punggung merapat ke dinding.
Sebuah petualangan, pikirnya. Ia merasakan debar senang sekaligus tegang yang familiar. Ia belum mengalaminya lagi sejak Kakek Robert wafat. Saat membiarkan dirinya sendiri keluar dari salah satu pintu samping, ia memikirkan betapa senangnya Kakek jika bisa menjalani misi yang satu ini.
Bulan cuma muncul sekelebat, tapi langit bertabur bintang-bintang. Sebayang kabut yang menghalangi bintang-bintang itu tak lebih dari sekadar gumpalan yang tembus pandang. Dan udaranya... Rachel menarik napas dalam-dalam, terasa sesejuk dan sesegar sebutir jeruk. Seraya menoleh sekilas ke arah jendela kamar Jenson, ia mulai keluar dari kediaman Kakek.
Cahaya bintang tak bisa menolongnya di sana. Meski pohon-pohon tampak polos, ranting-rantingnya cukup tebal untuk menghalangi gumpalan-gumpalan awan. Dinyalakannya lampu senternya, dan diarahkannya ke samping kiri dan kanan untuk menemukan ujung-ujung jalan itu. Ia tak bergegas-gegas. Kalau ia bergegas-gegas, petualangan itu akan terlalu cepat selesai. Ia melangkah perlahan, mendengarkan dan membayangkan.
Ada suara-suara. Hembusan angin menerpa pucuk-pucuk pohon dan mengacak-acak dedaunan kering. Sesekali penghuni hutan belakang kediaman Kakek Robert lewat ke arah kiri maupun ke kanan. Seekor rubah, kelelawar yang tidak bisa tinggal diam fi malam hari? Rachel menyukai perasaan tidak terlalu yakin itu. Kalau kau berjalan menyusuri hutan sendirian, dalam kegelapan, dan tidak bertanya-tanya sedikit pun, perjalanannya akan sama sekali tidak menarik.
Ia menyukai aroma kayu, tanah, embun yang bakal turun ke dasar sebelum pagi. Ia menyukai kesendirian, dan terlebih lagi, memiliki sesuatu di depan mata yang membutuhkan perhatiannya. Jalan itu bercabang, dan ia memilih berbelok ke kiri. Pondok itu sudah tak terlalu jauh. Tiba-tiba ia berhenti, karena yakin telah mendengar sesuatu bergerak ke atas yang terlalu besar untuk dipertimbangkan sebagai seekor rubah. Selama sesaat ia mendapati dirinya memikirkan yang tidak-tidak tentang beruang raksasa. Berspekulasi dan berurusan dengan mereka adalah dua hal yang berbeda. Tapi ternyata tidak ada apa-apa. Rachel menggelengkan kepala, lalu meneruskan langkahnya.
Apa yang akan dilakukannya jika setelah sampai di pondok ternyata tempat itu tidak berdebu dan terurus? Apa yang akan dilakukannya jika ia benar-benar menemukan salah satu kerabat tersayangnya sedang sibuk melakukan urusan rumah tangga? Paman Diara Yosef membaca surat kabar di dekat perapian? dan Bibi mengibas-ngibaskan selembar lap untuk mengusir debu di sekeliling meja kayu reyot? Rachel nyaris saja tertawa, sampai ia terkenang ruang kerjanya yang telah di buat berantakan.
Seraya menautkan kedua alisnya, Rachel melangkah maju. Jika seseorang ada di sana, ia harus menghadapinya. Bayangan pondok itu samar-samar mulai tampak. Tempat itu kelihatan seperti semestinya, sepi, tidak didiami, menakutkan. Diredupkannya lampu senternya saat ia merayap menuju beranda, lalu hampir saja berteriak ketika berat badannya sendiri menyebabkan tangga kayu yang sempit itu berderak. Dirabanya dadanya sendiri dengan sebelah tangan sampai detaknya tak lagi terasa begitu kencang. Kemudian pelan-pelan, diam-diam, sembunyi-sembunyi, ia meraih pegangan pintu dan memutarnya.
Pintu itu terbuka dan mengeluarkan suara merintih. Meringis mendengar suara itu, Rachel berhitung sampai sepuluh sebelum mengambil langkah selanjutnya. Setelah sekilas menyinarkan senternya, ia melangkah masuk.
Saat lengan itu membekap lehernya, ia menjatuhkan senter yang dipegangnya. Benda itu bergulir di lantai, sorotnya menyebar tak tentu ke segala arah, ke dinding-dinding kayu dan perapian bata. Sambil menahan napas ingin menjerit, dirogohnya kaleng hair spray di sakunya. Setelah badannya dibalikkan, ia mendapati dirinya bertatap muka dengan Jenson.
__ADS_1
Tinju Jenson dikepalkan hanya beberapa inci saja dari wajahnya, kaleng hair spray Rachel beberapa inci saja dari wajah Jenson. Keduanya terpaku di tempat mereka berdiri.
“Sial!” Jenson menjatuhkan kepalannya. “Apa yang sedang kaulakukan di sini?”
“Apa yang sedang kaulakukan di sini?” balas Rachel. “Dan apa maksudmu mencengkeramku seperti itu? Kau bisa merusak senterku.”
“Aku nyaris mematahkan hidungmu.”
Rachel mengibaskan rambutnya dan mengambil kembali senternya. Ia tidak ingin Jenson melihat tangannya gemetaran. “Well, aku sungguh berpikir bahwa seharusnya kau mencari tahu dulu siapa orangnya sebelum menggerebek orang itu.”
“Kau mengikutiku.”
“Campur tangan.” Jenson mengarahkan lampu senternya sendiri langsung ke muka Rachel sehingga wanita itu terpaksa menghalanginya dengan tangan. “Dan apa yang akan kau lakukan seandainya ada sesuatu yang terjadi? Mengatasinya?”
Rachel berpikir tentang betapa mudahnya Jenson membuatnya tercengang. Itu cuma membuatnya mengangkat dagu lebih tinggi lagi. “Aku sanggup mengurus diriku sendiri.”
“Tentu.” Diliriknya kaleng yang masih digenggam Rachel. “Kau membawa apa?”
Ia sempat melupakannya, Rachel melirik kaleng itu juga dan mesti meredam gelaknya. Oh, betapa Kakek Robert akan menyukai keanehan ini. “Hair spray,” ucapnya sungguh-sungguh. “Tepat di antara kedua matamu.”
Jenson menyumpah-nyumpah, lalu tertawa. Ia takkan mampu menulis sesuatu yang begitu tak masuk akal seperti itu. “Kurasa aku harus bersyukur karena kau belum sempat menyemprotku.”
__ADS_1
“Aku melihat dulu sebelum menyerang.” Rachel mengembalikan kaleng itu ke sakunya. “Yah, karena kita sudah di sini, sebaiknya kita melihat-lihat sekeliling.”
“Aku sedang melakukan itu ketika mendengar ‘pendekatan cara kucing’-mu.” Rachel mengerutkan hidung, tapi Jenson mengabaikannya. “Kelihatannya seseorang telah membuat dirinya sendiri berada di rumah,” Untuk membuktikan ucapannya, Jenson menyorotkan senternya ke arah perapian. Kayunya yang setengah terbakar masih berasap.
"Wah, wah.” Dengan memakai senternya sendiri, Rachel mulai melangkah menyusuri pondok itu. Kali terakhir ia berada di sini, kursi yang rujinya patah ada di dekat jendela. Kakek duduk di sana, berjaga-jaga terhadap Saunderson, sementara Rachel membuka sekaleng sarden untuk mengatasi kelaparan. Kini kursi itu ditarik mendekati perapian. “Seorang pengembara, mungkin.”
Sambil mengamatinya, Jenson mengangguk. “Mungkin.”
“Tapi sepertinya tidak. Menurutmu dia akan kembali?”
“Sulit dikatakan.” Memandang sekilas saja tidak menunjukkan hasil apa-apa. Pondok itu rapi dan apik. Terlalu apik. Permukaan lantai dan mejanya seharusnya berlapis debu. Semuanya telah diseka bersih. “Sepertinya dia berhasil melakukan perusakan yang ingin dilakukannya.” Bersungut-sungut, Rachel menjatuhkan diri ke tempat tidur dan bertopang dagu. “Aku berharap menangkap basah dia.”
“Dan apa? Menyemprotnya dengan hair spray ramah lingkungan?”
Ia melotot. “Kau punya rencana yang lebih baik, ya?”
“Kupikir aku akan membuatnya merasa sedikit lebih tidak nyaman.”
“Mata bengkak dan hidung patah.” Rachel mengeluarkan suara-suara tak sabar. “Sungguh, Jenson, kau mesti mencoba memisahkan tinjumu dari pikiranmu.”
“Kurasa kau cuma ingin berbincang secara masuk akal dengan siapa pun anggota keluarga kita yang baik hati, yang sudah menghancurkan ruang kerjamu.”
__ADS_1