
Sewaktu Jenson membungkuk untuk menggali, Rachel melompat di atas genangan air sampai air itu terkena wajah Jenson. “Oh, maaf aku tidak sengaja, aku juga tidak tahu kalau air ini akan mengenai wajah kamu.” Ia tersenyum dan memejamkan mata. “Aku pikir bidikanku meleset.”
Jenson membiarkannya walaupun dia sedikit kesal dengan tingkah Rachel. Ia dan Rachel menggali dengan usaha yang lebih keras, hingga dalam waktu lima belas menit, mereka berhasil menggali lubang.
“Nah, akhirnya selesai juga.” Sedikit tersengal-sengal, Rachel bersandar pada sekopnya. “Kepuasan dari sebuah pekerjaan yang selesai dilaksanakan dengan amat baik.”
“Kita tinggal menggotongnya ke rumah, dan segera menghiasnya dan… Sial, kita perlu sesuatu untuk membungkus akar-akarnya dan bongkah-bongkah tanahnya. Di gudang ada kain goni.”
Mereka berpandangan sejenak.
“Baiklah,” ucap Jenson setelah beberapa saat. “Biar aku saja yang mengambil karungnya."
Dengan perasaan puas, Rachel berbalik untuk mengamati seekor burung yang ada di sana di saat sebuah air terkena bagian belakang kepalanya. “Maaf, aku bener-bener tidak sengaja, aku tidak berniat untuk mengenai mu.” Jenson tersenyum bersahabat. “Aku pikir bidikanku pasti meleset.” Ia bersiul-siul dan tersenyum puas sewaktu berjalan ke gudang.
Rachel menunggu sampai Jenson menghilang dari pandangan, lalu tersenyum licik, ia berlutut untuk menyiapkan segala strateginya, agar air genangan itu terkena wajah Jenson lagi. Saat Jenson kembali, ia memperhitungkan, ia sudah punya gudang persenjataan, di dekatnya banyak sekali genangan air. Jenson tidak akan punya kesempatan mengelak. Rachel memanfaatkan waktunya dengan santai, melihat sekeliling dan membayangkan kalau genangan air itu terkena wajah mulus Jenson dan ia berpikir bahwa air itu menjadi senjata menakjubkan baginya. Tapi di saat sedang asyik-asyiknya, Ia nyaris jatuh tengkurap sewaktu mendengar suara-suara di belakangnya.
Ia berancang-ancang berdiri di dekat genangan air untuk melompat, tetapi saat Rachel membalikkan badannya, tak ada orang di sana. Rachel memicingkan mata, ia menunggu. Bukankah ia baru saja melihat gerakan di belakang pepohonan? Gerakan itu memang seperti Jenson yang sedang berjingkat-jingkat dan berusaha mengagetkannya. Dilihatnya burung-burung itu terbang tinggi seakan-akan terkejut, dan didengarnya suara cucuran air dari atas ranting pohon yang jatuh menimpa dirinya dan genangan air di tanah.
“Baiklah, Jenson, cepat keluar jangan jadi pengecut.” Ia beridri di samping genangan air, bersiap untuk menyerang.
“Pengecut, maksudmu apa si Rachel?” Jenson bertanya sedemikian rupa sehingga kali ini, sewaktu Rachel kembali berputar, wanita itu tergelincir tepat di bokongnya. Jenson menyeringai padanya dan menjatuhkan lap kain goni di pangkuannya.
“Tapi bukankah kau…“ Bicaranya terhenti seraya melihat ke belakangnya lagi. Bagaimana mungkin Jenson bisa berada di sini kalau ia berada di sana? “Apa kau memutar?,” tanya Rachel sangat heran.
“Tidak, tapi melihat kau di samping genangan itu seperti sedang berancang-ancang untuk memulai bermain perang-perangan?”
__ADS_1
“Ini sekadar sistem pertahanan saja,” Rachel memulai, lalu kembali melihat ke belakang. “Tadi aku mendengarmu. Aku berani bersumpah bahwa ada seseorang di belakang pepohonan itu, aku pikir orang itu kamu Jenson.”
“Aku tidak di situ, tadi aku langsung pergi ke gudang dan kembali lagi.” Jenson melongok ke belakang Rachel. “Kau melihat sesuatu di belakang sana?”
“Jenson, kalau kau memainkan tipuan...”
“Tidak, aku bener-bener baru sampai sini.” Ia menyela bicara Rachel dan meraih tangan istrinya sampai berdiri. “Tidak ada tipuan. Ayo kita lihat sama-sama apakah ada orang di balik pohon itu.”
Rachel menggerakkan bahu tapi tidak menarik tangannya dari tangan Jenson saat mereka melangkah lebih jauh menerobos pepohonan. “Mungkin aku sedikit berlebihan atau itu cuman khayalan aku saja.”
“Atau mengharapkan aku mengendap-endap?”
“Itu juga. Mungkin tadi itu hanya ulah kelinci.”
“Jadi, kita masih kedatangan tamu. Tadinya aku mulai berpikir mereka sudah menyerah mundur.” Rachel menjaga nada suaranya tetap datar, namun ia tetap merasakan kegelisahan yang dirasakan siapa pun yang sedang diintai orang. “Mungkin sudah waktunya kita bicara pada Mrs. Zephaniah, Jenson, kita harus segera membicarakan ini secepatnya, aku tidak suka dengan suasana seperti ini.”
“Mungkin, tapi sementara ini....” Suara mesin memotong bicara Jenson. Ia berlari kencang bersama Rachel. Setelah berlarian selama lima menit, mereka pun sampai, berkeringat dan tersengal-sengal, mendapati sesuatu yang tak lebih dari jejak kayu gelondongan. Jejak ban telah terlihat jelas di tanah basah itu dan jejak ban itu terlihat lumayan besar. “Sebuah Jeep, kurasa.” Sambil menyumpah-nyumpah, Jenson membenamkan tangannya di saku. Jika ia berlari lebih cepat, ia mungkin dapat menangkap seseorang atau setidaknya menangkap bayangan seseorang.
Rachel mengembuskan napas jengkel. Berlomba mengejar seseorang menjadi salah satu alasannya, kalah dan tertipu menjadi alasan lainnya. “Siapa pun orang itu, dia hanya membuang-buang waktu.”
“Aku tidak suka dimata-matai.” Jenson menginginkan menghajar orang yang sudah memata-matainya. Dengan perasaan kesal, dipandanginya jejak yang mengarah kembali ke jalan utama. “Aku tidak akan main kucing dan tikus selama empat bulan yang akan datang.”
“Apa yang akan kita lakukan?”
Senyum Jenson mengembang saat ia mengamati jejak yang tertinggal. “Kita akan menyebarkan cerita tentang kejadian ini kepada Zephaniah, bahwa kita sudah diganggu oleh penyusup. Sesuai jumlah harta dalam premis, kita memutuskan untuk mengeluarkan salah satu dari senjata tua berkaliber .30-.30 milik Robert.”
__ADS_1
“Jenson! Mereka mungkin sudah mengacau, tapi mereka masih tetap keluarga kita.” Gamang, Rachel memandangi Jenson. “Kau tidak akan sungguh-sungguh ingin menembak seseorang.”
“Aku lebih memilih menembak keluarga daripada orang asing,” timpalnya.
“Aku tidak menyukai senjata, aku tidak ingin ada pertumpahan darah di keluarga kita hanya karena masalah harta warisan kakek.”
“Lalu apa kamu punya ide yang lebih baik?”
“Kita beli anjing saja. Seekor anjing besar yang kejam.”
“Bagus, lalu kita bisa membiarkannya berkeliaran dan membenamkan giginya pada salah satu saudara kesayangan kita. Mereka akan lebih menyukainya dibandingkan dengan peluru.”
“Anjingnya tidak perlu sekejam itu.”
“Lalu anjing pudel yang begitu menggemaskan?”
“Jenson.....”
“Baiklah, kita telepon Mrs. Zephaniah saja dulu."
"Untuk menerima nasihatnya?” tuntut Rachel.
“Tentu… kalau aku menyukainya.”
Rachel mulai menolak, kemudian tertawa. Hal itu sekonyol salah satu jalan cerita naskah karya Jenson. “Kedengarannya masuk akal,” putusnya, lalu menggamit lengan Jenson. “Mari masukkan pohonnya ke dalam dulu.”
__ADS_1