
Rachel berbalik ke jendela lagi, dicongkelnya gerendel itu dengan segenap kekuatan yang ia punyai. Gerendel itu terbuka dan mengeluarkan bunyi gesekan besi beradu, kotak-kotak itu bergoyang karena gerakan yang dibuatnya. Dilihatnya lilinnya mulai tergelincir lalu menyambarnya. Jauh dari jangkauan, lilin itu terjatuh dari kotak dan terjun bebas ke lantai beton. Ia nyaris mengikuti jejak lilin itu, untungnya Rachel berhasil mempertahankan keseimbangannya. Rachel mendapati dirinya bertengger tiga meter dari lantai dalam kegelapan total.
Aku tidak akan jatuh, janjinya pada diri sendiri seraya mencengkeram birai jendela kecil itu dengan kedua tangannya. Menggunakan sentuhannya untuk menuntunnya, didorongnya jendela itu keluar dan terbuka, lalu mulai menyelinapkan tubuhnya melewatinya. Semburan udara dingin pertama yang dirasakannya membuatnya hampir pusing. Setelah meloloskan bahunya, ia memberi dirinya waktu sesaat untuk menarik napas panjang.
Kemudian sambil menggenggam dasar tumbuhan rhododendron atau rhodies, Rachel menyelipkan tubuhnya ke luar jendela sampai ke pinggang. Saat mendengar suara tumpukan kotak berjatuhan, ditempelkannya pipinya di rumput yang dingin. Inci demi inci, ia berjuang untuk keluar, mengabaikan gores dan gurat pada kulitnya. Akhirnya, ia bisa berbaring lega, menatap langit. Gemetar, memar, dan letih, ia berbaring di sana, hanya bernapas saja. Saat sudah sanggup, Rachel menyeret dirinya sendiri untuk bangun dan melangkah menuju pintu teras sebelah timur.
Ia menginginkan balas dendam, tapi pertama-tama, ia ingin membersihkan tubuhnya dulu.
...****************...
Setelah menjalani perjalanannya yang lumayan sangat lama sebab pesawatnya delay di Surabaya hanpir empat jam, akhirnya Jenson tiba di Bali. Selama perjalanan menuju Bali tadi, ia terus memikirkan ibunya yang terbaring sakit, perasaan bersalah menderanya.
Ia jarang menemuinya. Benar, ibunya itu sama tidak tertariknya dengan dirinya dalam hal saling menjumpai. Tapi, wanita itu masih tetap ibunya. Mereka sudah berada dalam panjang gelombang yang berbeda sejak Jenson dilahirkan, tapi ibunya mengurusnya dengan sangat amat baik. Setidaknya, ibunya mengupah orang untuk mengurusnya.
Dengan hanya membawa satu tas ransel untuk terbang, Jenson melewati orang-orang di bagian klaim bagasi dan memanggil taksi. Setelah memberikan alamat ibunya kepada si sopir, ia duduk bersandar lalu memeriksa arlojinya, mengurangi zona waktu, sebab bali satu jam lebih awal dari Jakarta.
__ADS_1
Jenson berharap penyakit ibundanya tidak separah seperti yang diceritakan dalam surat itu. Apalagi ibunya masih muda. Lalu tercetus di benak Jenson bahwa ia sama sekali tidak tahu berapa usia ibunya, dan itu membuatnya tercengang.
Dengan perasaan tak sabar, ia mengamati taksi itu meluncur melintasi gerbang dan pilar-pilar kawasan elite itu. Kariernya sudah membuatnya tinggal di Jakarta dalam jangka waktu yang lama, tapi ia tetap memilih Jakarta dari pada Bali. Di sana, setidaknya, ada karir yang di kejarnya.
Ia memikirkan Rachel. Meski tinggal di jota yang sama, ia dan Rachel hampir tidak pernah bertemu sebab mereka memiliki kesibukan yang berbeda, mereka bertemu hanya di rumah Kakek Robert, tempat mereka bertemu saat mereka sama-sama sedang libur.
Di rumah kakek Robert ia merasa nyaman, tapi di apartementnya ia merasa paling nyaman. Sunyi, ia bisa menulis tentang pahlawan dan keadilan, terkadang keras, namun tetap manusia. Ia menulis, dengan caranya sendiri, tentang nilai-nilai dasar dan hak-hak sederhana.
Ia dibesarkan dengan ilusi, kemunafikan akan kekayaan, serta nilai-nilai yang sama tidak stabilnya. Ia melepaskan diri dari semua itu, mulai dengan nilai-nilainya sendiri. Apartementnya yang sunyi telah membantu mewujudkannya, karena jika ia tinggal bersama kakeknya bisa-bisa kakek Robert atau Rachel tiba-tiba datang menganggunya.
“Tunggu” ujarnya pada si sopir lalu menaiki dua anak tangga menuju pintu. Pelayan yang menjawab orang baru di situ. Adalah kebiasaan ibunya untuk mengganti stafnya secara berkala, sebelum semuanya seperti mereka menjadi terlalu familiar. “Aku Jenson Dirgantara, putra Mrs. Diajeng Sekar.”
Pelayan itu melirik ke arah taksi yang tengah menunggu, lalu kembali memandangi kemeja Jenson yang kusut serta jenggotnya yang tak tercukur. “Selamat malam, Tuan. Apakah anda sudah membuat janji dengannya?”
“Di mana ibuku? Aku ingin langsung pergi ke rumah sakit.”
__ADS_1
“Sekarang Ibu Anda sedang tidak di tempat, Mr. Jenson. Kalau Anda bersedia menunggu, akan tanyakan pada beliau apakah beliau bisa menemui Anda.”
Dengan kesal Jenson menerobos masuk. “Aku tahu dia tidak ada. Aku ingin menemuinya malam ini. Apa nama rumah sakitnya?”
Pelayan itu mengangguk sopan. “Rumah sakit apa, Mr. Jenson?”
“Matthew, dari mana datangnya taksi itu?” Berbalut jaket merah tua, Jackson turun dari tangga dan menuruni anak tangga satu persatu. Sebelah tangannya memegang sebatang cerutu tebal sedang sebelah lagi menggenggam segelas brendi.
“Well well Jackson” ujar Jenson dalam gelombang kemarahan. “Kau kelihatan santai sekali. Di mana ibuku?”
“Well... well.. ada apa ini Matthew?”
“Ada Jenson.”
“Jenson?” Jackson, memberikan uang untuk membayar taksinya.
__ADS_1
“Tidak, terima kasih, Jackson.” Jenson mengangkat sebelah tangannya. Di lain waktu, ia mungkin akan terkagum-kagum mendengar ayah tirinya berjuang mengingat-ingat siapa namanya. “Aku akan menggunakannya untuk pergi ke rumah sakit. Aku tidak ingin merepotkanmu sama sekali.”