
“Tidak repot sama sekali, tidak sama sekali.” Besar, bulat, dan baru separuh botak, Jackson memberi Jenson seringai bersahabat. “Diajeng sekar akan senang sekali bertemu denganmu, meskipun kami tidak tahu kau akan datang. Berapa lama kau akan berada di sini?”
“Selama aku dibutuhkan di sini. Aku segera datang ke sini setelah menerima surat itu. Kau tidak menyebut nama rumah sakitnya. Karena kau ada di rumah dan sedang bersantai,” ucapnya dengan nada marah setipis mungkin, “Bisakah kuasumsikan bahwa kondisi ibuku sudah membaik?”
“Kondisi?” Jackson tergelak riang. “Wah, sekarang aku tidak tahu bagaimana dia akan menanggapi soal itu, tapi kau bisa menanyakan sendiri padanya.”
“Ya aku akan menanyakannya langsung, tapi di mana ibuku?”
“Sedang mengikuti kelas senam kegel bersama teman-temannya. Dia akan pulang satu jam lagi. Bagaimana kalau minum segelas brendi?”
“Senam kegel!” Jenson melangkah maju dan mencengkeram kerah ayah tirinya yang terkejut. “Apa maksudmu ibuku sedang senam kegel?”
“Ibumu rutin melakukannya agar ketika di ranjang dia semakin hot." jelas Jackson hati-hati. “Meskipun dia sudah sangat hot bagiki.”
Lalu Jenson menyadarinya, sejelas dentingan bel. “Kau tidak mengirimiku surat mengenai ibuku?”
“Surat?” Jackson menepuk lengan Jenson, dan berharap Matthew tetap berada di dekat-dekat situ. “Kurasa tak perlu mengirimu surat hanya karena ibumu mengikuti kelas senam kegel, Nak.”
“Ibuku tidak sakit?”
“Sekuat kuda, apa lagi saat di ranjang. Hmmm maksudku ibumu sangat sehat," ia buru-buru meralatnya.
Jenson merutuk dan membalik badan. “Seseorang harus membayarnya,” gerutunya.
“Kau mau pergi ke mana?”
“Kembali ke Jakarta.” Jenson menengok sambil berlari ke arah tangga.
Dengan perasaan lega, Jackson memilih tidak memprotes kepergian Jenson. “Apa ada pesan untuk ibumu?”
“Yeah.” Jenson berhenti dengan sebelah tangan pada pintu taksi. “Yeah, katakan padanya bahwa aku senang dia sehat-sehat saja. Dan aku harap ibu juga rutin meminum jamu sari rapet.” Jenson membanting pintu.
Jackson menunggu sampai taksi itu berlalu dari pandangannya. “Anak aneh,” gerutunya pada pelayannya. “Penulis serial televisi.”
__ADS_1
...****************...
Rachel, yang sedang tidur nyenyak, terbangun pada pukul tujuh pagi sewaktu Jenson datang ke tempat tidurnya. Kasur yang ditidurinya berguncang. Jenson menyelundupkan kepalanya ke bantal di samping Rachel kemudian memejamkan matanya.
“Keparat,” Jenson menyumpah-nyumpah dengan kesal.
Rachel akhirnya bangun, mengingat dirinya sedang telanjang dan langsung meraih selimut. “Jenson! Seharusnya kau saat ini ada di Bali kan. Sedang apa kau di tempat tidurku?” teriaknya panik.
“Berbaring horizontal untuk pertama kalinya sejak berjam-jam menempuh perjalanan karena delay.”
“Kalau begitu lakukanlah di tempat tidurmu sendiri sana pergi,” perintahnya, namun kemudian ia melihat garis-garis keletihan dan kelelahan pada diri Jenson. “Bagaimana keadaan ibumu saat ini.” Rachel meraih tangannya. “Oh, Jenson, apa jangan-jangan ibumu sudah....”
“Dia sedang senam kegel.” Diusapkannya tangannya yang bebas ke wajahnya sendiri. Bahkan untuknya tangan itu terasa keras dan kasar. “Aku melintasi banyak kota, mengalami delay berjam-jam, hanya untuk menemukannya senam kegel."
“Kalau begitu berarti ibumu sudah lebih baik kan?”
“Dia selalu baik-baik saja. Surat itu cuma olok-olok belaka.” Jenson menguap, meregangkan tubuh, lalu berbaring lagi. “Ya Tuhan, sungguh malam yang sangat melelahkan.”
“Yeah. Aku merencanakan beberapa bentuk balas dendam sewaktu berada di Bali. Mungkin saudara-saudara kita yang mengacaukan ruang kerjamu, sekarang giliranku. Sekarang masing-masing dari kita berutang satu pada mereka.”
“Aku berutang dua pada mereka.” Rachel bersandar ke kepala tempat tidur dengan seprai yang diselipkan di bawah ketiaknya. Rambutnya jatuh dengan mewah di atas bahunya yang telanjang. “Semalam waktu kau pergi, aku terkunci di gudang bawah tanah.”
Perhatian Jenson sontak beralih dari kain tipis yang nyaris tak menutupi Rachel. “Terkunci? Bagaimana bisa, memangnya kau sedang apa di bawah sana?”
Menyilangkan sebelah kaki di atas kaki yang lain, Rachel menceritakan apa yang terjadi mulai dari matinya lampu.
“Manjat kotak? Lewat jendela kecil itu? Tingginya nyaris tiga meter lebih.”
“Ya, aku manjat kotak hingga tiga meter.”
Jenson merengut padanya. Kemarahan yang dirasakannya karena diperlakukan sedemikian rupa sehingga tak bisa tidur menjadi berlipat ganda. Ia bisa membayangkan Rachel menggapai-gapai jalan keluar di dalam gudang bawah tanah yang lembap. Lebih buruk lagi, dengan jelas sekali ia dapat melihat Rachel memanjat kotak-kotak dan peti-peti reyot. “Lehermu bisa patah.”
“Tidak sampai sejauh itu. Hanya baju tidur Kim Seok Jin favoritku robek, ada luka gores di kedua lututku, dan bahuku memar.”
__ADS_1
Jenson berhasil meredam amarahnya. Ia akan membalasnya, kalau waktunya sudah tepat. “Tetap saja itu buruk Rachel,” ucapnya ringan dan memikirkan apa yang akan dilakukannya terhadap siapa pun yang telah mengurung Rachel.
“Itu memang buruk,” balas Rachel merasa terhina. “Sementara kau hanya delay bejam-jam di Surabaya, aku terkunci dalam gudang bawah tanah yang dingin dan lembap bersama tikus dan laba-laba jelek itu, sedangkan aku sangat takut dan jijik sama tikus.”
“Mungkin kita bisa mempertimbangkan ulang soal memanggil polisi?”
“ Kita tidak bisa membuktikan apa-apa. Kita bahkan tidak tahu siapa orang yang bisa kita buktikan sudah melanggar hukum.”
“Peraturan baru,” putus Jenson. “Kita tetap bersama. Tak ada seorang pun dan kita boleh meninggalkan rumah apa lagi sampai menginap tanpa yang lain. Setidaknya sampai kita menemukan siapa saudara kita tersayang yang sedang bermain-main dengan kita.”
Rachel mulai protes, tapi kemudian ia teringat betapa takutnya ia waktu itu, gudang bawah tanah, ketakutan dan kesepian yang dirasakannya. “Setuju. Sekarang…” Dengan sebelah tangan memegang seprai, ia beringsut ke arah Jenson. “Aku menunjuk Paman Yosef untuk masalah ini. Lagi pula, dia mengenal rumah ini lebih baik daripada yang lain. Dia kan pernah tinggal di sini.”
“Itu tebakan yang sangat bagus. Tapi itu cuma tebakan.” Jenson menatap langit-langit “Aku ingin tahu. Yagil juga pernah menginap enam minggu di sini waktu kita masih anak-anak.”
“Itu betul.” Rachel mengernyitkan dahi sambil memandang langit-langit. Kaca di kamar itu merefleksikan bayangan mereka berbaring bersisian. “Aku sudah melupakan itu. Dia membencinya.”
“Dia tidak pernah punya selera humor.”
“Benar. Seingatku dia jelas-jelas tidak menyukaimu.”
“Mungkin karena aku membuat matanya lebam.”
Alis Rachel terangkat. “Begitu.” Lalu, karena bayangan Yagil dengan mata bengkak cukup menarik baginya, ia menambahkan, “Kenapa kau melakukannya? Kau tidak pernah mengatakannya dan kau juga tidak pernah bercerita kepada ku.”
“Ingat kodok di lemarimu?”
Rachel mendengus dan memandangi seprainya “Tentu saja aku ingat. Kau sungguh tidak dewasa.”
“Bukan aku, itu ulahnya Yagil.”
“Yagil?” Terheran-heran, Rachel berbalik ke arah Jenson lagi. “Maksudmu, bajingan kecil itu yang menaruh kodok di pakaian dalamku?” Gagasan berikutnya datang, tanpa diduga, terasa menyenangkan. “Dan kau meninjunya karena itu?”
“Mengapa kau tidak membantah waktu aku menuduhmu, kenapa kau diam saja waktu itu? Bodoh sekali kau.”
__ADS_1