
Dari jendela di lantai atas, Jenson mengamati Rachel yang baru saja tiba di kediaman Kakek Robert. Jaket yang dikenakan gadis itu sangat besar dan gombrang, dengan tiga warna mencolok, biru, kuning, dan merah jambu yang dicampur menjadi satu, bak kue lapis yang di jual oleh penjual kue tradisional pinggir jalan.
Angin menerpa celana panjangnya, menggerak-gerakkan bagian paha sampai tumitnya. Sekarang mata Rachel tidak bengkak dan wajahnya sudah tidak pucat lagi, tapi ia masih tampak muram dan lelah. Tapi kini Jauh lebih baik. Jenson tergoda untuk menenangkannya pada acara pemakaman Kakek mereka. Namun berdasarkan pengalamannya bahwa terlalu banyak simpati bagi wanita seperti Rachel akan sangat berbahaya, wanita seperti Rachel tidak suka di beri simpati maka dari itu ia urungkan niatnya untuk memberi simpati kepada Rachel.
Ia sudah mengenal Rachel sejak masih kanak-kanak dan sejak awal telah menganggapnya anak yang sangat manja. Meskipun Rachel sering pergi jauh selama berbulan-bulan, mengikuti safari jurnalistik orang tuanya, mereka cukup sering bertemu sekedar untuk menumbuhkan rasa saling tidak suka dan benci.
Hanya saja fakta bahwa Rachel menyayangi Kakek Robert sajalah yang membuat Jenson bisa sedikit menerima gadis itu. Dan pada kenyataannya, ia terpaksa mengakui, bahwa Rachel memiliki lebih banyak kejujuran dan rasa kemanusiaan di dalam dirinya dibandingkan saudara-saudara mereka yang lain yang tidak memiliki rasa kejujuran dan kemanusiaan, dan mereka tidak menyayangi kakek Robert dengan tulus, kecuali Rachel.
Pernah suatu waktu, kenangnya, waktu yang sangat singkat, di saat-saat akhir remajanya di mana ia merasakan semacam… desiran terhadap Rachel. Kehausan akan cinta yang dirasakan oleh para remaja, benar-benar dangkal dan murni ragawi, Jenson meyakinkan dirinya. Rachel selalu menampilkan raut wajah yang membingungkannya, kadang sesekali wajahnya terlihat polos, kadang lain waktu begitu mencolok, kadang wajah itu sangat terlihat sedih, dan saat gadis itu mencapai masa remaja… well, itu merupakan reaksi yang cukup alami. Dan hal itu berlalu tanpa insiden. Kini Jenson lebih memilih wanita yang lebih halus, lebih santun dan feminin dan yang punya gigi taring lebih pendek, dan yang paling penting tidak galak.
Apa pun lendapatnya tentang Rachel, akhirnya Jenson meninggalkan pekerjaannya di ruang kerja barunya itu dan turun ke bawah untuk menemui rachel.
“Nyoman, apakah kiriman untukku sudah sampai?” Rachel melepaskan ikatan rambutnya, dan membiarkan rambut panjangnya terurai di punggungnya. Nyoman merupakan pelayan tua yang sudah melayani kakeknya sejak sebelum Rachel dilahirkan dan dia merasa senang Rachel tinggal di tempat itu.
“Semuanya sudah tiba pagi ini, Nona.” Pria tua itu pasti sudah mengambil alih kopernya jika saja Rachel tidak mencegahnya.
“Jangan, tidak usah repot-repot. Di mana tempat kau meletakkan semua koper-koperku?”
__ADS_1
“Di bangsal taman di pekarangan sebelah timur, seperti yang kau instruksikan.”
Rachel memberinya seulas senyum dan ucapan terima kasih yang membuat pria tua itu gembira. Wajah persegi Nyoman seketika bersemu merona merah jambu. “Aku tahu kau bisa diandalkan. Aku belum mengatakan padamu betapa senangnya aku karena kau dan Jesica memutuskan untuk tetap tinggal di sini. Tempat ini tidak akan sama lagi tanpa kau yang menyajikan teh dan Jesica yang memanggang kue.”
Nyoman berhasil sedikit menegakkan badannya. “Kami tidak akan berpikir untuk pergi ke tempat lain lagi, Nona. Tuan Robert juga pasti ingin kami tetap tinggal di sini.”
Tapi memungkinkan bagi mereka berdua untuk pergi, batin Rachel. Kakek Robert meninggalkan masing-masing tiga ratus juta untuk setiap tahun pengabdian mereka. Nyoman sudah bersama Kakek Robert sejak rumah itu dibangun, sedangkan Jesica bergabung sepuluh tahun kemudian. Warisan sebesar itu lebih dari cukup bagi masing-masing dari mereka berdua untuk pensiun, namun sayangnya beberapa orang memang tidak diciptakan untuk pensiun, Rachel tersenyum.
“Nyoman, aku ingin secangkir teh, boleh tolong kau buatkan untukku?” pintanya, menyadari bahwa kalau ia tidak mengalihkan perhatiannya, pria itu akan bersikeras membawakan tasnya melalui tangga yang panjang itu.
“Tehmu akan sangat sempurna jika Jesica membuat kue-kue kecil…”
“Dia sudah memanggangnya sepanjang pagi ini.” Lalu pelan-pelan Nyoman berlalu ke arah dapur.
Rachel membayangkan lapisan gula yang meleleh di kue. “Aku ingin tahu berapa kilo berat badan seseorang bisa naik dalam enam bulan,” gumamnya.
“Berdiet, sambil tetap memakan kue-kue Jesica tidak akan menyakitimu,” ucap Jenson dari atas kepala Rachel. “Pria lebih tertarik pada daging dibandingkan tulang belulang.”
__ADS_1
Rachel memutar badan, lalu mendapati dirinya berada di dalam posisi canggung, karena harus mendongakkan kepalanya ke belakang untuk melihat Jenson yang berada di puncak tangga. “Aku tidak menjalani hidupku dengan memusatkan diri untuk menarik hati para pria, apalagi untuk menggodanya. Aku bukan tipe wanita penggoda.”
“Baguslah.”
Jenson kelihatan agak rikuk, batin Rachel. Beberapa meter di atas kepalanya, Jenson bersandar pada sebuah tiang dan menunduk menatapnya seolah-olah dialah tuannya di rumah ini, tapi Rachel akan segera mengakhirinya, karena sudah jelas dalam surat Wasiat Kakek Robert mengatakan. Berbahagia-lah dan bagilah dengan rata.
“Karena kau sudah ada di sini dan menetap, kau bisa menolongku membawakan koperku, aku lelah sekali baru tiba dari Malang."
Jenson bergeming. “Aku selalu mengira masalah feminisme adalah satu hal yang benar-benar sudah kita sepakati bersama.” meski sambil mengoceh ia membatu Rachel membawa kopernya.
Rachel berhenti sejenak saat ia berjalan menuju kamarnya, kemudian menoleh ke belakang “Kesampingkan dulu masalah sosial dan politik, jika kau tidak menolongku sebelum Nyoman kembali, dia akan bersikeras untuk melakukannya sendiri. Dia terlalu tua untuk melakukannya dan terlalu sombong untuk diberitahu bahwa dia tidak sanggup.” Rachel melangkah maju dan tak terkejut saat mendengar derap langkah Jenson yang berjalan di belakangnya.
Jika saja Jenson tidak begitu bertekad untuk memulai dengan damai, ia pasti akan mencela dengan nada suara yang tinggi, juga ekspresi wajahnya yang menyebalkan. Namun ia malah membiarkannya begitu saja. “Saat aku datang tadi ruang kerja baruku ternyata sudah jadi dan langsung aku gunakan untuk menyelesaikan pekerjaanku, tapi aku belum lihat ruang kerjamu apa sudah jadi atau belum."
“Kerja, kerja, kerja,” ucap Rachel sambil menghela napas panjang. “Kau mesti menjalani jam-jam penuh perbudakan untuk menghasilkan satu jam penuh adegan kejar-kejaran dan kekerasan dalam seminggu.”
Saat Rachel meraih kopernya dari tangannya, Jenson mencekal pergelangan tangannya. Nanti ia akan memikirkan betapa langsingnya tangan itu, dan betapa lembutnya tangan itu. Kini ia cuma memikirkan betapa ia berharap Rachel bisa menjadi seorang pria. Jadi ia bisa memukulnya dan bisa tonjok-tonjokan degan Rachel, tanpa memikirkan bahwa dia adalah wanita. “Berapa jam aku bekerja dan apa yang kuhasilkan sama sekali bukan urusanmu.”
__ADS_1