
Hujan turun sepanjang malam, banyak genangan air di sepanjang jalan dan di depan rumah kakek Robert juga banyak genangan air. Sambil berjalan, Rachel melompatinya.
Ia puas pada dirinya sendiri, pekerjaannya berjalan sangat baik. Anting-anting yang berhasil diciptakannya sungguh unik, begitu uniknya sampai ia merancang sepotong kalung untuk menyertainya. Perhiasan itu berbongkah-bongkah dan berukuran besar dengan tembaga dan emas berbentuk geometris. Tidak semua wanita cocok mengenakannya, tapi wanita yang cocok mengenakannya tidak akan melenggang begitu saja tanpa diperhatikan orang di sekelilingnya.
Bagi Rachel, perhiasan itu adalah pernyataan diri seorang wanita tangguh serta berdisiplin. Ia juga puas dengan anting-anting menyapu bahu yang diciptakannya dengan menggunakan manik-manik berwarna hitam legam dan perak. Manik-manik itu telah susah payah dipadukannya, dan setelah selesai, hasilnya adalah suatu karya yang elegan menggoda. Jika ritme kerjanya tetap stabil, ia sanggup mengirimkan hasil kerjanya itu ke butik yang memesannya, menjelang Natal.
Sewaktu membuka pintu dapur, ia teramat sangat lapar dan berada dalam suasana hatinya yang terbaik.
“…kalau kau sudah merasa lebih baik dalam satu atau dua hari lagi,” ucap Jesica singkat, lalu berbalik seakan-akan terkejut melihat Rachel sudah berada di dalam. “Oh, tidak terasa waktu cepat sekali berlalu. Sudah waktunya makan siang dan aku baru saja menyelesaikan pai-pai itu.”
“Pai ape!?” Sambil menyeringai, Rachel beranjak mendekat. Namun Jesica memandang penuh kepuasan karena Rachel sudah mengamati Nyoman. “Masih ada isi yang tersisa?” tanyanya seraya mencelupkan jemarinya ke mangkuk. Jesica menepuk tangan Rachel. “Kau habis bekerja dengan menggunakan tangan itu. Cuci dulu di wastafel, sesudah itu kau bisa memakan makan siangmu setelah aku selesai menyiapkannya.”
Dengan patuh, Rachel berbalik badan menuju keran. Di antara berisiknya suara air yang mengucur, ia berbisik pada Jesica, “Apa Nyoman sedang tidak enak badan?”
“Bursitis-nya kumat lagi. Masalahnya, cuaca sedang dingin-dinginnya. Padahal menjadi tua, sudah sebuah masalah.”
Bursitis merupakan Peradangan bantalan berisi cairan (bursae) yang bertindak sebagai bantal pada sendi. Bursitis paling sering terjadi pada sendi yang sering melakukan gerakan berulang.
Ia menyapukan tangannya ke punggung yang seolah-olah tengah kesakitan. “Aku rasa kami berdua memang agak melambat. Nyeri dan sakit.” Jesica mendesah sambil menatap Rachel lekat-lekat. “Ini hanya bagian dari menjadi tua.”
Rachel menggosok tangannya lebih kuat lagi, ia mengatakan pada dirinya sendiri bahwa seharusnya ia lebih memperhatikan Nyoman. “Kalian terlalu banyak bekerja.”
“Liburan akan segera tiba…” Jesica menghentikan bicaranya dan bertingkah sok sibuk dengan menata adonan penutup pai. “Yah, mendekor rumah ini memang pekerjaan berat, tapi hasilnya pasti akan memuaskan. Nyoman dan aku akan menangani kotak-kotak di loteng sore ini.”
“Jangan konyol.” Rachel mematikan keran air dan meraih selembar handuk. “Aku yang akan menurunkan kotak-kotak dekorasinya.”
__ADS_1
“Tidak, jangan, Nona, kotaknya terlalu banyak dan sebagian besar terlalu berat untuk gadis kecil sepertimu. Itu bagian dari pekerjaan kami. Betul kan, Nyoman?”
“Jangan khawatir, nona Rachel. Jesica dan aku akan mengurusnya.”
“Tentu saja tidak bisa begitu.” Rachel mengembalikan handuk itu ke gantungannya. “ Jenson dan aku akan membawa turun semuanya sore ini, titik. Sekarang aku akan memberitahunya untuk hadir makan siang.”
Jesica menunggu sampai pintu tertutup dan Rachel benar-benar hilang dari pandangan sebelum menyeringai.
Di atas, Rachel mengetuk pintu kamar Jenson sebanyak dua kali, kemudian melenggang masuk. Jenson tetap mengetik. Menurunkan sedikit harga dirinya, Rachel mendekati meja Jenson dan melipat tangan. “Aku perlu bicara padamu sekarang juga.”
“Bicaranya nanti saja. Aku sibuk.”
Rasa jengkel merambati tenggorokan Rachel. Mengingat suara letih Jesica, ia meredamnya. “Ini sangat penting.” Ia mengertakkan giginya kala mengucapkan itu. “Kumohon.”
“Bukan, bukan itu. Jenson, kita harus mendekorasi rumah ini untuk Natal.”
Sesaat Jenson menatapnya, menyumpah-nyumpah dan kembali beralih ke mesinnya. “Aku punya anak lelaki berumur dua belas tahun yang sedang diculik demi tebusan tiga ratus juta. Itu yang penting.”
“Jenson, bisa tidak kau menyingkirkan negeri khayalan itu sebentar saja? Ini sungguhan.”
“Begitu juga ini. Tanya saja produserku.”
“Jenson!”
Sebelum Jenson sempat mencegahnya, Rachel menarik kertas itu dari mesin tiknya. Jenson sudah setengah bangkit dari duduknya untuk membalas. “Ini tentang Jesica dan Nyoman.”
__ADS_1
Kalimat itu menghentikannya, meskipun ia merebut kembali kertas itu dari tangan Rachel. “Ada apa dengan mereka?”
“Bursitis Nyoman kumat lagi, dan aku yakin Jesica sedang tidak enak badan. Dia kedengaran, yah, tua.”
“Dia memang sudah tua.” Namun Jenson meletakkan kertas itu di meja. “Menurutmu kita perlu memanggil dokter?”
“Jangan, mereka bisa marah.” Rachel mengitari mejanya, mencoba berpura-pura ia tidak sedang membaca sebagian naskahnya. “Lebih baik mengawasi mereka beberapa hari ini dan memastikan mereka tidak bekerja terlalu keras. Nah, karena itu kita akan mengerjakan dekorasi untuk Natal.”
“Sudah kuduga kau bermaksud begitu. Dengar, kalau kau mau mengerjakannya, silakan saja. Aku tidak punya waktu untuk itu hari ini.”
“Begitu juga aku.” Dilipatnya tangannya dengan cara yang membuat Jenson terheran-heran. “Jesica dan Nyoman berpikir itu harus dilakukan. Kalau kita tak ingin melihat mereka berpayah-payah meniti tangga loteng, kita yang harus membereskannya.”
“Natal masih tiga minggu lagi.”
“Aku tahu tanggalnya.” Frustrasi, Rachel berjalan ke arah pintu, lalu kembali lagi. “Mereka sudah tua dan mereka bersikeras bahwa itu mesti dilakukan. Kau tahu Kakek Robert pasti melakukannya sehari setelah Thanksgiving. Itu sudah tradisi.”
“Baiklah.” Terjebak, Jenson bangkit. “Ayo kita mulai.”
“Tepat setelah makan siang.” Puas karena mendapatkan kemauannya, Rachel segera berlalu.
Empat puluh lima menit kemudian, ia dan Jenson sudah mendorong pintu loteng sampai terbuka. Loteng itu, dalam tradisi Robert, cukup besar untuk menjadi rumah sebuah keluarga beranggotakan lima orang. “Oh, aku sudah lupa betapa menakjubkannya tempat ini.” Lupa diri, Rachel meraih tangan Jenson dan menariknya ke dalam. “Lihatlah meja ini, tidakkah buruk sekali keadaannya?”
Memang keadaannya buruk sekali. Tua dan penuh ornamen berbentuk melengkung dan cupid, meja itu diletakkan di pojok untuk mewadahi barang-barang pribadi yang sudah dibuang Robert. “Dan sangkar burung yang terbuat dari tangkai es krim. Kakek Robert mengatakan bahwa dia membutuhkan waktu enam bulan untuk menyelesaikannya, tapi kemudian dia tidak tega memasukkan seekor burung ke dalamnya.”
“Beruntung sekali burungnya,” gumam Jenson, tapi mendapati dirinya, seperti biasa, terhanyut dalam pesona tempat berdebu itu. “Selubung sepatu,” ucapnya dan mengangkat sepasang dari atas sebuah kotak. “Bisakah kau melihat Kakek Robert di sana?”
__ADS_1