Surat Wasiat Kakek Robert

Surat Wasiat Kakek Robert
Chapter 41


__ADS_3

Rachel dijejali oleh sensasi, yang sangat luar biasa saat ia berada di bawah tubuh Jenson. Hangat dan nikmat, itulah yang di tawarkan oleh suaminya. Tapi sayangnya Jenson sendiri masih merasa jauh dari rasa cukup.


Rasa tubuh Rachel samar-samar, sangat menggodanya menuju kehangatan. Jenson menemukannya, membawanya, dan menjaganya tetap terkurung dalam gelora hasrat. Rachel di buat tidak berdaya. Sensasi itu yang menjalari tubuh Rachel. Ia tak pernah tahu apa artinya menjadi sungguh-sungguh rapuh di hadapan orang lain. Saat ini Jenson bisa mengambil apa saja darinya, meminta apa saja dan ia tidak akan menolak. Tapi Jenson tidak meminta, ia memberi.


Rachel menyusuri gelombang demi gelombang. Di antara ketinggian dan kedalaman ia berpuntir, sangat bergembira dalam putarannya. Di karpet, diterangi cahaya sore hari yang sangat cerah menembus jendela, Rachel terkunci dalam kegelapan yang membutakan tanpa setitik pun keinginan untuk melihat. Buatlah aku merasa senang dan nyaman, benaknya seolah berseru lagi dan lagi.


Dan Jenson berada di dalamnya, berpadu dan bersatu. Rachel mendapati bahwa masih ada yang lebih. Masih ada yang lebih dari itu. Masih ada sesuatu yang akan membuat Rachel merasa nyaman.


Saat ini mereka masih tetap berada di tempat mereka, tergeletak di atas pakaian yang sangat berserakan. Perlahan-lahan Rachel mulai mendapati pikirannya kembali ke dunia nyata. Ia dapat melihat dinding berwarna pastel, sinar matahari yang terpancar cerah dati balik jendela. Ia dapat mencium panas tubuh yang merupakan perpaduan miliknya dan milik Jenson. Ia dapat merasakan rambut Jenson yang sangat wangi dan halus itu menyeka pipinya, detak jantung Jenson masih berdebar cepat di atas dadanya.


Itu terjadi begitu cepat, secepat kilat, pikirnya. Atau kah itu telah makan waktu berjam-jam? Yang pasti ia belum pernah mengalami hal yang seperti itu. Rachel mendapati dirinya sedang membelai rambut Jenson dengan halus dan lembut dan ia membiarkan tangannya jatuh ke karpet. Ia tak bisa membiarkan cinta masuk, meski Jenson merupakan suaminya dan telah berjanji tidak akan meninggalkannya. Namun Rachel kenal betul dengan pria itu. Jenson bukanlah seorang pria yang puas di cintai hanya oleh satu wanita, dia adalah seorang petualang. Janji-janji yang dia ucapkan hanya untuk menjerat mangsanya.


Aku akan bisa untuk menjadi istrinya, namun aku tidak akan mencintainya, batin Rachel. Meski mereka sanggup berdampingan secara platonis untuk tiga bulan yang akan datang, ia tidak akan mengambil risiko dengan hatinya. Sejenak Rachel berpikir bahwa ia merasakan hatinya patah, hanya sedikit. Bodoh, ucapnya pada diri sendiri. Hatinya kan sangat kuat dan tangguh, ia tidak boleh merasakan bahwa hatinya patah walau hanya sedikit. Apa yang dilakukannya bersama Jenson adalah hal yang biasa di lakukan oleh sepasang suami istri, tapi setelah tiga bulan yang akan datang, ia dan Jenson akan bercerai dan kembali ke kehidupan masing-masing.

__ADS_1


“Apa kau masih belum yakin juga denganku?” Jenson beranjak sedikit saat berbicara, cukup untuk menyapukan bibirnya ke tenggorokan Rachel.


“Apa maksudmu Jenson?”


“Apa kau masih berpikir bahwa hubungan kita hanya karena kontrak 6 bulan saja?” Mendongakkan kepala, ia menatap Rachel sangat dalam. Ia tidak tersenyum, tapi Rachel beranggapan bahwa ia terhibur.


“Aku sangat tidak memahami apa yang kamu bicarakan, apa maksud mu aku tidak paham.”


“Aku tahu apa isi benakmu saat ini.”


“Aku ini cenayang. Kau berpikir…” Dihentikannya bicaranya untuk memain-mainkan bibir Rachel. “Semestinya ada cara untuk meyakinkanmu bahwa aku bersungguh-sungguh, agar kau tidak bertanya-tanya bagaimana cara untuk menjaga jarak secara emosional sementara kita sudah tidur bersama. Kau memutuskan bahwa tidak ada sedikit pun perlakuan romantis pada kesepakatan yang telah kita buat bersama.”


“Baiklah.” Jenson membuat Rachel merasa bodoh. Kemudian Jenson mengelus pinggangnya dan membuatnya bergetar. “Karena kau seorang yang mudah mengumbar janji, dan kau mudah berkencan dengan wanita mana pun, sehingga aku menggunakan akal sehatku, bukan hatiku.”

__ADS_1


“Aku lebih suka kalau kulitmu jadi hangat, dan akalmu sama sekali tidak bekerja…” Jenson menciumnya sebelum Rachel sempat menjawab. "Aku akan membuatmu tak bisa memikirkan apa pun, tak seorang pun kecuali aku. Jika kau terbangun di tengah malam, dan aku tidak ada di sampingmu, aku yakin sekali bahwa kau akan berharap aku ada di sampingmu. Dan ketika aku menyentuhmu, setiap kali aku menyentuhmu, kau akan selalu menginginkan tubuhku.”


Rachel harus melawan desiran itu. Ia tahu, sebaik ia mengetahui hal lainnya, bahwa Jenson benar. Dan ia tahu, mungkin mereka berdua tahu, bahwa Rachel akan melawannya sampai akhir. “Kau arogan, egosentris, dan picik.”


“Memang betul. Dan kau keras kepala, penuh kehendak, dan suka menentang. Satu-satunya yang bisa kita yakini sekarang hanyalah salah satu dari kita akan menjadi pemenangnya.”


Duduk beralas tumpukan pakaian, mereka mengamati satu sama lain. “Permainan lain?” gumam Rachel.


“Mungkin. Mungkin ini satu-satunya permainan yang ada.” Saat mengatakan itu, Jenson berdiri dan ia menggendong Rachel menyusuri kamar.


“Jenson turun kan aku sekarang juga, aku tidak perlu digendong seperti ini, aku bisa jalan sendiri.”


“Ya, kau perlu digendong Rachel.”

__ADS_1


Jenson berjalan menuju tempat tidur. Rachel mulai meronta, lalu menyerah. Mungkin sekali ini saja, putusnya, dan rileks dalam dekapan Jenson. "Mari kita bercinta lagi."


Rachel sangat merasa nyaman jika ia berada di dekat Jenson, tetapi ia tidak bisa mengungkapkan semua itu kepada Jenson. Rachel hanya bisa memendamnya sendiri.


__ADS_2