
“Sama sekali tidak ada alasan untuk bersikap kasar, pada Mr. Lockworth.” Rachel menempatkan dirinya di belakang sebuah meja dan melihat daftar menu yang ternyata beraneka ragam.
“Aku tidak bersikap kasar," bantah Jenson.
“Tentu saja kau kasar. Padahal Mr. Lockworth sudah berusaha keras untuk bersikap baik, tapi kau malah tersinggung. Aku rasa aku akan memesan salad udang.”
“Aku tidak tersinggung. Aku hanya bersikap waspada. Atau mungkin kau beranggapan bahwa kita lebih baik menumpahkan semuanya pada orang asing.”
Rachel melipat tangannya dan tersenyum pada pelayan. “Aku pesan salad udang dan kopi.”
“Kopinya dua,” ujar Jenson. “Dan sepiring ayam goreng.”
“Aku tidak berniat untuk menumpahkan semuanya pada orang asing, seperti yang kau tuduhkan barusan.” Rachel memungut serbetnya. “Bagaimanapun juga jika kita tidak ingin mempercayai Lockworth, sebaiknya dari awal kita lebih baik membeli perlengkapan kimia dan mencoba menanganinya sendiri.”
“Minum kopimu,” rutuk Jenson, dan mengambil kopinya sendiri begitu si pelayan menyajikannya.
Rachel merengut ketika menambahkan krim. “Menurutmu kira-kira pemeriksaan itu membutuhkan waktu berapa lama?”
“Aku tidak tahu. Aku bukan ilmuwan.”
“Dia juga tidak kelihatan seperti ilmuwan, kan?”
“Dia terlihat seperti penunggang kuda liar.” Jenson menyeruput kopi tanpa krim dan gula.
"Apa?" Rachel tertawa mendengar ucapan Jenson.
“Ya, dia memang kelihatan seperti penunggang kuda liar. Aku bertanya-tanya apakah Yosef atau yang lainnya berminat atas gedung ini.”
Rachel meletakkan kopinya sebelum sempat merasakannya. “Aku belum sempat memikirkan hal itu.”
“Seingatku, Kakek Robert menyerahkan Tristar Corporation pada Walt sekitar dua puluh lima tahun yang lalu. Aku ingat orang tuaku membicarakan hal itu.”
__ADS_1
“Tristar. Yang mana itu?”
“Plastik. Aku tahu dia membagi-bagi perusahaannya ke sana kemari. Sekali waktu dia pernah mengatakan bahwa dia ingin memberi semua keluarganya kesempatan sebelum mencoret mereka dari daftarnya.”
Setelah berpikir sejenak, Rachel mengangkat bahu dan mengangkat kopinya lagi. “Kalau dia tidak memberikan sedikit bagian Sanfield kepada salah satu dari mereka, apa bedanya?”
“Aku tidak tahu seberapa besar kita bisa mempercayai Lockworth.”
“Kau bakal merasa lebih nyaman seandainya dia botak dan pendek dengan kacamata bulat tebal dan aksen Jerman yang samar-samar.”
“Mungkin.”
“Betul kan?” Rachel tersenyum. “Kau hanya iri karena dia punya bahu yang bagus.” Dikerjap-kerjapkannya bulu matanya. “Ayam gorengmu datang.”
Mereka makan pelan-pelan, minum lebih banyak kopi lagi, lalu melewatkan lebih banyak waktu lagi dengan makan pai. Setelah satu setengah jam, keduanya menjadi gelisah dan tidak sabar. Sewaktu Lockworth datang menghampiri, Rachel lupa untuk bersikap gugup menyambut hasilnya.
“Terima kasih, Tuhan, ini dia datang.”
Setelah melewati kursi-kursi dan pegawai-pegawainya yang sedang beristirahat makan siang, Lockworth meletakkan salinan komputer yang dibawanya di meja, lalu menyerahkan kotak sampanye kembali ke Jenson. “Aku pikir kalian menginginkan salinannya.” Ia duduk dan memberi tanda untuk memesan kopi. “Meskipun ini agak teknis.”
“Aku sendiri bertanya-tanya.” Lockworth merogoh sakunya dan mengeluarkan sebungkus rokok. Sesaat Jenson memandanginya penuh rasa ingin tahu. “Aku bertanya-tanya kenapa seseorang mau memasukkan bubuk mawar pada sampanye.”
“Bubuk mawar?” ulang Jenson. “Pestisida. Jadi sampanye itu memang diracuni.”
“Secara teknis, ya. Meskipun kadarnya tidak cukup besar, tapi cukup untuk membuatmu sengsara selama satu-dua hari. Kalian berdua tak ada yang mencicipinya?”
“Ya.” Rachel mengangkat tatapannya dari kertas itu. “Tapi anak anjingku minum sedikit,” jelasnya. “Ketika kami membuka botol itu, ada sedikit yang tumpah dan dia melompat ke arahnya. Sebelum kami sempat meminumnya, dia sudah sakit.”
“Kalian beruntung, meskipun kurasa mencurigakan bila kalian langsung mengambil kesimpulan bahwa sampanye itu diracuni hanya karena seekor anak anjing menjadi sakit.”
“Beruntung sekali kami melakukannya.” Jenson melipat laporan itu dan menyelipkannya di saku.
__ADS_1
“Kau harus memaafkan suam... Maksudku sepupuku,” ralat Rachel dengan cepat. “Dia tidak punya sopan santun. Kami sangat menghargai kau meluangkan waktu untuk membantu kami, Mr. Lockworth. Sayangnya kita tidak mungkin untuk benar-benar menjelaskan apa yang terjadi saat ini, tapi aku bisa mengatakan bahwa kami punya alasan yang sangat bagus untuk mencurigai sampanye itu.”
Lockworth mengangguk. Sebagai ilmuwan ia tahu bagaimana berteori. “Kalau ternyata kalian membutuhkan laporan yang lebih lengkap lagi, beritahu aku. Robert adalah orang penting dalam kehidupanku, jadi sebisa mungkin aku ingin membalas jasa untuknya.”
Jenson bangkit dari tempat duduknya dan berhadap-hadapan dengan Lockworth. “Kali ini aku meminta maaf untuk diriku sendiri.” Ia mengulurkan tangannya.
“Aku sendiri juga akan kesal kalau ada seseorang yang memberiku pestisida yang disamarkan sebagai Moët et Chandon. Beritahu aku kalau aku bisa lebih banyak membantu.”
Rachel dan Jenson pun pergi. “Well,” mulai Rachel ketika mereka sudah di mobil. “Apalagi?”
“Kita akan pergi ke toko minuman keras. Kita harus membeli beberapa hadiah.”
Mereka berdua mengirimkan satu botol sampanye dengan merek yang sama, kepada masing-masing mantan pewaris Kakek Robert. Jenson membubuhkan tulisan kecil pada kartu-kartunya, “Setiap perbuatan baik layak mendapatkan balasan yang setimpal.”
Setelah selesai dan mereka melangkah keluar toko. “Tindakan yang mahal," gumam Rachel.
“Lihat investasinya,” cetus Jenson.
Bukan masalah uangnya, pikir Rachel, tapi terkesan sia-sia. Itulah yang tiba-tiba dirasakannya. “Apa untungnya bagi kita?”
“Beberapa botol akan berlalu begitu saja, lalu di apresiasi. Tapi satu botol,” ucap Jenson riang. “Satu dari mereka akan membuat suatu pernyataan, bahkan ancaman.”
“Ancaman kosong,” timpal Rachel. “Kita toh tidak berada di sana sewaktu mereka masing-masing memperoleh sebotol dan mengira-ngira reaksi yang muncul.”
“Kau berpikir seperti amatir,sayang.” Jenson mulai masuk ke mobilnya, ia duduk di bangku kemudi. Lalu Rachel duduk di sebelahnya “Apa maksudnya aku amatir?”
“Kalau orang amatir memainkan lelucon, dipikirnya dia mesti ikut di dalamnya.”
Saat mlbil melaju menjauh dari toko, Rachel masih tetap bersikukuh. “Sejak kapan meracuni orang dengan pestisida menjadi lelucon? Terlebih meracuni saudara sendiri, ini gila. Benar-benar gila.”
“Kita balas dendam mengikuti prinsip yang sama.”
__ADS_1
“Oh, begitu. Dan kau seorang ahli dalam membalas lelucon. Begitu maksudmu?”
Jenson menginjak rem, ketika melihat lampu merah menyala. Sambil mengertakkan gigi, Jenson mencengkeram kemudi. “Mungkin aku memang ahli. Cukup bagiku untuk mengetahui bahwa seseorang akan mengamati botol itu dan merasa sangat gugup. Seseorang akan mengamatinya dan mengetahui bahwa kita bermaksud memberi sesuai dengan apa yang sudah kita terima. Masalahmu adalah kau tidak suka membiarkan emosimu dilegakan sejenak untuk menilai sebuah balas dendam.”