Surat Wasiat Kakek Robert

Surat Wasiat Kakek Robert
Chapter 45


__ADS_3

Jenson menepuk-nepukkan sepatu itu ke telapak tangannya. Bruno, dengan lidah dijulurkan, menyeringai padanya. “Sekolah kepatuhan.”


“Oh, Jenson, kita tidak bisa menyuruh anak kita pergi begitu saja.” Ditepuknya pipi Jenson. “Ini hanya sebuah fase.”


“Fase ini harus kubayar dengan dua pasang sepatu, makan malamku, dan kita belum menemukan baju hangatku yang diseret-seretnya.”


“Seharusnya kau tidak menjatuhkan pakaianmu di lantai,” ucap Rachel enteng. “Lagi pula baju hangat itu sudah belel. Aku yakin Bruno berpikir itu kain rombengan.”


“Dia tidak pernah mengunyah barang-barang kepunyaanmu.”


Rachel tersenyum. “Memang tidak pernah, kan?”


Jenson menatapnya lama. “Apa yang membuatmu senang begitu?”


“Sore ini aku mendapat telepon.”


Jenson melihat kegembiraan di mata Rachel dan memutuskan bahwa masalah sepatu itu bisa menunggu. “Dan?”


“Dari Jacob Morison.”


“Si produser?”


“Si produser,” ulang Rachel. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak bereaksi berlebihan, namun kegembiraan itu mengancam untuk meluap di dalam dirinya. “Dia akan membuat film baru. Bintangnya Jessica Miland.”


Jessica Miland, renung Jenson. Aktris kawakan dunia teater dan layar lebar. Eksentrik dan brilian, kariernya telah melalang buana selama dua generasi. “Dia sudah pensiun. Miland tidak main film lagi sejak lima tahun yang lalu.”


“Dia akan main dalam film yang satu ini. Billy Mitchell akan menyutradarainya.”


Jenson memiringkan kepalanya sambil berpikir, memandangi wajah Rachel. Itu membuatnya berpikir tentang kucing dan burung kenari. “Kedengarannya mereka mau habis-habisan.”


“Dia akan memerankan seorang countess setengah gila yang menarik diri dan dibawa kembali ke dunia nyata oleh cucunya. Cassiy bakal memainkan peran cucu itu.”


“Sekarang, apa kau akan memberi tahuku kenapa Morison meneleponmu?”

__ADS_1


“Miland salah satu pengagum karyaku. Dia ingin aku merancang semua perhiasannya di film itu. Semuanya!” Setelah berusaha terdengar berbau “bisnis”, Rachel tergelak dan berputar cepat. “Morison mengatakan bahwa satu-satunya cara supaya dia membujuk Miland berhenti pensiun adalah dengan menjanjikannya yang terbaik. Miland menginginkanku.”


Jenson menyambar Rachel dan memutar badannya. Bruno berlari-lari mengelilingi ruangan itu sambil menggonggong dan mengguncang-guncang meja-meja yang ada. “Kita akan merayakannya,” putusnya. “Sampanye beserta ayam goreng kita.”


Rachel berpegangan erat. “Aku merasa seperti orang bodoh.”


“Kenapa?”


“Aku selalu menganggap diriku, yah, jauh dari kekaguman seorang bintang. Aku seorang profesional.” Dipenuhi kegembiraan, didekapnya Jenson. “Waktu berbicara dengan Morison, kukatakan pada diriku sendiri bahwa itu adalah kesempatan berkarier yang bagus, kesempatan yang sangat baik untuk mengekspresikan diri dengan cara yang hebat. Lalu kututup teleponnya dan yang bisa kupikirkan hanyalah Jessica Miland! Produksi Morison! Aku merasa sangat konyol.”


“Membuktikan bahwa kau tidaklah seangkuh yang kau pikirkan.” Jenson memotong ucapannya dengan sebuah kecupan. “Aku bangga padamu,” gumamnya.


Pernyataan itu membobol pertahanan Rachel. Semua kegembiraan dalam penugasan itu menjadi kerdil hanya dengan satu kalimat itu. Tak seorang pun kecuali Robert yang pernah mengungkapkan kebanggaannya padanya. Orang tuanya menyayanginya, menepuk kepalanya dan mengatakan bahwa ia sebaiknya melakukan apa yang diinginkannya. Rasa bangga adalah nilai lebih yang dikenakan pada rasa sayang. “Sungguh?”


Takjub, Jenson memeluknya dan menciumnya lagi. “Tentu saja.”


“Tapi kau tidak banyak memikirkan hasil karyaku.”


“Yeah.” Rachel mengembuskan napas panjang. “Hari ini hari gembira. Aku selalu berpikir bahwa kau merasa aku bermain-main dengan manik-manik karena aku tidak ingin menghadapi pekerjaan yang sesungguhnya. Bahkan kau pernah mengatakan itu.”


Jenson menyeringai. “Cuma karena itu bisa membuatmu marah. Kau tampak spektakuler kalau sedang marah.”


Rachel memikirkannya selama beberapa saat, lalu mendesah. “Kurasa ini waktu yang tepat untuk memberitahukannya padamu.”


Jenson menegang, namun memaksa suaranya supaya kedengaran tenang. “Memberitahukan apa?”


“Aku menonton Ammy Awards setiap kali kau mendapat nominasi.”


Ketegangan mencair dalam gelak tawa pria itu. Ada rasa bersalah dalam setiap suku kata. “Apa?”


“Setiap kali,” ulang Rachel, takjub akan pipinya yang berubah hangat. “Perasaanku selalu senang setiap kali menyaksikanmu menang. Dan…” Ia berhenti untuk berdeham. “Aku sudah menonton beberapa episode Logan’s Run.”


Jenson bertanya-tanya apakah Rachel menyadari bahwa ia kedengaran seakan-akan tengah mengakui suatu aib besar. “Kenapa?”

__ADS_1


“Kakek Robert selalu menyukainya, aku bahkan pernah mendengar dia mendiskusikan serialmu itu di pesta-pesta. Jadi kupikir aku akan melihatnya sendiri.”


Jenson memotong jawaban itu dengan menjewer telinga istrinya. “Beberapa orang hanya mengatakan yang sejujurnya jika berada di dalam tekanan.”


“Baiklah.” Setengah tertawa, Rachel mencoba membebaskan diri. “Filmmu bagus!” Ia berteriak sewaktu Jenson tidak melepaskan jewerannya. “Aku menyukainya.”


“Kenapa?”


“Jenson, sakit!”


“Aku punya cara-cara untuk membuatmu berbicara.”


“Aku menyukainya karena karakternya asli, plotnya cerdas. Dan…” Rachel mesti menelan ludah untuk yang satu ini, “…punya gaya.”


Ketika Jenson melepaskan jewerannya dan mengecupnya bertubi-tubi, ia mendorong Jenson setengah hati. “Kalau kau sampai mengulanginya pada orang lain, aku akan menyangkalnya.”


“Itu akan menjadi rahasia kecil kita.” Jenson mengecupnya lagi, kali ini tidak main-main.


Rachel sudah nyaris terbiasa dengan sensasi lemasnya otot-ototnya dan merasa seakan-akan tulang-tulangnya luluh. Ia beranjak lebih dekat lagi, bersuka cita dalam perasaan mendekap tubuh Jenson erat-erat. Sewaktu jantung Jenson berdegup, Rachel merasakan detaknya di dalam dirinya sendiri. Sewaktu erangan kecil Jenson keluar, ia merasakannya dengan lidahnya. Sewaktu rasa butuh itu meluap, ia melihatnya di mata Jenson.


Dipagutnya bibir Jenson lagi dan dibiarkannya dahaganya sendiri berkuasa. Akan ada konsekuensi. Bukankah ia sudah terlebih dahulu menerimanya? Akan ada rasa sakit. Ia sudah menguatkan diri untuk itu. Ia tak mampu menghentikan apa yang akan terjadi pada minggu-minggu mendatang, namun ia dapat mengarahkan apa yang akan terjadi malam ini dan mungkin esok. Itu harus cukup. Segala yang dirasakannya, diinginkan, ditakutkannya, tercurah pada ciuman itu.


Ciuman itu membuat Jenson terkejut. Rachel memang sering penuh gairah, liar. Gadis itu sering menuntut, secara erotis. Tapi Jenson tak pernah merasa kan emosi yang begitu murni dari dirinya. Ada semacam kelembutan di balik kekuatan itu, sebuah permintaan di balik keperluan yang mendesak. Jenson mendekapnya lebih erat lagi, lebih lembut daripada kebiasaannya selama ini, dan membiarkan Rachel mengambil apa yang ia inginkan.


Kepala Rachel dimiringkan ke belakang, mengundang, menggoda. Jenson mengencangkan genggamannya. Jari-jarinya dihunjamkan ke rambut wanita itu dan tersesat dalam ketebalannya. Ia merasakan rasa butuh itu merayapi tubuhnya sehingga ia menegang menghadapi ketundukan Rachel yang tiba-tiba dan tak disangka-sangka. Rachel tak pernah menyerahkan diri, dan sebelum saat ini Jenson tak mengetahui betapa menggairahkannya mendapati Rachel melakukan itu. Tanpa memikirkan waktu dan tempat, mereka menjatuhkan diri ke sofa.


...****************...


Hai semua,


Terima kasih yang masih setia untuk membaca, semoga kalian suka dengan tulisan ini. Dalam kesempatan kali ini aku mau menginformasikan jika ada 1 novel lagi yang up mulai hari ini, berjudul JAKARTA DIFUSI. Ceritanya ringan namun tetap asik untuk di baca, jangan lupa mampir ya.


Terima kasih ❤

__ADS_1


__ADS_2