
"Berapa jam aku bekerja dan apa yang kuhasilkan sama sekali bukan urusanmu," ucap Jenson dengan kilatan kemarah terpancar jelas di matanya.
Betapa senangnya Rachel melihat Jenson berada di ambang kemarahan karena kalimat yang di lontarkannya. Saudaranya yang lain bersikap ramah-tamah, dan begitu beradab. Jenson selalu berbeda dari yang lainnya, karena itu menjadi lebih menarik minat Rachel untuk terus meyulut kemarahannya.
Sambil tersenyum, Rachel membiarkan pergelangan tangannya di sentuh oleh Jenson.
“Apa tadi aku mengatakan bahwa itu urusanku? Tidak ada, aku hanya mengomentari pekerjaanmu bukan mengurusinya. Bisakah kita membawa barang-barang ini masuk ke kamar lalu kita minum teh? Di sini agak dingin.”
Jenson selalu kagum, walaupun agak sedikit segan, pada betapa mulusnya tangan Rachel, tapi tetap saja dia wanita yang menyebalkan. Harusnya dia tahu menjadi seorang penulis naskah film yang bisa merancang suatu adegan yang bisa memberinya keuntungan maksimal itu tidak-lah mudah, harusnya dia menghargai bakat alami sepupunya.
“Teh, ide yang bagus.” Ia melepaskan tangan Rachel, kemudian kembali mengikutinya menuju kaamar. "Sembari kita menyusun beberapa perjanjian sebelum besok kita menikah.”
“Begitu, ya?” Rachel membuka pintu kamar dan mempersilahkan Jenson masuk. Ia memandang sekeliling, mengagumi betapa mekajubkannya kamarnya.
Dulu Kakek Robert membiarkannya mendekorasi kamar itu sendiri, dan ia memilih warna putih sebagai dasar, kemudian ia memberikan sedikit percikan warna-warna yang mengejutkan. Hijau kekuningan dan biru terang pada dinding kamarnya. Rachel membuat lukisan minyak berbentuk horizontal yang panjang, dengan warna-warni matahari terbit di padang pasir, lalu ia hiasi dengan bulu-bulu burung unta sebagai pemanis lukisannya.
Rachel meminta Jenson meletakkan kopernya di samping tempat tidur, puas melihat api di perapian marmer kecil itu sudah dinyalakan, ia mencampakkan jaketnya di atas sebuah kursi.
“Jika masuk ke kamarmu, aku selalu merasa seperti sedang memasuki Better Homes,” komentar Jenson sambil meletakkan koper Rachel.
Rachel melirik sekilas pada kopernya, lalu beralih ke Jenson. “Aku yakin kau akan jauh merasa berada di rumah bila di kamarmu sendiri. Kamarmu lebih ke arah Field and Stream. Kuharap tehnya sudah jadi.”
__ADS_1
Jenson memandangi Rachel, cukup lama. Jaket yang di kenakan Rachel telah menyembunyikan baju hangat kasmir yang membalut pinggang langsingnya. Hal itu terpaksa mengingatkan Jenson akan apa yang membuatnya mulai tertarik pada Rachel, sewaktu ia masih remaja dulu. Untuk kedua kalinya Jenson berharap Rachel seorang lelaki. "Ayo kita turun," ajak Jenson.
Walaupun berjalan beriringan menuruni tangga, mereka tidak bercakap-cakap. Di ruang tamu, di tengah-tengah kemewahan nuansa Timur Tengah yang di desain oleh Kakek Robert, Nyoman telah menyiapkan teh untuk mereka.
“Oh, kau sudah menyalakan perapian. Bagus sekali.” Rachel mendekat dan mulai menghangatkan tangannya, musim hujan sudah mulai tiba, tubuhnya tidak begitu kuat dengan udara dingin.
“Aku dan Jenson bisa menuangkannya sendiri, Nyoman," cegah Rachel ketika melihat Nyoman hendak menuangkan teh hangat ke gelasnya. "Aku yakin, aku dan Jenson Tidak akan membutuhkan yang lainnya sampai makan malam," ia mengusir Nyoman secara halus sebab ia dan Jenson harus segera membahas perjanjian pra nikah mereka.
Dengan santai Rachel memandangi sekelilingnya, tirai-tirai yang berjuntai, sofa-sofa berlekuk dari bahan brokat, bantal-bantal gemuk padat terlihat sangat rmpuk dan nyaman. “Kau tahu, ruangan ini selalu jadi salah satu ruangan favoritku," ucap Rachel sembari menghampiri peralatan minum teh itu, ia mulai mengisi cangkir-cangkirnya.
“Usiaku baru dua belas tahun waktu aku dan orang tuaku mengunjungi Turki, dan ruangan ini selalu bisa membuatku mengingat suasana Turki dengan jelas. Kau mau pakai gula?” tanya Rachel.
Ini baru permulaannya pikir Jenson, dengan pelayan tua dan koki gendut itu sebagai saksinya. Enam bulan sejak hari ini, ia dan Rachel akan menandatangani sebuah dokumen, berjanji bahwa semua syarat dalam wasiat itu akan ditaati dan diikuti. Yang mencemaskannya adalah waktu untuk menjalankannya.
“Peraturan nomor satu,” Jenson memulai tanpa basa-basi lagi. “Kita berdua ada di sayap timur karena ini memudahkan Nyoman dan Jesica, jika kita membutuhkan sesuatu. Tapi…“ ia berhenti, berharap bisa menekankan maksudnya, “…kita berdua harus saling menghormati wilayah masing-masing, terutama ruang kerjaku.” Jenson tak ingin Rachel mengusik pekerjaannya.
“Tidak masalah.” Rachel menyilangkan kaki dan menyeruput tehnya.
“Lagi-lagi, karena mereka, sepertinya lebih baik bagi kita untuk makan pada saat yang bersamaan. Karena itu, demi kelangsungan hidup kita masing-masing, jam kerja kita berbeda jadi kita bisa bicara saat jam makan.”
Rachel tersenyum padanya dan mengutak-atik kuenya. “Oh, aku sangat setuju. Mari kita jaga hal-hal pribadi kita.”
__ADS_1
“Lihat, kita memulainya dengan baik. Peraturan nomor dua. Tidak ada satu pun dari kita, betapa pun bosan atau gelisahnya, boleh mengganggu yang lain." Jenson takmingin waktu enam bulannya di isi dengan peperangan bersama Rachel.
“Peraturan nomor tiga. Jika salah satu dari kita sedang mengadakan perjamuan, yang lain akan membuat dirinya hampir tidak tampak. Ini berlaku juga untuk pernikahan kita besok, aku tidak ingin ada orang yang tahu mengenai pernikahan kita.”
Sejenak mata Rachel memicing. “Oh, kamu pikir aku mau ada orang yang tahu kalau aku menikah denganmu karena harta warisan? Tentu saja tidak, aku tidak mau di cap materialistis. Peraturan nomor empat. Lantai satu adalah daerah netral dan barus dibagi rata kecuali dibuat pengaturan spesifik yang sudah disetujui terlebih dahulu.” Ia mengetuk-ngetukkan jemarinya di lengan kursi. “Kalau kita berdua tidak bermain curang, kita akan berhasil melalui enam bulan ini dengan nyaman.”
“Aku tak punya kesulitan apa-apa dalam bermain jujur. Seingatku, kaulah yang curang," tuduh Jenson.
Suara Rachel menjadi begitu dingin, nadanya sangat terjaga. “Aku tidak memahami yang kau bicara kan.”
“Canasta, poker, gin," Jenson mengingatkan beberapa permainan yang menurutnya Rachel bermain curang ketika bermain dengannya.
“Kau sama sekali tak punya bukti,” Rachel bangkit lalu menuang teh lagi ke dalam cangkirnya. “Lagi pula, main kartu itu sama sekali berbeda dengan masalah ini.” Tubuh Rachel dihangatkan oleh api di perapian, ditenangkan oleh tehnya, ia tersenyum pada Jenson.
Seingat Jenson, senyum semacam itu sangat berbahaya, dan mempesona.
“Apa kau masih menyimpan sakit hati karena lima juta yang kumenangkan darimu?” tanya Rachel.
“Tidak akan seandainya kau bermain dengan jujur.”
“Aku memenangkannya,” sangkal Rachel. “Kalau aku curang dan kau tidak menangkap basah tindakanku, berarti aku main curang dengan cerdas," ucapnya sembari tertawa.
__ADS_1