
“Aku tidak tahu itu maksudku.” Rachel membolak-balik sketsa-sketsa itu. “Bahkan seandainya mereka berbaris di hadapanku, aku masih tidak tahu.”
“Berbaris,” gumam Jenson. “Mungkin itu jawabannya. Aku rasa sudah waktunya kita mengadakan pesta keluarga dan mengundang semua keluarga yang sangat aku cintai untuk datang dan merayakan pesta yang sangat menyenangkan.”
“Pesta? Keluarga yang sangat kau cintai? Apa maksudmu, Kau tidak bermaksud mengundang mereka semua ke sini, kan? aku tidak setuju dengan idemu yang kali ini”
“Itu akan menjadi sempurna jika mereka semu datang kesini, kau ikuti aja permainanku kali ini, aku yakin kali ini akan sangat menyenangkan.”
“Mereka tidak akan mau datang kesini, mereka semua membenci kita bahkan mereka ingin membunuh kita, kau jangan gila Jenson, kau mau buat apa dengan pesta itu?”
“Oh ya, aku akan pastikan mereka semua akan datang kesini.” Jenson sudah berpikir jauh untuk ke depannya. “Kau bisa melihatnya nanti. Jika dokter sudah menyatakan bahwa kau sudah sehat, kita akan segera memulai permainan kecil kita sendiri dan mengundang semua keluarga kita untuk merayakan pesta yang sangat meriah, hahaha aku yakin permainan ini akan sangat seru dan luar biasa.”
“Permainan apa? Aku sungguh tidak mengerti maksudmu, kau jangan mengambil keputusan yang gegabah Jenson, pikiran dengan matang.”
“Aku hanya perlu menunggu dalam seminggu,” ulangnya, dan membingkai wajah Rachel dengan tangannya. Wajah itu kecil, didominasi oleh untaian rambut serta mata yang tajam. Tidak cantik, tapi istimewa sangat istimewa. Butuh waktu lama baginya untuk mengakui hal itu. “Kau sedikit agak pucat.”
“Aku pucat karena mengalami gegar otak. Apa kau akan memanjakanku?”
Senyum Jenson memudar saat ia mendekap istrinya. “Ya Tuhan, aku pikir aku akan kehilanganmu.”
“Aku juga berpikir kalau aku akan kehilanganmu, tapi tuhan berkehendak lain, kita masih selamat dan kau bisa melihat aku disini.”
__ADS_1
“Aku menyayangimu, aku tidak mau kehilanganmu sayang.”
Keputusasaan dalam suara Jenson mendorong Rachel untuk menenangkannya. “Kita berdua sudah mati seandainya kau tak mengemudikan mobil itu dengan baik, tapi kau sangat hebat bisa mengemudikan mobil itu sangat baik, aku bangga denganmu Jenson.” Rachel merapat manja ke bahu Jenson. Bahu itu kuat dan kokoh, seperti bahu yang kadang-kadang dibayangkannya sedang ia sandari. Tidak akan ada ruginya, sekali ini saja merasakan nyamannya bersandar di bahu Jenson, untuk berpura-pura bahwa bahu itu akan selalu ada di dekatnya. “Aku tak berpikir kita berdua akan lolos dari musibah satu itu.”
“Tapi kita lolos, kita berdua selamat dari kejadian itu, dan sekarang kita harus lebih berhati-hati lagi kedepannya.” Jenson menarik diri untuk memandangi Rachel. Wanita itu tampak letih dan kepayahan, tapi ia tahu tekadnya sangat kuat. “Dan sekarang kita akan membicarakan apa yang kau katakan padaku tepat sebelum kecelakaan itu terjadi.”
“Aku mengkritik cara mengemudimu? Baiklah, aku minta maaf.”
Jenson mengeratkan genggamannya pada dagu Rachel. “Kau mengatakan bahwa kau mencintaiku, apa akhirnya kau benar-benar mencintaiku?” Diamatinya mulut Rachel ternganga karena terkejut. Beberapa pria mungkin akan merasa terhina. Jenson berterima kasih pada rasa humornya. “Itu bisa di bilang pengakuan menjelang ajal.”
Apakah begitu? Rachel hanya dapat mengingat ia meraih Jenson pada detik-detik terakhir, mengetahui bahwa mereka akan mati bersama. “Aku histeris ketakutan,” mulainya, sambil berupaya melepaskan diri.
“Apakah kalau orang histeris akan berucap seperti itu? Aku rasa tidak.”
“Aku rasa tidak, itu bukan ocehan ataupun terikan histeris, apa kau sungguh-sungguh mencintaiku? Apa itu artinya kau tidak akan menceraikan aku?”
“Itu hanya ocehan menjelang maut saja, aku pikir kita tidak akan selamat, mulutku tiba-tiba mengeluarkan ocehan seperti itu.”
“Bagiku itu tak terdengar seperti ocehan.”
“Jenson, kau mendengar penjelasan Dr. Rizky. Aku tidak boleh stres, jadi kau bisa stop berbicara? Kau jangan buat aku semakin stres. Kalau kau ikhlas ingin menolongku, mintakan aku teh lagi kepada Jesica.”
__ADS_1
“Oke kalau gitu, tidak usah minum teh aku punya sesuatu yang lebih manjur di banding teh untuk merelakskan otot-otot dan melegakan saraf-sarafmu.” Jenson membaringkannya di atas bantal, bergulir bersamanya. Dengan manis, dengan lembutnya. Disusurinya garis-garis tulang pipi Rachel dengan bibirnya. “Aku ingin mendengar kau mengatakannya lagi padaku, di sini di depan wajahku.”
“Jenson...”
“Jangan bergerak, tetaplah berbaring disini.” Dan tangannya, lembut dan tenang, membuat Rachel terdiam.
Jenson begitu baik, begitu sabar. Lebih dari sekali Rachel bertanya-tanya bagaimana seorang pria yang gelisah dan mudah naik darah bisa memiliki tangan yang begitu menenangkan dan halus seperti ini. Setelah melepaskan sepatu, Jenson bergulir ke tempat tidur bersama Rachel. Didekapnya dan dibelainya Rachel secara halus dan membuat Rachel merasa nyaman sampai ia merasakan desah lega wanita itu. “Aku akan merawatmu, aku tidak akan membiarkanmu sakit seperti ini, aku akan selalu menjagamu.” gumamnya. “Kalau kau sudah sembuh, kita akan merawat satu sama lain sampai mau memisahkan.”
“Aku akan baik-baik saja besok, kau tenang saja sebentar lagi juga aku akan sembuh, karena kau yang merawat aku dengan kenyamanan dan kehangatan.” Namun suaranya berat dan mengantuk.
“Tentu saja aku akan menjagamu dengan kehangatan agar kau selalu merasa nyaman di dekatku.” Jenson akan menjaganya tetap berada di tempat tidur bahkan kalau perlu ia harus merantainya. “Kau belum mengatakannya lagi padaku. Apakah kau jatuh cinta padaku, apa kau benar-benar jatuh cinta kepadaku Rachel?”
“Aku lelah Jenson, apa kau bisa berhenti berbicara seperti itu? Apa kau mau membuatku semakin stres?”
“Aku hanya ingin mendengar sekali lagi dari mulutmu, aku juga tidak ada niat untuk membuatmu semakin stres.”
“Kalau begitu apa kau bisa stop berbicara? Aku sangat lelah.”
“Aku hanya ingin mendengar sekali lagi Rachel, tolong ucapkan sekali lagi kepadaku.”
Rachel begitu lelah, begitu capek. Sepertinya ia sudah mencapai titik di mana ia tak bisa melawan. “Bagaimana jika memang begitu? Bagaimana jika aku benar-benar mencintaimu Jenson?” Ia berhasil memiringkan kepalanya untuk menatap wajah ganteng Jenson. Jemari itu mengusap lembut keningnya, mengusir segala rasa sakit yang ada pada saat itu juga. “Orang jatuh cinta, dan tidak jatuh cinta pada setiap waktu.”
__ADS_1
“Orang.” Jenson merendahkan kepalanya sehingga ia bisa menelusuri bibir Rachel dengan bibirnya. “Tapi bukan Rachel."Jenson merapat di sampingnya, untuk saat ini ia merasa sangat senang. Rachel mencintainya dan berarti Rachel tidak akan menceraikannya.