Surat Wasiat Kakek Robert

Surat Wasiat Kakek Robert
Chapter 38


__ADS_3

Perjalanan menuju ke Bogor sungguh panjang. Lebih panjang lagi kalau sepanjang perjalanan hanya ada keheningan mencekam. Begitu tiba di Bogor Rachel mengikuti arahan Jenson menuju lab.


“Bagaimana kau tahu di mana letaknya?” tuntutnya setelah meninggalkan mobil di tempat parkir. Jenson melingkarkan tangannya di pundak Rachel, sementara, Rachel merapatkan jaketnya melawan angin.


“Kemarin aku sudah mencari alamatnya di berkas milik Kakek Robert.” Jenson berjalan menyusuri separuh blok itu tanpa topi, jaketnya berkibar terbuka, sambil mengepit kotak berisi sampanye di bawah sebelah lengannya dan tangannya yang satu tetap berada di pundak Rachel. Ia bukannya kebal pada flu, tapi menganggapnya sebagai suatu anugerah setelah suhu panas di perjalanan tadi. Sambil sekilas memberi tanda pada Rachel, ia mendorong pintu putar dan memasuki lobi bangunan baja dan kaca itu.


“Kakek Robert pemilik keseluruhan tempat ini?" Rachel mengamati lantai marmernya. Lantai itu agak menanjak dan melebar menuju suatu area penuh keramaian dan kesibukan, di mana para pria dan wanita membawa tas-tas kerja.


“Ada tujuh puluh dua lantai.”


Hal itu membuat Rachel kembali berpikir tentang betapa rumitnya harta peninggalan Kakek Robert. Berapa jumlah perusahaan yang beroperasi di gedung ini? Berapa banyak orang yang bekerja di sini? Bagaimana Rachel bisa meruwetkan hidupnya dengan tanggung jawab semacam ini?


“Apa yang harus kulakukan dengan tujuh puluh dua lantai ini?”


“Ada banyak orang yang akan membantumu, kau hanya menerima laporannya saja.” Jenson memberikan kartu identitas mereka berdua ke pada penjaga di lift. Tanpa menunggu, petugas langsung mengarah ke lantai empat puluh.


“Jadi ada banyak orang yang akan bekerja untuk kita. Siapa yang mengawasi mereka?”


“Para akuntan, pengacara, manajer. Ini adalah masalah bagaimana mempekerjakan orang untuk mengawasi orang yang kau pekerjakan.”


“Sepertinya itu sudah menjelaskan semuanya.”


“Kalau kau khawatir, pikirkan tentang Kakek Robert. Memiliki kekayaan sepertinya tidak mencegahnya bersenang-senang. Pada sebagian besar kesempatan dia menganggap semua urusan ini sebagai semacam hobi.”


Rachel memandangi angka-angka di atas pintu lift. “Semacam hobi.”


“Semua orang semestinya mempunyai hobi.”


“Tenis adalah hobinya,” rutuknya.


“Triknya adalah untuk menjaga supaya bola tetap bergerak.Kakek Robert memukulnya ke lapangan kita, Rachel.”

__ADS_1


Wanita itu melipat tangannya. “Aku belum siap untuk berterima kasih atas hal itu.”


“Kalau begitu lihatlah dengan cara begini.” Jenson kembali meletakkan sebelah tangannya pada bahu Rachel dan meremasnya dengan lembut. “Kau tidak perlu tahu bagaimana cara membuat sebuah mobil untuk menjadi pemilik mobil itu. Kau hanya perlu mengemudi dengan mantap dan mengikuti rambu-rambu yang ada. Kalau Robert tidak menganggap kita mampu mengikuti rambu-rambu itu, dia pasti tidak akan memberi kita kuncinya.”


Uraian Jenson itu cukup membantu untuk memandang masalah ini. Tapi masih terasa ganjil untuk berpikir bahwa ia sedang menaiki lift yang bakal dimilikinya kalau jangka waktu enam bulan itu sudah usai. “Apakah kita tahu harus menemui siapa?” Rachel melirik kotak yang dipegang Jenson, yang berisi botol sampanye itu.


“Seseorang bernama Silas Lockworth sepertinya bertanggung jawab di sini.”


Sewaktu lift itu berhenti naik, mereka melangkah ke arah area resepsionis Laboratorium. Karpetnya berwarna merah pucat, dindingnya dipulas dalam warna krem. Dua batang philodendron besar berdaun belah mengapit pintu kaca lebar yang segera terbuka begitu mereka datang mendekat. Seorang wanita di balik meja mengilat menangkupkan jemarinya dan tersenyum.


“Selamat pagi. Bisa saya bantu?”


Jenson melirik ke terminal komputer pada mejanya. Yang terbaik di kelasnya. “Kami datang untuk menemui Mr. Lockworth.”


“Mr. Lockworth sedang rapat. Kalau saya bisa mendapatkan nama Anda berdua, mungkin asistennya bisa menolong.”


“Aku Jenson Dirgantara. Ini Rachel Cecilion.”


Rachel melihat kedua alis si resepsionis terangkat. “Betul, Robert adalah kakek kami.”


Sesudah terlebih dahulu bersikap sopan dan efisien, si resepsionis menjadi sangat ramah. “Saya yakin Mr. Lockworth sendiri yang akan menyambut Anda berdua jika beliau tahu Anda akan datang. Silakan duduk. Beliau akan saya panggilkan.”


Hasil dari panggilan itu membutuhkan waktu kurang dari lima menit untuk terlihat.


Pria yang muncul menghampiri ruang tunggu tidak kelihatan seperti konsep Rachel akan teknisi ataupun ilmuwan. Tingginya 190 cm, ramping seperti pesenam dengan rambut pirang yang disisir rapi ke belakang, membingkai wajahnya yang berbinar terbakar matahari. Ia kelihatan lebih seperti seorang pria yang berada di rumah di pegunungan, bukannya di lab dengan tabung-tabung untuk percobaan, pikir Rachel.


“Ms. Rachel.” Pria itu melangkah dengan cara berjalan yang tenang, dengan tangan diulurkan. “Mr. Jenson. Aku Silas Lockworth. Kakek kalian adalah teman baikku.”


“Terima kasih.” Jenson menyambut jabat tangan itu. “Aku minta maaf karena muncul tanpa memberitahu dulu.”


“Itu tidak perlu.” Senyum Lockworth sepertinya bersungguh-sungguh. “Kami tidak pernah tahu kapan Robert akan mampir ke sini. Mari ke ruang kerjaku.”

__ADS_1


Ia berjalan menyusuri koridor, di depan Jenson dan rachy. Ruang kerja Lockworth menjadi kejutan berikutnya. Ruangan itu cukup mewah, dengan kursi-kursi elok dan litografi-litografi cerdas, untuk membuat kita berpikir tentang seorang eksekutif perusahaan besar. Mejanya ditumpuki berkas-berkas dan kertas-kertas untuk membuat kita berpikir tentang juru tulis yang bermasalah. Meja itu menghantarkan bau lusinan buku bersampul kulit dari lemari yang tingginya mencapai langit-langit. Sebuah akuarium bulat berisi ikan-ikan eksotis dibangun di satu sisi dindingnya.


“Kalian mau minum kopi? Aku bisa memesankan kopi hangat untuk kalian.”


“Tidak.” Rachel sudah memuntir-muntir sarung tangan di tangannya. “Terima kasih. Kami tidak ingin terlalu banyak menyita waktumu.”


“Tidak, aku akan senang sekali,” Lockworth meyakinkannya. “Robert sudah sering membicarakan kalian berdua,” lanjut Lockworth sambil mempersilakan mereka duduk. “Tak ada keraguan bahwa kalian berdua adalah favoritnya.”


“Dan kakek adalan favorit kami,” balas Rachel.


“Tapi tentunya kalian tidak datang untuk menghabiskan waktu.” Lockworth kembali bersandar di kursinya. “Apa yang bisa kulakukan untuk kalian berdua?”


“Kami punya sesuatu yang ingin kami analisis,” mulai Jenson. “Segera dan diam-diam.”


“Begitu.” Silas berhenti, alisnya bertaut. Lockworth adalah pria yang cepat menangkap kesan yang ditinggalkan oleh orang lain. Dalam diri Rachel ia melihat ketegangan di balik lapisan sopan santun. Dalam diri Jenson ia melihat kekerasan, tidak terlalu terkubur dalam namun juga tidak ditutup-tutupi. Ia berpikir bahwa ia mendeteksi adanya ikatan di antara mereka walaupun mereka nyaris tidak melihat ke arah satu sama lain sejak memasuki ruangan itu.


Lockworth bisa saja menolak. Jumlah stafnya menciut selama liburan, dan pekerjaannya menumpuk. Sejauh ini ia masih belum mempunyai kewajiban apa pun terhadap mereka. Tapi ia tak pernah melupakan kewajibannya terhadap Robert. “Kami akan mencoba membantu kalian.”


Dalam keheningan, Jenson membuka kotak itu dan mengeluarkan botol sampanye di dalamnya. “Kami memerlukan laporan mengenai kandungan botol ini. Laporan yang konfidensial. Hari ini.”


Lockworth mengambil alih botol itu dan memeriksa labelnya. Bibirnya agak dilengkungkan. “Tujuh puluh dua. Tahun yang bagus. Apa kalian sedang berpikir untuk membangun perkebunan anggur?”


“Kami perlu mengetahui apa yang ada di dalam botol itu selain sampanye.”


Bukannya menunjukkan keterkejutan, Lockworth kembali bersandar di kursinya. “Kalian punya alasan untuk berpikiran begitu?”


Jenson membalas tatapannya. “Kalau tidak, kami tidak akan berada di sini.”


Lockworth hanya mendongak. “Baiklah. Aku sendiri yang akan memeriksanya di lab.”


Sambil merengut menanggapi kelakuan Jenson, Rachel bangkit dan menawarkan jabat tangannya. “Kami sangat menghargai kebaikanmu Mr. Lockworth. Aku yakin kau masih punya banyak pekerjaan lain untuk diselesaikan, tapi hasil dari pemeriksaan itu sangat penting bagi Jenson dan aku.”

__ADS_1


“Tidak masalah.” Lockworth memutuskan bahwa ia akan mencari tahu mengapa hasil itu begitu penting setelah menganalisis sampanye itu. “Ada kedai kopi untuk para staf. Akan kutunjukkan letaknya. Kalian bisa menungguku di sana.”


__ADS_2