Surat Wasiat Kakek Robert

Surat Wasiat Kakek Robert
Chapter 59


__ADS_3

Diara Yosef berdiri bersama istrinya di dekat sebuah rak buku. Dia tampak marah, juga tidak sabar dan melotot ketika Rachel mendekatinya.


“Paman Yosef, aku senang sekali kau bisa datang. Kita tidak begitu sering berjumpa.”


“Jangan membujukku.” Ia mengaduk Scotch-nya tapi tidak meminumnya. “Kalau kau berpikir bahwa kau bisa membujukku untuk menarik gugatanku pada surat wasiat absurd itu, kau salah.”


“Aku tidak akan memimpikan paman mencabut gugatan itu, tapi Zephaniah mengatakan padaku bahwa kau tak punya kesempatan untuk memenangkan gugatan itu.” Rachel tersenyum dengan cantiknya. “Namun aku harus sepakat denganmu bahwa surat wasiat itu absurd, khususnya setelah dipaksa menikah dan tinggal di bawah atap yang sama dengan Jenson selama berbulan-bulan.” Ditelusurinya salah satu cabang panjang dan datar kalungnya dengan sebuah jarinya. “Kukatakan padamu, Paman Yosef, ada saat-saat aku sungguh-sungguh mempertimbangkan untuk keluar saja dari rumah ini. Jenson melakukan segala usaha untuk membuat enam bulan ini menjadi tak tertahankan. Dia pernah berpura-pura ibunya sakit, dan dia harus pergi ke Bali. Tahu-tahu selanjutnya aku terkunci di gudang bawah tanah. Permainan yang kekanak-kanakan,” rutuknya seraya mengirimkan tatapan tak suka pada Jenson. Dengan salah satu sudut matanya, ia melihat Yosef menenggak cepat minumannya dengan gugup. “Yah, waktu pernikahanku dengannya sudah hampir habis.” Rachel kembali berbalik sambil tersenyum segar. “Aku amat senang kita bisa melakukan perayaan kecil ini. Akhirnya Jenson akan membuka sebotol sampanye yang sudah ditimbunnya sejak Natal.”


Rachel mengamati istri Yosef menjatuhkan gelasnya di karpet Turki. “Oh tidak,” ucap Rachel lembut. “Kita harus mengambil sesuatu untuk mengelap itu. Kau mau ambil minum lagi?”


“Tidak, dia baik-baik saja.” Yosef menarik siku istrinya. “Permisi.”


Saat mereka menjauh, Rachel merasakan debar gembira. Jadi, orang yang mengirim minuman saat natal itu adalah Yosef.


“Aku berhenti merokok kira-kira enam bulan yang lalu,” kata Jenson pada David dan istrinya, membuka percakapan tentang masalah kesehatan.


“Kau tidak akan menyesalinya,” ucap David. “Kau bertanggung jawab akan tubuhmu sendiri.”


“Akhir-akhir ini aku sering memikirkannya,” tutur Jenson getir. “Tapi tinggal bersama Rachel beberapa bulan terakhir ini tidak membuat hal itu menjadi mudah. Dia sudah membuat waktu enam bulan ini buruk sekali. Dia menyuruh seseorang mengirimiku surat palsu supaya aku terbang ke Bali karena berpikir ibuku sakit.” Ia melirik ke belakang dan merengut di balik punggung Rachel.


“Jika kau berhasil melalui enam bulan tanpa merokok…” Mega memulai, menggiring pembicaraan kembali pada kesehatan Jenson.


“Benar-benar keajaiban aku bisa hidup dengan wanita itu. Tapi itu hampir selesai.” Jenson menyeringai pada David. “Untuk makan malam ini kita akan minum sampanye, bukannya jus wortel. Aku sudah menyimpan botol ini sejak Natal untuk kesempatan yang tepat.”


Dilihatnya buku-buku jari David memutih di sekitar gelas yang di genggamnya dan wajah Mega memucat. “Kami tidak....” David memandang tak berdaya pada Mega. “Kami tidak minum.”


“Kalian tidak minum?” tanya Jenson riang. “Sayang sekali, padahal ini suatu perayaan. Kalau begitu aku permisi.” Ia beranjak ke bar seolah-olah hendak menambah minuman dan menunggu Rachel mengikutinya. “David orangnya.”


“Bukan.” Rachel mengambil segelas air putih, Jenson agak heran mengapa Rachel tidak minum di acara perayaan ini, namun Jenson mengabaikannya.


“Yosef-lah orangnya,” lanjut Rachel.


Sesuai naskah yang mereka buat, Rachel memelototi Jenson. “Kau ini orang yang membosankan sekali, Jenson. Bertahan menghadapimu tak sepadan dengan uang sejumlah berapa pun.”


“Si angkuh intelektual,” ucap Jenson. “Aku sedang menghitung hari.”

__ADS_1


Dengan mengayunkan gaunnya, Rachel berjalan ke arah Bianca Cornelia. “Aku tak tahu bagaimana aku berhasil menahan amarahku terhadap laki-laki itu.”


Bianca sedang memeriksa wajahnya dengan kaca kecil perak nan cantik. “Aku selalu menganggap Jenson pria yang manis.”


“Kau kan tidak pernah tinggal bersamanya. Belum seminggu kita tinggal bersama, dia mendobrak masuk ruang kerjaku dan merusaknya. Lalu dia mencoba mengambinghitamkan semua itu sebagai pekerjaan seorang penyusup.”


Bianca merengut dan menyentuhkan sedikit bedak pada hidungnya. “Itu tidak seperti sesuatu yang bakal dia lakukan padaku. Kukatakan....” Ia tersadar dan kembali melihat ke arah Rachel dengan senyum dibuat-buat. “Anting-antingmu cantik.”


Jenson menguatkan diri untuk mendengarkan pendapat singkat Morgan tentang pasar bursa. Begitu menemukan celah, ia langsung menyambarnya. “Begitu semuanya beres, aku harus meminta nasihat darimu. Aku sedang berpikir tentang lebih aktif terlibat dalam salah satu firma kimia Robert. Ada banyak uang di pupuk dan pestisida.” Ia menyaksikan Patience mengibas-ngibaskan tangan dan terenyak begitu Morgan memelototinya.


“Piranti lunak,” ucap Morgan singkat.


Jenson hanya tersenyum. “Akan kupertimbangkan.”


Rachel mencoba namun gagal untuk mengorek-ngorek Bianca. Lima menit percakapan mereka meninggalkannya tetap curiga, bingung, dan mulai sakit kepala, Ia memutuskan untuk mencoba peruntungannya dengan Yagil.


“Kau kelihatan sehat.” Rachel tersenyum pada Yagil dan mengangguk pada istrinya.


“Kau kelihatan agak pucat, Sepupu.”


“Dari dulu kau kan memang bermusuhan dengannya,” timpal Yagil ramah.


“Aku belum menemukan kenapa kakek Robert sangat menyukainya. Selain membosankan, Jenson senang pada lelucon-lelucon jail yang aneh. Dia senang sekali sewaktu berhasil mengunciku di gudang bawah tanah.”


Yagil tersenyum pada gelasnya. “Dia tak pernah sesuai dengan level kita.”


Rachel menggigit lidahnya, lalu menyetujuinya. “Kau tahu, dia bahkan pernah meneleponku suatu malam, mengubah suaranya. Dia berusaha menakut-nakutiku dengan mengatakan bahwa seseorang sedang mencoba membunuhku.”


Alis Yagil menyatu tatkala menatap mata Rachel. “Aneh.”


“Yah, sebentar lagi waktu enam bulan selesai. Ngomong-omong, apa kau suka sampanye yang kukirimkan padamu?”


Jari-jari Yagil membeku di gelasnya. “Sampanye?”


“Persis setelah Natal.”

__ADS_1


“Oh, ya.” Yagil mengangkat gelasnya lagi, memandangi Rachel sambil meneguk minumannya. “Jadi itu kau.”


“Aku mendapatkan gagasan itu ketika seseorang mengirimi Jenson sebotol pada waktu Natal. Dia berjanji untuk membukanya hari ini. Permisi, aku ingin memeriksa makan malam.”


Matanya menatap pada Jenson saat beranjak dari ruangan itu. Ia dan Jenson sudah menyiapkan adegannya selanjutnya, pikir Rachel. Sekarang ia hanya perlu bertindak sesuai rencana. Di dapur ia menemukan Jesica sedang melakukan persiapan terakhir untuk hidangan.


“Apa kalian sudah lapar?” celoteh Jesica, “Tunggu sepuluh menit lagi, makanannya selesai.”


“Jesica, sudah waktunya untuk mematikan sakelar utama.”


“Aku tahu, aku tahu. Aku hanya sedang menyelesaikan daging ini.”


Setelah mendapat sinyal dari Rachel, Jesica sudah diinstruksikan untuk turun ke gudang bawah tanah, mematikan sakelar, lalu menunggu tepat selama semenit kemudian menyalakannya kembali. Ia bersikap skeptis mengenai keseluruhan rencana Jenson dan Rachel, tapi akhirnya setuju berpartisipasi di dalamnya. Jesica mengelap tangannya dengan celemek, memudian pergi ke pintu gudang.


Rachel menarik napas dalam-dalam dan melangkah kembali ke perpustakaan.


Jenson telah menempatkan diri di dekat meja. Ia mengangguk singkat pada Rachel sewaktu gadis itu masuk. “Makan malam sepuluh menit lagi,” Rachel mengumumkan dengan riang saat melintasi ruangan itu.


“Itu memberi kita cukup waktu.” Jenson mengambil alih panggung dan tak sanggup menolak godaan untuk memulai dengan tegas. Ia tak mesti melihat Rachel untuk mengetahui bahwa Rachel sudah mengambil posisi. “Kalian semua pasti bertanya-tanya kenapa kami membawa kalian ke sini malam ini.” Ia mengangkat gelasnya dan menatap dari satu wajah ke wajah lain. “Salah seorang dari kalian adalah pembunuh.”


Setelah diberi petunjuk, lampu langsung mati dan kekacauan melanda. Gelas-gelas pecah, para wanita berteriak, sebuah meja dijungkirbalikkan. Ketika lampu kembali menyala, semua orang terpaku.


Setengah tubuh Rachel terbaring di bawah meja, dengan wajah tertelungkup. Di sampingnya tergeletak sebuah pisau yang terdapat darah pada pangkal mata pisaunya. Tak berapa lama Jenson sudah berada di sisi Rachel, mengangkatnya sebelum orang lain sempat bereaksi. Tanpa suara, dibopongnya Rachel keluar dari ruangan itu. Beberapa menit berlalu sebelum ia kembali, sendirian. Dipandanginya sekelilingnya, tatapannya tegas, pada setiap wajah dalam ruangan itu.


“Seorang pembunuh,” ulangnya. “Rachel sudah mati.”


“Apa maksudmu dia sudah mati?” Yosef menyeruak maju. “Permainan macam apa ini? Biarkan kami melihatnya.”


“Tak ada seorang pun boleh menyentuhnya.” Jenson menghadang Yosef. “Tak ada seorang pun boleh menyentuh apa pun atau meninggalkan ruangan ini sampai polisi tiba.”


“Polisi?” Pucat dan gemetar, Yosef melirik sekelilingnya. “Kita tidak menginginkan itu. Kita harus menangani ini sendiri. Dia hanya pingsan.”


“Darahnya membasahi benda ini,” komentar Jenson sambil menunjuk pisau yang berlumur darah itu.


“Tidak!” Mega menyeruak sampai berhasil menerobos kerumunan di sekeliling meja. “Seharusnya tidak ada seorang pun yang terluka. Seharusnya hanya ketakutan. Seharusnya tidak seperti ini. David.” Ia meraih suaminya, lalu mengubur wajahnya di dada pria itu.

__ADS_1


__ADS_2