
“Kecuali Mr. Cecilion.”
“Betul. Jenson dan aku sering mengunjungi kakek kami, dan kami sering, bukan sering lagi tapi sangat sering bertemu di sini, di Rober’s.” Baik kami menginginkannya maupun tidak, tambahnya berguyon pada diri sendiri. “Yang lain tidak sering datang ke sini.”
“Sampanyenya, Letnan.” Jenson membawa kotak itu. “Dan laporan dari Laboratorium.”
Randall membaca sekilas salinan itu, lalu menyelipkan selembar kertas itu ke dalam kotak. “Pengacara Kakek kamu…” Ia melirik buku catatannya. “Zephaniah melaporkan bahwa adanya penyusupan di Rober’s beberapa minggu yang lalu. Kami sudah mengirim mobil patroli untuk memeriksa daerah yang bersangkutan, tapi saat ini kalian mungkin setuju jika kami mengirimkan seseorang untuk berpatroli seti di sana.”
“Aku sangat setuju kalau begitu,” timpal Jenson.
“Aku akan menghubungi Zephaniah” Melihat cangkir Letnan Randall sudah kosong, Rachel mengambilnya kemudian mengisinya lagi. “Aku juga memerlukan daftar nama kerabat yang tercantum di surat wasiat itu.”
Rachel merengut. Ia dan Jenson sudah berusaha bekerja sama sebaik mungkin dengan Letnan Randall. Sewaktu mereka selesai, Rachel memandangi Randall dengan tatapan menyesal. “Aku sudah mengatakan bahwa kami tidak akrab.”
“Akan kuhubungi Zephaniah untuk mendapatkan rinciannya.” Randall berdiri dan berusaha tidak memikirkan cuaca dingin yang akan menyertainya ketika mengemudi kembali ke kota. “Kami akan menyimpan informasi tadi sebaik mungkin. Jika ada sesuatu yang terjadi, segera hubungi aku. Salah seorang anggotaku akan berada di sekitar sini untuk membereskannya.”
“Terima kasih, Letnan.” Jenson membantu pria pendek-gemuk itu mengenakan jaketnya. Randall kembali mengamati sekelilingnya. “Kau pernah terpikir untuk memasang sistem keamanan?”
“Tidak.”
“Coba kau pikirkan ulang,” nasihatnya, dan berlalu.
“Kita baru saja didamprat,” gumam Rachel.
Jenson bertanya-tanya apakah Logan’s Run masih menyisakan tempat untuk polisi gendut yang berpikiran aneh. “Sepertinya begitu.”
“Kau tahu, Jenson, aku punya dua pemikiran dalam membawa-bawa polisi ke dalam masalah ini.”
“Yaitu?”
__ADS_1
“Kehadiran mereka akan menenangkan keadaan atau malah sebaliknya yaitu memanaskan suasana.”
“Aku harap kehadiran mereka akan menenangkan bukan malah memanaskan suasana, sudah kau tenang saja, aku yakin kita akan baik-baik saja.”
“Iya, mungkin aku hanya sedikit cemas.”
“Kau membayar dengan uangmu dan memilih pilihanmu.”
Rachel menatapnya dengan pandangan paham “Kau setuju pada pandangan yang kedua.”
“Aku sudah nyaris mendapatkannya.” Jenson melewati kopi dan menuangkan brendi. “Aku nyaris mendapatkan sesuatu. Seseorang.” Ketika ia memandangi Rachel, sedikit keriangan yang sempat hadir di matanya telah memudar. Kegelisahan itu kembali lagi. “Aku lebih senang berkelahi secara terbuka, satu lawan satu.”
“Lebih baik jika kita menganggapnya seperti per mainan catur, bukannya pertandingan tinju.” Rachel mendekat, memeluk Jenson dan menyapukan pipinya ke bahu Jenson. Itu semacam gerakan yang dipikir Jenson tidak akan pernah terbiasa didapatkannya dari Rachel. Seraya merebahkan kepalanya di rambut Rachel, ia menyadari kenyataan bahwa ia tidak hanya menambahkan rasa manis pada perasaan itu. Kapankah ia berhenti mengingat bahwa Rachel tidak masuk dalam gambaran wanita ideal yang telah diciptakannya begitu lama? Rambutnya terlalu merah, badannya terlalu kurus, lidahnya terlalu tajam. Jenson mendekapnya erat dan mendapati bahwa mereka sangat cocok untuk satu sama lain.
“Aku tak pernah punya kesabaran yang dibutuh kan untuk bermain catur.”
“Kalau begitu kita serahkan saja pada polisi.” Rachel memeluknya lebih erat lagi. Kebutuhan untuk melindungi bangkit begitu kuatnya seperti halnya hasrat untuk dilindungi. “Aku sudah memikirkan apa yang mungkin saja terjadi malam ini. Aku tidak ingin kau terluka, Jenson.”
“Karena…” Rachel menatap mata Jenson dan merasakan hatinya meleleh. Tapi ia tidak akan menjadi orang bodoh, ia tidak akan mempertaruhkan harga dirinya. “Karena dengan begitu aku harus mencuci piring sendirian.”
Jenson tersenyum. Tidak, ia memang tidak punya banyak kesabaran, tapi ia dapat memilikinya jika keadaan menuntutnya untuk begitu. Disapukannya sebuah kecupan pada sisi-sisi mulut Rachel. Cepat atau lambat, ia akan mendapatkan lebih banyak lagi dari Pandora. Lalu ia hanya perlu memutuskan apalagi yang akan dilakukannya. “Ada alasan lain?”
Menyerap sensasi itu, Rachel memutar otak untuk mendapatkan jawaban enteng lainnya. “Jika kau terluka, kau tidak bisa bekerja. Aku harus menghadapi tabiatmu yang pemarah.”
“aku pikir kau sudah terbiasa dengan itu.”
“Aku pikir nantinya akan lebih buruk lagi.”
Jenson mengecup mata terpejam Rachel dengan perlahan. “Coba lagi.”
__ADS_1
“Aku peduli.” Rachel membuka matanya, air mukanya tegang dan melawan. “Punya masalah dengan itu?”
“Tidak.” Kali ini kecupan Jenson tidaklah lembut, juga tidaklah sabar. Dalam beberapa detik saja ia sudah mampu membuat Rachel tak berdaya. Kalau ada ketegangan dalam kebergemingan, Jenson tak dapat merasakannya. “Satu-satunya masalah adalah bagaimana mengeluarkannya darimu.”
“Bagaimanapun juga kau masih keluargaku...”
Jenson tertawa, lalu meniup daun telinga Rachel. “Jangan coba-coba kau mundur.”
Rachel jengkel, tubuhnya menegang. “Aku tidak pernah mencoba untuk mundur.”
“Kecuali kau bisa membuatnya menjadi rasional. Ingat saja ini.” Jenson membuat Rachel tak berdaya lagi. “Hubungan keluarga kita jauh.” Bibir mereka bertemu, dengan butuhnya, lalu berpisah. “Hubungan ini tidak.”
“Aku tidak tahu apa yang kauinginkan dariku,” bisiknya.
“Biasanya kau cepat menangkapnya.”
“Jangan bercanda, Jenson, ini tidak lucu.”
“Aku tidak bercanda Rachel, aku sungguh.” Jenson melepaskannya, lalu mencengkeram bahunya. Sekilas, dengan tegas, disapukannya tangannya sampai ke siku Rachel lalu kembali lagi. “Tidak, aku tidak akan mengejarnya di depanmu, Rachel. Aku tidak akan membuatnya menjadi mudah untukmu. Kau harus bersedia mengakui bahwa kita berdua menginginkan hal yang sama bukan. Dan kau akan mengakuinya kan.”
“Dasar kau sangat arogan,” rutuknya.
“Aku hanya percaya diri saja,” ralat Jenson. Ia harus, atau ia akan, berlutut mengiba. Akan datang waktunya, ia berjanji pada diri sendiri, Rachel akan membobol benteng-benteng pertahanannya sendiri. “Aku sangat sungguh menginginkanmu.”
Sebuah getaran merayapi tulang punggung Rachel. “Yah aku tahu.”
“Yeah.” Jenson menggenggam tangan Rachel sangat halus dan lembut dengan penuh kasih sayang. “Aku tahu kau tahu.”
...****************...
__ADS_1
Musim dingin masih menggantung di bulan Februari. Ada saatnya Rachel terpaksa bersusah payah meyeroki genangan air dalam perjalanan dari rumah menuju bengkel kerjanya. Ia mendapati dirinya bersyukur karena kerja fisik itu. Musim hujan adalah saat sunyi senyap yang menyediakan terlalu banyak waktu untuk berpikir.
Dalam menggunakan waktunya, Rachel menyadari beberapa hal yang tak mengenakkan. Hidupnya, seperti yang diketahuinya, seperti yang dijalaninya selama ini, tidak akan pernah sama lagi. Sejauh karya seninya terlibat, ia merasakan bulan-bulan penuh usaha keras dan semangat telah membuat karya-karyanya menjadi lebih baik. Dalam kenyataannya, ia memang sering mempergunakan perhiasannya untuk mengalih kan perhatiannya dari apa yang terjadi pada diri dan sekitarnya. Ketika itu tidak berhasil, ia menggunakan apa yang terjadi pada diri dan sekitarnya itu dalam pekerjaannya.