
Warning : Karya ini hasil orisinal aku dan hanya karangan fiktif semata. Bahasa bisa saja kasar jadi dimohon untuk tidak menirukan nya.
...•...
...•...
...•...
Sebelumnya :
“Kalau begitu percepat langkah kaki kalian berdua, kalau tidak aku akan meninggalkan kalian berdua di sini!"
“Mana bisa seperti itu?!” seru Lin lalu mulai mengikuti Zen yang sudah mulai berjalan di hadapannya.
“Yak, kalian berdua tunggu aku juga dong!” seru Leo lalu mulai mengejar mereka berdua.
...| (❁❁) |...
“Ini obatnya, tuan bisa membayarnya di bagian resepsionis,” ujar perawat itu dengan senyum ramah diwajahnya.
“Ah, terima kasih!” balas Zen lalu pergi menuju resepsionis di bagian depan.
“Kak Zen, setelah kita selesai membayar salep ku dan menyerahkan dokumen itu ke kantor polisi, ke mana lagi kita akan pergi?” tanya Lin sambil menarik ujung baju milik Zen.
“Hm? Sepertinya tidak ada lagi, apa kalian lapar? Jika iya, kita akan mampir terlebih dahulu di restoran terdekat untuk makan.”
“Ah, aku memang merasa sedikit lapar,” gumam Lin sambil memegang perut kecilnya.
“Tapi di mana kita akan makan?” tanya Lin dengan bingung.
“Bagaimana dengan kantin rumah sakit?” tanya Leo.
“Aku tidak mau! Aku pernah mendengar dari salah satu anak panti jika makanan di rumah sakit itu tidak enak!” seru Lin mengungkapkan penolakannya.
‘Aku juga pernah memakan makanan di kantin rumah sakit ini sekali dan itu benar-benar terasa aneh di lidahku,” batin Zen dengan senyum miris.
“Lalu apa kita harus mencari restoran di sekitar sini?” tanya Leo
“Sepertinya tidak ada restoran yang ada dekat di sekitar sini,” ujar Zen saat melihat peta melalui handphonenya.
“Lalu apa kita harus pergi ke rumah kak Zen terlebih dahulu?” tanya Lin sambil menatap Zen.
“Kurasa tidak perlu-“
“Ukhhh, mengapa kita harus makan di tempat terkutuk itu?!” seru seorang pria dengan nada keras
“Hei, hentikan kosa kata aneh mu itu dan sejak kapan kantin rumah sakit menjadi tempat terkutuk, hah?” timpal lelaki di sampingnya.
“Apa? Bukankah ucapan ku benar? Bahkan makanan yang dijual oleh restoran tidak laku yang ada diujung jalan itu lebih baik daripada di sini!” balasnya sambil memasang raut jijik.
“Hahh, hentikan ucapan mu, bagaimanapun juga ini tempat kerjamu. Bagaimana jika ucapan mu ini didengar oleh direktur rumah sakit dan kamu dipecat olehnya?”
“Hah! Apa mereka berani? lagi pula tidak apa bagiku untuk pergi dari sini, bagaimanapun juga masih banyak rumah sakit yang akan menampungku karena diriku ini yang seorang genius berbakat! Jadi lebih baik kita pindah makan siang di restoran ujung jalan itu saja.”
“Tapi kamu tahu bukan jika restoran itu melewati daerah yang sedikit kurang bersih?”
“Lalu apa masalahnya? Harga mereka terjangkau dan lagi makanan mereka lebih enak daripada kantin rumah sakit terkutuk itu, mengapa aku tidak bisa pergi ke sana saja?” tanyanya dengan raut wajah aneh.
“Hahhh, baiklah. Tapi kita hanya memiliki waktu lima belas menit sebelum jam istirahat berakhir dan harus melakukan inspeksi kebersihan saat kembali nanti,” ucapnya dengan nada pasrah.
__ADS_1
“Baiklah setidaknya aku tidak harus makan di tempat terkutuk itu!” ujarnya lalu berlari keluar dengan perasaan riang.
“Dasar, hei Ash, jangan tinggalkan aku!” teriak laki-laki itu sambil berjalan untuk mengejar temannya.
Zen yang mendengar nama panggilan itu menghentikan ucapannya dan segera menoleh untuk melihat kearah asal suara tadi.
‘Siapa yang dia panggil tadi, Ash? Apa itu Ash Aertemaies?’ batin Zen.
‘Tunggu, jika itu benar-benar Ash Aertemaies, bukankah dunia ini sangat sempit?’ batinnya kembali.
Ash Aertemaies, atau yang bisa kalian sebut sebagai Elf, satu-satunya manusia yang membangkitkan kekuatan penyembuh yang terfokus untuk mengobati luka yang terinfeksi oleh virus yang tersebar di hari akhir.
Simpelnya, kekuatan Ash bisa menyembuhkan luka yang terjadi akibat gigitan zombie.
Jika menurut kalian kekuatan penyembuh merupakan kekuatan yang langka, kalian salah besar. Kekuatan penyembuh justru merupakan kekuatan yang banyak dibangkitkan di hari akhir. Akan tetapi kekuatan penyembuh ini memiliki ruang lingkup khususnya tersendiri.
Seperti kekuatan penyembuh spesialis luka dalam, patah tulang, atau bahkan sampai penyempurna alat gerak tubuh.
Tapi semua kekuatan penyembuh di atas tidak akan berfungsi jika digunakan kepada manusia yang tertular virus. Terlebih lagi di saat itu, semua manusia sudah hampir mengalami evolusi karena peradaptasian virus yang terjadi saat kiamat kedua.
Karena hal itu, semua pengguna kemampuan penyembuh yang awalnya sangat diperlukan dan dipuji menjadi tidak dihiraukan karena tidak terlalu bermanfaat untuk diri mereka.
Lama tetapi pasti pengguna kekuatan penyembuh mulai disingkirkan bahkan tidak dihiraukan sama sekali oleh pengguna kemampuan lainnya. Tetapi berbeda dengan Ash, dia adalah satu-satunya manusia yang mengalami kebangkitan kekuatan penyembuh yang berspesialis terhadap virus yang ada di hari akhir.
Walaupun awalnya saat Ash membangkitkan kekuatan penyembuh, kekuatan tersebut tidak terlalu berguna karena hanya menyembuhkan luka kecil saja, tetapi setelah mengalami peningkatan level, kekuatan penyembuhnya menjadi sangat mengerikan.
Dari menyembuhkan lengan seseorang yang terkena gigitan zombie menjadi sembuh total dan orang tersebut tidak berubah menjadi zombie sampai mengubah zombie secara utuh untuk kembali berubah menjadi manusia normal.
‘Yah, walaupun zombie itu hanya zombie tingkat satu dan hanya bisa bertahan selama tiga hari serta mengakibatkan Ash tidak bisa menggunakan kekuatannya selama lima jam, menurutku itu sebuah kemajuan yang sangat bagus! Bagaimanapun juga dengan memiliki orang sepertinya membuat para manusia memiliki sebuah harapan untuk berjuang di dunia yang hancur ini,’ batin Zen.
Tetapi itu semua adalah hal yang sia-sia untuk mengembalikan zombie menjadi manusia pada awalnya. Itu sudah tercantum di dalam buku dan sepertinya memang tidak ada jalan lain selain menghapuskan semua zombie untuk menghilangkan kegelisahan di hari akhir ini.
Sudahlah mengapa aku jadi memikirkan kerugian? Bukankah aku sudah menetapkan tujuanku hanya untuk mengubah ending dari buku tua itu dan tidur selama 8 jam sehari?
Aku di sini bukan untuk menjadi pahlawan oke?! Daripada membahas kerugian mengapa tidak membahas keuntungan saja?
‘Ditambah dia adalah pemimpin dari fraksi penyembuh yang memiliki anggota yang bisa dimanfaatkan di hari akhir. Dan juga, jika di dalam kehidupan ini dia juga mendirikan fraksi seperti kehidupan sebelumnya, bukankah aku bisa bertemu dengan gadis itu?’ batin Zen sambil tersenyum licik.
Ahhh, apakah kalian penasaran siapa gadis yang ku maksud? Biar aku jelaskan secara singkat. Gadis yang ku maksud hanyalah gadis pemalu dengan rambut kepang dua dan kacamata tebal yang membingkai wajahnya.
Singkatnya dia hanyalah gadis culun yang kekuatannya sangat bermanfaat sebagai alat tukar dengan sang informan.
Kekuatannya adalah kekuatan penyembuh tipe penyempurna anggota tubuh manusia, dengan kata lain gadis itu bisa memulihkan anggota tubuh manusia yang rusak.
Bukankah kekuatan itu sangat keren? Jika dia memiliki kekuatan seperti itu saat dunia tidak mengalami kekacauan seperti itu, dia mungkin sudah menjadi orang terkenal.
Mengapa aku mengatakan jika itu adalah alat tukar yang bagus? Karena sang informan memiliki luka di mata bagian kirinya yang membuat dia tidak bisa melihat dan hanya bisa bertumpu dengan mata kananya untuk melihat dunia.
‘Sebenarnya yang kuinginkan adalah pergi menyelamatkannya saat kejadian yang merenggut mata kirinya terjadi. Hanya saja sang informan sangat susah untuk ditemukan. Sepertinya butuh keberuntungan ekstra untuk bertemu dengannya.’
‘Buku tua itu tidak banyak memberikan informasi mengenai informan, hanya dijelaskan jika dia pernah kehilangan mata kirinya karena bertempur habis-habisan dengan fraksi pemerintah yang menculik saudara kembarnya sebagai sandera untuk melakukan transaksi dengan luar negeri,’ batin Zen sambil memikirkan untung dan rugi.
“Kak Zen!” seru Lin yang membuat Zen tersadar dari pergelutan batinnya.
“Hm? Ada apa?” tanya Zen dengan ekspresi bingung.
“Harusnya aku yang bertanya, mengapa kak Zen linglung seperti tadi? Apa ada yang kakak pikirkan? Atau kepala kakak terasa tidak nyaman?” tanya Lin dengan khawatir.
“Ahh, aku tidak apa-apa Lin, kamu tidak perlu khawatir seperti itu,” jawab Zen yang membuat Lin menghela napas lega.
__ADS_1
“Syukurlah,” bisik Lin dengan pelan.
“Apa kak Zen benar-benar tidak apa-apa?” tanya Leo memastikan kembali.
“Aku tidak apa-apa, hanya memikirkan pembicaraan mereka mengenai restoran ujung jalan itu,” ujar Zen sambil mengalihkan pembicaraan.
“Bagaimana jika kita makan di sana?” tanya Lin dengan semangat.
“Bukankah mereka mengatakan jika tempat itu kurang bersih?” tanya Leo dengan kening berkerut.
“Lalu apa? Yang penting makanan di sana sepertinya enak bukan? Dan lagi sepertinya tidak ada restoran terdekat di sekitar rumah sakit selain di sana," jelas Lin kepada kakak kandungnya itu.
“Kamu bahkan belum pernah makan di sana bagaimana kamu tahu jika itu enak?” tanya Leo.
“Evaluasi dari kedua kakak laki-laki tadi,” ucap Lin dengan acuh.
“Hahhh, bukankah sudah kubilang jangan terlalu memercayai ucapan orang asing?” ucap Leo.
“Maka dari itu aku menyarankan untuk mencoba makanan di sana,” ucap Lin dengan nada bangga.
“Bagaimana dengan ide ku kak?” tanya Lin kepada Zen.
“Kurasa tidak apa-apa,” ujar Zen.
‘Tidak apa bukan jika aku hanya ingin memastikan siapa laki-laki tadi?’ batin Zen sambil bertanya-tanya.
“Kak Zen sudah setuju, jadi apalagi alasan yang mengganggumu kak?” tanya Lin sambil memandang Leo dengan kening berkerut.
“Hahhh, aku hanya tidak enak hati jika kak Zen terus membayar untuk pengeluaran kita, untuk makanan kali ini, biar aku saja yang membayarnya,” ujar Leo mengutarakan isi hatinya.
“Kamu tidak perlu mengkhawatirkan hal itu, bagaimanapun juga aku sekarang adalah wali kalian. Jadi sudah sewajarnya aku mengeluarkan uang untuk kebutuhan kalian. Lagi pula aku tidak mengeluarkan banyak biaya, bukankah saat kalian membeli baju aku tidak mengeluarkan uang sepeserpun? Dan untuk biaya rumah sakit tadi tidak terlalu mahal karena aku menggunakan kartu pengobatan yang kudapatkan dari rumah sakit ini,” jawab Zen sambil menepuk pelan kepala Leo.
“Kartu pengobatan? Ah, jadi karena itu kak Zen tidak ragu membawa kami untuk diperiksa di rumah sakit elite ini. Yah, meskipun rumah sakit ini berada ditempat yang kurang strategis dan terpencil,” gumam Lin yang masih didengar oleh Zen.
“Tetapi tenaga medis di sini sangat bagus bukan?” tanya Zen.
“Hmm, harus kuakui para perawat di sini memang sangat cekatan dalam mengerjakan sesuatu dan sikap mereka sangat ramah kepada pasien,” ucap Lin yang dibalas dengan senyuman oleh Zen.
‘Yah, tidak ada salahnya bukan aku menghabiskan uang lagi untuk bertemu dengan tokoh penting yang ada? Walaupun aku kurang yakin apakah Ash itu adalah Ash yang aku pikirkan dan jikapun dia memang orang yang aku pikirkan, aku kurang yakin apakah bisa menimbulkan kontak dengannya,’ batin Zen sambil memikirkan beberapa rencana di otaknya.
“Lalu tunggu apalagi? Bukankah kita harus segera menyusul kedua kakak laki-laki tadi agar bisa mengetahui jalan menuju restauran itu?” tanya Lin lalu berlari mengejar kedua kakak laki-laki tadi.
“Lin! Jangan berlarian di lorong rumah sakit!” seru Leo lalu mengejar Lin di belakang.
“Hoi, kalian berdua, jangan berteriak di dalam rumah sakit!” seru Zen yang tidak menyadari jika dirinya juga ikut berteriak dan bergegas mengejar mereka berdua.
...•...
...•...
...•...
...| (❁❁) |...
Maaf jika ada typo yang tidak menyenangkan.
Jangan lupa Like, Vote, Komen nya ya Reader~San o(〃^▽^〃)o
Instagram \= lmnr_vv
__ADS_1