
Warning : Karya ini hasil orisinal aku dan hanya karangan fiktif semata. Bahasa bisa saja kasar jadi dimohon untuk tidak menirukan nya.
...•...
...•...
...•...
Sebelumnya :
“Benarkah?! Terimakasih kak!” seru Lin dengan sangat gembira hingga memeluk kakaknya dengan erat.
Sedangkan Leo yang dipeluk dengan erat hanya bisa tertawa pelan dan menahan beban tubuh adiknya agar mereka berdua tidak terjungkal kebelakang.
...| (❁❁) |...
“Jadi, kalian mengingat rencananya bukan?” tanya Zen sambil melepaskan sabuk pengaman yang dipakainya.
“Tentu saja kami mengingatnya dengan baik!” ujar mereka berdua dengan penuh semangat.
“Bagus, kalau begitu Leo dan Max, segera pergi menuju lokasi yang sudah ditetapkan,” ujar Zen yang membuat Leo terdiam dan Max membuka sabuk pengamannya dengan santai.
“Permisi? Apa kamu ingin membelot dari rencana yang sudah kita rencanakan?” tanya Zen kepada Max dengan tangan yang disilangkan di depan dada.
“Hahh, aku akan pergi membantumu dan Lin memindahkan persediaan terlebih dahulu,” ucap Max yang membuat Zen mengerutkan keningnya.
“Apa kamu tidak percaya jika aku dan Lin cukup mampu melakukan itu?” tanya Zen.
“Tentu saja aku percaya, lagipula hanya memindahkan beberapa barang ringan seperti itu, tapi apa kau lupa jika aku sudah berjanji untuk memastikan mengenai dua persen itu? Dan aku akan melakukannya sekarang,” ujar Max dengan santai yang membuat Zen menghela nafasnya.
“Leo kamu bisa membantu dengan memindahkan barang ringan, ingat ringan! Kau harus menyimpan tenaga mu untuk melakukan rencana kita,” ucap Zen yang membuat Leo bersemangat.
“Baiklah!” jawab Leo dengan semangat.
”Baiklah, ayo kita jalankan rencana kita!” seru Zen lalu membongkar tas miliknya dan menyerahkan satu pistol terakhir kepada Max.
“Aku tahu kamu tidak terlalu membutuhkan ini, tapi tidak masalah untuk memberimu satu,” ujar Zen lalu turun dari mobil yang diikuti oleh kedua anak itu.
“Huh, dia tahu jika aku tidak membutuhkan ini, tapi kenapa dia masih memberikannya kepadaku?” bergumam dengan pelan tapi tetap memasukkan pistol itu di dalam saku celananya.
“Mungkin ini keberuntungan karena hanya sedikit zombie yang ada di halaman depan rumah sakit!” ujar Lin sambil melihat jika hanya ada lima zombie di halaman seluas ini.
“Itu benar, tapi bukan berarti jika di dalam rumah sakit memiliki zombie yang sedikit. Aku bisa menebak jika ada kurang lebih 100 manusia yang sudah berubah menjadi zombie di sana,” ucap Zen sambil menembakkan kepala zombie yang mendekat dengan pistol.
“Hahaha, itu benar di tambah zombie sangat peka dengan suara dan bau manusia, menurutmu apa yang akan terjadi jika kita berdiam diri disini dengan Zen yang terus-menerus membuat keributan dengan pistolnya?” tanya Max sambil membawa beberapa persediaan mereka dengan kedua tangannya.
“Maka para zombie yang berada di dalam rumah sakit akan segera berlari keluar menuju kita,” gumam Leo saat melihat beberapa zombie yang keluar dari dalam rumah sakit.
“Dan mungkin saja jika ada beberapa zombie dari luar yang akan tertarik dengan suara kebisingan yang kita timbulkan,” ucap Lin saat melihat beberapa zombie yang berada di balik gerbang rumah sakit.
“Woah, aku tidak memperkirakan itu. Kupikir semua zombie itu berasal dari daerah kumuh dan terpencil yang berasal di sekitar rumah sakit, ” ujar Zen melirik singkat sebelum fokus kembali dengan musuh di hadapannya.
“Aku akan menutup gerbang rumah sakit untuk meminimalkan resiko, yah walaupun aku tahu jika para zombie itu bisa memanjat setelah cukup beradaptasi,” ujar Max yang di angguki oleh Zen.
“Lakukanlah, dan kalian berdua, ambil alih tugas Max untuk sementara, akan ku pastikan jika tidak akan ada zombie yang lepas dari tembakkan ku, kalian bisa yakin akan hal itu,” ucap Zen yang di angguki oleh keduanya.
Dengan segera keempat orang itu berpisah untuk melakukan tugasnya masing-masing dengan kedua bersaudara yang memindahkan perbekalan mereka dengan cepat dan Max yang berlari menuju gerbang rumah sakit dengan baton stik miliknya.
Sedangkan Zen hanya terus menembaki para zombie yang muncul di pandangannya dan dengan cekatan terus mengisi ulang peluru pistolnya sambil mengabaikan tangannya yang mulai terasa kebas.
‘Tubuh yang lemah!’ maki Zen dengan tidak puas.
‘Ahh, aku mulai merindukan kiamat kedua, walaupun aku tahu jika saat itu adalah kehancuran bumi untuk yang kedua kalinya, tapi tidak menutup fakta jika aku membutuhkan energi itu,’ batin Zen sambil menghitung hari dimana kiamat kedua akan terjadi.
__ADS_1
“Bagaimana dengan kalian berdua?” tanya Zen.
“Kami baik! Hanya tersisa beberapa persediaan ringan dan sisanya adalah tas gunung yang kak Zen siapkan sebelumnya dengan isi barang-barang berat dan kain terpal di bagasi,” ujar Leo dengan singkat yang membuat Zen mengangguk.
“Wow, itu keren. Kerja bagus untuk kalian berdua,” ujar Max sambil berjalan santai menuju mereka.
“Aku sudah selesai dengan bagian ku. Maaf jika aku harus telat beberapa menit karena aku perlu menghabisi semua zombie yang ada, selebihnya aku sudah selesai menutup gerbang dan kemungkinan kecil para zombie itu akan bisa melewatinya,” ucap Max yang membuat Zen tersenyum puas.
“Itu hal yang bagus, setidaknya aku benar-benar tidak harus membuat mata dan tanganku berkerja dengan ekstra,” ucap Zen.
“Kami sudah selesai kak!” seru Lin sambil mendekat kearah Zen.
“Kerja bagus, kurasa kalian bisa melakukan bagian kalian,” ujar Zen sambil memandang kearah Leo dan Max yang kini sudah menggendong tas yang berisikan persediaan berat dan kain terpal.
“Huh, tanpa kamu beritahu aku juga mengerti,” ucap Max lalu menyerahkan ponsel miliknya kepada Zen.
“Untuk apa?” tanya Zen sambil mengangkat satu alisnya.
“Telepon ponselmu jika terjadi sesuatu yang tidak diduga, jika benar menurutmu ada 100 zombie yang harus ku hadapi, aku bisa memperkirakan jika hanya perlu satu jam menuju atap dan 30 menit untuk melakukan persiapan rencana bagian dua, jadi sampai saat itu jangan mati,” ujar Max dengan serius yang dibalas dengan dengusan ringan oleh Zen.
“Kamu kira aku selemah itu, jika itu hanya satu jam tiga puluh menit, kurasa aku masih bisa menahannya,” ucap Zen dengan percaya diri.
“Bagus kalau begitu, aku meminta tambahan waktu 30 menit untuk sesekali mengajari Leo menembak,” ujar Max dengan licik yang membuat Zen menatapnya dengan kesal.
“Kamu tidak bisa-“
“Sampai ketemu lagi dalam 2 jam kemudian, ayo kita pergi Leo,” ujar Max memotong ucapan Zen lalu berlari masuk kedalam yang di susul oleh Leo dari belakang.
Sedangkan Lin yang mendengar itu harus menahan tawanya dan memandang wajah Zen yang kini sedang menggerutu kesal.
“Huh, kenapa aku bisa melupakan sifatnya yang menjengkelkan itu?” gerutu Zen dengan pelan.
...----------------...
‘4 zombie di bagian resepsionis, lalu lima zombie di sisi menuju tangga,’ batin Max setelah memindah lokasi.
“Leo tangani 4 zombie yang berada di sana,” ujar Max yang dibalas dengan anggukan oleh Leo.
Setelah menerima jawaban darinya, Max mulai melangkahkan kakinya menuju lima zombie yang berada di sisi Lorong dan membunuhnya dengan cepat.
Bagaimanapun juga Max tidak ingin membahayakan keselamatan Leo yang masih bisa dikatakan jika dia kurang ahli dalam menggunakan pistol.
Leo yang diberikan tugas itu dengan cepat menatap keempat zombie yang kini sedang berjalan kearahnya. Kedua tangannya sedikit gemetar saat memegang pistol tersebut bahkan Leo bisa merasakan dengan jelas detak jantung miliknya yang berdetak dengan cepat seolah takut, cemas dan berbagai emosi negatif lainnya yang berkumpul menjadi satu.
‘Hufft, tenang Leo. Kamu harus tenang agar bisa menembak semua zombie itu. Kamu bisa melakukannya seperti sebelumnya,’ batin Leo lalu menghembuskan nafasnya sekali lagi dan mulai mengambil posisi untuk menembak.
Pupil mata berwarna coklat terang itu mulai menatap lawannya dengan penuh konsentrasi dan memperhitungkan dengan sangat baik jarak dari senjatanya dengan posisi musuhnya saat ini.
‘Zombie itu yang akan berada dalam jarak jangkauanku pertama kali, aku harus membunuhnya sebagai yang pertama,’ batin Leo lalu mulai mengarahkan pistolnya kearah kepala zombie yang dituju dan mulai menarik pelatuk pistol itu.
Dengan cepat peluru tersebut terbang menuju zombie yang sudah di targetkan dan menembus kepala milik zombie itu. kini sasaran milik Leo tidak salah dan malah tepat karena membidik kepala zombie itu.
Setelah melihat hal itu, senyum terbit di wajahnya dan menatap dengan puas kearah zombie yang sudah jatuh dan tidak bergerak itu.
Tapi senyum itu tidak bertahan lama sebelum telinganya mendengar geraman rendah dari dua zombie yang berada lima belas Langkah dari hadapannya. Dengan cepat Leo kembali memasang sikap menembak miliknya dan mengarahkan moncong pistol itu kearah zombie yang bergerak lebih cepat terlebih dahulu.
Jari telunjuk tangan kanannya mulai bergerak untuk menarik pelatuk dan tepat setelah pelatuk pistol tersebut ditarik kini zombie kedua yang menjadi targetnya juga jatuh dengan kondisi kepala yang berlubang akibat peluru.
Seolah menyadari jika sikap meratapi kemenangannya adalah sesuatu yang salah kini matanya mulai melirik zombie yang hanya berjarak tujuh Langkah darinya.
Pistol yang di pegang erat oleh kedua tangannya itu dengan cepat diarahkan kearah zombie ketiga dan mulai menarik kembali pelatuk pistol tersebut untuk menembak zombie yang hanya tersisa tiga langkah darinya sehingga membuat beberapa bercak darah zombie tersebut terciprat ke wajahnya.
Leo yang merasakan itu terdiam cukup lama sebelum teriakan dari Max menyadarkannya kembali.
__ADS_1
“Di depanmu, Leo!” seru Max yang membuat Leo menatap kearah depan.
Didepannya kini terdapat zombie yang hanya berada lima Langkah di depannya. Leo yang melihat itu buru-buru memasang kembali sikap menembaknya sebelum dia akhirnya sadar jika tangannya terlalu gemetar hanya untuk menggerakkan jari telunjuknya untuk menekan pelatuk yang berada di pistolnya itu.
Max yang menyadari hal itu mulai berpikir dengan cepat sebelum otaknya mengingat jika dia memiliki pistol dengan peluru penuh yang berada di dalam sakunya itu.
Dengan cepat tangan kirinya yang kosong mulai mengambil pistol tersebut dan langsung mengarahkannya kearah zombie yang hanya tersisa 2 langkah lagi dari Leo.
Suara tembakan pistol terdengar cukup keras disertai dengan limbungnya tubuh zombie itu dan jatuh kebawah. Leo merasakan jika debaran jantung miliknya yang tidak beraturan mulai mengganggu dadanya dan bahkan melepaskan pistol yang ada di tangannya lalu jatuh terduduk dengan tubuh gemetaran.
Max yang melihat itu dengan cepat menghampiri Leo untuk memeriksa apakah dia baik-baik saja. Mata miliknya cukup tajam untuk menemukan jika zombie itu tidak cukup dekat untuk membuat luka di tubuh Leo yang membuat dirinya harus menghela nafas lega.
Leo yang mendengar suara Langkah kaki berhenti didepannya diikuti dengan sepatu kets berwarna putih yang kini sudah kotor dengan berbagai macam hal dihadapannya hanya bisa menunduk dengan malu.
“Maafkan aku kak, aku menjadi beban untukmu,” ujar Leo dengan pelan yang membuat Max menatapnya dengan dingin.
“Apa kamu lupa untuk apa kita kemari?” tanya Max.
“Kita kemari untuk melaksanakan bagian kedua dari rencana,” jawab Leo yang membuat Max mengangkat satu alisnya.
“Dan?” tanya Max yang membuat Leo menatapnya dengan bingung.
“Aku meminta 30 menit kepada Zen sebagai waktu tambahan untuk mengajarimu sebentar, apa kamu lupa tentang itu?” tanya Max yang membuat Leo menatapnya dengan gugup.
“Ah, maafkan aku.” ujar Leo yang membuat Max mendengus dengan pelan.
“Pelajaran pertama dariku adalah, apapun kondisinya, jangan pernah melepas senjata mu jika kamu masih memiliki musuh di hadapanmu!” ujar Max sambil menatap pistol yang tergeletak tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Leo yang diteriaki oleh Max mulai mencari keberadaan pistol miliknya dan menggenggamnya dengan erat. Max yang melihat reaksi cepat tanggap dari Leo mengangguk dengan puas.
“Yang, kedua selalu periksa kondisi senjata mu itu setelah menyelesaikan satu pertarungan untuk mempersiapkan pertarungan lainnya,” ujar Max yang membuat Leo segera mengecek kondisi senjata miliknya.
“Ada berapa peluru yang tersisa di sana?” tanya Max.
“Dua, pak!” ujar Leo tanpa sadar memanggil Max dengan sebutan pak.
“Lalu kenapa kamu tidak mengisi ulang peluru mu?” tanya Max yang membuat Leo segera mengisi ulang peluru di pistolnya.
“Kamu harus selalu mengisi ulang peluru mu jika menggunakan pistol, itu adalah sesuatu hal yang wajib untuk dilakukan, ” ujar Max dengan tegas yang membuat Leo mengangguk.
“Ya, pak!”
“Dan yang terakhir adalah, selalu mempertahankan posisi siap siaga mu saat berada di pertempuran,” ujar Max sambil mengulurkan tangannya kearah Leo.
“Baik!” ujar Leo lalu menerima uluran tangan milik Max.
“Kak Max, kemana kita akan pergi? Apa kita akan langsung pergi menuju lantai dua?” tanya Leo yang membuat Max menggeleng pelan.
“Bukankah aku sudah mengatakan jika aku harus menyempurnakan dua persen itu?” tanya Max dengan senyum andalan diwajahnya yang membuat Leo mengerti akan hal yang dipikirkan olehnya.
Dengan segera kedua laki-laki itu bergegas menyelusuri semua Lorong dan ruangan di lantai satu dan membunuh setiap zombie yang mereka temui.
...| (❁❁) |...
...•...
...•...
...•...
Maaf jika ada typo yang tidak menyenangkan.
Jangan lupa Like, Vote, Komen nya ya Reader~San o(〃^▽^〃)o
__ADS_1
Instagram : lmnr_vv