Survive In The Last Days : My Second Life

Survive In The Last Days : My Second Life
|(56) Pertengkaran?|


__ADS_3

Warning : Karya ini hasil orisinal aku dan hanya karangan fiktif semata. Bahasa bisa saja kasar jadi dimohon untuk tidak menirukan nya.


...•...


...•...


...•...


Sebelumnya :


"Max, ikuti aku dengan cepat, sebelum kita benar-benar mati disini," ujar Zen saat mendengar geraman singkat dari arah pintu gerbang rumah sakit.


Max yang mendengar itu mendengus pelan lalu mengeratkan pelukannya kepada Lin yang berada di gendongannya.


"Bergeraklah lebih cepat daripada berbicara hal yang tidak jelas seperti itu!" ucap Max yang dibalas dengan tawa pelan oleh Zen dan mempercepat larinya menuju satu akses yang ia sisakan sebelumnya sebagai akses masuk.


...| (❁❁) |...


"Kenapa kamu tidak mengatakan jika akses masuk yang kamu maksud adalah dengan merangkak melewati semak yang bahkan hanya memiliki lubang kecil seperti ini?!" teriak Max dengan kesal setelah selesai bersusah payah merangkak di lubang yang nyaris sama dengan bentuk tubuhnya.


"Kecilkan suaramu jika kamu tidak ingin kita semua tamat!" ucap Zen mengingatkan Max yang masih fokus membersihkan pakaian miliknya yang kembali harus kotor akibat dirinya yang harus merangkak di lubang kecil.


"Aku tidak pernah memperkirakan jika kau juga akan mengikuti rencana pelarian yang aku prediksi, maka dari itu jangan salahkan aku," lanjut Zen yang membuat Max mendengus pelan.


"Kak Zen, apa kita hanya perlu masuk kedalam jendela ini?" tanya Lin setelah dirinya selesai memperhatikan sekitar lalu terpaku kearah jendela yang hanya sedikit lebih besar dari lubang yang berada di semak-semak yang ia lalui tadi.


"Seratus persen untukmu, Lin. Jendela inilah yang menghubungkan antara bagian luar rumah sakit dengan bagian dalam rumah sakit." jawab Zen.


"Apa kalian yakin ini jendela? Menurutku ini terlihat seperti lubang ventilasi besar dibandingkan dengan jendela," ujar Max saat melihat jendela yang mereka maksud.


"Ini jendela kecil, bukankah jendela termasuk salah satu lubang ventilasi udara?" tanya Zen dengan acuh yang membuat Max menatapnya dengan kesal.


"Kamu sendiri mengerti apa yang aku maksud bukan?!" ucap Max dengan teriakan frustasi di akhir kalimatnya.


"Berapa kali aku katakan untuk tidak menimbulkan suara keras! Kamu benar-benar ingin kita menjadi makanan untuk para zombie kotor itu?" tanya Zen dengan kesal.


"Tolong bercermin? Apa tadi jika bukan berteriak, hah?" tanya Max dengan kesal yang membuat Zen mendengus pelan.


"Emm, kak? Kapan kita akan masuk kedalam?" tanya Lin dengan bingung yang membuat pertengkaran tidak berguna mereka berdua terhenti sesaat.


"Tentu saja sekarang, aku tidak ingin kepalaku berdenyut pusing hanya karena berbicara dengannya terlalu lama," ujar Max yang kini berjalan menuju ventilasi udara besar itu dan mencoba membukanya dari luar.


"Apa maksudmu dengan kalimat yang baru saja kamu ucapkan itu?!" tanya Zen dengan tidak terima.


"Jika otakmu masih berfungsi kurasa kamu akan mengerti apa maksudku," ujar Max yang membuat Zen mengepalkan tangannya dengan erat.


'Apa tidak apa-apa jika aku melayangkan pukulan di kepalanya satu kali? Seharusnya tidak apa-apa bukan, mengingat jika mulutnya sangat menyebalkan,' batin Zen dengan penuh perhitungan.


"Hentikan apapun yang sedang kamu rencanakan di otakmu itu, segera masuk kedalam sebelum para zombie daerah kumuh itu menemukan kita," ujar Max sambil menunjuk kearah ruangan di dalam sana menggunakan ibu jarinya.


"Aku akan masuk kedalam tapi setelah melakukan ini," ujar Zen dengan pelan lalu tiba-tiba saja berjongkok di tanah tepat dimana semak-semak yang mereka lubangi sebelumnya hanya untuk membuat jalur masuk kearah ventilasi besar itu.


Dengan perlahan, tangan milik Zen mulai mencari sesuatu di dalam tasnya dan tak berapa lama kini terdapat kantung kecil berwarna coklat ditangannya yang bahkan Max menatapnya dengan penasaran kearah kantung tersebut.


"Apa isi didalamnya?" tanya Max karena rasa penasaran yang membuncah.


"Hanya sebuah zat kimia yang dapat mempercepat laju pertumbuhan tanaman," ujar Zen sambil membuka kantung kecil itu dan menaruhnya di atas tanah yang sudah digalinya mengunakan tangan.


"Apa itu ZPT?" tanya Max dengan kening berkerut.


"Bisa dibilang seperti itu tapi tidak sama, bisa dibilang jika ini adalah ZPT palsu yang aku kembangkan, tentu saja ini tidak akan sama seperti yang asli tapi juga memiliki kegunaan yang cukup untuk mempercepat laju pertumbuhan tanaman dan membuat semak-semak ini menutup lubang yang kita buat dengan cepat," ujar Zen panjang lebar lalu menepuk kedua lututnya yang kini memiliki tanah di sana.


"Kurasa kamu cukup luang hingga mampu mengembangkan hal-hal seperti itu?" sindir Max dengan senyum andalannya.

__ADS_1


"Aku akan menganggapnya sebagai pujian," ujar Zen lalu berjalan menuju lubang ventilasi besar itu dan masuk kedalamnya dengan mudah.


"Sekarang giliran mu," ujar Zen dengan diakhiri tawa menjengkelkannya.


Max yang mendengar itu hanya bisa menahan amarahnya dan segera memposisikan tubuhnya di lubang yang hanya sedikit lebih besar dari tubuhnya itu dan masuk kedalam sana dengan susah payah.


"Kak Max, apa kakak baik-baik saja?" tanya Lin dengan penuh perhatian setelah melihat Max yang berhasil masuk dengan nafas terengah-engah.


"Huhhh, aku baik, hanya perlu kesabaran ekstra agar bisa masuk kedalam dan sedikit tekanan di dadaku untuk menghentikan nafas selama beberapa menit," ujar Max sambil menunjukkan kata sedikit menggunakan isyarat tangan.


"Jangan terlalu memperhatikan dia Lin, dia seperti ini hanya karena dia terlalu gemuk," ujar Zen dengan acuh yang dibalas dengan tatapan tidak terima oleh Max.


"Bentuk tubuh siapa yang kau maksud gemuk?! Bentuk tubuhku atletis!" ucap Max dengan keras yang harus membuat Zen menutup telinganya jika dia masih menginginkan kenormalan dalam alat pendengarannya itu.


"Jika bukan gemuk lalu apa?" tanya Zen dengan kesal.


"Sekali lagi aku bukan gemuk, kalian nya saja yang terlalu kurus," bantah Max yang kini membuat Zen menatapnya dengan tidak terima.


"Bisakah kak Zen dan kak Max berhenti bertengkar? Bagaimana jika suara pertengkaran kalian membuat para zombie itu berjalan kemari?" tanya Lin yang sudah sedikit jenuh dengan pertengkaran mereka.


"Jika mereka berjalan kemari maka kita hanya perlu berlari," ujar Zen dengan kelewat santai yang membuat Lin menatapnya dengan aneh.


'Apa dia benar-benar kak Zen?' batin Lin dengan bingung.


"Lin, mari kita abaikan dia dan bergegas pergi dari sini sebelum kamu ikut-ikutan sepertinya," ujar Max yang dibalas anggukan ragu oleh Lin.


"Yak, apa maksud kalian? Kau harus memasang kembali penutup lubang ventilasi itu Max," ujar Zen sambil menunjuk kearah lubang yang tidak tertutup sama


"Memangnya zombie memiliki kecerdasan yang mampu membuatnya memikirkan untuk merangkak melewati ini?" cibir Max dengan pelan tapi tetap melakukan apa yang diperintahkan.


"Bukankah kak Zen mengatakan sendiri jika zombie itu buta? Jika mereka buta bagaimana caranya mereka menemukan lubang ini?" tanya Lin dengan bingung setelah selesai memeras otaknya untuk berpikir.


"Mereka memang buta tapi bukan berarti mereka tidak bisa menemukannya dengan alat tubuh yang lain," ujar Zen dengan perlahan.


"Jika indra penciuman mereka sangat tajam, kenapa mereka tidak menemukan kita?" lanjut Lin saat merasakan sesuatu yang janggal.


"Apa kamu tahu nama semak-semak diluar itu?" tanya Zen.


"Semak-semak yang kita lalui?" tanya Lin kembali untuk memastikan.


"Iya, apa kamu tahu?" tanya Zen kembali yang kini dibalas dengan gelengan pelan oleh Lin.


"Melihat jika semak-semak itu memiliki bunga berwarna putih dan beri hitam di dalamnya, kurasa itu adalah privet," ujar Max setelah selesai melakukan pekerjaan untuk menutup lubang ventilasi yang sudah dipasangnya dengan sesuatu yang berat dibelakangnya.


"Kamu tahu banyak sepertinya? Tapi kenapa aku tidak pernah menemukan namamu di dalam papan mading sekolah?" tanya Zen yang membuat Max mendengus pelan.


"Jika kamu lupa, aku adalah anak berandal yang bahkan memasuki kelas hanya beberapa kali saja, kamu mungkin bisa menghitungnya dengan jari," ujar Max lalu berjalan menuju kearah mereka.


"Yah, aku melupakan itu. Tapi kenapa kamu bisa mengetahui hal ini? Apa kamu mempelajarinya?" tanya Zen sambil berjalan menuju kearah atap.


"Tidak juga, kakakku penyuka tumbuhan, kurasa aku tanpa sadar mengingat salah satu ceramah panjangnya mengenai tumbuhan." ujar Max dengan santai.


"Kurasa ingatanmu sangat baik," ujar Zen dengan pelan lalu beralih menatap Lin yang berjalan di sampingnya.


"Seperti yang Max bilang, privet atau biasa lebih dikenal dengan semak-semak keluarga adalah tumbuhan yang menghasilkan aroma harum yang pekat dan aku hanya mencoba perhitunganku mengenai apakah itu cukup untuk menghalau aroma kita atau tidak," ujar Zen yang membuat Lin mengangguk pelan.


"Jika begitu, apa itu berhasil? Karena tidak ada zombie satupun yang menyadari kita di sana," ujar Lin dengan semangat.


"Kurasa itu tidak begitu valid, mengingat jika aku tidak mendengar suara geraman mereka di sekitar kita," ujar Max menyatakan pendapatnya yang membuat Lin lesu.


"Apa yang kak Max katakan juga benar," gumam Lin dengan nada putus asa.


"Yah, kurasa aku akan melakukan beberapa eksperimen lagi mengenai itu nanti, jika ternyata eksperimen itu positif, kita juga yang akan mendapatkan kartu truf yang sangat bagus," ujar Zen.

__ADS_1


"Bisakah aku ikut dalam eksperimen ini?" tanya Lin setelah mendapat semangatnya lagi.


"Tentu saja," ujar Zen dengan tenang yang membuat Lin memekik senang.


"Mari hentikan pembicaraan kita disini dan segera pergi keatas atap jika sudah selesai menutup semua akses di lantai ini," ujar Max yang di angguki oleh kedua orang itu dan mempercepat gerakan mereka agar bisa menyusul Leo yang sendirian di atas atap.


...----------------...


"Hmm, kapan mereka akan tiba?" bergumam dengan pelan sambil melirik singkat kearah bawah yang kini sudah dipenuhi oleh zombie lalu mengalihkan pandangannya kembali kearah pintu atap yang terkunci rapat.


"Mereka baik-baik saja bukan?" gumam Leo dengan khawatir.


'Seharusnya mereka baik-baik saja karena ada kak Max dan kak Zen di sana,' batin Leo dengan pelan.


//Tok... Tok... Tok...


"Leo ini aku! BIsakah kamu membuka pintunya?!" tanya Max dengan berteriak cukup keras yang membuat Lin dan Zen tanpa sadar bergerak untuk menutup kedua telinga mereka.


"Tidak bisakah kamu mengetuk pintu itu tanpa harus berteriak?!" tanya Zen dengan kesal.


"Jika aku tidak berteriak suara ku tidak akan terdengar sampai sana dan mungkin Leo akan mengira jika zombie lah yang mengetuk pintunya!" ucap Max dengan sinis.


"Zombie mana yang bisa mengetuk pintu dengan tempo teratur seperti itu?!" balas Zen dengan tidak kalah sinis.


Lin yang melihat mereka kembali bertengkar hanya bisa menghela nafas dengan pelan.


'Hanya aku yang bersikap dewasa disini!' batin Lin dengan senyuman bangga.


//Cklek........


"Kak Max! Kak Zen! Lin!" seru Leo dengan senyuman cerah diwajahnya.


"Kak Leo! Aku merindukan kakak!" ucap Lin sambil memeluk tubuh Leo.


Leo yang menerima pelukan dadakan dari Lin hanya tertawa pelan dan membalas dengan erat.


"Kamu baik-baik saja bukan?" tanya Leo setelah melepas pelukannya.


"Ya! Aku baik-baik saja, kak Zen dan kak Max melindungi ku hingga aku baik-baik saja," jelas Lin yang membuat Leo mengangguk pelan.


"Kak Zen, kak Max terimaka-" ucapan Leo terputus begitu saja saat melihat Zen dan Max yang sedang menatap sinis satu sama lain.


"Lin ada apa dengan mereka?" tanya Leo dengan berbisik pelan.


"Aku tidak tahu, tapi sejak tadi mereka memang selalu bertengkar hanya karena suatu hal kecil," jelas Lin yang juga ikutan berbisik.


"Oh, apa mungkin ini yang dinamakan dengan pertengkaran antara sahabat? Kudengar jika antar sahabat memang seringkali bertengkar karena hal sepele dan kembali berbaikan seolah tidak pernah bertengkar," ucap Leo dengan polos.


"Kurasa itu benar," ujar Lin setuju sambil melihat kedua kakak barunya itu yang kembali bertengkar dengan topik yang berbeda.


...| (❁❁) |...


...•...


...•...


...•...


Maaf jika ada typo yang tidak menyenangkan.


Jangan lupa Like, Vote, Komen nya ya Reader~San o(〃^▽^〃)o


Instagram : lmnr_vv

__ADS_1


__ADS_2