
*Sebelumnya bab ini aku hapus karena ternyata yang ke kirim cuman setengah dari yang aku tulis, jadi ini aku publish ulang ya* :)
Warning : Karya ini hasil orisinal aku dan hanya karangan fiktif semata. Bahasa bisa saja kasar jadi dimohon untuk tidak menirukan nya.
...•...
...•...
...•...
Sebelumnya :
“Berani sekali kamu mengacaukan waktuku bersama adikku, apa kamu benar-benar ingin mati?” tanya Fin dengan pelan tapi menatap tajam kearah pembunuh itu.
Yah, mari kita doakan saja mengenai keselamatan pembunuh itu di tangan Fin saat ini.
...| (❁❁) |...
Neo yang melihat situasi menjadi mencekam hanya bisa mundur kebelakang tempat Mia berada.
"Hei, tidakkah kamu ingin melakukan sesuatu terhadapnya?" bisik Neo kepada Mia yang masih setia dengan ponsel miliknya.
"Tidak dan aku masih sayang dengan nyawaku," ucap Mia yang dibalas dengan tatapan kesal oleh Neo.
"Pembunuh itu datang untuk mengincar nyawamu, bukan nyawaku ataupun nyawa Fin. Jadi kenapa kita yang harus menghadapi pembunuh veteran itu?" tunjuk Neo kearah pembunuh veteran yang tengah bertarung dengan Fin.
"Karena aku wanita dan kalian pria? Sudahlah jangan menganggu konsentrasi ku, aku sedang menghubungi seseorang!" ucap Mia dengan ketus.
Neo yang mendengar itu hanya memutar matanya dengan malas lalu mengalihkan perhatiannya kearah Fin yang masih asik beradu tinju dengan pembunuh itu.
Sebenarnya Neo bisa saja membantu Fin, hanya saja dirinya terlalu malas untuk bertarung. DItambah dia masih sedikit kesal dengan bajunya yang sekarang penuh dengan darah menjijikan.
Dan lagi dia cukup percaya jika Fin bisa mengalahkan mereka semua mengingat kemampuan Fin yang di atas rata-rata.
Terlebih sekarang Fin sedang dalam emosi yang meledak-ledak karena pembunuh itu menganggu waktunya dengan adiknya.
Yah, seharusnya yang Neo khawatirkan saat ini adalah pembunuh itu dan bukan bosnya. Terbukti dengan sekarang pembunuh itu sudah pingsan dengan muka yang penuh dengan lebam dan jangan lupakan beberapa luka yang berada di perutnya.
"Kamu tidak membunuhnya bukan?" tanya Mia tanpa mengalihkan pandanganya dari ponselnya.
"Tidak, aku hanya membuatnya pingsan dengan lebam di sekujur tubuhnya," balas Fin yang membuat Mia mengangguk pelan.
"Sebenarnya siapa mereka?" tanya Fin dengan pelan.
"Pembunuh," jawab Mia dengan singkat yang membuat Neo kesal.
"Kami berdua tahu jika dia adalah pembunuh, tapi maksud kami adalah kenapa pembunuh itu mengincar mu," ucap Neo dengan geram.
"Tentu saja karena mereka suruhan keluargaku, memangnya siapa lagi yang ingin membunuhku?" tanya Mia dengan acuh.
"Tapi bukankah semua keluargamu berada di Prancis?" tanya Fin yang membuat Mia menghela nafas pelan.
"Karena itu aku sekarang sedang mencoba untuk menyusup kedalam internet Prancis sekaligus memastikan mengenai kondisi kita semua dengan para mahkluk aneh itu," jelas Mia yang membuat FIn menghela nafas.
"Aku melupakan para zombie itu karena asyik bertarung dengan pembunuh ini," ucap Fin lalu menatap kearah zombie yang berada di luar pintu.
"Apa kamu memerlukan pembunuh ini? Jika tidak akan kuberikan dia kepada zombie diluar sana untuk makan sekaligus mengisi energi mereka sebelum ku bunuh," ucap Neo yang dibalas dengan dengusan pelan oleh Mia.
"Lakukan sesukamu, lagipula dia sudah tidak ku butuhkan karena aku sudah tahu siapa yang menyuruhnya," ucap Mia yang dibalas dengan senyuman riang oleh Neo.
"Sesuai dengan perkataan mu," ucap Neo lalu menyeret pembunuh itu dan langsung melemparkannya kearah zombie diluar sana yang tentu saja disambut baik oleh para zombie itu.
"Aku akan menangani sebagian besar dari mereka, bunuh mereka yang lolos dari jangkauanku," ucap Fin yang di angguki oleh Neo.
Dengan cepat keduanya saling berkerja sama untuk membunuh para zombie yang berhasil masuk kedalam ruangan tata usaha tersebut. Sedangkan Mia masih sangat asyik dengan kumpulan kode yang berada di handphonenya.
Kini layar handphonenya menampilkan sebuah kotak yang berisikan sebuah kombinasi angka agar dirinya bisa masuk kedalam situs tersebut.
Dengan lihai tangan putihnya mulai mengetikkan kombinasi angka yang terlintas dibenaknya dan benar saja tanpa menunggu lama kombinasi angka yang di tuliskan cocok dan kini layar di handphone miliknya sudah menampilkan halaman dari situs yang sedang dia bobol itu.
Dengan gerakan cepat matanya mulai membaca beberapa dokumen rahasia dan mengcopy dokumen itu di dalam file handphone miliknya.
"Sudah selesai dengan kegiatanmu itu manquer?" tanya Neo yang dibalas dengan anggukan kesal oleh Mia.
__ADS_1
"Jadi apa kalian membutuhkanku untuk membantu kalian membunuh mereka?" tanya Mia sambil mengambil penggaris kayu yang berada di atas meja yang berada di ruangan itu sebagai senjata.
"TIdak perlu, jelaskan saja secara singkat mengenai apa yang terjadi," ucap Fin sambil memukul zombie yang menyerang dirinya.
"Ini semua bermulai di sektor A dan sekarang sektor A sudah menjadi daerah terbengkalai yang dipenuhi dengan monster aneh seperti mereka," jelas Mia yang membuat Fin mengerutkan keningnya.
"Apa para mahkluk ini sudah ada yang berada di luar negeri?" tanya Neo tanpa mengalihkan fokusnya.
"TIdak ada tapi tidak menutup kemungkinan jika mereka juga akan menyebar keluar negeri mengingat jika sektor A berbatasan langsung dengan negara lain," jelas Mia yang membuat FIn tersenyum tipis.
"Keren sekali jaringan informasi mu itu, Mia," puji Fin tanpa ragu.
"Itu semua berkat situs resmi keluargaku, terimakasih kepada bakat ku yang berhasil membobol situs tersebut dengan baik dan mengcopy semua dokumen yang kurasa berkaitan dengan ini semua," ucap Mia dengan nada sedikit bangga.
"Baiklah terserah denganmu manquer," ucap Neo dengan nada meledek yang membuat Mia sedikit merenggut.
"Tidak bisakah kamu berhenti memanggilku dengan sebutan manquer? Itu membuatku kesal," ucap Mia dengan kesal.
"Apa ucapan ku salah? Tapi dirimu adalah nona muda bukan? Nona muda dari keluarga Parvis," ucap Neo sambil tersenyum tipis.
"Aku bukan bagian dari keluarga itu lagi jika kamu ingin tahu. Namaku adalah Mia, Mia Lavigne, bukan Mia Parvis," jelas Mia yang membuat Neo terkekeh pelan.
"Hentikan pembicaraan ini dan segera bergegas untuk pergi," potong Fin sebelum Neo bisa membalas perkataan Mia.
Sedangkan kedua orang tersebut hanya memandang Fin dengan bingung sekaligus ragu.
"Kemana kita akan pergi, Fin?" tanya Mia dengan pelan.
"Tentu saja tempat adikku berada, kota C!" jawab Fin dengan lugas yang membuat keduanya mengangguk setuju.
...----------------...
"Apa kalian siap?" tanya Zen memandang ketiga orang yang berada di hadapannya.
"Lebih dari siap," jawab Max sambil memutar baton stik miliknya yang kini sudah bersih mengkilap.
"Omong-omong, Leo pegang ini," ucap Zen sambil menyerahkan satu pistol kepada Leo.
"Ya dan aku menyerahkan ini untukmu sebagai senjata untuk berjaga-jaga. Jangan lupakan pelurunya, aku akan menyerahkan 12 peluru kepadamu dan segera bilang kepadaku jika peluru milikmu habis,” ucap Zen sambil menyerahkan 12 peluru yang sudah dia pisahkan di dalam kotak.
“Ta-tapi aku-“
“Terima ini atau aku akan menyerahkannya kepada Lin?” ancam Zen yang membuat Lin menatapnya dengan berbinar.
“Berikan saja kepadaku kak!”
“Tidak, aku yang akan memegangnya, terimakasih kak,” potong Leo yang membuat Lin merenggut kesal.
“Hoo? Pistol jenis Airgun BB bulet call 4,5 mm? Darimana kamu mendapatkannya?” tanya Max sambil menatap kearah Zen.
“Bisa dibilang aku mendapatkannya karena keberuntungan,” jawab Zen yang membuat kening Max berkerut tetapi tidak menanyakan lebih lanjut.
“Dan Lin berhenti merajuk, aku akan membiarkan mu menggunakan pistol saat dirimu sedikit lebih besar lagi,” ucap Zen yang dibalas dengan gumaman tidak ikhlas dari Lin.
‘Hahh, anak ini. Sebenarnya kenapa dia sangat terobsesi dengan senjata berbahaya seperti itu,’ batin Zen dengan tidak mengerti.
“Berhentilah merajuk Lin, Zen tidak membiarkanmu menyentuh senjata seperti pistol karena tubuhmu tidak bisa menahan daya lontarnya,” ucap Max yang dibalas dengan tatapan bingung oleh Lin.
“Tapi kenapa kak Leo boleh?” tanya Lin.
“Karena kakakmu kuat, apa kamu lupa bagaimana dia bisa mengangkat satu box peluru dengan jumlah yang melebihi berat tubuhnya?” tanya Zen dengan datar.
“Jika aku lebih kuat, apa kakak akan mengijinkan aku untuk menggunakan senjata seperti itu?” tanya Lin dengan pelan sambil menatap Zen dengan penuh tekad.
“Mungkin? Ayo kita segera pergi dari sini sebelum hari lebih malam dari sekarang,” jelas Zen sambil mengangkat satu tas yang penuh dengan hal-hal yang sudah dikemas oleh Leo dan Lin sebelumnya.
“Apa kita akan melewati jalur sebelumnya?” tanya Max sambil berjalan mendekat kearah Lin.
“Aku harus melihat situasinya terlebih dahulu, jika memungkinkan kita akan lewat jalur sebelumnya,” ucap Zen.
“Jadi tolong urus kedua anak itu, aku tidak yakin jika bisa melindungi mereka di saat yang bersamaan saat melindungi diriku sendiri,” jelas Zen yang di angguki oleh Max.
“Jangan khawatirkan itu, mereka akan aman denganku,” ucap Max sambil menyerahkan sebuah pisau lipat kepada Lin tanpa di sadari oleh Zen.
__ADS_1
Lin yang melihat itu menatap bingung kearah Max. Sedangkan Max yang melihat itu hanya mengangkat jari telunjuknya kearah mulutnya seraya mengatakan sesuatu tanpa mengeluarkan suaranya.
“Jangan sampai ketahuan.”
Lin yang mengerti itu mengangguk dengan semangat dan langsung menyembunyikan pisau lipat itu kedalam saku celananya dengan senyuman gembira.
“Apa yang kalian lakukan?” tanya Zen sambil memandang kearah mereka berdua begitupun dengan Leo.
“Tidak ada, hanya membujuknya sedikit agar tidak merajuk karena perintah mu,” jelas Max dengan lugas yang membuat Zen memicingkan matanya dengan curiga.
“Apa yang kamu berikan kepadanya?” tanya Zen yang membuat Lin berkeringat dingin.
“Aku akan memberitahumu nanti, lebih baik kita berangkat sekarang,” ucap Max yang membuat Zen menghela nafas pelan.
“Terserah apa mau mu,” jawab Zen lalu berjalan pergi terlebih dahulu.
“Apa yang diberikan kak Max kepadamu?” tanya Leo yang membuat Lin menggelengkan kepalanya pelan.
“Rahasia!” jawab Lin dengan senyum ceria lalu berjalan mengikuti Zen meninggalkan Leo yang menatapnya dengan kening berkerut.
“Tenanglah, aku tidak memberikan hal yang berbahaya kepadanya, itu hanya untuk melindungi dirinya sendiri. Bagaimanapun kamu melindunginya akan lebih bagus jika dia bisa melindungi dirinya sendiri,” ucap Max sambil menepuk pelan kepala Leo.
“Ayo kita susul mereka, jika tidak kakakmu akan memarahiku,” ucap Max yang membuat Leo tersenyum kecil.
“Baiklah ayo susul mereka!”
...----------------...
“Woahh, aku tidak menyangka jika kak Zen memiliki mobil seperti ini,” ucap Lin yang membuat Zen dan Max mengalikan pandangannya dengan cara yang kaku.
“Yah, sebenarnya itu adalah mobil yang kita dapatkan belum lama ini,” ucap Zen setelah masuk kedalam mobil dan duduk di kursi co pilot.
“Huh? Maksud kakak?” tanya Lin dengan bingung.
“Ah, apa kalian tidak heran jika tidak ada zombie satupun yang kita temui saat menuju kesini?” tanya Max mengalihkan pembicaraan ini.
“Itu benar, kurasa ini keberuntungan kita!” jawab Leo yang di angguki setuju oleh Lin.
‘Hahaha, keberuntungan? Lebih tepatnya kerja keras ku untuk mengambil beberapa jalan memutar,’ batin Zen sambil melihat kearah luar.
“Yah, ini semua berkat seseorang yang membuat kita mengambil jalan memutar hingga memakan waktu 30 menit hanya untuk keluar dari sana dan berjalan menuju mobil,” ucap Max sambil fokus menyetir mobil.
Zen yang mendengar itu terbatuk pelan akibat ucapannya.
“Itu benar! Kak Zen seperti seorang peramal yang mengetahui masa depan!” ucap Lin dengan semangat.
“Hahaha, benarkah?” tanya Zen sambil tertawa canggung.
“Itu benar, seolah-olah kak Zen dapat memprediksi keberadaan zombie itu,” ucap Leo yang sepertinya sangat setuju dengan Lin.
“Itu hanya keberuntungan ku,” ucap Zen dengan senyuman tipis.
“Yah, keberuntungan yang sangat mencurigakan,” ucap Max sambil menatap Zen dengan senyum yang membuat Zen merinding.
“Yak! Fokus kejalan! Apa kamu ingin kita mengalami kecelakaan?” tanya Zen sambil berpura-pura bersikap tenang.
“Baiklah aku akan fokus,” ucap Max kembali fokus ke jalanan di depannya.
‘Fuhhh, haruskah aku memberitahu Max? Jika aku ingin dia berada di pihak ku selamanya maka aku harus memberitahunya. Tapi bagaimana caranya memberitahunya tanpa membuat dia mengkhianati ku?’ batin Zen dengan bertanya-tanya.
...| (❁❁) |...
...•...
...•...
...•...
Maaf jika ada typo yang tidak menyenangkan.
Jangan lupa Like, Vote, Komen nya ya Reader~San o(〃^▽^〃)o
Instagram : lmnr_vv
__ADS_1