
Warning : Karya ini hasil orisinal aku dan hanya karangan fiktif semata. Bahasa bisa saja kasar jadi dimohon untuk tidak menirukan nya.
...•...
...•...
...•...
Sebelumnya :
"Tentu saja, kembalilah dengan selamat," balas Ken yang dibalas dengan anggukan pasti dari Zen.
"Tentu, lagipula aku masih ingin menikmati keuntunganku itu," ujar Zen sambil tertawa singkat.
...| (❁❁) |...
"Jadi, kemana kita akan pergi?" tanya Max yang sudah siap di kursi pengemudi kepada Zen yang berada di sampingnya.
Tunggu, apa kalian penasaran bagaimana keduanya bisa turun padahal semua akses masuk maupun keluar di rumah sakit sudah di blokir?
Baiklah, mari kita mereka ulang adegan sebelum keduanya sudah berada di mobil saat ini.
"Tapi bagaimana cara kalian berdua akan turun dari atap ini? Kurasa semua pintu masuk dan keluar sudah kalian blokir," ujar Kim dengan heran.
"Itu benar! Apa kak Zen dan kak Max akan keluar menggunakan jalan rahasia itu?" tanya Lin dengan pelan.
"Tentu saja iy-"
"Tidak!" ucap Max lebih dahulu memotong ucapan Zen.
"Jika kita tidak lewat sana, kamu ingin keluar lewat mana?" tanya Zen dengan bingung.
"Apa kau berharap kita akan melewati lubang ventilasi kecil itu lagi?!" tanya Max dengan tidak santai yang membuat Zen harus menutup telinganya.
"Lalu kau ingin lewat mana?" tanya Zen kembali dengan kesal.
"Bukankah di belakangmu adalah jalan keluar tercepat yang pernah ada?" tanya Max dengan senyum anehnya yang tanpa sadar membuat Zen merinding pelan.
"Belakang ku adalah.... Tunggu kau gila?!" tanya Zen dengan ekspresi horor.
"Kenapa kau berteriak seperti itu? Bukankah di sana adalah tempat kau meletakkan mobil kita? Kita akan cepat sampai jika-"
"Kau gila Max! Kau ingin aku terjun dari atas sini?! Dari ketinggian 200 meter ini?!" teriak Zen yang kini membuat Max harus menutup kedua telinganya.
"Kenapa juga aku harus gila?! Bukankah kamu sudah pernah melakukan hal gila ini? Apa salahnya untuk melakukannya sekali lagi?" tanya Max yang membuat Zen hanya bisa tersenyum kesal kearahnya.
"Apa mereka memang terbiasa berbicara dengan berteriak seperti itu?" tanya Ken dengan pelan kearah dua anak kecil yang berada dihadapannya.
"Humm! Itu benar, kak Ken dan kak Kim akan terbiasa jika tinggal bersama kami lebih lama lagi," ujar Lin dengan di angguki setuju oleh Leo.
"Hmm, kurasa kalian harus menghentikan mereka sekarang, karena mereka terlihat seperti ingin berkelahi," ujar Kim yang kini melihat Zen sedang menarik kerah baju Max dan Max yang masih menatap Zen dengan tatapan tajam miliknya dengan tangan yang terkepal erat.
Leo dan Lin yang mendengar hal itu memalingkan wajahnya untuk melihat secara serempak sebelum mengalihkan kembali fokus mereka kearah makanan dihadapan mereka.
"Itu tidak perlu kak, mereka sudah terbiasa berbicara seperti itu. Mungkin sebentar lagi mereka akan berbaikan seolah kejadian seperti tadi tidak pernah terjadi," jelas Leo yang membuat kedua anak kembar itu ragu dan memalingkan wajah mereka untuk melihat kearah Zen dan Max kembali yang kini sudah saling merangkul sambil menuju kearah tempat persediaan mereka.
'Bagaimana bisa mereka berbaikan secepat itu?' batin kedua anak kembar itu dengan penuh kebingungan.
__ADS_1
Mari kita beralih kedalam percakapan kedua orang yang dibicarakan oleh mereka.
"Kamu yakin jika aku akan selamat bukan?" tanya Zen mengantisipasi kembali pernyataan dari Max.
"Huh, tentu saja memangnya aku ingin membahayakan nyawaku juga?" tanya Max dengan kesal.
"Lagipula kita akan turun menggunakan parasut, tentu saja kita akan selamat," lanjut Max yang membuat Zen menatapnya dengan ragu.
"Tapi ketinggian gedung ini hanya 200 meter, apa parasut akan terbuka sempurna setelah kita menariknya? Bagaimana jika kita mendarat lebih dulu sebelum parasut terbuka?" tanya Zen yang membuat Max mendengus pelan.
"Itu tidak akan terjadi, 200 meter lebih dari cukup untuk melakukan terjun payung dari atas sini," ujar Max sambil memasang parasut tersebut.
"Lebih dari cukup? itu adalah jarak yang pas-pas an untuk terjun dari atas sini!" ujar Zen yang hanya dibalas tawa pelan oleh Max.
"Sudahlah, jikapun gagal kau hanya akan pindah alam-"
"Lin dan Leo masih membutuhkan pengawasanku!" ujar Zen setelah memukul ringan kepala Max.
"Huh, kalau begitu cukup pastikan kau membuka parasut mu tepat waktu," ucap Max yang di balas dengan helaan nafas pelan oleh Zen.
"Ya, ya, ya, ayo kita lakukan," ujar Zen setelah selesai memasang parasut itu di tubuhnya,
"Kak Zen dan kak Max ingin pergi sekarang?" tanya Lin dengan tiba-tiba yang membuat kedua orang itu tersentak ringan.
"Iya, jadi jaga diri kalian berdua sampai kami berdua kembali," ujar Zen sambil menepuk kepala keduanya dengan ringan sebagai tanda perpisahan.
"Apa itu tidak akan berbahaya jika kak Zen dan kak Max melakukan terjun payung saat ini?" tanya Leo dengan khawatir.
"Tidak masalah, kekuatan angin saat ini cukup kencang," ujar Max sambil merasakan hembusan angin yang meniup rambutnya hingga menerbangkan beberapa helai rambutnya.
"Baiklah, kalau kak Max sangat percaya diri, aku tidak perlu khawatir lagi," ujar Leo yang membuat Zen tersenyum tipis.
"Bagaimana dengan senja-"
"Tidak ada oleh-oleh berupa senjata tajam, Lin," sela Zen terlebih dahulu yang membuat Lin cemberut ringan.
"Bagaimana dengan beberapa buku novel? Kurasa aku sedikit bosan jika hanya berdiam diri di atap ini," ujar Leo sambil menggaruk pipinya dengan canggung.
"Baiklah diterima, bagaimana denganmu?" tanya Zen kepada Lin yang masih cemberut di sana.
"Hmm, karena kakak meminta buku novel, maka aku akan meminta buku cerita anak sebagai oleh-olehnya," ujar Lin masih dengan cemberut tipis diwajahnya.
"Diterima, kalau begitu aku akan pergi sekarang," ujar Zen mengacuhkan cemberut Lin dan mengambil ancang-ancang untuk jarak berlarinya sebelum melakukan terjun payung.
"LIn, bagaimana jika setelah ini kita...," bisik Max dengan sengaja mengecilkan suaranya agar tidak didengar oleh siapapun.
Lin yang mendengar bisikan Max kembali bersemangat dan menatap Max dengan tatapan membara.
"Kak Max harus berjanji!" ujar Lin sambil mengangkat jari kelingkingnya kearah Max.
"Tentu janji," ujar Max menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking milik Lin.
"Max! Cepatlah! Aku tidak ingin menunda waktu lagi!" teriak Zen yang membuat Max sedikit kesal.
"Baik, baik aku akan ke sana, dan bisakah kau tidak berteriak?! Kita hanya berjarak beberapa meter," ujar Max.
"Apa kau butuh cermin? Kau juga berteriak!" ujar Zen dengan kesal.
__ADS_1
"Aishh, sudahlah. Turunlah lebih dulu dan aku akan menyusul mu," ujar Max yang dibalas dengan tatapan tidak terima oleh Zen.
"Ini ide mu, kenapa aku yang harus menjadi tumbal pertama?" tanya Zen yang membuat Max tersenyum dengan kesal hingga menampilkan urat-urat lehernya.
"Oke, aku akan pergi duluan! Ingat untuk menyusul!" ujar Max lalu melambaikan tangannya singkat kearah Leo dan Lin dan anggukan singkat kearah Ken dan Kim sebelum berlari dan terjun bebas dari gedung dengan tinggi 200 meter itu.
"Ck, lihatlah orang gila itu," gumam Zen dengan pelan.
"Aku pergi, jaga diri kalian baik-baik," ujar Zen lalu ikut menyusul Max tanpa menunggu balasan dari mereka berempat.
"Mereka benar-benar gila," ujar Ken sambil melirik singkat dari pinggir pagar pembatas atap.
"Menurutmu apa aku juga bisa melakukan hal seperti tadi?" tanya Kim dengan tiba-tiba.
"Jangan mengikuti tindakan tidak waras yang mereka lakukan!" ujar Ken dengan nada keras yang membuat Kim mengalihkan pandanganya kearah lain selain bertatapan dengan mata kakaknya.
'Aku hanya bertanya saja bukan?' batin Kim dengan pelan.
Itulah kilas balik mereka sebelum mereka berada di dalam mobil ini. Mari kita lanjutkan kejalan cerita sekarang.
"Jalankan saja mobilnya terlebih dahulu dan aku yang akan menunjukkan arahnya," ujar Zen membalas pertanyaan Max.
"Baiklah, tapi kamu yang akan membuka pintu gerbang rumah sakit itu dan kembali menguncinya," ujar Max yang membuat Zen bersiap untuk melayangkan protes.
"Aku yang mengemudi, bagaimana mungkin kamu tega menyuruhku untuk mondar-mandir seperti itu?" tanya Max dengan ekspresi memelas yang membuat Zen mengerutkan wajahnya.
"Menjijikan! Baik, akan aku lakukan tapi hentikan ekspresi wajah menjijikan mu itu," ujar Zen yang dibalas tawa kecil oleh Max.
"Jadi, beritahu aku kemana kita akan pergi untuk tempat pertama kita?" tanya Max yang membuat Zen menerbitkan sedikit senyum di wajahnya.
"Tentu saja untuk mencari oleh-oleh untuk kedua anak kecil itu," jawab Zen yang dibalas anggukan pelan oleh Max.
"Kalau begitu kita akan ke toko buku," ujar Max.
"Dan aku tahu toko buku kecil yang mungkin saja tidak akan ada banyak zombie yang berada di sana," ujar Zen yang membuat Max tersenyum lebar.
"Baiklah, arahkan jalannya, Zen!"
"Tentu saja!"
...----------------...
"Hufttt, aku lelah...." gumam perempuan itu sambil menyandarkan tubuhnya yang hampir diambang batas setelah setengah hari dan satu malam bertarung melawan zombie.
"Apa aku bisa istirahat sekarang?" tanya perempuan itu kepada dirinya sendiri lalu menutup matanya begitu saja dan membiarkan tubuhnya tumbang menimpa rak buku yang berada di belakangnya.
'Aku berharap, ada seseorang yang akan bersedia untuk menolongku dari kejaran mahkluk menjijikan itu di luar sana,' batin perempuan itu sebelum kegelapan menemuinya.
...| (❁❁) |...
...•...
...•...
...•...
Maaf jika ada typo yang tidak menyenangkan.
__ADS_1
Jangan lupa Like, Vote, Komen nya ya Reader~San o(〃^▽^〃)o
Instagram : lmnr_vv