Survive In The Last Days : My Second Life

Survive In The Last Days : My Second Life
|(49) Pertengkaran di Antara Dua Saudara|


__ADS_3

Warning : Karya ini hasil orisinal aku dan hanya karangan fiktif semata. Bahasa bisa saja kasar jadi dimohon untuk tidak menirukan nya.


...•...


...•...


...•...


Sebelumnya :


“Jadi bagaimana? Apa kamu masih ingin bertaruh?” tanya Zen.


“Hentikan semua omong kosong ini sialan!” maki Max yang membuat Zen kembali tertawa.


...| (❁❁) |...


“Jadi kak Zen, untuk apa kita ke toko ini?” tanya Leo sambil memperhatikan sekeliling toko.


“Untuk mengambil beberapa barang yang ku butuhkan,” jawab Zen sambil menunjuk terpal yang sudah dia pisahkan dengan beberapa gulungan benang tajam.


“Apa ini benar-benar penting?” tanya Lin dengan bingung.


‘Walaupun toko seperti ini relatif jarang memiliki pelanggan, tapi kita harus membunuh setidaknya tiga zombie hanya untuk mengambil beberapa barang ini,’ batin Lin sambil memperhatikan barang-barang yang ada di toko tersebut.


“Bukankah kita lebih baik mengambil kantung tidur itu?” tanya Leo sambil menunjuk kearah beberapa kantung tidur yang dipajang di toko.


“Oh, penglihatan yang bagus Leo. Aku akan mengambil 4 kantung tidur itu dan meletakkannya di mobil sekarang,” ucap Max lalu mengambil barang yang dimaksud.


“Cepat kau katakana rencana mu kepada mereka dan pastikan memberitahu mereka dengan perlahan!” bisik Max dengan penuh peringatan yang membuat Zen mendengus pelan.


“Aku tahu itu,” balas Zen ikut berbisik.


Dengan cepat Max mengambil empat kantung tidur itu dan berbalik menuju mobil mereka untuk meletakkannya di dalam bagasi.


Zen yang melihat Max sudah menghilang, kini harus mengalihkan pandangannya kearah kedua bersaudara itu yang sedang menatapnya juga.


“Kak Zen, apa ada yang ingin kakak beritahu kepada kami?” tanya Leo dengan pelan.


“Hahh, memang tidak ada yang bisa ku sembunyikan dari kalian ya?” tanya Zen sambil menghela nafas pelan.


Setelah menyelesaikan ucapannya kini dirinya mensejajarkan tinggi badannya dengan mereka berdua dan menatap langsung kearah mata kedua anak itu.


“Ada sesuatu yang harus ku beritahukan kepada kalian dan itu mengenai rencana yang sudah ku buat dan sudah ku diskusikan dengan Max juga,” ucap Zen yang membuat kedua anak itu menatapnya dengan bingung.


“Kalian pasti tahu jika setelah ini kita akan pergi menuju rumah sakit untuk mengambil bahan kimia yang ku butuhkan, hanya saja aku dan Max mengubah rencana kita,” ucap Zen yang membuat kening Leo berkerut.


“Jadi setelah ini kita tidak pergi ke rumah sakit?” tanya Leo yang dibalas dengan gelengan pelan oleh Zen.


“Tidak kita akan tetap ke rumah sakit, hanya saja rumah sakit akan menjadi tempat kita menetap dari kerumunan zombie di luar sana,” ujar Zen.


“Tapi bukankah itu beresiko? Bagaimana jika rumah sakit itu memiliki banyak zombie di dalamnya ditambah kita tidak bisa menghindari jika kita akan menemukan manusia yang datang ke rumah sakit nanti,” ujar Lin menyatakan pendapatnya.


“Bukan di dalam rumah sakit Lin, tetapi di atap rumah sakit, karena itulah aku membuat racun pelumpuh serta mengambil benang tajam itu,” ucap Zen yang membuat Lin terdiam.


“Lalu apa masalahnya kak?” tanya Leo yang langsung menuju inti pembicaraan.


“Masalahnya terletak di barang persediaan kita bukan?” tanya Lin yang membuat Zen sedikit tersentak.


“Kita tidak mungkin mengambil semua barang berat itu saat menuju lantai atas tempat atap berada, jika kita melakukan itu mobilitas kita akan terganggu. Ditambah kita tidak tahu berapa banyak zombie yang akan kita hadapi saat itu, kita tidak bisa mengambil resiko dengan bekerja dua kali hanya untuk membawa barang persediaan,” lanjut Lin yang membuat Leo terdiam.


“Pintar, bagaimana kamu bisa berpikir sejauh ini? Kamu benar-benar jenius Lin,” puji Zen sambil mengusap pelan kepala Lin.

__ADS_1


Sedangkan Lin hanya menerima pujian Zen dengan senang hati dan membiarkan kakaknya itu mengusap pelan kepalanya sebelum menatap Zen dengan serius.


“Kak, apa yang bisa kami lakukan untukmu?” tanya Lin dengan serius.


“Kamu tahu? Gedung rumah sakit memiliki ketinggian kira-kira 200 meter dan struktur gedung rumah sakit berbentuk huruf l besar sehingga memiliki sudut yang terbentuk di struktur gedung tesebut,” jelas Zen yang membuat Leo mengangguk.


“Itu benar, sudut yang diciptakan kira-kira adalah 90 derajat,” jawab Leo yang membuat Lin menatap Zen dengan bingung.


“Aku berencana untuk menggunakan kain terpal ini dan merentangkan nya dari satu sisi gedung ke satu sisi gedung lainnya untuk membuat sebuah jembatan di antara letak sudut itu,” jelas Zen yang membuat keduanya mengangguk.


“Tapi apa hubungannya dengan cara membawa persediaan kita?” tanya Lin.


“Aku memerlukan satu orang dengan berat badan ringan untuk duduk di atas terpal itu dengan semua persediaan yang kita miliki di saat Max dan satu orang lainnya yang akan menarik terpal dari atas gedung,” ucap Zen yang membuat Leo terdiam.


“Maksud kakak, kakak ingin aku atau Lin yang menjadi orang untuk menjaga persediaan makanan itu di saat kak Max dan satu orang lainnya menarik terpal itu untuk membuatnya keatas dan harus berada di ketinggian 200 meter dengan alas kain setipis itu dan memindahkan semua persediaan makanan kita ke salah satu sisi gedung?” tanya Leo memperjelas semuanya.


“Tidak setipis yang kamu pikirkan kak, terpal itu cukup kuat untuk membawa bobot ringan anak kecil seberat aku,” ujar Lin sambil memeriksa ketebalan terpal yang ada di sana.


“Tapi Lin-“


“Jika kak Leo tidak ingin melakukannya maka aku yang akan melakukannya,” ujar Lin yang membuat Leo menatapnya dengan tidak percaya.


“Tidak, aku menolak dengan keras hal itu, kamu tahu itu sangat berbahaya bukan?!” tanya Leo.


“Tapi tidak berbahaya seperti saat aku harus menyelinap keruang kerja kepala panti hanya untuk mengambil beberapa uang kertas dan menerima pukulan intens darinya,” ujar Lin.


“Tapi itu berada di konteks yang berbeda! Jika kamu salah mengambil Langkah ataupun ada sesuatu yang tidak terduga, kamu bisa terjatuh dari ketinggian dua ratus meter!” ujar Leo yang membuat Lin mendengus pelan.


“Aku tahu itu,” ujar Lin dengan pelan.


“Jika kamu mengetahui ini maka lupakan rencana ini dan biar aku yang pergi menggantikan mu,” ujar Leo yang membuat Lin menatapnya dengan tidak setuju.


“Bagaimana kamu bisa mengatakan itu?! aku yang pertama menebak rencana ini berarti aku yang akan melakukannya!” ujar Lin dengan keras.


“Hah, itulah yang kamu katakana tetapi apa kau memikirkan bagaimana tubuh kecilmu membawa dus mie itu?” tanya Leo.


“Aku cukup kuat jika hanya untuk membawa beberapa dus mie!”


“Benarkah? Tapi aku tidak pernah melihat mu membawa benda berat, jikapun aku melihatnya kamu hanya pernah membawa bola karet mu itu dengan kedua tangan kecilmu,” ujar Leo yang membuat Lin mengeram kesal kearahnya.


“Tau apa kamu tentangku! Aku pernah berhasil membawa sebuah bindex berisikan file-file pemilik panti yang bisa ku yakini jika itu sangat berat, bahkan tumpukan file itu lebih berat dari dus mie instan,” ujar Lin menyatakan argumennya.


“Tapi kamu tidak pernah membawa satu kotak berisikan peluru ataupun pistol yang jelas-jelas beratnya melebihi dus mie itu,” ucap Leo yang membuat Lin terdiam.


“Itu karena kamu adalah kakak dan aku adalah adik! Jika aku adalah kakak, maka posisi yang akan kamu lakukan juga akan ku lakukan!” ujar Lin dengan kalimat berlibat.


“Yah, tapi kamu adalah perempuan,” ucap Leo yang masih memahami kalimat yang diucapkan oleh adiknya dan membalas pernyataan adiknya itu.


“Memangnya apa yang salah jika aku adalah perempuan?!” teriak Lin dengan kesal.


“Karena kamu perempuan dan aku laki-laki maka akulah yang harus mengambil alih untuk memastikan mu baik-baik saja dari tugas berbahaya seperti ini. Kamu masih kecil Lin,” ucap Leo yang membuat Lin mendengus kesal.


“Aku sudah besar! Berhenti mengatakan jika aku adalah anak kecil. Dan memangnya ada yang salah dengan perempuan?! Aku ingin membantu kalian! Aku tidak ingin menjadi beban di kelompok ini!” ucap Lin yang membuat Leo sedikit tersentak.


“Tapi-“


“Wow, aku menyuruhmu untuk memberitahu mereka secara perlahan, bukannya membuat mereka menciptakan teriakkan semacam itu hingga terdengar dari luar,” ujar Max saat masuk kembali ke daam toko.


“Maafkan aku dan aku sudah melakukannya dengan memberitahu mereka secara perlahan, hanya saja sepertinya kedua bersaudara itu harus mengungkapkan pendapat mereka dengan suara lantang agar tidak ada lagi yang akan menjadi permasalahan untuk kedepannya,” ucap Zen yang diakhiri dengan tawa kecil dibelakang.


“Tapi teriakkan mereka benar-benar menembus hingga keluar toko,” ucap Max yang membuat keduanya menunduk dengan malu.

__ADS_1


“Itu hal yang wajar mengingat mereka sedang bertengkar diantara saudara, bahkan pertengkaran aku dan kakakku benar-benar terdengar hingga rumah tetangga,” ujar Zen yang membuat Max terkekeh ringan.


“Itu lebih baik daripada pertengkaran ku dengan kakakku, aku bahkan tanpa sadar mengacaukan rumah akibat pertengkaran itu,” ucap Max yang kini membuat Zen tertawa.


“Jadi apa pertengkaran kalian sudah selesai?” tanya Max yang membuat kedua bersaudara itu dengan kompak mengalihkan mukanya kearah lain.


“Umm, yah kurasa sudah?” jawab Leo sambil menggaruk pipinya dengan canggung.


“Jika kalian belum selesai maka teruskan pertengkaran kalian dan aku akan duduk di samping Zen sambil menyaksikan kalian berdua,” ujar Max lalu duduk di samping Zen


.


“Ahh, tidak ini sudah benar-benar selesai,” jawab Leo sambil menunduk malu.


“Tidak ini belum selesai!” jawab Lin dengan keras lalu berlari kearah Max dan memeluk Max dengan erat.


“Ini belum selesai oke…?” ucap Lin dengan nada bergetar.


“Ah, jika belum selesai maka selesaikan. Bukankah pertengkaran di tunjukkan untuk mencari titik terang diantara permasalahan kalian berdua?” tanya Max sambil mengelus pelan pundak Lin.


“Tapi ini adalah hal yang percuma! Karena kakak tidak akan mendengarkan pendapatku sama sekali,” ucap Lin yang diakhiri dengan lirihan ringan di kalimat terakhirnya.


Max dan Zen hanya saling memandang singkat sebelum tatapan mereka tertuju kearah Leo yang sedang menatap Lin dengan sedih.


“Hei, Lin jika kamu memang ingin mengatakan sesuatu, maka katakanlah sekarang. Mungkin saja aku dan Zen bisa membantumu untuk meyakinkan kakakmu,” ujar Max yang membuat Lin mendengus ringan.


“Kak Zen sama dengan kak Leo! Mereka pasti akan menentangnya, hanya kak Max yang mendukungku,” ujar Lin dengan pelan.


Zen yang mendengar pernyataan Lin hanya menatap dengan tidak percaya sebelum mendengus ringan dan menghampiri Leo yang kini sudah terisak dengan pelan.


‘Yah, apa yang ku harapkan dari anak kecil berumur 13 tahun dan 7 tahun?’ batin Zen sambil menenangkan Leo dari isakkannya.


“Kalau begitu katakan semua yang ingin kamu katakana dan aku akan memberikan izinku, persetan semua dengan apa yang akan mereka katakana,” ucap Max yang membuat Zen melotot kearahnya.


“Apa yang kukatakan untuk tidak memaki di depan adikku?” tanya Zen yang dibalas dengan acuh oleh Max.


“Aku ingin kalian berhenti menganggap jika aku adalah anak kecil dan kesampingkan jika aku adalah perempuan. Memangnya salah jika aku perempuan dan harus terus menerus dilindungi oleh kalian? Aku ingin bebas! Aku bisa melindungi diriku sendiri! Aku akui jika aku masih kecil tapi bukan berarti jika aku tidak bisa melindungi diriku sendiri,” ujar Lin dengan suara parau.


“Dan berhenti menganggap ku bayi kak!” ucap Lin lalu menatap kearah Leo.


“Berhenti menganggap ku seperti aku anak kecil yang tidak bisa melakukan apa-apa tanpamu. Aku ingin membantumu, aku tidak ingin menjadi beban mu, jadi bagilah beban mu kepadaku! Aku tidak ingin melihat jika kamu saja yang mendapatkan luka! Aku tidak suka melihat itu!”


“Aku benci di saat kamu kembali dengan tubuh penuh lebam hanya untuk memberiku susu bubuk, aku benci di saat aku memakai pakaian halus sedangkan kakakku hanya memakai kain kusam, aku benci di saat kakakku memberikanku makan sedangkan dia sendiri tidak makan apapun di hari itu! Aku benar-benar benci saat aku mengetahui aku hanyalah beban untukmu kak!” ujar Lin lalu menangis dengan keras yang membuat Max harus menenangkan anak itu.


“Aku benar-benar membenci diriku karena diriku lah, beban kakakku semakin bertambah, bahkan aku selalu berharap jika aku bisa mati saja sehingga kakak tidak perlu memikirkan sesuatu yang lain selain dirinya sendiri,” ucap Lin dengan pelan sambil menyandarkan tubuhnya di pundak Max.


Leo yang mendengar itu menggelengkan kepalanya dengan kuat sebelum membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu.


Tapi sebelum mulutnya mengeluarkan suara, Zen dengan cepat menutup mulutnya agar tidak mengucapkan apapun dan membiarkan Lin menangis dengan keras sambil memeluk Max yang setia menenangkan Lin yang masih terisak di pelukannya.


...| (❁❁) |...


...•...


...•...


...•...


Maaf jika ada typo yang tidak menyenangkan.


Jangan lupa Like, Vote, Komen nya ya Reader~San o(〃^▽^〃)o

__ADS_1


Instagram : lmnr_vv


__ADS_2