
Warning : Karya ini hasil orisinal aku dan hanya karangan fiktif semata. Bahasa bisa saja kasar jadi dimohon untuk tidak menirukan nya.
...•...
...•...
...•...
Sebelumnya :
"Bagaimana kakak ingin menyebarkan racun itu?" tanya Leo.
"Dengan menggunakan sebuah benang," jawab Zen yang membuat ketiganya menatapnya dengan bingung.
...| (❁❁) |...
“Hahh, kenapa mereka tidak ada habisnya?” tanya Fin sambil menyisir rambutnya
kebelakang agar penglihatannya tidak terhalangi.
“Mungkin karena ini adalah universitas yang memiliki asrama? Tentu saja kemungkinan
manusia berubah menjadi zombie semakin bertambah,” jelas Neo yang membuat Fin
mengerutkan keningnya.
“Tidakkah kamu risih dengan penampilanmu saat ini?” tanya Fin yang dibalas dengan senyuman manis oleh Neo.
“Risih? Tentu saja aku risih! Memangnya kamu tidak akan rishi jika tubuhmu penuh dengan darah berwarna hitam menjijikan ini?!” tanya Neo yang membuat Fin meringis
pelan.
“Yah, maafkan aku. Lagipula penampilanmu benar-benar menyeramkan,” ucap Fin dengan
jujur sambil memandang kearah Neo.
Bagaimana tidak menyeramkan? Kemeja putih yang dilapisi dengan jas putih pajang miliknya penuh dengan bercak darah berwarna hitam, bahkan kalian bisa menganggap jika kemeja dan jas yang dipakai oleh Neo berwarna hitam bukannya putih.
Bahkan di bagian wajah miliknya kini penuh dengan bercak darah berwarna hitam dan jangan lupakan bau menjijikan yang keluar akibat darah itu.
“Ugh … aku benar-benar ingin membersihkan diriku sekarang,” ucap Neo dengan kening
berkerut jijik.
“Oh? Kamu sudah kembali rupanya?” tanya Fin yang dibalas dengan tatapan aneh dari
Neo.
“Memangnya aku pergi darimana sehingga kamu mengucapkan-“ ucapan Neo terputus sebelum dirinya tiba-tiba saja menghela nafas dengan pelan.
“Dia mengambil alih diriku kembali?” tanya Neo yang dibalas dengan anggukan oleh
Fin.
“Bukan dia tapi Teo,” ucap Fin mengingatkan Neo yang hanya dibalas dengan dengusan
kasar oleh Neo.
“Dia bahkan tidak mengatakan apapun sebelum mengambil alih tubuhku, jadi semua darah menjijikan ini berasal dari mahkluk bodoh itu?” tanya Neo yang membuat Fin
menghela nafas.
“Teo juga bagian dari dirimu, memakinya sama saja dengan memaki dirimu sendiri,”
ucap Fin yang dibalas dengan tatapan kesal oleh Neo.
“Hentikan pembicaraan ini, sepertinya si bodoh itu baru saja mengirimkan ingatannya
kepadaku dan ku ingatkan kembali jika si bodoh itu bukan diriku! Diriku adalah
aku, sub kepribadian pertama sedangkan dia hanya kepribadian yang menumpang di dalam tubuhku,” jelas Neo sambil menelaah ingatan yang baru saja di terimanya.
Fin yang mendengar gerutuan dari Neo hanya menghela nafas singkat menghadapi
kelakuan temannya yang menderita kepribadian ganda itu. Itu benar yang kalian lihat sebelumnya adalah Teo yang mengambil alih Neo, bukan Neo yang sebenarnya.
Mungkin perubahan itu terjadi karena sub kepribadian kedua Neo memaksa untuk bertukar tempat setelag melihat hal-hal berbau darah sebelumnya. Mengingat jika Teo sangat suka hal-hal yang berbau darah, itu mungkin saja bisa terjadi.
Jika kalian ingin tahu kenapa Fin bisa mengetahui itu jawabannya sudah jelas karena pertemuan pertama mereka yang sedikit tidak mengenakan.
Pertemuan pertama mereka terjadi saat hari pertama Fin menginjakkan kaki di asrama universitas. Fin tidak sengaja melihat Neo yang saat itu sedang duduk santai sambil
mengguncang pelan pisau lipat yang sedikit berlumuran darah.
Fin yang melihat hal itu segera menghampiri Neo dan bertanya tentang apa yang sedang dia lakukan, Neo yang saat itu sedang bergantian posisi dengan sub kepribadiannya
__ADS_1
hanya menatap Fin dengan bingung sebelum mengangkat pisau lipat itu untuk
mengarahkannya kearah leher Fin.
Fin yang melihat hal itu dengan refleks menghindari serangan Neo dan mundur
beberapa Langkah untuk menjauh dari Neo. Neo, ah, tidak, Teo yang melihat hal itu
berseru kagum sambil melihat kearah Fin dengan penuh binar dimatanya. Dengan perlahan senyum terukir dari bibirnya sambil menatap Fin dengan lama.
“Kamu orang kedua yang bisa menghindari ini, yang pertama tentu saja adikku. Aku
menyukainya! Namaku Teo! Bagaimana jika kita menjadi teman?” tawar Teo sambil
memandang Fin dengan lama.
Fin yang melihat hal itu mengerutkan keningnya lalu berjalan pergi meninggalkan Teo yang mematung di sana. Gini-gini Fin tidak ingin mengambil resiko untuk
berteman dengan orang aneh seperti Teo.
Terlebih walaupun itu samar Fin masih
bisa melihat sedikit bercak darah di ujung lengan kemejanya. Bahkan jika kalian mendekat kearahnya kalian akan sedikit mencium bau anyir darah dari tubuh Teo.
Yah, seperti itulah pertemuan pertama antara Fin dengan Teo, sub kepribadian kedua Neo. Lain halnya saat pertemuan kedua mereka.
Pertemuan kedua mereka karena penunjukan dirinya dan Neo yang harus menjabat di
organisasi yang sama di hari kedua mereka masuk.
Pada saat itu yang ditemui Fin adalah Neo, sub kepribadian pertamanya bukan Teo. Bahkan Fin hampir saja menganggap Neo orang gila saat Neo mengenalkan dirinya sebagai Neo Talz, bukan Teo.
Sedangkan Neo yang mendapatkan ingatannya sebagai Teo mengajak Fin untuk berbicara secara empat mata dan menjelaskannya dengan perlahan agar Fin tidak menganggap jika dirinya gila.
Mungkin kalian akan menganggap jika Neo sangatlah aneh mengingat jarang sekali orang yang memiliki kepribadian ganda dapat mengingat kembali apa yang dilakukan oleh kepribadian lainnya, tapi itu mungkin saja.
Salah satu contohnya adalah Neo dan Teo, mungkin itu terjadi karena Neo yang menerima secara langsung keberadaan Teo begitupun sebaliknya, bahkan nama Teo itu berasal dari adiknya Neo.
Bagaimanapun juga, Neo membutuhkan Teo untuk membersihkan segala hama yang mengganggunya begitupun sebaliknya, Teo
membutuhkan Neo jika itu menyangkut dengan hal yang melibatkan percakapan yang
menurutnya sangat memusingkan kepala.
menghela nafas pelan lalu mengutarakan niatnya sebenarnya kepada Fin.
“Aku ingin mengatakan kepadamu untuk tidak memberitahu siapapun mengenai ini,” ucap
Neo dengan lugas.
“Heh? Lalu apa untungnya untukku?” tanya Fin sambil melihat kearah Neo dengan
pandangan yang seolah-olah menganggap jika kalimat yang Neo utarakan sangat lucu.
“Apa yang kau inginkan? Aku tahu mengenai identitas mu dan kurasa aku tidak bisa
membantumu apapun,” ucap Neo yang membuat Fin tersenyum kecil.
“Ada, jadilah sekretaris ku sekaligus tangan kananku dan bersumpah setia kepadaku. Bagaimanapun juga akan sangat bagus jika bisa menarik orang berprestasi sepertimu,” ucap Fin yang membuat Neo terdiam.
“Hah, berani sekali dirimu menyuruhku untuk bersumpah setia?” tanya Neo sambil tertawa dengan pelan.
“Tidak ingin?” tanya Fin.
“Apa jika aku tidak menurutimu kamu akan memberitahu semua orang jika aku memiliki
kepribadian ganda? Maaf saja dan beritahu mereka, aku tidak tertarik lagi dengan masalah ini,” balas Neo lalu membalikkan tubuhnya untuk pergi.
“Kontrol,” ucap Fin dengan tiba-tiba membuat Neo sedikit tersentak.
“Aku akan membuat ayahmu tidak bisa mengkontrol dirimu kembali, itu merupakan hal yang mudah untukku mengingat betapa berprestasinya diriku terhadap negara,”
ucap Fin yang membuat gerakan Neo terhenti sepenuhnya.
Dan sejak saat itu seorang Neo Talz bersumpah setia kepada Fin Westerlock untuk selalu menemaninya di setiap jalan yang diambil oleh Fin.
Dan Fin adalah orang kedua yang mengetahui kepribadian ganda milik Neo setelah adiknya. Setelah Fin, Mia ikut menyusul menjadi orang ketiga yang mengetahui kepribadian ganda Neo.
Yah, sebenarnya itu tidak direncanakan sama sekali mengingat Mia mengetahuinya saat
Neo memukuli para berandal yang mengacau di universitas sampai-sampai membuat
salah satu diantara mereka merenggang nyawa.
Teo yang menyadari keberadaan Mia
__ADS_1
saat itu juga merasa kagum karena Mia sama sekali tidak berteriak saat aksi kekerasan itu terjadi melainkan hanya menonton saja tanpa ada niat untuk menghentikannya sama sekali.
Sangat berbeda sekali dengan kebanyakan perempuan yang mungkin saja akan langsung memekik kerasa saat melihat kejadian mengerikan itu.
Dan itu berkahir seperti saat awal pertama kali Teo bertemu dengan Fin. Teo mengajak Mia untuk menjadi temanya dan tentu
saja ditolak mentah-mentah oleh Mia dan meninggalkan Teo seorang diri di sana.
Keesokannya Neo harus berurusan dengan Mia kembali sambil menjelaskan mengenai
kondisinya sendiri, sedangkan Mia yang mendengarnya hanya mengangguk acuh dan pergi begitu saja.
Tapi setidaknya Neo tahu jika Mia bersungguh-sungguh dengan anggukannya itu walaupun terkesan acuh. Kini mari kita kembali kepada Neo yang masih misuh-misuh tidak jelas karena kondisi tubuhnya.
Fin yang mendengar itu menghela nafas pelan dan memasang telinganya dalam mode acuh.
Jika kalian menghentikannya hanya akan membuat ocehan itu bertambah semakin lama, mengingat betapa Neo sangat menjaga kebersihan tubuhnya dan Teo yang selalu
mengacuhkan pesan Neo itu membuat kedua kepribadian itu sering bertengkar, seperti sekarang Neo yang sedang berbicara sendiri dengan kepribadian lainnya.
“Hahh, hentikan itu sekarang Neo, jika kamu benar-benar tidak ingin dianggap gila,” ucap Fin yang membuat Neo menghentikan gerutuannya.
“Kalau kau ingin berbicara dengan Teo setidaknya pasanglah earphone mu agar kau tidak dianggap gila,” lanjut Fin sambil membuka pintu ruangan kelas dihadapannya.
“Tidak ada orang lain disini dan aku tidak tahu dimana earphone ku,” jelas Neo dengan acuh.
“Bagaimana dengan keadaan di dalam? Apa Mia berada di sana?” tanya Neo yang membuat Fin menggeleng pelan.
“Tidak ada siapapun disini, lebih baik kita lanjutkan keruang tata usaha saja,
sepertinya dia berada di sana," ucap Fin sambil mengangkat sebuah note yang berada di atas meja yang ditulis dengan bahasa Prancis.
^^^“J etais dans la salle d administration.”^^^
^^^~Mia.^^^
Neo yang melihat isi memo itu hanya menghela nafas pelan sambil bergumam dengan pelan.
“Dia tahu jika kita akan pergi ke ruang kelasnya.”
Tentu saja gumaman Neo terdengar jelas oleh Fin walaupun Neo mengatakannya dengan sangat pelan.
“Tapi kenapa harus menggunakan Bahasa prancis?” tanya Neo dengan tidak mengerti.
“Karena hanya ada segelintir orang yang mengerti bahasa prancis disini,” ucap Fin
sambil menyimpan memo itu di dalam saku celananya.
“Apa dia takut jika ada orang yang mengganggunya?” tanya Neo kembali yang dibalas dengan senyuman kecil dari Fin.
“Bagaimanapun juga dia itu pintar Neo,” jawab Fin dengan singkat yang membuat Neo mendengus pelan.
“Kamu pasti tahu itu tanpa harus ku jelaskan bukan?” tanya Fin yang dibalas anggukan
pelan oleh Neo.
“Aku bukan orang bodoh yang tidak memahami kode itu,” ucap Neo yang dibalas tawa kecil oleh Fin.
“Kalau begitu kita harus bergegas bukan?” tanya Fin lalu mulai melangkahkan kakinya
menuju kearah ruangan tata usaha.
“Ck, tunggu aku! Aku tahu jika kamu khawatir dengan pacarmu itu, tapi jangan tinggalkan aku juga!” ucap Neo lalu melangkahkan kakinya untuk menyusul Fin.
"Dia bukan pacarku," ucap Fin dengan datar tetapi langkah kaki miliknya justru semakin cepat untuk menuju ruangan tata usaha.
"Cih, iya dia bukan pacarmu," ucap Neo dengan nada mencibir lalu mulai berjalan di hadapan Fin untuk membunuh semua zombie yang menghalangi jalan mereka.
"Terimakasih, kamu memang sangat dapat diandalkan, Neo," ucap Fin sambil menatap dengan tenang kearah Neo yang melakukan pekerjaannya.
"Aku masih harus melakukan tugasku sebagai bawahan yang setia bukan Hitung-hitung sebagai balasan karena sudah membuatku tidak bertemu dengan pak tua itu," ucap Neo dengan senyuman kecil di wajahnya yang tentu saja hanya di balas dengan gelengan kecil oleh Fin.
...| (❁❁) |...
...•...
...•...
...•...
Maaf jika ada typo yang tidak menyenangkan.
Jangan lupa Like, Vote, Komen nya ya Reader~San o(〃^▽^〃)o
Instagram : lmnr_vv
__ADS_1