Survive In The Last Days : My Second Life

Survive In The Last Days : My Second Life
|(31) Pemerintah|


__ADS_3

Warning : Karya ini hasil orisinal aku dan hanya karangan fiktif semata. Bahasa bisa saja kasar jadi dimohon untuk tidak menirukan nya.


...•...


...•...


...•...


Sebelumnya :


“Yak! Apa yang kalian lakukan?!” seru pria itu dengan panik tanpa menyadari jika seorang wanita berjalan dengan terseok-seok kearahnya dengan mulut penuh darah.


“Is-istri…?” tanya pria itu dengan terputus-putus sebelum merasakan rasa sakit dari pundaknya dan menjerit dengan keras.


...| (❁❁) |...


“Hah! Apa kamu terlalu banyak membaca sebuah novel?” tanya Max yang membuat Zen berdecak kesal.


“Tidak percaya?” tanya Zen dengan satu alis terangkat.


“Tentu saja aku tidak percaya. Bahkan jika kamu bertanya kepada orang lain, orang itu pasti tidak akan percaya juga,” jelas Max.


“Yah, kamu benar juga. Tapi apa yang aku katakan adalah yang sesungguhnya,” jelas Zen yang membuat raut wajah Max tertekuk.


“Darimana asal mayat hidup itu? Sebuah virus dari penelitian?” tanya Max yang membuat Zen menggeleng pelan.


“Aku juga tidak mengetahuinya, tapi mayat hidup itu muncul pertama kali di sektor barat tepatnya di kota A dan dapat menularkan sebuah virus kepada manusia dengan menggigit manusia ataupun pencampuran antara luka dengan air liur mereka dan mengubah manusia menjadi sesamanya, mirip seperti zombie yang sering kamu lihat dalam sebuah novel aksi,” jelas Zen dengan panjang lebar.


“Kota A?” gumam Max dengan pelan.


‘Bukankah kota A adalah tempat tinggalnya pria tua itu dan wanita itu?’ batin Max bertanya-tanya.


“Ada apa? Apa kamu memiliki keluarga yang tinggal di sana?” tanya Zen yang mendengar gumaman Max.


“Bisa dibilang seperti itu,” jelas Max yang membuat satu alis Zen terangkat.


“Tidakkah kamu mengkhawatirkan mereka?” tanya Zen dengan pelan yang dibalas dengan dengusan kasar oleh Max.


“Untuk apa? Aku bahkan akan sangat bersyukur jika mereka berubah menjadi mayat hidup!” seru Max dengan senyuman puas.


“Jika kamu tidak mengetahuinya, bagaimana kamu tahu jika kota A di serang oleh mayat hidup?” tanya Max.


“Anggap saja jika aku bisa melihat masa depan secara abstrak,” jelas Zen yang membuat kening Max semakin berkerut.


“Kau gila! Jika kamu tidak ingin memberitahuku setidaknya jangan membuat alasan yang tidak masuk akal,” jelas Max yang membuat Zen meringis pelan.


“Jika benar kota A sudah diserang oleh mayat hidup itu, bagaimana dengan tanggapan pemerintah? Atau jangan bilang pemerintah melakukan blokade di daerah kota A?” ucap Max tanpa menunggu jawaban dari Zen.


“Itu benar, pemerintah sedang mengerahkan para tentara untuk memblokade kota A walaupun di dalam berita tidak diberitahukan. Sepertinya mereka tidak ingin membuat warga lainnya merasa panik,” ucap Zen sambil terus menggulir layer handphonenya untuk menemukan berita mengenai kondisi kota A.


“Tidak, para pemerintah itu sengaja untuk menyembunyikannya. Ditambah aku yakin seratus persen jika pemerintah tidak bisa menahan para mayat hidup itu mengingat kota A merupakan kota dengan populasi terbanyak,” ucap Max yang membuat Zen mengerutkan keningnya.


“Bagaimana kamu bisa seyakin itu? Terlebih lagi bagaimana jika pemerintah mengerahkan tentara elit dengan persenjataan yang memadai?” tanya Zen untuk memancing Max.


“Jika itu bisa dilakukan kamu tidak akan menyetujui latih tanding ku. Dengan kamu menyetujui latih tanding ku dan membuat permintaan seperti tadi sepertinya kamu sudah merencanakannya untuk waktu yang lama. Kamu lebih memilih untuk mengumpulkan orang-orang kuat untuk menjadi sekutu mu agar bisa melindungi keluargamu dibandingkan dengan membunuh zombie itu agar bisa melindungi keluargamu.”


“Antara kamu tidak ingin melakukannya mengigat populasi kota A yang termasuk banyak atau kamu tidak bisa melakukannya karena mereka adalah lawan yang sulit,” analisis Max dengan tatapan mata yang kini tertuju kearah Zen.


‘Wow, dia bisa menebaknya hingga seperti ini?’ batin Zen dengan kagum.


“Yah, kamu benar aku tidak bisa menghentikannya atau bisa dibilang karena mustahil untuk menghentikan bencana ini. Sepertinya manusia yang melakukan ini sudah mempersiapkannya dengan baik,” jawab Zen yang membuat Max menghela nafas lelah.


“Berarti tidak ada cara untuk menghentikan ini semua?” tanya Max yang dibalas dengan gelengan pelan oleh Zen.


“Sayangnya tidak, jika kita ingin menghentikan ini maka kita harus memberantas semuanya hingga ke akarnya. Yaitu menemui dalang utama kita,” ucap Zen yang merujuk kepada orang yang menciptakan mayat hidup itu.


“Bolehkah aku bertanya untuk yang terakhir kalinya?” tanya Max setelah lama terdiam.


“Apa?” tanya Zen.


“Jika bukan karena virus maka mayat hidup itu adalah organisme yang sudah dimiliki sebelumnya bukan?” tanya Max yang membuat Zen menatapnya.


“Hah! Brengsek! Bajingan mana yang meneliti itu?!” maki Max dengan pelan yang menyadari arti tatapan dari Zen.


“Itu benar, orang yang meneliti mayat hidup itu adalah bajingan yang memiliki masalah mental,” jelas Zen yang mengangguk setuju dengan makian Max.


“Lalu apa rencana mu?” tanya Max dengan serius.


“Jarak perjalanan antara kota A dengan kota C adalah satu jam tiga puluh menit.”


“Jika kamu berucap dengan yakin para mayat hidup itu akan datang dalam tiga puluh menit, maka mereka setidaknya lebih kuat dari manusia bukan?” tanya Max yang di angguki oleh Zen.

__ADS_1


“Itu benar, mereka memiliki kekuatan dan kecepatan yang berada di atas rata-rata manusia biasa,” jelas Zen yang membuat Max berpikir sejenak lalu mulai mengacak-acak isi tasnya.


“Apa yang kamu cari?” tanya Zen saat melihat tingkah laku Max.


“Tongkatku,” jelas Max dengan singkat lalu mengangkat sebuah tongkat seukuran kepalan tangannya.


“Baton stick? Bukankah itu ilegal?” tanya Zen dengan pelan.


“Huh! Aku tidak peduli ditambah ini bukan punyaku, ini punya seorang pria tua yang memiliki semua surat izin untuk legalitas senjata ini,” jelas Max yang membuat Zen memicingkan matanya.


“Itu artinya kamu mencurinya?!”


“Tentu saja tidak! Aku hanya mengambilnya dengan diam-diam bukan mencurinya!” bantah Max sambil menatap baton stick ditangannya dengan senyum puas.


“Bukankah itu sama saja?” cibir Zen sambil memutar matanya dengan malas.


“Yak, sudahlah. Cepat katakana apa rencana mu selanjutnya?” tanya Max yang membuat Zen berpikir sejenak.


“Tentu saja keluar dari sekolah dengan selamat lalu datang ke rumahku untuk menjemput kedua adikku itu, kamu tidak memiliki keluarga untuk di selamatkan bukan?” tanya Zen yang dibalas gelengan pelan oleh Max.


“Tidak ada, jadi kamu tidak ingin membuat kelompok dengan para siswa di sekolah?” tanya Max.


“Tidak itu hanya membuatku repot, mereka bukan dirimu yang cepat dalam beradaptasi dan dapat berpikir dengan jernih. Lagipula kekuatanmu sudah cukup untuk menjalankan rencana ku,” jelas Zen.


“Kamu tidak ingin menyelamatkan mereka?” tanya Max dengan santai.


“Tidak. Aku tidak memiliki kesan baik tentang mereka, ditambah aku bukanlah seorang pahlawan yang akan dengan senang hati membantu mereka, itu terlalu merepotkan,” ucap Zen yang diakhiri dengan dengusan pelan.


Max yang mendengar itu hanya tertawa dengan geli dan mengalihkan pandangannya kearah jam tangan miliknya hanya untuk melihat jam yang kini menunjukkan pukul 14.28.


“Sebentar lagi,” ucap Max dengan pelan.


“Bagaimana caramu untuk pergi menemui kedua adikmu itu? Tidak mungkin bukan jika kamu ingin berjalan kaki ke sana?” tanya Max.


“Yang ada kamu akan berubah menjadi mayat hidup terlebih dahulu sebelum bertemu dengan kedua adikmu,” lanjutnya yang membuat Zen tersenyum licik.


“Tentu saja dengan menaiki mobil! Kamu bisa menyetir bukan?” tanya Zen yang membuat Max mengerutkan keningnya.


“Tentu saja bisa, tapi darimana kamu mendapatkan mobil?” tanya Max dengan bingung.


“Hohoho! Tentu saja dengan mencurinya!” jelas Zen dengan bersemangat yang membuat Max menatap kearah Zen dengan ekspresi tidak percaya.


...----------------...


“Maafkan kami! Kami tidak bisa menahan para mayat hidup itu! Terlebih sekarang para tentara yang kami perintahkan satu persatu mulai berubah menjadi mayat hidup,” jelas pria tersebut yang membuat laki-laki dengan rambut yang sudah memutih itu mengerutkan keningnya.


“Apa mayat hidup itu benar-benar tidak bisa dikendalikan?” tanyanya yang dibalas gelengan pelan oleh orang didepannya.


“Sialan! Jika sudah seperti ini bukankah para warga akan segera mengetahuinya?” tanya pria itu dengan kesal.


“Ma-maafkan kami!” ucap pria yang berada dihadapannya dengan badan tertunduk.


“Ck, sekarang berada dimana para mayat hidup itu?” tanyanya dengan kesal.


“Mereka sedang menuju arah kota C,” jelas pria itu dengan takut-takut.


“Jika sudah mendekati kota C maka sebentar lagi para mayat hidup itu akan tiba di kota S yang hanya berjarak 3 kota dari kota C! Dimana para militer itu? Segera siapkan helikopter untukku agar aku bisa melarikan diri!” seru pria itu dengan tegas yang membuat pria itu segera pergi dengan cepat untuk melaksanakan perintahnya.


“Ck! Dasar sialan! Aku harus segera pergi dari sini untuk menyelamatkan diriku!” ucap pria itu lalu membuka brankas yang ada di laci mejanya untuk menyelamatkan uang yang ada di sana.


Tanpa aba-aba pintu di dobrak dengan keras sehingga menampilkan sesosok tubuh tegap seorang pria dengan warna rambut coklat muda dan warna mata yang seiras dengan warna rambutnya.


“Presiden! Anda tidak bisa meninggalkan para warga biasa seperti ini!” teriak pria itu yang membuat pria paruh baya dengan rambut yang setengah memutih itu terkejut dan uang yang ada di tangannya berserakan di lantai.


“Komandan! Betapa sopan nya anda memasuki ruangan presiden seperti itu!” balas pria paruh baya yang diyakini sebagai presiden.


Sedangkan pria yang diteriaki hanya menatap jijik kearah atasan yang ia lindungi ini.


“Bagaimana anda bisa meninggalkan warga biasa seperti itu? Anda adalah presiden di negara ini!” tegas pria itu yang membuat presiden menatapnya dengan marah.


“Lalu apa?! Kamu ingin aku mempertaruhkan nyawaku hanya untuk melindungi warga bodoh itu?!” teriak presiden dengan marah.


“Bukankah itu sudah kewajiban anda!” jelas pria itu dengan emosi.


“Lalu apa? Aku adalah presiden mereka! Lebih baik mereka berkorban untukku sehingga bisa mati dengan terhormat,” jelasnya yang membuat pria itu menatapnya dengan mata merah.


“Baik! Terserah anda presiden. Jika anda tidak mau melindungi para warga biasa itu maka saya yang akan melindungi mereka. Saya berhenti dari posisi komandan!” tegas pria paruh baya itu lalu berjalan keluar mengabaikan seruan dari presiden yang sedang memanggilnya.


“Dasar pemerintah sialan!” maki pria itu sambil membanting tinju kearah dinding dengan sorot mata tajam di kedua iris berwarna coklat muda.


Jika kalian melihatnya lebih jelas, mungkin kalian akan mengingat seseorang yang memiliki iris wajah yang mirip dengannya.

__ADS_1


Yah, iris matanya sangat mirip dengan iris mata coklat muda milik Lin. Jangan lupakan juga wajahnya yang seperti fotokopian dengan Leo.


...----------------...


“Kakak, aku lapar,” gumam Lin kepada Leo.


“Ah, aku bahkan melupakan jam makan siang kita karena terlalu fokus dengan fenomena aneh tadi,” ucap Leo dengan wajah menyesal.


“Tidak apa! Kita masih bisa memasaknya sekarang,” balas Lin yang membuat Leo menggelengkan kepalanya.


“Kenapa?” tanya Lin dengan nada kecewa.


“Aku tidak berani untuk mengunakan dapur, tadi pagi saja kak Zen memarahiku karena menggunakan dapur.”


“Benarkah?”


“Iya, dia bilang sangat berbahaya untuk anak sepertiku menggunakan dapur,” jelas Leo yang membuat kening Lin berkerut.


“Tapi saat di panti aku menggunakan dapur dan kepala panti tidak memarahiku, justru kepala panti selalu menyuruhku untuk memasak,” jawab Lin dengan bingung.


“Aku juga tidak tahu, tapi aku tidak ingin membantah perintah kak Zen,” jelas Leo.


“Tapi aku lapar…,” rengek Lin dengan pelan.


“Ah! Bagaimana jika kamu memakan onigiri yang tadi pagi dibeli oleh kak Zen? Jika tidak salah aku menyimpannya di dalam lemari,” ucap Leo sambil berjalan menuju dapur dan kembali dengan dua buah onigiri di tangannya.


“Ini untukmu, Lin dan yang satu ini untukku,” ucap Leo sambil menyerahkan satu onigiri kepada Lin.


“Terimakasih!”


“Tidak apa, tapi onigiri itu sudah dingin, apa tidak masalah?” tanya Leo dengan nada khawatir.


“Tidak masalah!” pekik Lin dengan pelan lalu memakan onigiri nya dengan lahap.


“Makanlah dengan perlahan dan hati-hati tersedak,” peringat Leo dengan lembut sambil mengelus kepala Lin dengan pelan.


“Kakak juga harus makan!” ucap Lin saat melihat jika kakaknya belum juga membuka bungkusan onigiri di tangannya.


“Baik, baik, aku akan makan ini,” balas Leo lalu membuka bungkusan onigiri miliknya.


Belum sempat dia mengigit makanan di tangannya itu, tubuh kecilnya tersentak saat mendengar pekikan seseorang dari luar apartemen.


“Kak, suara apa itu?” tanya Lin sambil menyusut kedalam peluk kan Leo.


“A-aku juga tidak tahu, akan aku cek di depan,” ucap Leo yang ingin bangkit berdiri sebelum tangannya tiba-tiba saja di tahan oleh Lin.


“Jangan! Jangan membuka pintu untuk siapapun, kak,” jelas Lin sambil menggeleng panik.


“Aku hanya akan melihat melewati door view saja, jadi jangan khawatir oke?” ucap Leo dengan lembut.


“Ti-“


//Suara gedoran pintu disertai suara cakaran dari luar


“Kakak!” pekik Lin lalu melemparkan dirinya kedalam pelukan Leo.


“Sttt … tenanglah,” ucap Leo sambil menepuk punggung Lin dengan pelan.


//Brakk………!


“Lin, lepaskan aku oke? Aku harus melihat keluar terlebih dahulu,” jelas Leo dengan pelan yang dibalas dengan gelengan pelan olehnya.


“Huftt, baiklah kita lihat bersama saja oke?” ucap Leo saat merasakan gedoran pintunya semakin keras bahkan ia takut jika pintu apartemen itu akan rusak.


“Baiklah…,” balas Lin dengan tidak rela.


Dengan perlahan kedua anak dibawah umur itu mendekat kearah pintu dengan tangan yang saling bertautan. Dengan inisatif sang kakak melihat langsung kearah door view di pintu.


Matanya terbuka lebar yang menampilkan pupil matanya yang mengecil karena rasa ngeri sekaligus takut yang ada.


“A-apa…?” ucap Leo dengan terbata-bata saat melihat seorang Wanita yang berdiri di depan pintu dengan kondisi yang mengerikan dimana lehernya mengeluarkan darah serta mulutnya yang berlumuran darah dan kedua matanya yang melotot dengan tanpa adanya tanda fokus di kedua pupil nya.


...| (❁❁) |...


...•...


...•...


...•...


Maaf jika ada typo yang tidak menyenangkan.

__ADS_1


Jangan lupa Like, Vote, Komen nya ya Reader~San o(〃^▽^〃)o


Instagram : lmnr_vv


__ADS_2