Survive In The Last Days : My Second Life

Survive In The Last Days : My Second Life
|(65) Relasi|


__ADS_3

Warning : Karya ini hasil orisinal aku dan hanya karangan fiktif semata. Bahasa bisa saja kasar jadi dimohon untuk tidak menirukan nya.


...•...


...•...


...•...


Sebelumnya :


'Siapa sangka aku akan bertemu dengan Lia Amerston di toko buku terpencil seperti ini?' batin Zen dengan pelan sambil memperhatikan secara menyeluruh mengenai kondisi wanita didepannya.


...| (❁❁) |...


"Jadi, apa yang akan kamu lakukan kepadanya?" tanya Max dengan pelan sambil melirik singkat kearah wanita yang sedang pingsan atau tertidur itu dengan rak sebagai sandarannya.


"Memangnya apa lagi yang akan aku lakukan?" tanya Zen dengan pelan lalu memberikan satu tumpuk buku yang berada di tangan kirinya kepada Max.


"Bawa ini keluar, ayo kita pergi," ujar Zen yang mendapat lirikan ringan dari Max.


"Tidak membawanya?" tanya Max yang dibalas dengan gelengan pelan oleh Zen.


"Kamu ingin membawanya?" tanya Zen yang dibalas dengan gelengan juga oleh Max.


"Tidak, dia pasti berat. DItambah dia memang berguna tetapi tidak terlalu berguna," ujar Max yang dibalas anggukan pelan oleh Zen.


"Itu kamu tahu, jadi jangan bertanya lagi dan cepat pergi dari sini sebelum dia benar-benar terbangun," ujar Zen yang membuat Max menghela nafasnya pelan.


"Ah, aku lupa jika aku ingin mengambil buku yang aku baca tadi, tunggu sebentar dan aku akan mengambilnya dengan segera," ujar Max yang membuat Zen berdecak dengan pelan.


"Cepatlah dan jika kamu menemukan buku kimia atau semacamnya, bawakan untukku," ujar Zen yang membuat Max mendengus kesal.


"Kenapa kamu tidak membawanya sebelum menghampiriku?" gerutu Max tetapi tetap melakukan apa yang diperintahkan oleh Zen.


"Aku lupa," jawab Zen dengan datar.


'Yah, bukannya lupa sepenuhnya sih, aku memang sudah meninggalkan beberapa tapi aku lupa membawanya karen tanganku yang penuh dengan novel dan buku cerita yang dipesan oleh kedua anak itu,' batin Zen dan tentu saja tidak mengutarakannya kepada Max.


'Ditambah, kenapa dia bisa berada di sini?' tanya Zen dengan pelan saat melihat kembali Lia yang sepertinya pingsan karena kelelahan di sana.


'Cukup bagus, karena dia bisa bertahan hidup seorang diri diantara ribuan zombie yang berada diluar sana,' batin Zen.


"Memikirkan kenapa dia bisa berada disini?" tanya Max tepat di belakang Zen dengan tiba-tiba yang membuat Zen sedikit tersentak karena terkejut.


"Yak! Sejak kapan kau berada di sana?" tanya Zen dengan kesal.


"Beberapa saat yang lalu?" ujar Max dengan acuh.


"Kau bukan yang memisahkan buku kimia ini dipojok ruangan sana?" tanya Max  sambil mengangkat tangan kirinya yang penuh dengan tumpukan buku kimia.


"Yap, seperti yang diharapkan dari asisten pribadiku," ujar Zen yang dibalas dengan kerutan jijik dari Max.


"Hentikan itu, itu menjijikan," ujar Max dengan jujur.


"Ditambah, sejak kapan aku menjadi asisten mu? Aku tidak digaji untuk ini,"  lanjut Max.


"Lalu kenapa kamu masih mengikutiku sampai saat ini dan bahkan melakukan apa yang aku perintahkan?" tanya Zen dengan penasaran.


"Karena ini menarik? Lagipula selagi aku masih bisa bertahan hidup dengan bersama mu dan anggota party mu, kenapa tidak?" tanya Max yang dibalas dengan dengusan pelan dari Zen.

__ADS_1


"Itu tidak menjawab pertanyaan ku sama sekali,"  ujar Zen.


"Maksudku kamu bisa saja bertahan hidup sendiri tanpa harus ikut denganku," lanjut Zen yang membuat Max terdiam sejenak.


"Hmm, kenapa ya? Aku juga tidak tahu pasti, intuisi ku hanya mengatakan jika aku harus mengikuti mu," jawab Max.


"Kau bisa saja mati jika hanya mengandalkan intuisi mu,"  ujar Zen dengan pelan.


"Tapi sampai sekarang aku masih hidup, berarti intuisi ku sampai saat ini benar," ujar Max.


"Yah apapun itu, dengan keberadaan ku disini, kamu mendapatkan tambahan kekuatan di party mu," ujar Max yang di angguki setuju oleh Zen.


"Walaupun aku benci mengakuinya, tapi apa yang kamu katakan itu benar," ucap Zen.


"Tapi kenapa kamu menuruti perintahku?" tanya Zen yang dibalas dengan kerutan di dahinya Max.


"Mata mana yang kau lihat jika aku mematuhi perintah mu? Apa kamu tidak bercermin jika kamu juga mematuhi perintahku?" tanya Max yang membuat Zen mengingat kembali mengenai pernyataan Max tadi.


"Yah, itu juga benar, berarti kita adalah rekan?" tanya Zen dengan tidak pasti.


"Memangnya selama ini kamu menganggap ku apa jika bukan rekan?" tanya Max dengan sinis.


"Babu ku?" ucap Zen yang dihadiahi tatapan mematikan dari Max.


"Pftt, bercanda, kenapa kamu serius seperti itu?" tanya Zen sambil menahan tawanya yang ingin pecah.


"Kamu benar-benar ingin ku pukul rupanya?" tanya Max yang membuat Zen tertawa dengan lepas.


"Hanya bercanda, lagipula sebagai bentuk balasan karena kamu selalu menganggap ku babu selama aku sekolah," ujar Zen.


"Sudahlah ayo kita pergi dari si-"


"Ah, aku melupakan jika ada orang lain selain kita berdua," ujar Zen lalu melirik kembali Lia yang kini sudah membuka matanya.


"Mau pergi sekarang?" tanya Max saat menyadari jika perempuan itu belum benar-benar tersadar sepenuhnya.


"Tunggu sebentar, ada yang ingin aku pastikan sebentar," ujar Zen yang membuat Max menatapnya dalam diam.


"Dimana...?" gumam Lia dengan pelan sambil merasakan jika semua otot tubuhnya terasa kaku terlebih lagi kedua kaki miliknya.


"Sadar?" tanya Zen yang membuat Lia sedikit tersentak karena terkejut.


"Siapa?!" tanya Lia lalu menatap tidak percaya karena melihat dua orang yang tidak asing di dalam ingatannya.


"Kalian, manusia iblis waktu itu!" ujar Lia dengan penuh kebencian di matanya.


"Dia memanggilmu iblis," ujar Max dengan senyum geli di wajahnya.


"Kamu juga dipanggil iblis olehnya," balas Zen dengan datar lalu membalikkan badannya.


"Bukankah kamu ingin memastikan sesuatu sebelumnya?" tanya Max dengan heran saat melihat Zen berbalik begitu saja setelah mendengar ucapan dari Lia.


"Tidak perlu memastikannya kembali, dia masih belum berubah dan aku tidak membutuhkan orang yang tidak bisa ku atur," ujar Zen yang dibalas dengan anggukan singkat oleh Max.


"Kamu benar, dia sulit untuk diatur," ujar Max sambil melihat pancaran kebencian yang dipancarkan oleh matanya.


'Aku tidak cukup bodoh untuk menempatkan variabel berbahaya hanya untuk memiliki keuntungan yang bisa didapatkan dengan cara lain,' batin Zen.


"Ayo pergi, Max," ujar Zen lalu berjalan lebih dulu yang disusul oleh Max.

__ADS_1


"Semoga kita bisa bertemu kembali dan aku harap saat kita bertemu, kamu sudah sedikit lebih bisa diatur. Yah, itupun jika kamu masih hidup," ujar Max dengan senyum dimatanya dan berbalik pergi menyusul Zen yang sudah berada di luar toko.


"Sialan!" maki Lia dengan kesal sambil mengepalkan tangannya dengan kesal.


"Lihat saja, aku pasti akan membunuh kedua manusia berhati iblis itu!" ujar Lia dengan kebencian yang sangat tertera di matanya.


...----------------...


"Hei, apa dia benar-benar berguna?" tanya Max dengan penasaran.


"Siapa yang kamu maksud? Lia?" tanya Zen yang di angguki oleh Max.


"Yah, siapapun namanya, kenapa kamu sampai seperti itu hanya untuk perempuan yang tidak terlalu berguna?" tanya Max kembali yang membuat Zen terdiam.


"DIa memang tidak berguna, tetapi relasi yang dimilikinya tidak main-main," ujar Zen yang membuat Max menatapnya dengan tidak mengerti.


"Relasi? Memangnya masih ada keuntungan dengan membangun relasi di dunia yang hancur seperti ini?" tanya Max.


"Tentu saja ada, sampai kapanpun relasi benar-benar terpakai walaupun dunia sudah hancur sekalipun," jawab Zen yang membuat Max terdiam.


'Jika aku bisa membawanya masuk maka aku akan memiliki kemudahan akses untuk berinteraksi dengan salah satu pemimpin basis yang berada di bawah kepemimpinan kakak, sang hunter.' batin Zen sambil mengingat nama sang pemburu yang memiliki marga yang sama dengan perempuan tadi.


'Yah, siapa yang menyangka jika perempuan dengan rasa adil tersebut adalah putri dari sang hunter?' lanjut Zen dalam batinnya.


"Sayang sekali dia tidak bisa di atur dengan baik, andai dia lebih penurut sedikit saja, aku mungkin akan membawanya," gumam Zen yang masih didengar oleh Max.


"Dia terlalu berbahaya jika kamu tidak bisa mengontrolnya, ditambah dia sepertinya memiliki kebencian tingkat tinggi terhadap kita berdua," ujar Max yang di angguki oleh Zen.


"Karena itu aku tidak membawanya walaupun aku ingin," ucap Zen.


"Omong-omong apa yang kamu katakan kepadanya tadi?" tanya Zen yang membuat Max mengerutkan keningnya sebentar sebelum menjawabnya.


"Ah, tadi? Hanya sebuah kalimat motivasi biasa agar dia dapat bertahan hidup lebih lama?" jawab Max dengan senyuman tipis diwajahnya.


"Kamu tahu, wajahmu tidak bisa dipercaya sama sekali," ujar Zen yang membuat Max tertawa pelan.


"Mari lupakan tentangnya, kemana kita akan pergi saat ini?" tanya Max yang membuat Zen memikirkannya dengan pelan.


"Hei, apa kamu bisa memasak?" tanya Zen yang sangat melenceng dari pertanyaan Max tadi.


"Tentu saja bisa, walaupun aku tidak begitu ahli tapi setidaknya makananku cukup enak, memangnya kenapa?" tanya Max.


"Baguslah kalau begitu, ayo kita makan daging malam ini!" ujar Zen yang membuat Max menatapnya dengan aneh.


'Tempat mana yang masih memiliki daging bersih di akhir dunia yang kacau seperti ini?' batin Max dengan aneh tetapi tetap diam dan mengikuti arahan yang diberikan oleh Zen untuk mengemudikan mobilnya menuju tempat yang ingin dituju oleh Zen.


...| (❁❁) |...


...•...


...•...


...•...


Maaf jika ada typo yang tidak menyenangkan.


Jangan lupa Like, Vote, Komen nya ya Reader~San o(〃^▽^〃)o


Instagram : lmnr_vv

__ADS_1


__ADS_2