
Warning : Karya ini hasil orisinal aku dan hanya karangan fiktif semata. Bahasa bisa saja kasar jadi dimohon untuk tidak menirukan nya.
...•...
...•...
...•...
Sebelumnya :
"Oh, apa mungkin ini yang dinamakan dengan pertengkaran antara sahabat? Kudengar jika antar sahabat memang seringkali bertengkar karena hal sepele dan kembali berbaikan seolah tidak pernah bertengkar," ucap Leo dengan polos.
"Kurasa itu benar," ujar Lin setuju sambil melihat kedua kakak barunya itu yang kembali bertengkar dengan topik yang berbeda.
...| (❁❁) |...
"Ekhmm, tidakkah kak Zen dan kak Max ingin masuk ke dalam? Kita sudah berdiri di sini selama lima menit penuh, apa kak Max dan kak Zen tidak capek?" tanya Leo setalah terbatuk pelan.
"Huh, baiklah, ayo kita masuk ke dalam dan segera menggubah atap ini menjadi tempat tinggal sementara kita," ujar Zen yang di angguki dengan penuh semangat oleh kedua anak dihadapannya.
Max yang mendengar itu hanya mendengus pelan lalu berjalan masuk lebih dahulu dan langsung berkutat dengan barang persediaan mereka.
Zen yang melihat itu tersenyum dengan kesal sekaligus mencoba untuk bersabar untuk menghadapi tingkahnya.
"Kak Zen, apa yang harus kita lakukan untuk saat ini?" tanya Leo menarik atensi Zen kembali.
"Hmm, bagaimana dengan membantuku mendirikan tenda untuk tempat tidur kita," ujar Zen sambil mencari benda yang dimaksud itu di dalam tas besarnya.
"Tenda? Apa di dunia seperti ini, hujan akan tetap turun?" tanya Lin dengan bingung yang mengundang tatapan bingung juga dari Leo.
"Kurasa tidak, tapi tidak ada salahnya untuk mendirikan tenda bukan? Tidak mungkin kalian ingin tidur langsung berhadapan dengan langit, terlebih lagi mungkin saja besok akan terasa sangat panas jika mengingat suhu panas tadi siang," jelas Zen yang membuat Lin mengangguk pelan.
"Itu benar, suhu tadi siang terasa sangat panas. Apa itu ada hubungannya dengan para zombie yang tiba-tiba saja muncul?" tanya Lin memunculkan spekulasinya.
"Aku tidak tahu, ini baru hari pertama Lin. Apa yang aku ucapkan tadi juga belum tentu benar karena aku tidak mengetahui apapun tentang apa yang terjadi terhadap dunia ini," ujar Zen lalu mulai bergerak sekaligus memberikan beberapa instruksi kepada mereka berdua untuk membuat tenda yang sudah diambilnya.
"Tapi tingkah dan perkataan kak Zen tidak terlihat seperti itu," balas Lin yang di angguki oleh Leo.
"Itu benar, dimulai dari pengetahuan kakak yang sangat mengetahui tentang zombie bahkan kelemahannya sekalipun, kak Zen terlihat seperti sudah pernah menghadapi zombie sebelumnya," ujar Leo yang membuat Zen memasang senyum canggungnya.
"Benarkah? Kurasa ini semua berkat komik bertema zombie yang pernah ku baca dulu sehingga sedikit memberiku pengetahuan mengenai mereka, ditambah untuk mengetahui hal itu adalah hal yang sangat mudah jika kalian terus memperhatikan dan mengobservasi mereka," ujar Zen.
"Tapi hanya orang gila yang bisa melakukan itu dalam sehari, ahh ... tidak dalam 9 jam," ujar Max menimpali mereka setelah selesai mengurus barang persediaan mereka.
Zen yang mendengar itu langsung menutup matanya sambil mencoba mengabaikan kalimat sarkas yang keluar dari mulut Max dan memandang Max yang tidak jauh dari hadapannya.
"Dimana kamu meletakkan semua persediaan makanan kita?" tanya Zen.
"Aku meletakkannya di belakang sana, tenang saja persediaan kita akan aman karena aku sudah melapisi kardus itu dengan kain terpal yang ku gunakan sebagai penutup," ujar Max tanpa mengalihkan tatapan matanya dari tenda yang sedang ia pasang.
"Baguslah, itu tidak terlalu jauh dari perkiraan ku," ujar Zen sambil melihat kearah kardus berisi persediaan mereka yang sudah tersusun rapih.
"Omong-omong seluas mana kamu ingin menyulap atap ini menjadi tempat tinggal?" tanya Max dengan pelan.
"Hmm, kurasa tidak ada salahnya jika seluas ini," ujar Zen sambil menandai batas menggunakan kapur yang diambilnya dari dalam saku celana.
Max yang melihat Zen sedang menandai tanda untuk tempat tinggal abal-abal mereka dengan kapur hanya bisa menghela nafas pasrah.
'Dari mana dia mendapatkan kapur itu?' tanya Max dalam hati lalu menggelengkan kepalanya dengan pelan dan kembali fokus dengan pekerjaannya sambil sesekali melihat kedua anak yang sedang membuat tenda tanpa sosok Zen di samping mereka.
"Apa kalian butuh bantuan ku? tanya Max yang dibalas dengan gelengan pelan oleh keduanya.
" Tidak perlu, aku dan Lin baik-baik saja dengan ini, kak Max," jelas Leo yang di angguki oleh Lin.
"Baiklah tapi beritahu aku jika kalian mengalami kesusahan," jelas Max yang dibalas dengan anggukan semangat oleh keduanya.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Zen dengan tiba-tiba dari belakang Max.
__ADS_1
Max yang memang sudah mendengar suara langkah kaki di belakangnya sudah tidak terkejut dengan suara yang tiba-tiba saja terdengar.
Dengan segera dibaliknya badan miliknya dan melihat secara langsung batas-batas yang dibuat oleh Zen dan sesekali bertanya tentang garis-garis yang tidak dimengerti nya.
"Hmm, kuras itu sudah sangat bagus, tapi bagaiman dengan bagian belakang itu yang langsung berhadapan dengan pembatas atap?" tanya Max.
"Apa kamu ingin mengamankan itu? Jika ita kita bisa menggunakan kawat berduri di atas pagar yang didirikan itu untuk berjaga-jaga," ujar Zen.
"Apa kita memiliki kawat yang cukup?" tanya Max.
"Tentu saja, jikapun kurang, bukankah kita bisa mencarinya di toko terdekat?" tanya Zen dengan santai.
"Apa kamu masih menginginkan kita untuk pergi keluar sana?" tanya Max dengan pelan.
"Apa kamu kira kita akan terus mendekam disini? Kita juga harus mencari manusia lainnya yang masih selamat untuk di jadikan sekutu, ditambah kita tidak tahu apa yang akan dilakukan pemerintah kedepannya," ujar Zen dengan pelan di akhir kalimatnya.
"Hah, pemerintah ya, apa kamu yakin pemerintah akan mengambil tindakan?" tanya Max dengan sarkas.
"Aku tidak tahu, tapi jika ini terus berlanjut maka pemerintah mau tidak mau harus mengambil tindakan," ujar Zen yang membuat Max setuju dengan kalimatnya.
"Menurutmu apa ini juga terjadi di luar negri? Seperti Eropa misalnya?" tanya Max yang membuat Zen menggeleng pelan.
"Aku tidak tahu tapi kita bisa mencari tahu dengan handphone, bukankah kamu seharusnya memikirkan itu?" tanya Zen sambil membuat wajah yang membuat Max merasa kesal.
"Ck, maksudku seharusnya luar negri sudah mengambil tindakan, terlebih lagi mengingat jika di sektor bagian selatan dan bagian barat berbatasan langsung dengan negara asing tanpa adanya pembatas seperti laut atau yang lainnya," ujar Max.
" Kamu benar, tapi untuk berpergian dari sektor barat menuju sektor selatan memakan waktu hampir 7 jam lebih," ujar Zen yang membuat Max terdiam.
"Tapi itu bisa disingkat menjadi 4 jam mengingat mereka bahkan sampai di daerah kita yang hampir berdekatan dengan sektor timur dalam waktu 1 jam 30 menit. Lalu bagaimana dengan kota A yang juga berbatasan langsung dengan negara asing?" jawab dan tanya Max sekaligus yang membuat Zen terdiam.
"Terserahlah, aku tidak ingin memikirkan ini lagi, memangnya kenapa jika negara asing juga akan memiliki zombie seperti negara kita? Bukankah itu yang dinamakan keadilan?" tanya Zen dengan senyum sarkas di wajahnya.
"Apa kamu tidak ingin dunia kembali seperti semula?" tanya Max dengan pelan.
"Apa kamu mengingatkan itu? Aku tidak peduli dengan itu, selagi aku dan keluargaku masih bisa bertahan hidup aku tidak peduli apakah dunia ini hancur atau tidak. Semuanya tentang bertahan hidup kau tahu?" ucap Zen yang membuat Max terdiam.
"Tentu saja, bertahan hidup adalah hal yang terbaik, terlebih jika kamu menambahkan tidur selama 8 jam penuh di dalam kehidupanmu," ujar Zen lalu memasang tatapan berbinar mengenai tidur 8 jam yang akan dimilikinya.
"Pftt, kurasa kamu benar. Lagipula mau dunia ini hancur atau tidak tujuan manusia pada akhirnya hanyalah untuk bertahan hidup," ujar Max.
"Nah, jadi hentikan percakapan ini dan segera bantu Leo dan Lin untuk menyelesaikan tempat tinggal kita agar kita bisa tidur tanpa membuang waktu lagi," ujar Zen yang membuat Max menatapnya dengan kesal.
"Apa kamu bisa tertidur saat ini?" tanya Max.
"Ini bahkan baru 9 jam sejak kejadian tidak masuk akal terjadi di hadapanmu dan kamu masih bisa berpikir untuk tidur?" lanjut Max yang dibalas dengan tatapan super tajam daru Zen.
"Lalu kamu ingin aku menjadi orang bodoh yang akan menyia-nyiakan waktu tidur yang berharga? Tentu saja jawabannya adalah tidak," ujar Zen.
"Lagipula itu hanya zombie dan kita aman disini. Ditambah waktu tidur adalah hal terbaik di dunia," ujar Zen mengungkapkan kecintaannya terhadap tidur.
"Dia gila!" desis Max dengan pelan saat melihat senyuman aneh di wajah Zen dan gumaman kecil yang terdengar dari mulutnya mengenai tidur, seperti tidur adalah hal terbaik, jika kamu tidur dengan cukup kamu akan sehat dan sebagainya.
"Hahaha, kak Max akan terbiasa dengan itu," ujar Leo setelah selesai berkutat dengan tenda yang didirikan olehnya dan Lin.
"Itu benar, kak Zen memang terobsesi dengan waktu tidur. Walaupun kami belum mengenalnya dengan lama tapi itu terlihat dengan jelas," ujar Lin yang berada di samping kakaknya.
"Kurasa kalian benar, " ujar Max setelah mengingat kembali berapa banyak kalimat yang Zen keluarkan mengenai waktu tidurnya itu.
"Kak Max apa ada hal yang bisa kami lakukan kembali?" tanya Leo memecahkan keheningan yang ada.
"Bagaimana dengan meletakkan kantung tidur kalian di tenda yang sudah kalian bangun itu? Kurasa Zen sudah mengurus kantung tidur di tenda yang satunya, sedangkan aku akan pergi memasang kawat di pagar pembatas atap itu," ujar Max yang di angguki dengan semangat oleh keduanya.
"Yah, kurasa tidak ada salahnya dengan tidur setelah ini, lagipula disini aman bukan?" tanya Max kepada dirinya sendiri sebelum menggeleng pelan lalu melanjutkan pekerjaannya dengan fokus.
...----------------...
"Jin, kapan kita akan sampai di tempat tujuan?" tanya Kim dengan malas.
__ADS_1
"Sebentar lagi tuan muda, maafkan saya yang harus menunda perjalanan karena cuaca yang tidak terduga tadi," ujar Jin sambil tetap fokus mengemudikan helikopternya.
"Itu bukan salahmu, lagipula siapa yang akan menduga jika akan terjadi angin kencang yang bertiup dari sektor timur mengarah sektor barat?" jawab Ken dengan santai.
"Ken, kenapa kamu sangat ingin menuju kota itu?" tanya Kim yang mengundang tatapan kesal dari Ken.
"Kakak, panggil aku kakak Kim, aku lebih tua darimu," ujar Ken yang membuat Kim mendengus kesal.
"Hanya berbeda-"
"Dalam sepuluh menit itu, akulah yang lahir lebih dahulu," ujar Ken memotong kalimat Kim.
"Baik kakak, kenapa kamu ingin pergi ke kota itu?" tanya Kim dengan nada jengah.
"Apa itu karena orang yang sebelumnya kamu bicarakan?" tanya Kim melanjutkan kalimatnya.
"Kamu bisa menganggapnya seperti itu," ujar Ken yang membuat rasa penasaran Kim tidak teratasi.
"Selain itu? Tidak mungkin bukan jika kamu datang hanya untuk melihat orang yang berhasil menarik perhatianmu di saat kamu bahkan tidak tahu dia masih hidup atau sudah berubah menjauh mahkluk di bawah sana," ujar Kim sambil menunjuk sekumpulan zombie di bawah sana.
"Dia pasti masih hidup, aku yakin itu," ujar Ken yang membuat Kim mencibir pelan.
"Dan darimana rasa percaya dirimu itu datang?" tanya Kim.
"Tentu saja karena dia orang yang menarik, tidak mungkin orang yang bisa menarik perhatianku mati dengan mudah," ujar Ken yang kembali membuat Kim mencibir dengan pelan.
"Omong-omong kenapa kamu banyak bertanya tentang dia?" tanya Ken dengan curiga.
"Memangnya aku tidak boleh tahu?" tanya Kim dengan kesal karena tatapan mata Ken yang terasa aneh?
"Oho, jangan bilang kamu cemburu karena kakakmu lebih memperhatikan orang lain dibandingkan adiknya sendiri?" tanya Ken sambil menaik turunkan alisnya.
"Baik jangan di jawab aku juga tahu kamu seperti itu, tenang saja semenarik apapun dia, kamu tetaplah satu-satunya adikku!" ujar Ken menyela ucapan yang ingin Kim ucapkan.
'Dasar kakak gila!' batin Kim lalu mendengus lelah sambil berusaha mengabaikan celoteh gila yang keluar dari mulut yang sialnya adalah mulut kakaknya sendiri.
"Bisa hentikan itu? Lama-lama terdengar memuakkan di telingaku!" ujar Kim dengan kesal.
"Aha, jangan marah kamu tetap adik ter-"
"Hentikan itu! Itu menjijikan!" ujar Kim dengan raut wajah jijik yang sangat tertera di wajahnya.
"Jahat sekali walaupun begitu aku tetap men-"
"Aghhhh, sudah kubilang hentikan!" ujar Kim dengan kesal yang membuat Ken tertawa pelan.
"Aku hanya harus mengambil persediaan makanan dari pabrik makanan yang ku dirikan tidak lama ini," ujar Ken yang membuat Kim terdiam.
"Untuk para pelayan? Jadi itu alasanmu menyuruh para pelayan pergi ke sektor pusat duluan?" tanya Kim yang dibalas dengan anggukan singkat oleh Ken.
"Tidak mungkin bukan aku akan membiarkan orang dibawah ku mati kelaparan? Tapi aku tidak berbohong jika aku juga ingin bertemu dengannya," ujar Ken yang membuat Kim kembali terdiam.
"Tapi tentu saja fakta jika kau adikku yang paling aku say-"
"Yak, bukankah aku sudah mengatakan untuk menghentikan itu?! Aku tidak cemburu sama sekali!" ujar Kim dengan sedikit frustasi yang justru dibalas dengan tawa tidak berdosa dari Ken.
...| (❁❁) |...
...•...
...•...
...•...
Maaf jika ada typo yang tidak menyenangkan.
Jangan lupa Like, Vote, Komen nya ya Reader~San o(〃^▽^〃)o
__ADS_1