Survive In The Last Days : My Second Life

Survive In The Last Days : My Second Life
|(25) Latih Tanding|


__ADS_3

Warning : Karya ini hasil orisinal aku dan hanya karangan fiktif semata. Bahasa bisa saja kasar jadi dimohon untuk tidak menirukan nya.


...•...


...•...


...•...


Sebelumnya :


“Aku hanya ingin meminta kalian jangan keluar rumah apapun alasannya untuk hari ini,” ucap Zen dengan serius.


...| (❁❁) |...


“keluar rumah?” tanya Lin dengan bingung.


“Itu benar, apapun yang terjadi nanti jangan keluar rumah dan tetap berdiam diri di rumah walaupun banyak sekali teriakan yang akan terdengar nanti.” Jelas Zen dengan raut wajah serius.


“Memangnya apa yang akan terjadi?” tanya Leo dengan bingung.


“Kalian akan tahu nanti, yang jelas aku hanya berpesan untuk tidak keluar rumah dan jangan membukakan pintu untuk siapapun selain untukku nanti,” ucap Zen.


“Apa jangan-jangan kakak terikat dengan penagih hutang?” tanya Lin dengan absurd.


“Hah? Untuk apa aku terikat dengan penagih hutang?” tanya Zen dengan bingung.


“Kalau bukan karena penagih hutang, untuk apa kakak meminta kami berdiam diri di dalam rumah?” tanya Lin sambil berkedip dengan bingung.


“Huhh, aku tidak terikat dengan penagih hutang, Lin. Jadi singkirkan semua pemikiran absurd mu itu,” jelas Zen dengan datar.


“Baiklah,” ucap Lin dengan acuh.


“Kak Zen, aku tidak tahu kenapa kamu menyuruh kami untuk berdiam diri, tapi akan aku pastikan jika kami akan mematuhi ucapan mu,” jelas Leo yang di angguki oleh Lin.


Zen yang mendengar itu hanya tersenyum tipis dan tidak mengatakan apa-apa.


//Tok……Tok……


“Owh? Apa kakak memiliki tamu?” tanya Lin dengan bingung.


“Ah, sepertinya pengacara kakakku sudah sampai,” ucap Zen.


“Tapi ini baru jam setengah delapan,” ucap Leo sambil melihat jam yang berada didinding.


“Entahlah, mungkin dia hanya datang terlalu pagi saja,” balas Zen lalu berjalan untuk membukakan pintunya.


“Apa anda tuan Zen Westerlock?” tanya seseorang dengan setelan lurus dan rambut disisir rapih.


“Iya itu saya, pasti anda adalah pengacara yang diutus oleh kakak saya untuk kemari, silahkan masuk,” balas Zen dengan ramah sambil mempersilahkan pengacara itu untuk masuk.


“Terimakasih,” ucap laki-laki tersebut sambil mengeluarkan berkas dari tasnya.


“Karena saya tidak bisa menunda anda lebih lama lagi, silahkan tanda tangani dokumen transfer pemindahan wali ini,” ucapnya sambil menyerahkan sebuah dokumen kepada Zen.


“Baiklah, dan bolehkah aku bertanya kenapa anda datang lebih cepat dari waktu yang sudah dijadwalkan?” tanya Zen sambil membaca dengan cermat dokumen tersebut sebelum menandatangi dokumen tersebut.


“Ah, tuan melupakan jika anda memiliki kelas di hari sabtu, sehingga beliau memerintahkan untuk datang lebih cepat agar tidak menganggu waktu belajar anda,” jelas pengacara itu dengan senyuman ramah.


“Ahh, seperti itu,” ucap Zen sambil meringis pelan setelah mendengar alasannya.


“Apa ada yang anda butuhkan lagi, tuan pengacara?” tanya Zen setelah menyerahkan dokumen yang sudah ditandatangani olehnya.


“Ahh, apakah saya boleh memfoto kedua anak itu? Tuan ingin melihat anak yang kini menjadi tanggung jawabnya,” jelas pengacara dengan nada sopan.


“Hmm, kurasa itu tidak apa-apa. Leo, Lin kemari lah sebentar,” ucap Zen sambil menoleh kearah dapur.


“Ya? Kakak memangil kami?” tanya Leo dengan Lin yang berada dibelakangnya.


“Bisakah aku memfoto kalian untuk dikirimkan kepada kakakku?” tanya Zen sambil menatap mereka berdua.


“Uhmm, foto? Apa tidak apa-apa kakak mengambil gambar ku saat aku seperti ini? Maksudku sekarang aku terlihat sedikit berantakan,” tanya Leo dengan suara malu-malu.


“Yah, itu tidak apa-apa, lagipula tuan hanya ingin mengenal kalian berdua,” jelas pengacara itu dengan senyuman tipis.


“Hmm, baiklah kalau begitu, bagaimana denganmu Lin?” tanya Leo kepada adiknya.


“Aku juga tidak keberatan,” balas Lin dengan suara pelan.


“Baiklah kalau begitu, bisakah kalian berdua berdiri di sana dengan menampilkan senyum terbaik kalian?” tanya pengacara yang dibalas dengan anggukan tipis dari mereka berdua.

__ADS_1


“Baiklah aku akan memotret kalian berdua, bersiap … 1 … 2 … 3 ….”


“Kalian terlihat bagus di sini,” ucap pengacara itu dengan senyum puas.


“Ahh, apakah aku bisa melihatnya?” tanya Lin dengan ragu-ragu.


“Tentu saja,” ucap pengacara itu lalu mensejajarkan tingginya dengan tinggi Lin dan memperlihatkan foto yang diambilnya tadi.


“Ini cantik!” seru Lin dengan senyuman lebar.


“Kamu benar Lin, tuan apakah anda bisa mengirimkan foto itu kepada saya?” tanya Zen setelah melihat hasil fotonya.


“Tentu saja, akan saya kirimkan ke nomor ponsel anda,” jawab pengacara itu.


“Karena tugas saya sudah selesai, saya pamit undur diri terlebih dahulu. Ah, tuan juga menitipkan salam kepada anda agar anda selalu baik-baik saja disini dan jika anda mengalami masalah anda bisa memberitahukan kepada tuannya atau kepada saya,” jelas pengacara tersebut sambil memberikan kartu namanya.


“Baiklah, sekali lagi terimakasih atas bantuan anda,” balas Zen sambil mengambil kartu nama dari tangan pengacara tersebut.


“Bukan apa-apa, lagipula itu adalah tugas saya,” jelas pengacara tersebut lalu berjalan keluar dari apartemen Zen.


“Jadi apa kakak akan langsung berangkat menuju sekolah?” tanya Leo sambil menatap Zen.


“Ya, tapi sebelum itu aku harus menyimpan salinan dokumen ini dan pergi untuk bersiap-siap,” jelas Zen.


“Begitu, kalau begitu cepatlah pergi bersiap sebelum kakak telat masuk kedalam sekolah,” ucap Lin sambil mendorong-dorong tubuh Zen menuju kamarnya.


“Hahaha, baiklah aku akan pergi bersiap sekarang,” balas Zen sambil terkekeh pelan.


...----------------...


“Ingat apa yang sudah kita bicarakan tadi-“


“Untuk tidak keluar dari rumah apapun yang terjadi?” ucap Leo.


“Dan tidak membukakan pintu untuk siapapun kecuali kakak?” lanjut Lin.


“Kami mengingat semua ucapan kakak,” ucap mereka berdua dengan berbarengan.


“Huhh, baiklah kalau kalian sudah mengerti. Kalau begitu aku pergi sekolah dahulu dan jaga rumah dengan baik selama aku pergi,” ucap Zen sambil mengelus kepala mereka dengan pelan.


“Kami mengerti, kak,” balas Leo.


“Aku akan, kalau begitu aku berangkat sekarang,” ucap Zen lalu berjalan pergi.


“Hati-hati dijalan, kak!” seru Lin yang dibalas lambaian tangan oleh Zen.


“Kak, apa menurutmu kak Zen tidak bertingkah aneh?” tanya Lin sambil melihat kakaknya yang sedang mengunci pintu.


“Aku merasakan itu, tapi bukankah tidak sopan menanyakannya lebih jauh? Ditambah dia hanya mengkhawatirkan kita, kurasa itu tidak apa-apa,” jelas Leo dengan senyuman.


“Kurasa kamu benar, kak,” balas Lin dengan suara lemah.


“Ja, lebih baik kamu membantuku untuk membersihkan rumah ini sedikit, Lin,” ucap Leo yang sudah bersiap dengan sapu ditangannya.


“Baiklah!” seru Lin lalu ikut membantu kakaknya.


Begitulah keadaan dua bersaudara itu yang lebih memilih untuk membersihkan rumah di pagi yang cerah ini, lalu saatnya kita beralih kepada Zen yang sedang duduk di bangku mejanya dengan malas sambil menghela nafas yang entah sudah kesekian kalinya dilakukan olehnya.


‘Hahhh, sekarang jam 10.37 dan hanya beberapa jam lagi sebelum menuju ke jam 13.00 yang menandakan jika waktu tidur delapan jam sehari ku melambai pergi,’ batin Zen dengan dramatis.


‘Bahkan di kelas seperti ini aku tidak bisa tertidur karena guru yang biasanya tidak masuk kedalam kelasku tiba-tiba saja masuk seolah tidak memberikanku kesempatan untuk terakhir kalinya bertemu dengan nona mimpi,’ batin Zen dengan nelangsa.


‘Ditambah aku sedikit takut jika rencana yang sudah ku rencanakan akan kacau saat menghadapi Max nanti. Yah, aku hanya berharap agar semua yang sudah ku rencanakan berjalan lancar tanpa harus mengalami hambatan ataupun variabel-variabel tertentu nanti,’ lanjutnya lalu mengalihkan pandangan kearah luar jendela.


...----------------...


“Sekian pelajaran kita hari ini, silahkan lanjutkan pelajaran kalian di jam mandiri nanti, saya permisi,” ucap guru yang sedari tadi sedang dimaki Zen di dalam hatinya.


‘Akh, akhirnya dia pergi juga. Sial tubuhku terasa kaku karena harus duduk sambil mendengarkan ceramahnya itu,’ batin Zen sambil merenggangkan tangannya.


“Saaa, haruskah aku pergi ke lapangan indoor?” gumam Zen lalu melangkahkan kakinya menuju lapangan.


‘Aku sedikit khawatir dengan kedua anak itu, apa mereka akan baik-baik saja? Bagaimanapun juga mereka berdua masihlah anak kecil,’ batin ku memikirkan kedua anak kecil yang ku tinggal di rumah sambil berjalan menuju lapangan.


‘Ditambah aku sedikit khawatir dengan kak Eva, apa dia mendengarkan ucapan ku atau tidak? Kuharap dia mendengarkan ucapan ku dan selamat dari serangan para zombie nanti,’ lanjut Zen yang masih berbatin ria saat dirinya sampai di lapangan.


Dengan segara dirinya melakukan pemanasan ringan agar tubuhnya tidak kaku saat latih tanding nanti. Setelah melakukan pemanasan, diambilnya langkah ringan untuk memutari lapangan itu dengan pelan.


‘Aku hanya mempunyai waktu 30 menit sebelum para zombie itu datang di area ini. Bagaimanapun juga tempat zombie pertama itu muncul berada di dekat sini. Lebih tepatnya berada di kota A dan kawasan ku tinggal saat ini berada di kota C. Membutuhkan waktu 1 jam 30 menit untuk pergi dari kota A ke kota C.’

__ADS_1


‘Tetapi manusia yang sudah berubah menjadi zombie memiliki keistimewaan. Mereka jauh lebih kuat, lebih cepat, dan tidak memiliki rasa sakit maupun lelah. Bisa diperkirakan waktu yang dibutuhkan para zombie untuk sampai di sektor C berkisar antara 30 menit sampai satu jam.’


‘Dengan kata lain, aku harus membuat Max berada dalam jarak jangkauanku selama kira-kira 2 jam, jika dihitung dari awal kegelapan itu terjadi,’ batin Zen.


‘Lalu alasan apa yang harus ku buat agar Max bisa berada dalam jarak jangkauanku selama itu?’ batin Zen frustasi.


‘Mungkin aku bisa mengalahkannya dalam latih tanding, tetapi bagaimana caranya aku bisa menahannya selama 2 jam? Ditambah selama satu jam itu akan terjadi kegelapan total di seluruh dunia, aku tidak yakin jika Max akan berdiam diri selama kegelapan itu,’ batin Zen sambil memikirkan alasan apa yang cocok untuk menahan Max disisinya.


“Haruskah aku gunakan permintaan pemenang, langsung setelah selesai latih tanding?” gumam Zen dengan sangat pelan.


“Tidak, itu hanya akan memperumit semua rencana ku. Aish, ayolah Zen pikirkan sesuatu, gunakan otakmu itu untuk membuat alasan yang masuk akal!” ucap Zen dengan kening berkerut.


“Oh, kurasa aku yang akan datang pertama disini tapi kurasa aku salah,” seru anak laki-laki berambut biru tua itu yang berdiri di pintu lapangan.


“Max?!” pekik Zen dengan pelan.


“Apa? Apa kamu kira aku akan lupa dengan janjiku?” tanya Max sambil mengangkat satu alisnya.


“Tidak, aku hanya terkejut kamu datang secepat ini,” balas Zen yang membuat Max mengerutkan keningnya.


“Apakah menurutmu ini cepat? Tapi aku datang sesuai dengan waktu yang di sepakati. Sekarang jam 12.00 tepat,” balas Max sambil melihat jam tangannya.


“Huh? Jam 12.00?” tanya Zen lalu mengambil telepon dari sakunya untuk melihat jam.


‘Dia benar, ini sudah jam 12.00. Sial, aku terlalu fokus dengan pikiranku sampai tidak menyadari jika waktu sudah berlalu dengan cepat,’ batin Zen sambil mendengus ringan.


“Ada apa? Apa kamu ingin melarikan diri dari latih tanding ini?” tanya Max dengan senyum menjengkelkan diwajahnya.


“Tentu saja tidak, kamu kira aku akan melepaskan kesempatanku dalam seumur hidupku ini?” tanyaku dengan pelan yang masih bisa didengar olehnya.


“Baguslah kalau begitu, haruskah kita mulai latih tanding ini sekarang?” tanya Max sambil membuka kancing kemeja sekolahnya dan melepaskan kemeja itu sehingga dia hanya memakai kaos hitam di tubuhnya.


“Tidakkah kamu melakukan pemanasan terlebih dahulu?” tanyaku.


“Tidak perlu, aku baru saja bertarung dengan sekolah sebelah, kurasa badanku masih cukup panas untuk melakukan satu ataupun dua gerakan lagi,” ucapnya sambil membunyikan buku-buku jarinya.


‘Dasar orang sinting! Bagaimana bisa dia menganggap bertarung sebagai pemanasan?’ batin Zen sambil meringis pelan.


“Kurasa tidak apa-apa untuk memulai latih tanding ini sekarang,” ucapku sambil menatap datar kearah Max.


“Tapi perlu ku ingatkan lagi, latih tanding ini akan selesai jika salah satu dari kita bisa mendaratkan pukulan di tubuh pihak lawan,” ucapku untuk mengingatkannya kembali.


“Bukankah ini tidak adil untukmu? Bagaimanpun juga aku bisa mendaratkan pukulan kepadamu dalam beberapa kali serang,” balas Max dengan seringai ikoniknya.


“Bagaimana jika aku berikan keistimewaan, aku akan melepaskan mu dalam 5 pukulan. Jika kamu terkena pukulan ku yang keenam maka kamu kalah,” lanjutnya sambil menatapku dengan mata tersenyum.


‘Tidak ada salahnya untuk menerima tawarannya itu,’ batinku setelah mendengar tawarannya.


“Baiklah aku menerima penawaran mu, kuharap kamu tidak menyesal memberikanku keistimewaan tadi,” jelas ku sambil mengambil kuda-kuda bertarung.


“Heh, harusnya aku yang berharap agar kamu tidak mengecewakanku,” ucap Max sambil membuat kuda-kuda khas miliknya.


‘Kuda-kuda itu … sial dia serius dalam latih tanding ini? Bukankah ini hanya latih tanding biasa? Kenapa dia harus sampai mengeluarkan kuda-kuda itu?!’ batin Zen yang langsung berteriak frustasi saat melihat kuda-kuda milik Max.


Muay Thai adalah seni bela diri yang di asah oleh Max dan sekarang dia berdiri di hadapanku dengan kuda-kuda istimewa miliknya, kuda-kuda southpaw.


Kuda-kuda dengan ciri khas kaki kiri yang berada di depan yang disusul dengan kaki kanan dibelakangnya.


Perlu kalian ketahui, Max lebih sering mengunakan kuda-kuda ortodoks dibandingkan dengan kuda-kuda southpaw.


Jika dia mengeluarkan kuda-kuda itu sejak awal, itu tandanya dia serius dalam menangapi pertarungan ini. Max adalah orang yang dominan mengunakan tangan dan kaki sebelah kiri dibandingkan dengan tangan dan kaki sebelah kananya.


Walaupun begitu tidak menutup kemungkinan jika dia handal dalam mengunakan kedua tangan dan kakinya itu. Hanya saja mengapa Max bersikap serius untuk menghadapi diriku yang hanya butiran debu baginya?!


Bahkan saat dia menghadapi zombie tingkat ke tiga dia tidak pernah mengunakan kuda-kuda ini.


Apa dia benar-benar ingin membuatku kalah?!


...| (❁❁) |...


...•...


...•...


...•...


Maaf jika ada typo yang tidak menyenangkan.


Jangan lupa Like, Vote, Komen nya ya Reader~San o(〃^▽^〃)o

__ADS_1


Instagram : lmnr_vv


__ADS_2