
Warning : Karya ini hasil orisinal aku dan hanya karangan fiktif semata. Bahasa bisa saja kasar jadi dimohon untuk tidak menirukan nya.
...•...
...•...
...•...
Sebelumnya :
‘Kiamat? Apa benar dunia mengalam kiamat sekarang?’ batin Eva dengan termenung di tempat disertai tangan yang semakin mendingin karena gugup.
...| (❁❁) |...
“Hei, Ken. Tidak bisakah kamu menghentikan mulutmu itu?” tanya Kim dengan kening yang berkerut kesal.
“Aku akan menghentikan mulutku jika kamu berhenti memanggilku dengan nama secara langsung! Tidakkah kamu sadar jika aku adalah kakakmu?” tanya Ken yang dibalas dengan dengusan pelan oleh Kim.
“Kamu dan aku hanya berbeda 10 menit! Untuk apa aku memanggilmu kakak?” tanya Kim.
“Tentu saja karena aku lebih tua darimu 10 menit, Kim!” jelas Ken dengan geram.
“Yak, tapi hanya berbeda 10 menit!” seru Kim dengan tidak terima.
“Ekhm, tuan muda. Makan siang sudah disiapkan oleh para pelayan, silahkan pergi keruang makan untuk memakan makan siang kalian,” ucap Jin yang memotong perkelahian tidak berguna mereka berdua.
“Ah, baiklah Jin, nikmati juga waktu makan siang mu,” ucap Ken yang di angguki oleh Kim.
“Tentu tuan muda, nikmati waktu makan siang kalian juga,” ucap Jin lalu memberikan hormat dan berjalan pergi.
Di meja makan mewah dengan berbagai pernak pernik kristal terdengar suara dentingan sendok dan garpu yang dilapisi oleh emas asli. Kedua pemuda yang duduk di atas meja makan itu menampilkan ekspresi acuh saat menikmati hidangan mewah yang berada didepannya.
“Kim,” panggil Ken sambil mengelap sudut bibirnya mengunakan serbet.
“Ada apa?” tanya Kim lalu menolehkan pandanganya kearah Ken.
“Aku harus pergi ke luar negeri selama-“
“Tidak akan!” tolak Kim dengan mentah tanpa mendengarkan semua penjelasan Ken.
“Ck, dengarkan aku dulu!”
“Itu tidak diperlukan, apapun yang ingin kamu katakan, aku menolaknya dengan keras!” ucap Kim yang membuat tangan milik Ken terkepal erat untuk memukul wajah acuh adiknya.
“Aku akan pergi keluar negeri selama 1 minggu, jadi tolong kerja samanya untuk mengelola kerajaan bisnisku selama aku tidak ada di sini,” ucap Ken dalam satu tarikan nafas agar Kim tidak memiliki kesempatan untuk memotong ucapannya.
Kim yang mendengar itu semua menggerutu kesal dengan ekspresi tidak suka.
“Aku tidak mau!” tolaknya dengan keras dan tetap pada pendiriannya.
“Oh, ayolah. Aku memohon padamu hanya untuk kali ini saja!” balas Ken dengan tatapan memelas.
“Hentikan ekspresi menjijikan mu itu! Bahkan jika kamu memohon kepadaku, aku tetap tidak akan mengawasi kerajaan bisnismu itu!”
“Tidak bisakah kamu membantu kakakmu ini? Lagipula uang yang dihasilkan oleh kerajaan bisnisku juga untuk mendukungmu,” balas Ken.
“Aku bisa mendapatkan uang dengan caraku sendiri,” ucap Kim yang di balas dengan dengusan kasar oleh Ken.
“Dengan apa? Membunuh?” tanya Ken dengan tatapan mata malas.
“Aku tidak membunuh! Yang membunuh adalah anak buah ku! Aku menghasilkan uang dengan memberikan informasi kepada para tua bangka itu, bukannya dengan cara membunuh!” jelas Kim dengan menggebu-gebu.
“Lepaskan saja organisasi dunia bawah mu itu, Kim.”
“Tidak bisa!”
“Kamu sudah membalaskan dendam orang tua kita! Untuk apa lagi kamu mempertaruhkan nyawamu di dalam organisasi berbahaya itu?!” balas Ken dengan kesal.
“Tentu saja untukmu! Kamu memiliki banyak musuh karena mewarisi perusahaan terkutuk itu! Aku tidak ingin kamu seperti ibu dan ayah,” ucap Kim yang diakhiri oleh suara pelan.
Ken yang mendengar itu termenung di tempat lalu menatap adiknya yang sedang tertunduk diam.
“Huuh, lupakan saja itu. Aku akan menghandle nya sendiri,” ucap Ken dengan pelan sambil terus menatap wajah Kim.
“Tidak usah, aku akan menghandle nya. Tapi jangan salahkan aku jika kamu kehilangan uangmu itu,” ucap Kim lalu melanjutkan makannya seolah tidak ada yang terjadi.
“Yak! Kim Aenas! Jangan menghancurkan kerajaan bisnisku!” seru Ken yang tidak dihiraukan oleh Kim.
//Cklak…………
“Uh? Kenapa lampu tiba-tiba saja padam seperti ini?” tanya Ken dengan bingung.
Kim yang menyadari lampu padam segera beranjak dari duduknya dan mendekat kearah Ken seolah untuk melindunginya.
‘Apa ada musuh yang menyerang rumah kami?' batin Kim dengan bertanya-tanya sekaligus menajamkan Indra pendengarannya.
“Jangan terlalu tegang seperti itu Kim. Aku yakin seratus persen jika tidak ada orang yang bisa menembus keamanan rumah kita,” ucap Ken dengan datar yang dibalas dengan anggukan pelan oleh Kim walaupun dirinya belum menurunkan rasa pengawasannya sama sekali.
“Tuan muda! Apa kalian baik-baik saja?” tanya Jin saat membuka pintu ruang makan dengan keras.
“Yah, kami baik-baik saja Jin. Jangan terlalu khawatir. Lagipula ada Kim di sisiku,” ucap Ken yang membuat Jin menghela nafas lega.
__ADS_1
“Sebenarnya apa yang terjadi di sini, Jin?” tanya Kim lalu mengendurkan pengawasannya karena ada Jin di sisinya.
“Saya juga tidak tahu. Tapi jika memang tidak ada musuh di sini berarti ini bukan serangan oleh musuh. Mungkin saja terjadi pemadaman listrik, tuan muda,” jelas Jin yang mendapatkan kerutan samar oleh Ken.
“Pemadaman listrik? Tapi bagaimana mungkin?” gumam Ken dengan bingung.
“Maaf menganggu waktu kalian, tuan besar, tuan muda, dan kepala pelayan. Tapi sesuatu terjadi dengan saklar listriknya,” jelas pelayan wanita itu dengan pelan.
“Memangnya apa yang terjadi dengan saklar listriknya?” tanya Kim.
“Saya juga tidak tahu tuan muda, tetapi saklar listrik itu tidak dapat dihidupkan. Ditambah terjadi fenomena aneh di luar,” lanjutnya sambil berbicara dengan ragu-ragu.
“Apa yang terjadi diluar?” tanya Ken.
“Saya rasa, lebih baik anda melihatnya secara langsung, tuan besar,” balas pelayan Wanita itu yang di angguki oleh Ken.
“Oh. Apa yang terjadi?” gumam Kim sambil menatap tidak percaya kearah langit yang gelap gulita di atasnya.
‘Sekarang jam makan siang, seharusnya matahari bersinar dengan terang bukannya berwarna gelap seperti itu, apa terjadi fenomena alam yang mengancam bumi?' batin Ken dengan menerka-nerka.
“Kak, apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Kim sambil memegang tangan milik Ken dengan erat.
“Lebih baik kita diam saja di dalam dan menunggu berita pasti dari pemerintah,” jelas Ken yang di angguki oleh Kim.
‘Yah, apapun yang terjadi terhadap bumi, aku harus memastikan jika adikku baik-baik saja, Bahkan jika bumi mengalami kiamat, aku harus memastikan adikku tetap baik-baik saja,’ batin Ken lalu mengeratkan genggaman tangannya dengan tangan Kim.
...----------------...
“Maaf menganggu waktu kalian berdua, tapi aku memiliki sesuatu yang harus diserahkan kepada Fin,” ucap seorang wanita dengan iris mata berwarna hijau berlian dengan senyuman lembut terpatri diwajahnya.
“Ah, Mia. Apa perlu aku memberikan waktu untuk kalian berbicara 4 mata?” tanya Neo dengan senyuman geli diwajahnya.
“Te-tentu saja itu tidak perlu! Lagipula aku hanya harus memberikan berkas pengajaran milik professor kepadanya,” jelas Mia dengan terbata-bata.
“Hahaha, aku hanya bergurau Mia. Kenapa kamu memasukkannya kedalam hati seperti itu?” tanya Neo dengan tawa yang lepas dari bibirnya.
“Hentikan itu Neo, kamu bisa saja membuatnya kesal,” ucap Fin menengahi mereka berdua.
“Huh! Sudahlah, dan ini berkas pengajarannya. Kalau begitu aku pergi dulu,” ucap Mia dengan kesal.
“Tidakkah kamu ingin ikut makan bersama kita ke kafetaria?” tanya Fin setelah memeriksa berkas pengajaran yang diberikan oleh Mia.
“Tidak perlu, aku masih harus menyelesaikan essai ku dan essai itu harus dikumpulkan hari ini,” ucap Mia menolak dengan halus.
“Baiklah kalau begitu, terimakasih karena sudah meluangkan waktumu untuk memberikan berkas pengajaran ini,” balas Fin dengan senyuman tipis.
“Itu bukan apa-apa,” jelas Mia dengan senyum ramah.
“Kalau begitu aku pergi dahulu. Sampai jumpa lain kali, Fin, Neo,” ucap Mia lalu melambaikan tangannya dan berjalan pergi.
“Hubungan? Memangnya aku memiliki hubungan apa dengannya?” tanya Fin sambil membantah ucapan Neo.
“Ck, sampai kapan kamu akan menghindarinya? Lagipula hampir satu universitas mengetahuinya,” jelas Neo dan sedikit kesal dengan sifat temannya yang tidak peka itu.
“Bukankah kamu tahu sendiri jika universitas melarang keras siswanya untuk berpacaran?” tanya Fin dengan kesal.
“Tapi itu tidak akan berlaku untukmu dan Mia! Bukankah sudah kukatakan jika hubungan kalian sudah menyebar satu universitas? Bahkan para professor disini sudah mengetahuinya,” jelas Neo yang membuat Fin membulatkan matanya tidak percaya.
“Benarkah itu?” tanya Fin dengan ragu.
“Tentu saja! Apa kamu tidak percaya kepada temanmu ini?” tanya Neo dengan jengah.
“Lalu kenapa aku tidak mendapat surat teguran dari professor?” tanya Fin dengan bingung yang membuat Neo menepuk jidatnya pelan.
“Tentu saja karena para professor menutup sebelah mata tentang kisah cintamu dengan Mia! Lagipula kamu dan Mia sama-sama siswa yang berprestasi dan seekor monster. Mungkin para professor akan berteriak senang saat kamu sudah mengkonfirmasi hubunganmu dengannya,” jelas Neo dengan amat sangat geram.
“Jangan menyebut dirinya monster, lagipula dia hanya terlalu pintar,” balas Fin membela Mia.
“Hahaha, terlalu pintar? Apa mengetahui 17 bahasa di umurnya sekarang kamu sebut terlalu pintar? Oh, jangan lupakan jika salah satu bahasa yang dipelajarinya itu adalah bahasa kuno yang sudah menghilang sekitar 5.000 tahun lalu? Jika bukan seekor monster lalu apa?” ucap Neo yang diakhiri dengan dengusan pelan.
“Dia hanya terlalu pintar saja oke? Lagipula dia memang menyukai bahasa kuno itu,” balas Fin yang membuat Neo menghela nafas lelah.
“Sudahlah, hentikan saja percakapan ini atau aku akan benar-benar kelepasan memukul kepalamu itu,” ucap Neo dengan lelah.
“Kadang aku berpikir jika tuhan itu adil sehingga menciptakan dirimu dengan semua kelebihan dan meminuskan rasa peka mu itu,” gumam Neo dengan pelan.
“Apa kamu mengatakan sesuatu?” tanya Fin saat mendengar gumaman Neo.
“Tidak, mungkin saja itu hanya perasaanmu,” ucap Neo yang membuat Fin kembali fokus dengan berkas ditangannya.
Dengan bosan Neo mengalihkan pandangannya kearah luar jendela kelas dan menatap pemandangan diluar dengan ekspresi monoton. Saat sedang asyiknya melihat pemandangan tiba-tiba saja netra matanya menangkap langit yang berubah warna menjadi hitam secara perlahan.
‘Apa itu?’ batin Neo sambil terus melihat warna hitam yang terdapat di langit itu yang kini hampir memenuhi seluruh langit.
“Fin, lihatlah keluar!” seru Neo yang segera membuat Fin menoleh keluar.
“Huh, ada apa dengan langit? Apa sedang terjadi fenomena gerhana matahari?” tanya Fin dengan bingung,
‘Tapi itu tidak mungkin, mengingat jika para professor disinilah yang selalu mengawasi fenomena luar angkasa. Jika memang bumi akan mengalami gerhana matahari, para professor pasti sudah menginformasikan kepada kami ataupun media masa,’ jelas Fin dengan kening berkerut.
“Neo, lebih baik segera pergi ke professor untuk menanyakan fenomena ini lebih lanjut,” ucap Fin yang dibalas dengan anggukan oleh Neo dan dengan segera mereka berdua pergi menuju ruangan professor.
__ADS_1
...----------------...
Di tengah kelas dengan cat tembok berwarna putih, terdapat seorang mahasiswa yang sedang menulis sebuah essai dengan campuran 2 bahasa.
Tangan putihnya dengan lincah ia gerakkan untuk menuliskan sebuah kata dengan pulpen berwarna hitam yang kontras dengan tangan pucat miliknya.
Seolah dirinya terhanyut dalam keadaan sunyi dan bunyi coretan kertas yang dilakukan tangannya, Wanita itu sama sekali tidak menyadari perubahan di luar jendela ruangan kelas bahkan dia tidak menyadari jika lampu ruangan kelasnya mati secara tiba-tiba.
Saking hanyutnya dirinya tersentak kecil hanya saat merasakan pintu kelas dibuka dengan suara keras dan menampilkan seorang wanita yang seumuran dengannya.
“Kenapa kamu membuka pintu kelas dengan keras seperti itu?” tanya wanita bernetra hijau berlian itu dengan lembut.
“Mia! Apa kamu tidak melihat keluar jendela kelas? Bagaimana bisa kamu masih menulis ditengah ruangan gelap ini?” tanya perempuan itu dengan heran.
“Huhh? Ruangan gelap?” gumamnya lalu menatap keatas tempat lampu berada yang tidak menyala.
“Dasar kamu ini! Tapi itu semua tidak penting! Lihatlah keluar!” seru temannya itu yang membuat Mia menoleh kearah luar.
“Apa? Kenapa langit menjadi gelap seperti itu?!” tanya Mia dengan tidak percaya.
“Aku juga tidak tahu, sekarang semua mahasiswa sedang ricuh di lantai dasar. Kami membutuhkanmu untuk menenangkan mereka, sekertaris mahasiswa,” balasnya yang membuat Mia mengerutkan keningnya.
“Dimana Fin dan Neo?”
“Mereka semua berada di ruangan professor. Cepatlah sebelum para mahasiswa dibawah sana menjadi panik!” serunya lagi yang membuat Mia bangun dengan segera untuk pergi menuju lapangan.
‘Kuharap ini semua adalah fenomena alam yang biasa dan akan kembali seperti semula dalam waktu dekat,’ batin Mia sambil berdoa dengan sungguh-sungguh.
...----------------...
“Kakak, jam berapa sekarang?” tanya Lin kepada Leo yang membuat Leo kembali menghela nafas dengan Lelah.
“Jam 12.58 dan berhentilah untuk menanyakan jam kembali Lin! Kamu baru saja bertanya 10 menit yang lalu,” balas Leo yang membuat Lin cemberut.
“Entahlah kak, aku merasakan jika sesuatu yang buruk akan terjadi. Kapan kak Zen akan kembali?” tanya Lin dengan lemah.
“Hufft, dia akan kembali 3 jam lagi Lin. Aku tahu kamu khawatir dengannya tapi aku yakin kak Zen pasti bisa menjaga dirinya sendiri,” jelas Leo sambil mengelus rambut Lin dengan pelan.
“Kuharap juga begitu,” gumam Lin dengan pelan saat merasakan jantungnya yang semakin berdebar kencang tanpa alasan.
//Cklakkk…………
“Huh? Kenapa lampu tiba-tiba saja mati seperti ini?” tanya Leo dengan bingung.
“Kakak, aku takut!” ucap Lin dengan pelan sambil menggenggam tangan Leo dengan erat.
“Tenanglah ada aku disini, lebih baik kita pergi mengecek saklar rumah, siapa tahu jika ada masalah dengan saklar listriknya,” ucap Leo sambil menenangkan Lin dalam pelukannya.
“Baiklah,” balas Lin dengan lemah lalu mulai beranjak menuju tempat saklar berada.
“Ck, kenapa lampunya tetap tidak menyala?” tanya Leo setelah mengotak-atik saklar rumah tersebut.
“Ka-kakak!” pekik Lin dengan tiba-tiba.
“Huh? Ada apa Lin?!” tanya Leo dengan panik.
“Kakak, lihatlah di luar jendela!” jelas Lin sambil menunjuk kearah Luar jendela.
Dengan segera ia melirik dan menarik singkat gorden yang menutupi jendelanya.
“Apa yang terjadi?” tanya Leo dengan tidak percaya saat menyaksikan seluruh langit sudah berubah menjadi gelap gulita.
“Kak! Bahkan telepon rumah tidak bekerja!” seru Lin saat mencoba untuk menelpon Zen.
‘Sebenarnya apa yang terjadi?’ batin Leo dengan bingung sekaligus takut.
“Kakak, aku takut,” bisik Lin dengan pelan yang membuat Leo tersadar dari rasa takutnya dan bergegas memeluk Lin.
“Tenanglah ada aku di sisimu, Lin. Lebih baik kita mencari senter agar bisa membantu memberikan sedikit pencahayaan,” jelas Leo yang di angguki oleh Lin.
‘Kamu tidak boleh kehilangan fokus mu Leo, bagaimanapun juga kamu masih harus menjaga Lin di sisimu. Tanggapi ini semua dengan tenang dan selalu memprioritaskan keselamatan Lin,’ batin Leo dengan mata penuh tekad.
“Lin, tunggu sebentar disini dan jangan kemana-mana, aku akan segera kembali,” jelas Leo yang dibalas anggukan kecil oleh Lin.
‘Pertama tama aku harus mengunci pintu depan dan jendela! Aku harus memastikan jika tidak ada akses untuk masuk kedalam!’ batin Leo sambil mengunci jendela dan narik gorden untuk menutupinya.
‘Kuharap kak Zen baik-baik saja saat menghadapi fenomena aneh ini,’ batin Leo sambil menatap gorden yang sudah menutupi jendela tersebut.
...| (❁❁) |...
...•...
...•...
...•...
Noted :
Sekretaris mahasiswa di beberapa hari pertama masuk? Haha, tentu saja. Kenapa aku bisa mengatakan itu? Karena sistem universitas mereka sangat ketat. Untuk mahasiswa yang berada di semester dua dan seterusnya mereka diwajibkan untuk berfokus kepada pelajaran mereka. Jadi yang memegang jawaban ketua mahasiswa wakil serta sekertaris adalah mahasiswa semester satu atau bisa dibilang adalah mahasiswa baru.
Maaf jika ada typo yang tidak menyenangkan.
__ADS_1
Jangan lupa Like, Vote, Komen nya ya Reader~San o(〃^▽^〃)o
Instagram : lmnr_vv