Survive In The Last Days : My Second Life

Survive In The Last Days : My Second Life
|(60) Pembicaraan|


__ADS_3

Warning : Karya ini hasil orisinal aku dan hanya karangan fiktif semata. Bahasa bisa saja kasar jadi dimohon untuk tidak menirukan nya.


...•...


...•...


...•...


Sebelumnya :


"Apa dia biasanya seperti itu?" tanya Ken dengan tidak yakin kepada Max.


"Hah, kau akan terbiasa jika berada dengannya selama satu hari," jawab Max dengan ramah yang sepertinya mulai melupakan pertengkaran mereka sebelumnya.


...| (❁❁) |...


Pagi hari dengan sinar matahari yang baru saja menunjukkan cahayanya. Seorang pemuda yang sedang bergelung dengan selimut miliknya harus membuka matanya saat merasakan cahaya matahari yang menyinari tenda miliknya.


Dengan rambut berantakan khas bangun tidur laki-laki tersebut, Zen mendudukkan dirinya dengan pelan sambil melakukan peregangan ringan dengan senyuman manis di wajahnya.


'Akhirnya tidur delapan jam yang selalu kuinginkan terkabul!' batin Zen dengan tangisan imajiner di dalam batinnya.


Dengan malas, matanya melirik kearah kantung tidur yang terletak di sampingnya yang sudah terlipat rapih tempat Max tidur sebelumnya.


"Dia sudah bangun? Memangnya jam berapa sekarang?" gumam Zen dengan pelan sambil melihat keberadaan ponsel miliknya.


"Jam delapan lewat lima belas, yah tidak terlalu pagi ataupun siang," ujar Zen lalu menyibak selimut yang digunakannya dan bangun lalu berjalan keluar untuk melihat-lihat.


"Kak Zen! Selamat pagi!" seru Lin tiba-tiba sesaat setelah Zen keluar dari tenda miliknya.


"Pagi kak Zen!" sapa Leo dengan pelan tak lupa senyum ceria miliknya.


"Yo, akhirnya bangun juga, eh?" tanya Max sambil memegang cup mie instan di tangannya.


"Oh, kalian lagi sarapan?" tanya Max saat melihat tangan masing-masing dari mereka yang memegang cup mie instan.


"Iya! Apa kak Zen mau? Kami sudah memasakkan satu untuk kakak," ujar Lin sambil menunjuk kearah mie instan yang belum tersentuh.


"Terimakasih," ujar Zen dengan pelan lalu ikut bergabung dengan mereka sambil memakan mie instan yang sudah dibuatkan untuknya.


"Omong-omong Max, kemana perginya mereka?" tanya Zen dengan pelan.


"Mereka? Maksudmu Ken dan pelayannya itu?" tanya Max yang dibalas dengan anggukan pelan oleh Zen.


"Mereka berada di helikopter, mungkin sebentar lagi mereka akan kesini," ujar Max sambil menunjuk kearah helikopter yang masih berada di landasan helikopter tersebut.


"Memangnya kak Zen ingin berbicara dengan mereka?" tanya Leo yang diikuti tatapan bingung oleh Lin.


"Iya, lagipula aku sudah berjanji bukan?" jawab Zen.


"Dia Ken Aenass, ketua dari Aenass Company, apa kamu yakin bisa berbicara dengannya?" tanya Max.


"Memangnya kenapa? Lagipula perusahaannya sudah tidak berlaku lagi di dunia yang kiamat ini," ujar Zen dengan santai.


"Aku hanya takut dia memanfaatkan kita untuk keuntungannya," jelas Max.


"Kalau dia bisa, kenapa kita tidak bisa? Kita juga bisa memanfaatkannya untuk keuntungan kita," ujar Zen yang membuat Max menatapnya dengan bingung.


"Apa yang ingin kamu ambil darinya?" tanya Max yang membuat Zen tersenyum dengan cara yang aneh di sana.


"Tentu saja uangnya!"


...----------------...


"Kamu bangun?" tanya Kim dengan pelan sesaat setelah Ken membuka matanya.

__ADS_1


"Yah, jam berapa sekarang?" tanya Ken yang dibalas dengan gumaman pelan oleh Kim.


"Jam sembilan lewat dua puluh tiga," ujar Kim dengan pelan.


"Apa kamu sudah sarapan?" tanya Ken setelah meregangkan tubuhnya yang terasa kaku.


"Jin sedang membuat makanan dari bahan sisa yang berada di kantin rumah sakit, kurasa sebentar lagi dia akan selesai," ujar Kim yang dibalas dengan anggukan pelan oleh Ken.


"Mereka, sejak kapan sudah berkumpul di sana?' tanya Ken sambil menunjuk kearah Zen dan yang lainnya.


"Kurasa sudah satu jam yang lalu? Entahlah, aku tidak bertanya kepada Jin sebelumnya," jelas Kim.


Dengan gerakan santai, Ken mengambil kacamata bingkai emas yang tadi dilepasnya dan memakainya lalu merapihkan penampilannya sebelum membuka pintu helikopter dengan pelan.


"Ingin menemui mereka?" tanya Kim yang dibalas anggukan pelan oleh Ken.


"Ingin ikut?" tanya Ken yang dibalas anggukan tanpa ragu dari Kim.


"Tentu saja, aku tidak ingin mati kebosanan di dalam helikopter ini," ujar Kim lalu ikut keluar bersama kakaknya.


...----------------...


"Jadi itu yang ingin kamu lakukan? Kurasa kamu bisa mengutarakannya sekarang," ujar Max dengan santai saat melihat orang yang sedang mereka bicarakan berjalan mendekat kearah mereka.


"Yoo, apa tidur kalian nyenyak?" tanya Ken dengan senyuman secerah matahari pagi ini.


"Apa kita akrab sehingga bisa menanyakan hal sepele seperti itu?" tanya Max dengan sinis.


"Kukira kita sudah semakin akrab setelah perbincangan semalam," ujar Ken dengan pelan lalu duduk di samping ruang kosong dari lingkaran yang sedang mereka buat.


"Kim, duduklah di sampingku," ujar Ken sambil menepuk tempat kosong yang berada di sampingnya.


Kim yang melihat itu hanya menuruti perintah kakaknya dan duduk di sana sambil menerima tatapan penasaran dari keempat orang di hadapannya.


"Max Foester? Sepertinya kalian berdua satu sekolah," ucap Kim dengan pelan yang mendapatkan kerutan kening dari Max.


"Bagaimana kamu tahu?" tanya Max dengan waspada.


"Hal yang mudah untukku, itu termasuk informasi di luar kepala," ujar Kim memberikan jawaban abstrak kepada Max.


"Bagaimana jika kita mulai pembicaraan kita yang sempat tertunda semalam?" tanya Ken mengalihkan pembicaraan mereka yang membuat Zen tersentak pelan dari lamunannya.


"Tentu saja, tapi ketentuan yang semalam tidak berubah, kita akan berbicara secara terus terang seperti ini," ujar Zen dengan senyuman di wajahnya.


'Kenapa wajah itu sangat familiar? Seperti aku pernah melihatnya sebelumnya,' batin Zen sambil melirik pelan kearah wajah Kim yang tidak asing di pikirannya.


"Tentu saja, jadi bisakah kita mulai dengan perkenalan terlebih dahulu?" tanya Ken.


"Namaku Ken Aenass dan yang berada di sampingku adalah adik kembar ku, Kim Aenass," jelas Ken yang menadapat seruan pelan dari Lin.


"Ah, kalian berdua kembar?" tanya Lin dengan tidak percaya.


"Iya, kami kembar tidak seiras, umur kita delapan belas tahun," timpal Kim dengan pelan.


"Kalau begitu kenalkan! Namaku Lin Rodriguez, umurku saat ini adalah tujuh tahun, salam kenal kak Ken dan kak Kim," ujar Lin dengan penuh semangat, sepertinya dia sudah melupakan kejadian tidak mengenakan semalam.


"Aku Leo Rodriguez, kakak Lin. Umurku tiga belas tahun, salam kenal," ujar Leo dengan pelan yang dibalas dengan anggukan dari Kim dan senyuman tipis dari Ken.


"Kurasa kalian sudah tahu namaku tapi untuk penjelasan singkat, namaku Max Foester umurku delapan belas," ujar Max dengan tidak niat.


"Namaku Zen Westerlock, umurku saat ini tujuh belas tahun," ujar Zen sambil menjulurkan tangannya kearah Ken untuk berjabat tangan.


"Salam kenal, Zen," balas Ken dengan bermurah hati menerima jabat tangannya.


"Jadi, bisakah kalian langsung mengutarakan keinginan kalian itu?" tanya Zen yang membuat senyum Ken semakin lebar.

__ADS_1


"Sebelumnya bisakah aku mengutarakan asumsi ku?" tanya Ken yang membuat Zen mengerutkan keningnya tetapi tetap mengangguk sebagai tanda setuju.


"Kamu pernah mengatakan sesuatu kepadaku bukan?" tanya Ken yang membuat Zen mengerutkan keningnya sambil berpikir dengan cepat mencari alasan yang sesuai untuk jawaban tersebut.


"Iya, mengenai bisnis bukan? Lalu kenapa?" tanya Zen dengan santai walaupun di dalam hatinya sedang berdoa jika Ken tidak menganalisis ke kemungkinan terburuk yang dimiliki di dalam pikirannya.


"Kamu mengatakan jika bisnis makanan akan sangat menguntungkan bagiku bukan? Apa kamu sudah memprediksi jika kiamat seperti ini akan terjadi?" tanya Ken langsung ke pointnya yang membuat Zen sedikit kikuk.


'Dia menebaknya?!' batin Zen dengan panik.


Belum sempat Zen menjawab, Ken kembali berbicara yang membuat Zen sedikit menghela nafas karena pemikiran terburuknya tidak terjadi.


"Tapi tidak mungkin jika kamu bisa mengetahui dunia yang akan mengalami kiamat. Lagipula pertama kali hal ini terjadi di kota A, jadi sudah pasti kamu tidak mengetahuinya." ujar Ken yang membuat Zen tersenyum tipis.


"Tentu saja aku tidak mengetahui ini, lagipula apa kemampuan yang aku miliki sehingga bisa memprediksi semua ini?" tanya Zen yang membuat Ken mengerutkan keningnya.


"Mungkin kamu tidak bisa, tapi kakakmu bisa," ujar Ken yang membuat Zen mengerutkan keningnya.


"Apa aku salah? Bukan hal mustahil jika masa depan cerdas negara kita bisa memprediksi ini, bukan begitu, tuan Westerlock?" tanya Ken dengan senyuman puas di wajahnya.


'Kakak? Jadi dia mengasumsikan jika kakak lah yang memberitahuku mengenai akhir dunia ini dan dengan secara sengaja membocorkannya kepada dia mengenai clue bisnis itu?' batin Zen menyimpulkan semuanya secara singkat.


'Kalau begitu tidak ada salahnya meminjam nama kakak dan melanjutkan permainannya,' batin Zen lalu memasang wajah terkejut andalannya.


"Darimana kamu tahu mengenai kakakku?" tanya Zen dengan ragu-ragu.


Max yang berada di sampingnya hanya bisa mengerutkan kening singkat sebelum dengan cepat merubah ekspresi wajahnya dengan cepat.


'Dia bermain? Kurasa dia tidak ingin terlalu membawa mereka masuk kedalam,' batin Max lalu diam sambil terus memperhatikan percakapan yang dibicarakan oleh kedua orang itu.


"Bukan hal yang susah untuk mengetahui itu, lagipula laki-laki di sampingku memiliki semua informasi yang aku butuhkan," ujar Ken dengan pelan.


'Kenapa aku merasa ada hal yang menjanggal di sini?' batin Ken tapi tetap melanjutkan percakapannya.


"Lalu apa yang ingin kau lakukan jika semua itu benar?" tanya Zen dengan santai seolah bukan dirinyalah yang memasang wajah penuh ragu-ragu tadi.


"Tentu saja mengambil semua informasi yang kamu ketahui dari kakakmu itu," ujar Ken tidak kalah santainya.


"Tapi aku tidak akan mendapatkan apapun di sini," ujar Zen yang membuat kening Ken sedikit berkerut.


"Lalu apa mau mu?" tanya Ken yang membuat Zen diam-diam menarik sudut bibirnya sebelum menetralkan kembali ekspresi wajahnya.


"Aku ingin menyuruhmu untuk menjalankan bisnis yang sedang ku pikirkan saat ini," ujar Zen yang membuat Ken menatapnya dengan bingung.


"Bisnis? Memangnya ada bisnis yang bisa dilakukan di saat ini? Kurasa kamu tidak bermaksud mengenai bisnis makanan kembali, bukan?" tanya Ken yang memuat Zen menatapnya dengan mata yang tersenyum.


"Tentu saja bukan, bisnis ini lebih menguntungkan dari bisnis makanan," jelas Zen yang membuat Ken menatapnya dengan geli tapi tidak menyembunyikan senyum yang terangkat dari bibirnya.


"Kalau begitu katakanlah ide mu dan aku akan memikirkannya, jika itu adalah bisnis yang menguntungkan, kurasa aku akan mulai mendiskusikan pembagian keuntungannya denganmu," jelas Ken yang membuat Zen semakin tersenyum lebar.


"Inilah kenapa aku menyukai berbisnis dengan orang pintar," jelas Zen dengan pelan lalu mulai mengutarakan pemikiran mengenai bisnisnya kepada Ken.


...| (❁❁) |...


...•...


...•...


...•...


Maaf jika ada typo yang tidak menyenangkan.


Jangan lupa Like, Vote, Komen nya ya Reader~San o(〃^▽^〃)o


Instagram : lmnr_vv

__ADS_1


__ADS_2