
Warning : Karya ini hasil orisinal aku dan hanya karangan fiktif semata. Bahasa bisa saja kasar jadi dimohon untuk tidak menirukan nya.
...•...
...•...
...•...
Sebelumnya :
‘Fuhhh, haruskah aku memberitahu Max? Jika aku ingin dia berada di pihak ku selamanya, maka aku harus memberitahunya. Tapi bagaimana cara memberitahunya tanpa membuat dia mengkhianati ku?’ batin Zen dengan bertanya-tanya.
...| (❁❁) |...
"KIta sudah sampai di pom bensin terdekat, tapi sepertinya ada beberapa rintangan untuk mendapatkan bensin itu," ucap Max memberhentikan mobilnya tepat di pom bensin.
"Bagaimana caranya kita keluar jika banyak sekali zombie di sini?" tanya Leo sambil melihat kearah zombie yang berada di sekitar pom bensin.
"Kalau begitu, kita berdua yang akan turun untuk mengambil bensin itu dan menaruhnya di dalam botol besar yang sudah ku persiapkan sebelumnya," jelas Zen yang membuat Leo menatap Zen dengan tidak setuju.
"Lalu bagaimana dengan kami?" tanya Leo yang di angguki oleh LIn.
"Kalian lebih ba-"
"Bagaimana jika kamu menembaki para zombie itu menggunakan pistol yang baru saja kamu dapatkan itu dari dalam mobil? Hitung-hitung sebagai latihan," ucap Max memotong pembicaraan Zen.
"Tapi bagaimana jika aku salah sasaran?" tanya Leo dengan kurang percaya diri.
"Bukankah aku mengatakan jika ini sebagai latihan?"
"Bagaimana dengan pendahuluan dariku sebelum mencobanya? Lagipula menembak itu cukup mudah, kamu akan bisa dengan dua kali tembakan sebagai latihan," jelas Max yang membuat Leo mengangguk dengan semangat.
"Max, aku bahkan belum mengijinkan mereka-"
"Bukankah kamu memberikan pistol itu untuk mereka gunakan? Kamu tidak bisa melindungi mereka selalu, Zen," jelas Max.
"Bukankah ada kamu yang akan melindungi mereka?" tanya Zen yang dibalas dengan gelengan pelan oleh Max.
"Tugasku adalah untuk menjadi tameng, pedang, sekaligus otak untukmu, bukan mereka," jelas Max yang membuat Zen terdiam.
"Aku tahu kekhawatiran mu, hanya saja itu semua tidak terlalu berlaku di masa sekarang Mereka harus melindungi diri mereka dengan kekuatan mereka sendiri," jelas Max yang membuat Zen menghela nafasnya pelan.
"Baiklah lakukan sesukamu, tapi jika dia benar-benar tidak berbakat, jangan paksakan kepadanya," ucap Zen dengan final.
"Aku tahu itu, jadi bisa berikan pistol mu itu untuk ku gunakan?" tanya Max yang membuat Zen menyerahkan pistolnya kepada Max.
"Nah, Leo mari kita mulai dengan pelajaran pertama untuk menggunakan pistol," ucap Max yang membuat Leo menatapnya dengan semangat bahkan Lin mulai memperhatikan Max dengan penuh minat.
"Hal pertama yang harus kamu perhatikan saat menggunakan pistol adalah mengecek jumlah peluru yang kamu miliki dan itu adalah hal yang sangat wajib," jelas Max sambil menunjukkan isi peluru yang berada di dalam pistol tersebut.
"Hal kedua yang harus kamu lakukan adalah menentukan targetmu, apakah targetmu dalam jarak jangkauan mu atau tidak, karena kita menggunakan pistol ini, maka pastikan jika jarak jangkauan targetmu berada dalam radius 3 meter," jelas Max sambil melihat kearah salah satu zombie yang berada dalam jarak tembakannya.
Dengan segera Max membuka kaca mobil dan mendemonstrasikan cara menembak kepada mereka.
"Setelah itu, luruskan tangan milikmu yang memegang pistol kearah targetmu, usahakan menggunakan tangan yang dominan kamu gunakan dalam kehidupan sehari-hari untuk mempermudah dirimu."
__ADS_1
"Karena aku takut tubuhmu tidak sanggup untuk menahan daya lontar hanya menggunakan satu tangan, maka gunakan dua tangan seperti ini untuk menahan daya lontarnya saat kamu menarik pelatuk pistolnya." ucap Max sambil memperagakan gerakan yang di ucapkan nya.
"Kunci dalam menembak terletak di postur tubuh dan keakuratan dirimu dalam mengarahkan pistol kearah target, jika kamu sudah merasa pistol mu akurat, maka tarik pelatuknya tanpa ragu dan tahan daya lontar yang terjadi saat itu dengan tetap mempertahankan sikap tubuhmu seperti semula," ujar Max lalu menarik pelatuk pistolnya kearah zombie yang di targetkan.
Dengan kecepatan yang hampir mendekati 700 fps, peluru tersebut langsung menembus kepala zombie yang ditargetkan oleh Max yang membuat kedua anak itu berdecak kagum.
"Perhatikan posisiku ini setelah menembak zombie itu," ucap Max yang membuat kedua anak itu kembali fokus kearah Max.
"Itu tadi sangat keren, kak!" ujar Lin dengan mata berbinar.
"Baguslah, kalau begitu cobalah untuk menembak salah satu dari mereka, Leo," ujar Max sambil menunjuk kearah kerumunan zombie yang kini bergerak mendekati mobil mereka.
"Ck, sepertinya mereka tertarik ke sini setelah kamu menembak salah satu kawanan mereka," ujar Zen yang membuat Max mendengus pelan.
"Itu lebih baik, karena Leo mempunyai banyak target yang bisa dia tembak karena mereka mendekat kearah jarak yang bisa di tembak menggunakan pistol itu," ujar Max dengan acuh.
"Tentukan salah satu targetmu dan coba bidik kepalanya seperti yang aku contohkan tadi," ujar Max yang membuat Leo mengangguk pelan.
KIni mata coklat muda milik Leo mulai melirik beberapa zombie yang dekat dengan targetnya dan dapat dia lihat dengan jelas menggunakan matanya.
'Aku akan menargetkan zombie itu karena dia yang lebih dekat dengan jarak targetku dan bahkan terlihat jelas oleh mataku,' batin Leo dan mulai menyiapkan posisi untuk menembak seperti yang di contohkan oleh Max tadi.
"Hooh, postur yang bagus, sepertinya kamu sangat cepat belajar," ucap Max saat melihat postur milik Leo dan membenarkan sedikit posturnya.
"Kamu harus mensejajarkan kedua tanganmu jika ingin menembak menggunakan kedua tangan, atau tidak daya lontar yang akan di terima oleh kedua tanganmu akan berbeda dan kamu akan mengalami kebas di salah satu tanganmu," ucap Max saat membenarkan postur milik Leo.
"Baik!" jawab Leo saat Max membenarkan postur tubuhnya.
"Jika kamu merasa sudah pas, maka tarik pelatuk itu dan ingat jangan ragu-ragu saat menariknya," jelas Max yang di angguki oleh Leo.
Setelah menghembuskan nafasnya dengan pelan tangan kanannya mulai menarik pelatuk
pistol itu tanpa ragu seperti yang di ucapkan oleh Max.
Dengan cepat, peluru mulai melesat kearah zombie itu, tetapi sangat disayangkan karena tembakan milik Leo sedikit meleset dan hanya mengenai leher zombie itu bukan kepalanya.
Tapi itu termasuk pencapaian yang bagus bukan? Mengingat jika ini adalah pertama kalinya Leo menggunakan pistol dan pertama kalinya juga dia diajarkan oleh seseorang dengan durasi yang tidak lebih dari lima menit.
Kalian bisa menganggap jika Leo berbakat menggunakan pistol.
"Itu cukup bagus sebagai permulaan," ujar Max sebagai apresiasi.
"Ah, benarkah?" tanya Leo sambil melihat kearah kedua tangannya yang gemetar saat memegang pistol tersebut.
"Ah, apakah kedua tanganmu sedang gemetar sekarang?" tanya Max yang dibalas dengan tatapan cemas oleh Leo.
"Iya, apa itu bukanlah hal yang baik?" tanya Leo dengan sedikit takut.
'Apa aku terlalu payah dalam menggunakan pistol?' batin Leo dengan takut.
"Tidak, itu adalah hal yang wajar mengingat kamu baru saja menahan beban sekitar 2 joule saat menembakkan pistol tersebut. Kerja bagus, Leo," ucap Zen sambil mengelus pelan rambut milik Leo yang membuat Leo tersenyum cerah.
'Hehehe, aku berhasil menggunakan pistol bahkan kak Zen dan kak Max memujiku karena ini!' batin Leo dengan senang.
"Karena kedua tanganmu masih gemetar, maka kalian harus berdiam di sini saat kami berdua yang akan mengurus semua zombie itu," ujar Zen yang membuat Lin cemberut.
__ADS_1
"Tapi hanya kakak yang tangannya gemetar! Aku masih bisa melakukan sesuatu," ucap Lin yang membuat Zen berpikir sejenak.
"Tapi karena kamu terlalu kecil, kamu tidak akan bisa membantu kami. Maka cepatlah besar agar kamu bisa membantu kami berdua," ucap Zen yang membuat Lin menghela nafas pelan.
'Sebenarnya kapan aku bisa dewasa? Aku juga ingin membantu kakak, kak Zen dan kak Max,' batin Lin dengan murung.
"Max, cepatlah turun dan segera isi botol-botol itu dengan bensin," ujar Zen sambil menyerahkan beberapa botol besar kepada Max.
Sedangkan Max hanya menerima botol-botol itu dengan pasrah lalu menyerahkan kembali pistol yang tadi di pakainya.
"Ini, kamu saja yang menggunakan ini, aku masih memiliki baton stik milikku," ujar Max yang di angguki oleh Zen.
Setelah menyerahkan pistol tersebut, kini Max melangkah keluar terlebih dahulu sambil mengguncang-guncangkan baton stik miliknya dan menatap kearah zombie itu dengan senyum diwajahnya.
"Baiklah, saatnya untuk bermain!" ujar Max dengan gembira lalu mulai menyerang zombie yang dekat dengannya.
"Dasar orang itu. Leo, Lin, aku akan menyusul orang bar-bar itu dan jaga diri kalian baik-baik, jika ada zombie yang mendekat dalam jarak 3 meter tembak mereka dengan syarat kita berdua tidak dalam jarak tembakan itu," ujar Zen kepada Leo yang membuat Leo mengangguk pelan.
Setelah mendapatkan jawaban dari Leo kini Zen segera menyusul Max yang sedang berpesta pora dengan para zombie itu.
"Max jika kamu ingat kita menaiki mobil dengan anak kecil, jadi jangan sampai bajumu penuh dengan darah menjijikan itu," ujar Zen sambil menembak-nembakkan zombie yang berada di dalam jarak jangkauannya.
"Aku tahu itu, jika kau lupa aku ini pencinta kebersihan," ucap Max yang membuat Zen mendengus pelan.
Sedangkan kedua anak kecil yang berada di dalam mobil itu sedang menatap takjub kedua orang yang sedang membantai para zombie itu.
"Kak Zen sangat keren!" ucap Leo saat melihat betapa lihainya Zen menembakkan pistol kearah zombie itu dengan kedua tangannya.
Zen itu masih terlalu lemah untuk menembak menggunakan satu tangan, oke? Bukankah sudah di jelaskan di awal jika Zen memiliki tubuh yang lemah untuk kegiatan olahraga seperti ini?
"Tidak-tidak, apa kakak tidak lihat betapa kerennya kak Max? Lihat bagaimana kak Max mengayunkan tongkat miliknya dan mengunakan tongkat miliknya itu untuk menembus kepala zombie itu! Itu sangat keren!" ujar Lin dengan wajah bersemangat.
"Umm, tidak! Menurutku kak Zen lah yang lebih keren, lihat bagaimana postur tubuh kak Zen saat menembak itu! Bahkan lihatlah peluru itu yang selalu tepat berada di kepala para zombie yang menjadi targetnya. Itu jauh lebih keren!" ujar Leo yang membuat LIn mengerutkan keningnya.
"Tapi kak Max juga keren!" ujar Lin yang membuat Leo melirik kearah Max yang kini sedang mengayunkan baton stik miliknya sambil tersenyum layaknya psikopat.
Lalu pandangannya mulai beralih kearah adiknya yang masih memandang Max dengan tatapan berbinar. Bahkan sekarang Leo mulai meragukan penglihatan adiknya.
Bukankah kak Zen lebih baik dari kak Max? lihatlah betapa elegannya gerakan kak Zen dibandingkan gerakan kak Max yang lebih kearah bar-bar itu?
Yah, mari minus kan senyuman yang ada di wajah Zen yang hampir mirip sebelas dua belas dengan milik Max, tapi tentu saja itu tidak menghalangi persepsi Leo yang menganggap jika Zen sangat keren dimatanya.
Ah, sepertinya memang mata kedua anak itu yang sudah salah karena menganggap orang yang sedang membunuh zombie adalah sesuatu yang keren.
...| (❁❁) |...
...•...
...•...
...•...
Maaf jika ada typo yang tidak menyenangkan.
Jangan lupa Like, Vote, Komen nya ya Reader~San o(〃^▽^〃)o
__ADS_1
Instagram : lmnr_vv