Survive In The Last Days : My Second Life

Survive In The Last Days : My Second Life
|(33) Munculnya zombie pertama|


__ADS_3

Warning : Karya ini hasil orisinal aku dan hanya karangan fiktif semata. Bahasa bisa saja kasar jadi dimohon untuk tidak menirukan nya.


...•...


...•...


...•...


Sebelumnya :


'Dia benar-benar gila!’ seru Zen dalam hati karena merasakan tekanan kuat yang diberikan oleh Max.


...| (❁❁) |...


“Hei, apa kamu ingin melakukan pembunuhan di siang hari hah?” tanya Zen yang membuat Max mendengus ringan sebelum menarik kembali baton stik miliknya.


“Dia yang memulai pertama kali, ” jelas Max yang membuat Zen memutar matanya dengan malas.


“Kamu seharusnya tahu jika negara kita adalah negara yang taat akan hukum,” ucap Zen mengingatkan Max.


“Yah, tapi setidaknya hukum tidak bisa menyentuhku,” balas Max dengan acuh.


‘Huh! Dasar anak pejabat,’ batin Zen dengan malas.


“Sudahlah kita masih memiliki urusan jika kamu ingat,” ucap Zen sambil berjalan menuju pintu keluar yang mengarah langsung ke tempat parkir area belakang.


Max yang sudah mengembalikan baton stik miliknya ke bentuk semula mulai mengikuti Zen dari belakang dan mengabaikan remaja laki-laki yang baru saja menantangnya itu terduduk lemas di lantai dengan badan bergetar ketakutan.


“Apa kamu tidak keberatan jika kita mampir dulu ke minimarket terdekat?” tanya Zen dengan tangan yang bersiap untuk membuka pintu.


“Kurasa tidak apa, sekalian untuk mengumpulkan persediaan makanan bukan?” tanya Max yang membuat Zen mengangguk singkat.


Kini tangan miliknya sudah membuka pintu di depannya dan betapa kagetnya saat dia melihat seorang wanita sedang berjalan terseok-seok dengan baju seragam yang berlumuran darah berwarna merah dan hitam bahkan baju yang dipakainya kini sudah berantakan.


Dengan cepat tangannya mulai menutup pintu kembali saat matanya tidak sengaja bertemu pandang dengan mata yang tidak memiliki titik fokus itu.


“Sialan! Kita benar-benar membuang waktu disini!” teriak Zen sambil menarik tangan Max dan berlari kembali menaiki tangga.


“Apa maks-“ belum selesai kalimat yang ingin diucapkan oleh Max kini harus terputus karena suara gedoran pintu dari arah bawah.


Dengan posisi yang masih sama seperti sebelumnya, mata Max mulai melirik kearah pintu yang kini sudah terbuka lebar dan menampilkan seorang wanita dengan pakaian pelajar yang berpenampilan berantakan.


Max yang melihat itu membulatkan matanya lalu merubah posisinya dengan dia yang memimpin serta menarik tangan Zen untuk berlari lebih cepat keatas.


‘Shit!’ batin Max memaki dengan penuh penjiwaan dan terus berlari mengabaikan teriakan kesakitan siswa laki-laki yang masih berada di bawah sana.


“Hosh! Ti-tidakkah, kamu bisa lebih cepat?” tanya Zen yang sambil sesekali menoleh kebelakang untuk memastikan keadaaan.


“Diam lah! Tidakkah kamu melihat jika dirimu sudah kehabisan nafas karena berlari, huh?” tanya Max yang masih setia menarik tangan Zen untuk berlari.


“Ck, setidaknya beri tahu aku kita menuju kemana?” tanya Zen disela-sela dirinya mengambil nafas.


“Tentu saja mengambil jalan memutar untuk menuju tempat parkir area belakang,” jelas Max.


“Aku tahu jalan pintas menuju tempat parkir belakang dan itu harus lewat sini,” lanjutnya.


“Bag- sial! Mereka menyusul dengan cepat!” teriak Zen saat melihat beberapa mayat hidup yang berjalan dengan cepat menuju kearah mereka.


“Kalau begitu percepat lari kita!” balas Max dengan teriak sambil menambah kecepatan larinya.


“Tu-tunggu! Kamu ingin lewat lorong kelas?!” tanya Zen.


“Jika bukan lewat sana, kamu ingin lewat mana, hah?”

__ADS_1


“Kita bisa berjalan melewati lorong lab!”


“Terlalu jauh! Memangnya kenapa kita tidak bisa lewat sini? Apa kamu peduli dengan para siswa yang berada di kelas, hah?” tanya Max dengan sinis.


“Bukan itu! Bukankah kelas Joy dan kakak kelas menjengkelkan itu berada di lorong ini? Kamu mau kita mendapatkan hambatan, hah?! Jika mereka ada di sana maka kita akan dikepung dari dua sisi!” jelas Zen sambil menunjuk kebelakang dan ke depan dengan tangan kirinya.


“Aku tidak bisa memikirkan hal itu! Jika mereka melawan maka tinggal terobos saja!” ucap Max sambil mengeluarkan baton stik miliknya kembali.


“Sialan!” maki Zen dengan frustasi.


‘Oh ayolah, nafasku hampir tidak tersedia dan dia tidak mencari cara aman untukku? Kamu ingin memaksaku untuk menjadi gila?! Ditambah jika para zombie itu berjalan lewat ruang kelas maka para siswa yang berada di dalam kelas akan menjadi mangsa yang bagus untuk mereka! Dia ingin menambah banyak musuh kita?’ batin Zen yang berpikir dengan kacau.


“Jika kamu mengkhawatirkan para zombie itu yang akan berlipat ganda, maka jangan terlalu dipikirkan! Setidaknya lihatlah dari sisi yang positif. Para siswa itu bisa menjadi pengulur waktu yang bagus untuk kita!” jelas Max dengan kejam yang membuat Zen menatapnya dengan aneh.


“Jika kau bertanya di mana rasa kemanusiaan ku maka maaf saja, rasa kemanusiaan ku sudah menghilang sejak umurku yang ke delapan tahun,” jawab Max dengan acuh setelah melihat ekspresi Zen dari sudut matanya.


“Terserah dengan apapun rencana mu itu, tapi jika kita mengalami hambatan di sana maka aku tidak akan segan mendorong dirimu kearah para zombie itu untuk menjadikanmu sebagai pengulur waktuku!” ucap Zen yang membuat Max menatapnya dengan tatapan tidak percaya.


“Apa? Kenapa kamu menatapku seperti itu? Kebetulan juga jika rasa kemanusiaan ku sudah menghilang di umurku yang ke lima tahun,” balas Zen yang membuat Max tersenyum miring.


“Hah! Kita lihat saja siapa yang akan mendorong siapa!” ucap Max lalu mengarahkan baton stik miliknya kearah tempat sampah agar tempat sampah itu terjatuh dengan berantakan.


“Kerja bagus! Kalau begitu aku akan membantu,” ucap Zen mulai menjatuhkan beberapa tanaman hias dengan tongkat besinya.


“Itu menghambat mereka,” ucap Zen saat melihat para zombie itu terhenti berhenti beberapa saat sebelum kembali menerobos ke depan.


‘Zombie di awal tidak terlalu pandai karena energi supranatural masih belum menyebar dengan luas di udara dan baru sebagian kecil yang menyebar. Itupun hanya berguna untuk membuat para mayat hidup memiliki kemampuan sedikit di atas rata-rata manusia,’ batin Zen yang melamun tanpa sadar.


“Ouch! Kenapa kamu berhenti dengan tiba-tiba?” tanya Zen saat mukanya terantuk punggung tegap milik Max.


“Apa kamu masih sempat untuk melamun?!” tanya Max dengan tidak percaya.


“Kamu belum menjawab pertanyaan ku!” ucap Zen.


“Hah! Bersiaplah, Max kamu akan aku dorong kearah para zombie itu,” ucap Zen sambil menunjuk kearah belakang.


“Dan kamu tidak akan memiliki kekuatanku yang sangat berguna di masa depan yang akan menjadi perisai sekaligus pedangmu itu,” jawab Max dengan malas.


“Kalian berdua?!” teriak seorang wanita dengan marah sambil menunjuk keduanya dengan jari yang terangkat ke depan.


“Apa?” balas Zen dengan malas yang membuat Joy semakin kesal. Yah, yang mereka bicarakan kini adalah sebuah penghambat yang sempat mereka bicarakan beberapa waktu yang lalu.


“Sialan! Kenapa kalian masih baik-baik saja, hah?!” seru Joy yang membuat Max memutar matanya malas.


“Kamu harus berusaha setidaknya selama seratus tahun penuh untuk membuatku babak belur,” jawab Max dengan santai.


“Kakak! Bukankah kamu sudah berjanji untuk membuat mereka menderita?” keluh Joy kepada laki-laki yang berada di sampingnya.


“Cih, mungkin saja para anak buah ku itu tidak becus! Tenang saja Joy, aku yang akan membuatnya babak belur sekarang,” ucap laki-laki itu yang membuat Joy bertepuk tangan ria.


“Bagus! Jika itu kakak maka aku akan percaya! Kakak harus membuat mereka merasakan apa yang aku rasakan!” ucap Joy dengan memeluk lengan laki-laki itu dengan erat yang membuat tangan laki-laki itu merasakan dadanya secara langsung.


Zen dan Max yang melihat itu hanya mengerutkan kening mereka dengan jijik.


‘Menjijikan!’ batin Zen.


‘Mirip sekali dengan tingkah laku ******!’ batin Max yang tidak segan membandingkan dengan kejam.


“Tenang saja dan percayakan padaku tapi jangan lupa imbalan untuk itu semua,” ucap laki-laki itu dengan muka memerah mesum dan berbicara dengan pelan diakhir kalimatnya.


" Tenang saja, aku akan memuaskan kakak jika kakak berhasil membuat keduanya menjadi babak belur," ucap Joy dengan senyum centilnya yang membuat pria itu tersenyum cerah dan berjalan mendekat kearah Max dan Zen dengan percaya diri.


“Kita tidak punya waktu untuk menghadapi omong kosong mu itu, jadi pergilah dengan cepat atau aku akan mematahkan kedua kaki dan tanganmu!” ancam Max yang membuat laki-laki itu terkekeh ringan.

__ADS_1


“Apakah itu ancaman? Oh, aku takut sekali,” tanyanya dengan senyum meledek.


“Tidakkah kamu mendengarkan ucapan-“


“Kenapa kalian jadi mengobrol santai seperti ini?!” tanya Zen dengan frustasi saat telinganya semakin mendengar suara teriakkan dari arah belakang.


‘Para zombie itu sudah berhasil menemukan para siswa yang berada di dalam kelas, jika kita terus diam disini hanya dalam waktu 3 menit mereka semua pasti akan mengepung kita!’ batin Zen dengan kening berkerut.


"Huh? Suara teriakkan apa itu?" tanya laki-laki itu dengan tiba-tiba saat mendengar teriakkan pilu, ketakutan, marah serta berbagai macam emosi lainnya.


“Max, ini perintah dariku untukmu yang pertama! Buat dia pingsan secepatnya dalam waktu kurang dari 3 menit,” ucap Zen yang membuat Max langsung bergerak kearah depan dan tanpa aba-aba langsung memukul tepat di ulu hatinya dengan keras yang membuat remaja itu mundur kebelakang.


"Ukh...," ringis pria tadi dengan keras yang kini tengah memegang perutnya yang berdenyut sakit.


Setelah Max membuatnya lengah dengan pukulan keras tadi, kini dirinya dengan cepat membalik badannya langsung kearah bagian belakang remaja itu dan mengarahkan tangan kirinya untuk memukul tengkuk leher remaja itu yang membuatnya pingsan.


“Tidak perlu tiga menit, bagiku tiga belas detik itu sudah lebih dari cukup,” ucap Max saat melihat tubuh remaja itu terjatuh kelantai.


“Baguslah, kalau begitu ayo kita pergi sekarang!” ucap Zen dan mulai berlari pelan sambil menuju tangga yang berada tepat di belakang Joy.


Joy yang melihat mereka berjalan menuju tangga dibelakangnya dengan segera berdiri untuk menghalangi akses mereka.


“Kalian tidak bisa lewat dan pergi begitu saja tanpa memiliki luka sedikitpun!” ucap Joy dengan ekspresi jelek di wajahnya.


‘Sial! Tidakkah para dewa berbaik hati kepadaku dengan tidak memberikan hambatan lagi kepada diriku ini?’ batin Zen dengan kesal karena waktunya terbuang sia-sia.


...----------------...


Suara bantingan serta cakaran dari arah luar terdengar dengan keras bahkan jika kalian perhatikan dengan lebih jelas, kalian bisa melihat jika pintu itu beberapa kali bergerak ingin jebol karena pukulan dari luar yang sangat kuat.


“Kakak…,” ucap Lin dengan tubuh yang bergetar karena takut.


“Lin! Turuti ucapan ku! Diam di sana dan jangan mendekati pintu!” ucap Leo sambil mendorong sofa kearah pintu yang sudah tertutup oleh sebuah lemari besar hasil dorongan dari tubuh anak laki-laki berumur 13 tahun selama 5 menit perjuangan kerasnya.


‘Kumohon jangan biarkan pintu itu hancur sebelum kak Zen datang menjemput kami,’ batin Leo sambil mengusap keringat yang terus menerus keluar dari dahinya.


“Kak, memangnya apa yang ada di depan pintu itu?” tanya Lin dengan pelan.


“Aku susah untuk menjelaskannya kepadamu, tapi kamu bisa menganggapnya sebagai monster,” ucap Leo yang membuat Lin terkejut.


“Ka-kalau begitu bukankah kita harus menyiapkan beberapa kebutuhan untuk menghadapi monster itu sebelum kak Zen menjemput kita?” tanya Lin yang membuat Leo berpikir sejenak.


“Kamu benar, kalau begitu siapkan beberapa benda tajam yang berada di rumah ini dan persediaan makanan instan dan makanan kering yang kita miliki,” ucap Leo yang di angguki oleh Lin


"Tolong berhati-hati saat mengambil senjata tajam itu Lin, jangan lupakan juga beberapa keperluan untuk bertahan hidup," jelas Leo.


"Baik kak!" seru Lin dan mulai berlari menuju ke dapur untuk menyiapkan beberapa hal yang sudah terlintas di otak kecilnya itu.


‘Aku harap kak Zen segera tiba disini,’ batin Leo sambil melihat kearah pintu apartment yang masih terdengar bunyi gedoran dari luar pintu yang terdengar sangat amat keras.


...| (❁❁) |...


...•...


...•...


...•...


Maaf jika ada typo yang tidak menyenangkan.


Jangan lupa Like, Vote, Komen nya ya Reader~San o(〃^▽^〃)o


Instagram : lmnr_vv

__ADS_1


__ADS_2