Survive In The Last Days : My Second Life

Survive In The Last Days : My Second Life
|(26) Pemenang Latih Tanding|


__ADS_3

Warning : Karya ini hasil orisinal aku dan hanya karangan fiktif semata. Bahasa bisa saja kasar jadi dimohon untuk tidak menirukan nya.


...•...


...•...


...•...


Sebelumnya :


Bahkan saat dia menghadapi zombie tingkat ke tiga dia tidak pernah mengunakan kuda-kuda ini.


Apa dia benar-benar ingin membuatku kalah?!


...| (❁❁) |...


“Haruskah aku yang memulai serangan pertama?” tanya Max sambil memiringkan kepalanya.


“Baiklah karena kamu tidak menjawab, aku artikan sebagai iya,” ucap Max lalu berjalan cepat menuju Zen sambil mengarahkan pukulan lurus ke arah wajahnya.


Zen yang menyadari hal itu langsung menghindari pukulannya sambil mengangkat kaki kanannya untuk melakukan tendangan samping kepada Max. Max yang melihatnya dengan cepat memutar balik tubuhnya untuk menghindar dari tendangan yang diberikan Zen.


Tanpa memberi jeda, tangan kanannya mulai melayangkan jab kearah wajah Zen. Dan kembali lagi, Zen menghindari pukulannya tersebut sambil terus melayangkan pukulannya kearah Max.


‘Sial, dia bergerak semakin cepat! Bagaimana dia bisa bergerak secepat ini dalam melakukan jab?’ batin Zen bertanya-tanya saat menangkis jab yang terus terarah kepadanya.


“Kamu kehilangan fokus mu!” ucap Max tepat dibelakang Zen.


“Apa bagaimana bisa-“


Ucapan Zen terputus saat Max melakukan gerakkan uppercut dan berhasil mengenai bagian perutnya,


“Ukhh….”


“Bagaimana kamu bisa kehilangan fokus mu saat sedang bertarung? Aku berhasil mendaratkan satu pukulan kepadamu dan kesempatanmu hanya tersisa empat untuk memenangkan latih tanding ini,” jelas Max dengan kedua tangan yang berada di saku celananya.


“Apa kamu masih ingin melanjutkannya?” tanya Max sambil menatap miring kearah Zen.


“Tentu saja! Aku belum kalah jika kamu mengingatnya,” ucap Zen sambil berusaha berdiri.


“Hooh, aku suka kegigihan mu. Jangan mengecewakan ku dengan kemampuanmu,” ucap Max sambil memasang kembali kuda-kuda southpow miliknya.


Zen yang melihat Max sudah memasang kuda-kudanya kembali, kini memaksakan kakinya untuk membentuk kuda-kudanya dan menutup matanya sejenak sebelum membukanya kembali dengan tatapan fokus.


‘Hooh, aku suka tatapan matanya itu,’ batin Max tanpa menyadari jika seringai keluar dari bibirnya.


Dengan tenang, Zen mulai melayangkan pukulan lurus kearah wajah Max. Max yang melihat itu menahan pukulannya mengunakan tangan kananya, merasakan adanya celah dengan cepat Zen menendang lutut bagian kanan Max.


Dengan cepat Max mulai mengelak dari tendangan Zen dengan memutar tubuhnya menggunakan kaki kirinya sebagai tumpuan dan mulai melayangkan jab kearah Zen dengan cepat.


‘Sial aku lupa jika dia dominan mengunakan alat gerak bagian kiri!’ batin Zen yang kini sedang sibuk menahan serangan jab dari Max sesekali melayangkan pukulan kearah Max.


‘Dia hebat bisa menahan lebih dari 20 pukulan jab berturut-turut dariku,’ batin Max lalu mengubah serangannya menjadi pukulan lurus kearah wajahnya dan melakukan hook saat melihat Zen yang tidak fokus.


Zen yang terkecoh dengan gerakannya kembali merasakan sakit di wajahnya saat dirinya tidak bisa menghindari dari serangan Max.


“Sial,” maki Zen dengan pelan yang masih bisa didengar oleh Max.


“Hahaha, kamu harusnya berterimakasih kepadaku karena aku tidak mengarahkan hook tadi ke ulu hatimu. Jika aku melakukan hal itu sudah bisa dipastikan kamu akan terbaring di atas matras.” Ucap Max dengan mata setengah tersenyum.


“Kamu memiliki 3 kesempatan lagi, apa kamu masih ingin melakukan latih tanding denganku?” tanya Max sambil menatap Zen yang sekarang terduduk di atas matras.


“Tentu saja, ayo kita lanjutkan!” ucap Zen dengan mata penuh tekad yang dibalas dengan tawa kecil dan kuda-kuda khas Max yang sudah terpasang kembali.


‘Tubuhku saat ini tidak mampu menandingi Max dalam segi apapun. Lagipula aku memang tidak berbakat dalam bidang olahraga dibandingkan dengan Max. Seni bela diri muay thai miliknya sangat cepat dan akurat dibandingkan dengan seni bela diriku yang biasa-biasa saja,’ batin Zen sambil menatap Max dengan serius.


‘Tapi aku tidak bisa menyerah begitu saja, aku harus memenangkan latih tanding ini bagaimanapun caranya, walaupun pada akhirnya aku harus mengunakan cara licik,’ batin Zen lalu mulai melayangkan pukulan cross kearah Max yang dengan mudah dihindari olehnya.


Setelah pukulan cross nya dihindari dengan mudah kini ia angkat kaki kananya untuk memukul tengkuk lehernya yang ditahan dengan mudah oleh Max dengan tangan kirinya.


‘Ini kesempatanku!’ batin Zen lalu melompat dan mengunci leher Max dengan kuncian triangle choke lalu membanting tubuh Max hingga jatuh di atas matras.


“Sialan….” gumam Max saat merasakan nafasnya tercekik oleh kuncian Zen.


‘Sekarang aku hanya harus memukul-‘


“Ukhh….”


“Jangan remehkan aku jika kamu hanya mengunci pergerakan ku dengan kuncian seperti ini!” geram Max sambil mencoba bangkit berdiri.


Zen yang merasakan Max bergerak semakin menguatkan kuncian miliknya.


‘Apa dia seorang monster? Bagaimana bisa dia masih bergerak setelah aku menguncinya dengan sekuat ini?!’ batin Zen dengan panik saat melihat Max yang sudah bisa terduduk walaupun dengan kuncian yang dilakukan oleh Zen.


“Ughhh, sialan jangan remehkan aku!” teriak Max dengan kuat sambil memegang tangan kanan Zen dengan erat dan membanting tubuh Zen yang berada di udara setelah dirinya sudah berdiri dengan sempurna kearah samping.


Zen yang tidak memiliki tumpuan apapun di tanah hanya bisa terbanting oleh Max dan terbaring di atas matras.


‘Sial, dia benar-benar seekor monster!’ batin Zen sambil meringis pelan saat merasakan sakit di punggungnya akibat bantingan oleh Max.


‘Kupikir dengan mengunakan kuncian triangle choke ini bisa membuat ku setidaknya mendaratkan satu pukulan di tubuhnya dalam sepersekian detik. Analisis ku salah besar sekarang,’ batin Zen sambil menutup matanya sejenak untuk menghilangkan rasa frustasi yang ada.


“Huhh, kamu … bagaimana bisa menggunakan kuncian itu…?” tanya Max sambil mengatur nafasnya yang sempat tersendat akibat kuncian Zen.

__ADS_1


‘Dia tidak melayangkan pukulan terhadapku? Ini bisa menjadi kesempatanku!’ batin Zen lalu dengan sigap bangkit berdiri dan menuju Max yang masih mengatur nafasnya dengan badannya yang hanya bertumpu dengan kedua lututnya.


Max yang melihat Zen menuju arah dirinya dengan sigap merubah posisinya menjadi berdiri agar bisa menghindar dari pukulan yang akan dilayangkan oleh Zen.


“Sayang sekali aku bukan ingin melayangkan pukulan kearah mu,” ucap Zen yang membuat Max membulatkan matanya.


“Apa-“ ucapan Max terputus saat tangan miliknya di pegang dengan erat dan menarik seluruh tubuhnya kebelakang hingga terbanting dan tubuhnya terbaring di atas matras.


‘Ukhhh, datang dari mana tenaganya itu hingga bisa membanting ku? Tidak yang lebih penting aku harus segera bangun sebelum dia bisa melayangkan pukulan kearah ku,’ batin Max dan mencoba untuk bangkit tapi dengan cepat semua pergerakannya di tahan oleh Zen dan dalam sepersekian detik tangan milik Zen sudah mendaratkan sebuah pukulan lurus kearah wajah Max.


“Sial,” maki Max saat merasakan rasa sakit di bagian wajahnya, berbeda lagi dengan Zen yang kini sedang tersenyum penuh kemenangan.


'Hahaha, aku bersyukur otakku berpikir cepat di saat itu sehingga bisa mendaratkan satu pukulan di wajah menyebalkan nya!' batin Zen dengan sangat senang karena janjinya akhirnya terpenuhi untuk melayangkan pukulan setidaknya sekali di wajah menyebalkan Max.


“Ck, sudah puas kah merayakan kemenangan mu itu? Jika sudah maka turun dari atas tubuhku! Kamu berat jika ingin mengetahuinya,” sinis Max sedangkan yang menjadi sasaran sinis nya hanya tersenyum canggung sambil berdiri dari posisinya yang memalukan.


‘Sial, aku terlalu bersemangat karena sudah memenangkan latih tanding ini dan tanpa sadar melupakan posisiku yang cukup memalukan tadi,’ batin Zen sambil meringis pelan.


“Ma-maafkan aku,” ucap Zen dengan pelan yang di balas dengan dengusan pelan oleh Max.


“Apa sudah puas kamu membanggakan kemenangan mu itu?” tanya Max sambil mendudukkan dirinya di atas matras.


“Apa aku tidak boleh membanggakan kemenangan ku ini?” tanya Zen dengan ragu.


“Tidak, kamu boleh membanggakan itu. Tapi kamu harus ingat jika aku kalah hanya karena tidak fokus dan dengan liciknya kamu mengambil kesempatan itu untuk mengalahkan ku,” ucap Max dengan serius yang membuat Zen melirik kearah lain.


‘Huh, tentu saja aku tahu. Lagipula ini sudah direncanakan sejak awal jika aku harus mengunakan cara licik agar bisa mengalahkannya. Sangat mustahil untuk mengalahkannya tanpa mengunakan cara yang licik,’ batin Zen lalu menatap kearah Max dengan terus terang.


“Lalu apa kamu akan menganggap pertandingan ini sebagai tidak sah?” tanya Zen yang dijawab kembali dengan dengusan oleh Max.


“Tentu saja tidak, lagipula aku bukanlah orang yang tidak mengakui kekalahan ku. Ditambah jika itu adalah pertarungan sesungguhnya, maka aku sudah menderita luka fatal karena lengah.” Ucap Max yang membuat Zen kembali tersenyum dengan cerah.


“Tapi itu tidak melepas fakta jika dirimu yang sekarang belum bisa memenangkan pertandingan satu lawan satu denganku,” lanjut Max yang membuat senyum Zen terhenti dengan cara yang kaku.


“Huh, tidak bisakah kamu melihatku berbahagia sedikit?” gerutu Zen dengan pelan.


“Apa kamu mengatakan sesuatu?” tanya Max saat mendengar gerutuan dari Zen.


“Tidak, kamu salah dengar,” ucap Zen lalu membaringkan dirinya di atas matras.


Max yang mendengar jawabannya tidak terlalu peduli dan berjalan menuju tasnya yang ia tinggalkan di depan pintu lapangan.


Tangan miliknya kini bergerak untuk mengeluarkan botol air mineral dari tas miliknya dan membuka botol minumnya dan menenggak botol itu hingga tersisa setengahnya.


“Hei, tidakkah kamu ingin kembali ke kelas mu? Maksudku sekarang jam 12.54 jika kamu tidak pergi sekarang maka kamu tidak dapat menghadiri kelas belajar mandiri,” ucap Max yang membuat Zen bangkit dari posisinya dengan segera.


“Jam berapa sekarang?” tanya Zen sambil menoleh kearah Max.


“Hm? Jam 12.54? Oh, sekarang berubah menjadi jam 12.55,” jelas Max mengulanginya kembali sambil melihat kembali jam di ponselnya.


“Hei, ada apa denganmu?” tanya Max yang melihat Zen melamun.


“Hei Max, aku ingin mengunakan permintaanku sekarang,” ucap Zen secara tiba-tiba.


“Huh? Tiba-tiba begini? Tapi kurasa tidak apa-apa, karena aku sudah berjanji. Jadi apa permintaanmu?” tanya Max sambil menatap Zen dengan lama.


“Bisakah kamu berdiri di sampingku sebagai rekan selamanya dan jangan pernah meninggalkan sisiku?” ucap, ah ralat, tanya Zen dengan serius yang membuat Max terdiam sambil menatap Zen dengan bingung.


...----------------...


Jam menunjukkan pukul 12.45 yang menandakan hari sudah siang dengan matahari yang bersinar dengan panas teriknya di langit.


“Yak! Kenapa hari ini panas sekali?” keluh perempuan yang memiliki rambut berwarna hijau toska itu.


“Eva, jangan terus-terusan mengeluh seperti itu, jika kamu benar-benar merasa panas, bagaimana dengan mengambil waktu istirahatmu lebih cepat,” balas wanita yang berada di belakang meja kasir.


“Apakah boleh?” tanya Eva dengan mata berbinar.


“Hahaha, jika tidak boleh aku tidak akan menanyakannya kepadamu,” balas wanita itu dengan tertawa pelan.


“Baiklah karena kamu sudah menawarkan ini kepadaku maka aku tidak akan segan untuk menerimanya dengan senang hati, manager!” ucap Eva dengan senyuman cerah dan dengan kecepatan kilat menyambar jaket coklat susu miliknya dan berlari meninggalkan cafe dengan cepat.


“Huh, dasar anak itu,” gumam manager wanita itu sambil menggelengkan kepalanya dengan pelan dan membiarkan Eva pergi dengan riang hati.


“Hmm, haruskah kita mengunjungi taman yang baru saja di bangun itu? Kurasa tempatnya tidak terlalu jauh dari cafe,” gumam Eva sambil menggerakkan kakinya menuju taman yang sedang ramai di bicarakan itu.


Dengan santai dia memilih jalanan yang dipenuhi oleh pepohonan rindang agar pepohonan itu saja yang menerima teriknya sinar matahari yang kini menerpa wajahnya.


“Bagaimanapun juga aku masih seorang wanita, walaupun sifat ku tomboi seperti ini. Tentu saja aku tidak ingin kulit putihku menjadi hitam karena terkena sengatan sinar matahari,” ucap Eva lalu memasukkan tangannya kedalam saku jaket yang dipakainya.


“Hmm?” gumamnya dengan pelan saat merasakan ada sesuatu yang menanggal di jaketnya.


“Pisau lipat?” gumam Eva dengan bertanya-tanya setelah mengeluarkan benda itu dari saku jaketnya.


“Bagaimana bisa pisau lipat ku berada di saku jaket ku?” tanya Eva dengan bingung sambil melempar-lempar pelan pisau lipat kesayangannya itu.


“Oh ya! Aku ingat sekarang! Aku membawa ini hanya untu berjaga-jaga sekaligus menepati janjiku kepada Zen,” seru Eva setelah berhasil mengingat kembali alasannya membawa pisau lipat itu.


“Hmm, sudahlah itu tidak penting lagi, yang terpenting aku sudah menepati janjiku kepada Zen,” gumam Eva lalu memasukkan kembali pisau lipat miliknya.


“Yah, mari kita lanjutkan perjalanan menuju taman it-“ ucapan Eva terputus saat merasakan bayangan gelap yang menutupi langit.


Dengan segera ia mengangkat kepalanya untuk menatap langit di atasnya, betapa terkejutnya dia saat melihat langit yang tadinya menampilkan cahaya yang sangat terik kini hampir tertutup setengah oleh bayangan hitam aneh yang terdapat di langit.

__ADS_1


“Apa sekarang sedang terjadi fenomena gerhana matahari total?” tanya Eva dengan bingung.


‘Tapi mengapa tidak diberitakan di stasiun berita mengenai fenomena gerhana matahari total ini?’ batin Eva lalu memandang kembali langit yang kini sudah tertutup seluruhnya dan menjadikan langit gelap gulita.


“Apa sekarang sedang terjadi gerhana matahari total?” tanya seorang pemuda sambil melihat kearah langit.


“Yah, kurasa memang itu yang terjadi,” balas pemuda yang berada disampingnya.


“Tapi kenapa tidak di siarkan beritanya di stasiun berita?” tanya pemuda itu dengan bingung.


“Entah, mungkin saja para ilmuan itu tidak memprediksi ini akan terjadi,” balasnya lagi sambil mengangkat kedua bahunya dengan acuh.


‘Tidak, kenapa firasat ku terasa buruk saat ini?’ batin Eva dengan gusar lalu mengambil teleponnya yang berada di saku celananya dan mencoba menghidupkan handphonenya.


‘Tunggu? Kenapa handphone ku tidak bisa dinyalakan?!’ batin Eva lalu mulai menekan kembali tombol power yang berada di handphonenya.


‘Aku yakin jika baterai ponselku masih tersisa cukup banyak dan yang jelas ponsel milikku tidak rusak!’ batin Eva lalu mulai melirik kearah sekitar.


‘Lampu jalanan juga padam, bahkan lampu toko yang berada di pinggir jalan itu tidak menyala! Apa terjadi pemadaman listrik di distrik ini? Tapi tidak mungkin jika pemadaman listrik mengakibatkan ponselku menjadi mati total? Apa yang sedang terjadi sekarang?’ batin Eva setelah selesai menganalisis semua hal yang terjadi dengan kening berkerut.


“Huh, jika kamu tidak mempercayainya lebih baik lihat saja berita yang kini sudah tersebar di handphonemu,” balas pemuda itu dengan geram.


“Baik, baik akan ku cek sekarang,” balas pemuda di sebelahnya dengan kesal lalu mengambil handphonenya untuk mencari berita di handphonenya.


“Lho, kenapa handphoneku tidak bisa dinyalakan?” gumamnya dengan bingung.


“Huh, mungkin saja kamu lupa untuk mengisi dayanya kembali setelah bermain game online di handphonemu. Sudahlah biarkan aku saja yang melihatnya di handphoneku,” ucap pemuda itu sambil mengambil handphonenya.


“Ada apa?” tanya pemuda yang satunya saat menyaksikan ekspresi teman miliknya yang berubah.


“Handphoneku tidak bisa dinyalakan!” pekik pemuda itu dengan panik.


“Huh, mungkin saja kamu lupa untuk mengisi dayanya,” balas temannya itu untuk membuatnya tenang.


“Tidak, aku ingat sekali sebelum pergi ke sini, handphoneku sudah ku isi dayanya hingga penuh!” jelas pemuda itu dengan yakin.


“Gulp, lalu….?”


“Handphoneku juga tidak bisa dihidupkan!” seru wanita yang berada tidak jauh dari mereka.


“Handphoneku juga!”


“Aku juga!”


Dengan cepat kericuhan itu mulai terdengar. Sahut suara di wilayah itu mengakibatkan Sebagian manusia yang tadinya biasa saja menjadi panik dan mencoba menghidupkan handphone mereka semua.


“Baik, mari kita tenang. Mungkin saja memang ada gangguan bukan?” ucap salah satu orang yang berada di jalan.


“Ya, itu benar! Bagaimana jika kita menumpang duduk di toko kecil itu,” menunjuk toko yang berada di seberang jalan.


“Itu ide bagus!” seru seseorang.


“Maaf, tapi lampu di tokoku tidak bisa menyala,” ucap seorang wanita dengan pelan.


“Huh, bagaimana mungkin?”


“Aku sendiri juga tidak tahu, aku bahkan mencoba untuk menghidupkan televisi serta laptopku, tapi mereka semua tidak menyala! Bahkan kipas angin dan semua alat elektronik di tokoku tidak bisa menyala!” seru wanita itu dengan panik.


“Apa? Tapi bagaimana bisa itu terjadi?” tanya seseorang dengan nada tidak percaya.


“Tu-tunggu, kenapa gerhana matahari ini tidak kunjung selesai?” tanya salah satu orang di sana dengan terbata- bata.


Dengan segera mereka semua mengalihkan pandangan mereka dengan kompak kearah langit yang masih tertutupi oleh awan hitam.


“Ti-tidak mungkin?!”


“Bagaimana bisa?!” seru seorang wanita dengan histeris lalu berjongkok sambil menarik rambutnya dengan panik.


“Apakah sekarang dunia mengalami kiamat?” seru seseorang dengan pelan yang membuat semua mata tertuju padanya.


“Kiamat?!”


“Bagaimana bisa?!”


"Itu tidak mungkin!”


Seruan demi seruan tidak percaya mulai bersahutan yang membuat semuanya menjadi ricuh.


Ada yang menyusut sambil memeluk tubuh mereka dengan erat. Ada yang berseru dengan penuh tidak percaya sambil membantah dengan keras. Ada juga yang sudah pasrah dan menangis sambil bergetar ketakutan.


‘Kiamat? Apa benar dunia mengalam kiamat sekarang?’ batin Eva dengan termenung di tempat disertai tangan yang semakin mendingin karena gugup.


...| (❁❁) |...


...•...


...•...


...•...


Maaf jika ada typo yang tidak menyenangkan.


Jangan lupa Like, Vote, Komen nya ya Reader~San o(〃^▽^〃)o

__ADS_1


Instagram : lmnr_vv


__ADS_2