
Warning : Karya ini hasil orisinal aku dan hanya karangan fiktif semata. Bahasa bisa saja kasar jadi dimohon untuk tidak menirukan nya.
...•...
...•...
...•...
Sebelumnya :
“Lalu tunggu apalagi? Bukankah kita harus segera menyusul kedua kakak laki-laki tadi agar bisa mengetahui jalan menuju restauran itu?” tanya Lin lalu berlari mengejar kedua kakak laki-laki tadi.
“Lin! Jangan berlarian di lorong rumah sakit!” seru Leo lalu mengejar Lin di belakang.
“Hoi, kalian berdua, jangan berteriak di dalam rumah sakit!” seru Zen yang tidak menyadari jika dirinya juga ikut berteriak dan bergegas mengejar mereka berdua.
...| (❁❁) |...
“Apa kamu perlu bantuan ku Lin?” tanya Leo sambil melihat Lin yang tengah berjalan di atas lumpur kotor.
“Uhhh, tidak perlu kak, aku bisa berjalan dengan perlahan,” balas Lin sambil mengangkat kaki kecilnya yang terbalut sepatu dengan penuh lumpur dibawahnya.
“Hahhh, aku tidak menyangka jika yang mereka maksud dengan tempat yang kurang bersih ini adalah daerah kumuh,” gumam Leo sambil mengerutkan keningnya.
‘Ini bahkan lebih buruk dari jalan pulang kearah panti asuhan saat musim hujan,’ batin Leo.
"Kak Zen, berapa lama lagi kita harus berjalan?” tanya Lin dengan pelan.
“Maafkan aku karena aku kehilangan jejak kedua kakak laki-laki tadi,” lanjut Lin dengan suara lemah.
“Tidak apa, itu bukan salahmu. Lagipula kita bisa melihat melalui peta dari handphone ku,” ujar Zen sambil mengelus kepala Lin dengan pelan.
‘Aku sangat bersyukur di daerah kumuh seperti ini masih memiliki sinyal untuk membuka peta di handphon ku,’ batin Zen sambil memperhatikan sekitar.
“Uh, sepertinya kita tidak perlu berjalan di atas lumpur lagi,” lanjut Zen sambil menatap restauran kecil (?) dengan beberapa poster makanan yang ada dihadapannya.
“Ah, aku tidak memperhatikannya,” ucap Lin sambil mengikuti tatapan Zen diikuti dengan tatapan Leo.
“Kalau begitu ayo kita masuk kedalam,” ucap Zen sambil melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam restauran kecil itu.
“Hmm, entahlah kurasa aku tidak terlalu menginginkan makanan lagi,” gumam Lin sambil menatap sepatunya yang tertutup lumpur.
“Kamu tidak bisa menarik ucapan mu kembali Lin,” ucap Leo lalu menarik tangan Lin untuk segera mengikuti Zen yang sudah berjalan terlebih dahulu.
Lin yang ditarik oleh Leo hanya bisa menghela nafas pasrah dan berdoa semoga restauran itu bersih, tidak seperti jalanan penuh lumpur yang baru saja dilewatinya tadi.
...----------------...
“Permisi…!” seru Zen sambil mendorong pelan pintu restauran kecil tersebut.
“Ahhh, seorang pelanggan? Mari masuk!” ujar remaja perempuan dengan senyuman diwajahnya.
“Ayah, kamu mendapatkan pelanggan lagi!” serunya kearah dapur.
“Owhh, seorang pelanggan, mari-mari silahkan duduk di kursi ini,” ucap pria paruh baya sambil berjalan menghampiri mereka.
“Ahhh, maaf merepotkan,” ujar Zen sambil duduk di kursi yang ditunjukkan.
“Tidak, tidak, bagaimanapun kalian adalah pelanggan disini, jadi apa yang ingin kalian pesan?” tanya pria paruh baya itu dengan senyum ramah sambil menjulurkan buku menu kearah mereka.
“Hmm, aku ingin memesan satu japchae, bagaimana dengan kalian berdua?” tanya Zen sambil menyerahkan buku menu kearah Leo dan Lin.
“Aku ingin satu jajangmyeon, bagaimana denganmu kak?” tanya Lin dengan semangat melupakan ucapannya tadi.
“Kalau begitu samakan saja pesanan ku dengan mu Lin,” jawab Leo.
“Baiklah, paman tolong satu japchae dan dua Jajangmyeon nya,” ucap Zen kepada pria paruh baya itu.
“Baiklah, satu japchae dan dua jajangmyeon akan siap dalam 20 menit, aku akan meminta anakku untuk menyajikan teh terlebih dahulu untuk kalian bertiga,” ujar pria paruh baya itu.
“Baiklah, terimakasih paman,” ucap Zen yang dibalas senyuman oleh pria paruh baya itu.
“Hmm, sepertinya makanan disini sangat enak! Aku bahkan bisa mencium aroma harum dari dapur!” seru Lin dengan semangat.
“Yah, kurasa kamu benar, terlebih lagi tempat ini tidak seperti yang aku bayangkan,” ucap Leo.
“Yak! Pasti kalian mengira jika tempat ini akan sangat kotor seperti diluar bukan?” ucap seorang perempuan sambil menyajikan teh kepada mereka bertiga.
“Ah! Maafkan aku, aku tidak bermaksud seperti itu,” ucap Leo dengan panik lalu menundukkan kepalanya.
“Pftt … tidak apa-apa, aku juga sudah terbiasa dengan ucapan seperti itu, lagipula ini memang salah kami karena memilih lokasi yang salah untuk mendirikan restauran,” ujar perempuan itu.
“Memangnya kenapa kakak mendirikan restauran disini?” tanya Lin dengan bingung.
“Lin, itu pertanyaan yang tidak sopan. Aku minta maaf karena perkataan tidak sopan dari adikku,” ucap Leo.
“Tidak apa-apa, kamu tidak perlu meminta maaf untuk pertanyaan sepele seperti itu. Kakekku yang mendirikan restauran disini dan sebelum kakekku meninggal, dia meminta tolong kepada ayah untuk tetap menjalankan restauran ini,” jelas perempuan itu sambil memasang senyum tipis diwajahnya.
“Begitu,” ucap Lin sambil menganggukkan kepalanya.
“Tapi bukankah sayang jika kakak tidak mendirikan usaha di tempat yang bagus? Bahkan dari bau masakan yang dibuat oleh paman sepertinya makanan itu sangat enak! Kurasa jika kakak pindah tempat untuk berjualan, usaha kakak akan lebih banyak didatangi pengunjung!” seru Lin dengan senyum cerah diwajahnya.
“Hahaha, tapi sayang sekali paman ini masih tidak ingin meninggalkan tempat yang diwariskan oleh ayah paman,” ucap pria paruh baya itu sambil membawa nampan yang berisikan makanan kearah mereka.
“Hmm, sayang sekali tapi Lin akan mendoakan agar usaha paman didatangi banyak pelanggan dimasa depan!” seru Lin yang membuat pria paruh baya itu semakin tertawa lebar.
“Hahaha, baiklah, terimakasih atas doamu itu gadis kecil. Ini dia pesanan kalian silahkan dinikmati,” ujar pria paruh baya itu setelah meletakkan ketiga mangkuk di atas meja.
“Selamat makan semua!” ujar Lin lalu mulai makan dengan penuh semangat.
“Whoaa! Ini terasa sangat enak!” ucap Leo lalu kembali memasukkan sesendok jajangmyeon lagi di mulutnya.
__ADS_1
“Itu benar, apa paman tidak ada niatan untuk membuka cabang restauran saja?” tanya Zen sambil memakan japchae miliknya.
“Cabang restauran? Hahaha, aku tidak memiliki modal untuk itu, anak muda.”
“Bagaimana dengan distribusi makanan ke restauran terdekat? Oh, atau paman bisa mendistribusikan makanan paman di rumah sakit di depan sana,” ucap Zen memberikan idenya.
“Paman tidak perlu meninggalkan restauran paman ini dan paman mungkin mendapatkan keuntungan yang besar. Kudengar beberapa restauran juga menggunakan cara ini untuk meningkatkan hasil penjualan mereka,” lanjut Zen.
“Tapi bukankah rumah sakit itu sudah memiliki kantin? Bagaimana bisa aku melakukan distribusi di sana? Selain itu paman ini kurang percaya diri dengan hasil masakan yang dibuatnya,” jawab pria paruh baya tersebut.
“Apa? Masakan paman adalah yang paling enak! Aku juga pernah mendengar jika beberapa kantin rumah sakit menyajikan makanan yang kurang enak. Paman jangan pesimis seperti ini, aku yakin jika paman mengajukan kontrak, masakan paman pasti akan diterima!” seru Lin dengan semangat.
“Itu benar! Kenapa aku tidak terpikirkan ide ini sejak awal?” seru seseorang secara tiba-tiba.
“Kak Ash? Kukira kakak tidak akan datang karena jam istirahat tinggal 5 menit lagi,” ucap perempuan remaja itu kepada pria yang baru saja tiba.
“Maaf karena sedikit telat, aku tidak sengaja melihat anak kucing yang terluka saat perjalanan tadi, makanya aku mengantar kucing itu dahulu ke rumah sakit terlebih dahulu sebelum kembali lagi kesini,” jelas Ash.
"Dan paman! Kupikir tidak apa untuk melakukan distribusi makanan dengan pihak rumah sakit!” seru Ash dengan bersemangat.
“Eh? Apakah boleh?” tanya pria paruh baya itu dengan ragu-ragu.
“Tentu saja bo-“
//Bukkkk……
“Auchhh, kenapa kamu memukulku tiba-tiba?” seru Ash dengan tidak terima.
“Karena kamu sudah mengucapkan hal-hal aneh lagi,” ucap laki-laki disebelahnya.
“Paman, aku pesan dua bibimbap dan satu hoteok untuknya,” lanjut laki-laki itu sambil berjalan menuju kursi yang tidak jauh darinya.
“Tunggu, kenapa satu? Paman harus membuatkan tiga untukku!” seru Ash yang di balas dengan pukulan yang mendarat di kepalanya.
“Diam untukku Ash Aertemaies, tidak bisakah kamu tidak membuat masalah sehari saja? Aku bahkan heran kenapa orang sepertimu bisa dipromosikan menjadi dokter spesialis tahun ini,” ucap lelaki itu sambil menghela nafas lelah.
‘Aertemaies? Hahaha, sepertinya dewa benar-benar mempermudah ku untuk mencari sekutu,' batin Zen dengan senyuman diwajahnya.
“Memangnya kenapa jika aku menginginkan lebih banyak? Lagipula aku yang akan membayarnya bukan kamu!” ujar Ash dengan bibir sedikit dimajukan.
“Terkadang aku heran, mengapa kamu bisa menjadi dokter?” ucap laki-laki itu dengan nada mengejek.
“Yak! Berhenti mengejekku! Tentu saja aku bisa menjadi dokter karena kemampuanku yang hebat ini! Jadi paman, tolong 2 bibimbap dan 3 hoteok!” ucap Ash masih tetap dengan pendiriannya.
“Apakah tidak apa-apa? Bukankah jika memakan makanan manis terlalu banyak akan membuat gigimu sakit?” tanya Lin dengan tiba-tiba.
“Lihat! Bahkan anak kecil sepertinya tahu jika memakan makanan manis terlalu banyak akan membuat gigimu sakit, lalu kenapa kamu masih menginginkannya hah?” seru laki-laki itu sambil mencengkeram kerah sahabatnya dan mengguncangnya dengan pelan.
“Apa? Kamu menyamakan ku seperti anak kecil? Hei, apa kamu lupa umurku? Hal itu hanya berpengaruh untuk anak kecil, bukan untuk orang dewasa sepertiku!” jawab Ash sambil mengelak dari cengkeraman sahabatnya itu.
Lin yang mendengarnya hanya mengedipkan mata dengan bingung lalu mengalihkan pandangannya kearah Zen.
“Benarkah itu?” tanya Lin dengan nada bingung.
“Ya! Apa kamu tidak percaya kepadaku? Aku ini seorang dokter!” ucap Ash menyela jawaban Zen.
“Kalau begitu, aku bisa memakan banyak permen saat dewasa bukan?” tanya Lin dengan mata berbinar.
“Tentu sa-“
//Bukkkkk…………
“Yak! Kenapa kamu melayangkan tanganmu kepadaku, hah?!”
“Diam, sebelum tanganku bergerak lagi untuk memukulmu!” ucap Zen dengan senyum mengerikan diwajahnya yang membuat Ash bergetar karena takut.
“Dan Lin, kamu tetap tidak bisa memakan banyak permen saat dewasa, itu tidak baik untuk gigimu,” ucap Zen dan mengalihkan pandanganya kearah Lin.
“Tapi kata kakak dokter itu…-“
“Abaikan saja, dia itu bukan dokter sungguhan,” ucap Zen dengan acuh sambil memakan japchaenya dengan santai.
“Hei!!!” seru Ash dengan tidak terima.
//Bukkkkk……………
“Maafkan dia, aku akan mengawasinya dengan benar lain kali,” ucap laki-laki itu, mengabaikan Ash yang sedang membalikkan badan kearah dinding sambil mengusap kepalanya dengan pelan.
“Maaf karena telat memperkenalkan diri, namaku Rav Barton dan laki-laki aneh itu adalah Ash Artemaies,” ucap Rav sambil mengulurkan tangannya kepada Zen.
“Namaku Zen, anak perempuan itu adalah Lin Rodriguez dan anak laki-laki itu Leo Rodriguez, mereka kakak beradik,” ucap Zen dengan ramah sambil membalas jabat tangannya.
“Salam kenal kak Rav dan kak Ash,” ucap Lin dengan lambaian tangan dan anggukan singkat dari Leo.
“Salam kenal juga untuk kalian dan sekali lagi aku minta maaf atas nama laki-laki itu,” ujar Rav sambil menunjuk Ash yang masih memalingkan tubuhnya menghadap ke dinding.
“Tidak masalah! Lagipula aku yakin jika makan gula terlalu banyak akan menyebabkan gigimu sakit. Lin pernah merasakannya dan itu benar-benar sakit,” ucap Lin sambil menyentuh pipinya seolah-olah dia bisa membayangkan rasa sakitnya.
“Hahahaha, kamu benar-benar anak yang pintar! Tidak seperti seseorang yang aku kenal,” ucap Rav sambil mengelus pelan rambut Lin yang membuatnya tertawa kecil.
“Baik-baik, aku tahu aku salah, jadi berhenti mengejekku!” ucap Ash dengan lesu.
“Oho, aku tidak menyebutkan namamu lho,” ucap Rav dengan senyuman aneh diwajahnya.
Zen yang melihat senyum aneh di wajah Rav entah mengapa merasa ketakutan.
‘Bukankah senyum itu mirip dengan senyum seseorang yang kukenal?’ batin Zen bertanya-tanya lalu kembali mengingat-ingat di dalam memorinya.
‘Yak! Bukankah senyum itu mirip dengan senyum Max?! Jangan lupakan kalimat sakratis yang dikeluarkannya dari tadi!’ Batin Zen dan entah bagaimana leher belakangnya terasa dingin.
‘Aku tidak akan terlibat dengannya bukan? Tentu saja tidak, lagipula aku tidak mengenal seseorang bernama Rav, entah itu dari kehidupanku sebelum regresi ataupun lewat buku tua itu,” batin Zen sambil menenangkan pemikiran abstraknya itu.
__ADS_1
“Si-“ ucapannya terhenti saat melihat kedua anak dibawah umur yang ada didepannya.
“Akhhh! Aku tidak peduli dan aku tidak mendengarnya!” serunya sambil mengacak rambutnya dengan frustasi.
“Kenapa dengan kak Ash?” tanya Lin dengan bingung.
“Abaikan dia, mungkin saja dia kekurangan obat,” jawab Rav dengan santai yang dibalas anggukan oleh Lin dan lanjut memakan makanan miliknya.
“Kakak bilang, kakak seorang dokter bukan? dokter di bidang apa?” tanya Leo dengan penasaran.
“Aku berada di bagian penyakit dalam sedangkan dia berada di bagian saraf.” jelas Rav yang membuat mata Leo berbinar.
“Saraf? Itu keren! Kudengar itu salah satu bidang kedokteran yang sulit,” ucap Leo yang membuat Ash diam-diam memasang wajah bangga.
“Aku selalu ingin menjadi dokter,”gumam Leo dengan ekspresi iri.
“Kak, kamu tidak akan bisa menjadi dokter. Kekuatanmu terlalu mengerikan, bisa-bisa kamu mengacaukan semuanya,” ucap Lin membuat Leo menunduk sedih.
“Hahahah, kurasa kamu akan bisa jika belajar lebih giat lagi dimasa depan,” ucap Rav yang kembali meningkatkan semangat Leo.
“Baiklah, ini pesanan kalian berdua! 2 bibimbap dan 1 hoteok,” ucap anak perempuan pemilik restauran.
“Terimakasih karena membuat pesanan sesuai dengan yang ku pesan,” ucap Rav tersenyum lebar karena melihat jumlah pesanan yang tidak berlebihan.
“Hahaha, sama-sama. Lagipula aku juga harus mengawasi diet gula kak Ash agar tidak membuatnya sakit gigi seperti bulan lalu,” ucapnya lalu berbalik menuju dapur.
“Yak! Kalian berkolusi di belakangku! Aku tidak ingin berbicara lagi kepada kalian,” ucap Ash dengan nada merajuk.
“Berhenti bersikap seperti anak kecil dan cepat habiskan makananmu atau aku akan memakan hoteok milikmu ini, kita sudah melampaui jam istirahat kerja kamu tahu?”
“Tentu saja aku tahu!” ucap Ash dengan cepat mengambil hoteok yang ada di meja itu dan memakannya dengan lahap yang membuat Rav hanya bisa menghela nafas lelah.
...----------------...
“Kalian berdua sudah selesai bukan?” tanya Zen sambil melihat kearah Leo dan Lin.
“Yah, kami sudah selesai,” jawab Leo yang di angguki oleh Lin.
“Baiklah kalau begitu. Paman kami sudah selesai dan ingin membayar makanan kami!” ucap Zen dengan suara sedikit kerasa agar paman pemilik restauran yang berada di dapur mendengar suaranya.
“Baik dan tunggu sebentar di sana, paman akan segera ke depan!” balas lelaki tua itu dan bergegas untuk menghampiri mereka.
“Ini paman, sekali lagi terimakasih atas makanan yang sudah paman buat!” ucap Zen dengan senyuman cerah diwajahnya.
“Hahaha, bukan apa-apa seharusnya paman yang berterima kasih karena kamu sudah datang di restoran kecilku ini,” balas laki-laki tua itu dengan senyum ramah.
“Lin harap, Lin bisa merasakan masakan paman lagi!” ucap Lin dengan senyum bahagia.
“Itu benar, apa paman tidak ingin memikirkan untuk mendistribusikan masakan paman?” tanya Leo dengan pandangan berharap diikuti dengan Lin yang memandang lelaki tua itu dengan penuh harapan.
“Hahahah, akan paman pikirkan lain kali, tapi jika kalian menginginkan masakan paman, kalian bisa selalu datang di restauran kecil paman,” ucapnya sambil menepuk pelan kepala mereka berdua.
“Jika paman berubah pikiran paman bisa menghubungi aku, sepertinya aku bisa membantu paman sedikit,” ucap Zen sambil memberikan kartu namanya.
“Kurasa itu tidak perlu, tapi aku akan mengambil kartu namamu,” ucap lelaki tua itu dengan senyum tipis.
“Sampai jumpa lain kali paman dan tolong pikirkan kembali ide tadi,” ucap Zen lalu melangkahkan kakinya keluar.
“Sampai jumpa lain kali paman!” seru Lin sambil melambaikan tangannya yang diikuti dengan Leo.
“Sampai jumpa juga untuk kalian.”
...----------------...
“Ada apa denganmu kak?” tanya Lin yang dari tadi memperhatikan senyum bahagia di wajah Zen.
“Hm? Tidak ada, hanya mengingat sesuatu yang membuatku senang,” jawab Zen tanpa melunturkan senyumnya.
Lin yang mendengarnya hanya mengangguk singkat lalu mulai fokus kembali untuk mengobrol bersama Leo.
‘Kurasa seharusnya Ash mulai tertarik denganku bukan?’ batin Zen sambil membayangkan secara kasar reaksi Ash terhadap apa yang dilakukannya di restauran.
...----------------...
“Oho! ternyata nama marga anak muda tadi adalah Westerlock!” ucap lelaki tua pemiliki restauran tersebut.
“Anak muda yang memberikan ayah kartu namanya tadi?” tanya perempuan yang ada di sebelahnya.
“Iya, anak muda yang tadi,” balas lelaki tua pemilik restauran tersebut yang di angguki oleh anaknya.
“Westerlock? Sepertinya aku pernah mendengar nama marga itu,” ucap Ash.
“Tentu saja kamu pernah mendengarnya, bukankah laki-laki yang baru saja terlibat dalam proyek rumah sakit dua bulan lalu juga bermarga Westerlock?” ucap Rav yang membuat Ash memukul meja di hadapannya dengan keras.
“Itu dia! Apa laki-laki tadi salah satu kerabat dari orang menjengkelkan itu?” tanya Ash dengan menggebu-gebu.
“Yah, siapa tahu?" ucap Rav dengan santai sambil mengangkat kedua bahunya dengan acuh.
...| (❁❁) |...
...•...
...•...
...•...
Maaf jika ada typo yang tidak menyenangkan.
Jangan lupa Like, Vote, Komen nya ya Reader~San o(〃^▽^〃)o
Pengubahan jam update menjadi jam 12 siang ^^
__ADS_1
Instagram \= lmnr_vv