Survive In The Last Days : My Second Life

Survive In The Last Days : My Second Life
|(23) Pemindahan Transfer Pengadopsian|


__ADS_3

Warning : Karya ini hasil orisinal aku dan hanya karangan fiktif semata. Bahasa bisa saja kasar jadi dimohon untuk tidak menirukan nya.


...•...


...•...


...•...


Sebelumnya :


“Aku tahu, aku akan segera menyelesaikan saham ini. Terimakasih sudah mengingatkanku Neo,” balas Fin dengan senyuman tipis.


“Sudah sewajarnya sebagai sahabat bukan?” ucap Neo dengan dengusan pelan dan disambut tawa kecil dari Fin.


...| (❁❁) |...


“Lihat, apa kalian sekarang percaya kepadaku?” tanya Zen sambil menyerahkan buku tabungan miliknya.


“Ini … jumlah uang yang banyak,” gumam Leo sambil melihat buku tabungan milik Zen.


“Hah! Apa kalian percaya sekarang?” tanya Zen dengan nada bangga.


“Baiklah aku percaya padamu kak, tapi bukankah uang ini hanya cukup untuk 1 bulan? Jika kita menghemat dalam pembelian bahan makanan kurasa uang ini juga akan cukup untuk kita selama 3 bulan,” ucap Lin sambil menganalisis dengan singkat.


“Bukankah maksudmu kita tetap harus mencari pekerjaan sambilan, Lin?” tanya Leo yang di angguki oleh Lin sebagai jawaban.


“Hahhhh, aku sudah bilang kepada kalian jika itu tidak perlu, bukan?” ucap Zen sambil menghela nafas lelah.


“Lalu darimana kakak akan mendapatkan uang untuk kebutuhan kita kedepannya?” tanya Lin dengan nada ragu.


“Hal itu yang ingin aku bahas dengan kalian sekarang,” ucap Zen dengan nada suara rendah yang membuat kedua bersaudara itu merasakan firasat buruk.


“Apa maksudmu kak?” tanya Leo.


“Aku akan mengalihkan nama wali di prosedur pengadopsian kalian,” ucap Zen dengan pelan.


“Tunggu! Maksud kakak, kakak ingin mengembalikan kami ke panti asuhan?” tanya Leo dengan nada tidak percaya.


“A-apa kakak tidak menginginkan kami berdua lagi?” tanya Lin dengan nada suara bergetar.


“Kakak tolong jangan buang kami! Aku akan melakukan pekerjaan apapun agar kakak tidak membuang kami!” seru Lin sambil menghampiri Zen dan memohon kepadanya.


“Itu benar! Aku bisa mencari pekerjaan dan menghasilkan uang untuk kita! Tapi aku mohon agar kakak tidak mengembalikan kami ke panti asuhan,” ucap Leo dengan air mata yang sudah mengenang di kedua matanya.


“Pfttt…… Hahahahahaha!” tawa Zen bergema dengan keras yang membuat kedua bersaudara itu menatap Zen dengan bingung.


“Hahaha, kenapa kalian berpikir kearah sana?” tanya Zen setelah berhasil mengendalikan tawa yang keluar dari mulutnya.


"Ya? Bukankah kakak yang mengatakan ingin mengalihkan nama wali di dalam prosedur pengadopsian kami? Jika wali kita bukan kepala pengurus panti asuhan kembali, lalu siapa?” tanya Leo dengan bingung.


“Pftttt, kalian harus mendengarkan ku selesai berbicara terlebih dahulu sebelum menyimpulkan seperti itu. Terlebih lagi bukankah kalian melihat sendiri jika aku sudah menyerahkan bukti transaksi gelap pengurus panti kalian kepada polisi? Kepala pengurus panti asuhan itu pasti sudah berada di kantor polisi untuk menerima hukumannya , jadi kalian tidak perlu takut lagi,” jelas Zen panjang lebar sambil mengambil tisu yang berada di atas meja dan mengusapkannya dengan lembut di kedua kelopak mata Lin yang kini meneteskan air mata.


“Ji-jika bukan begitu lalu…?” tanya Lin.


“Aku akan memindahkan nama wali yang berada di prosedur pengadopsian kalian menjadi atas nama kakakku,” ucap Zen lalu mengambil selembar tisu lagi dan memberikannya kepada Leo.


“Kakak?” tanya Lin dengan bingung.


"Yah, seperti yang kalian dengar, kakak. Aku mempunyai seorang kakak laki-laki yang berbeda tiga tahun dari umurku sekarang,” jelas Zen kepada mereka.


“Itu akan lebih mempermudah kalian karena memiliki wali yang akan secara sah di mata hukum dibandingkan denganku yang masih berumur 17 tahun,” lanjut Zen yang membuat kedua bersaudara itu terdiam.


“Tapi apa tidak apa-apa? Maksudku kita berdua tidak memiliki hubungan apapun dengan kakak kak Zen,” ucap Leo dengan nada pelan.


“Tidak apa-apa, aku sudah berbicara dengannya mengenai kalian berdua. Bahkan ide untuk pemindahan transfer kalian berdua berasal darinya,” balas Zen dengan lembut.


“Lagipula kakakku memang menyukai anak kecil seperti kalian terutama anak kecil yang seumuran dengan Lin. Dia adalah laki-laki yang berhati lembut terlebih lagi terhadap anak-anak,” ucap Zen sambil tersenyum tipis.


“Tapi itu tidak memberikan solusi untuk masalah kita,” ucap Lin.


“Tentu saja itu memberikan solusi, kalian tahu kakakku termasuk kedalam golongan orang yang memiliki banyak uang!” ucap Zen dengan bangga.

__ADS_1


“Banyak uang?” tanya Lin.


“Lalu kenapa kakak tinggal di rumah ini?” lanjut Lin sambil menatap Zen dengan bingung.


“Itu karena rumah ini dekat dengan sekolah dan lagi aku hanya tinggal seorang diri, aku tidak terlalu membutuhkan banyak ruangan,” ucap Zen berbohong dengan sangat lugas yang dibalas dengan pandangan ragu kedua bersaudara itu.


“Hahhh, sudah kuduga kalian tidak akan percaya,” ucap Zen sambil mengusap belakang lehernya dengan canggung.


“Bagaimana dengan marga Westerlock, apa kalian berdua pernah mendengarnya?” tanya Zen yang membuat Lin semakin bingung.


“Westerlock? Bukankah itu nama marga orang yang menemukan obat penghenti pendarahan yang beredar saat ini? Dikatakan juga dia memiliki IQ yang tinggi dan merupakan salah satu orang yang memiliki banyak sekali kontribusi terhadap negara,” ucap Leo dengan mata berbinar.


“Whoaa, kamu tahu cukup banyak rupanya,” ucap Zen sambil memandang Leo dengan takjub.


“Tentu saja! Dia adalah salah satu idolaku! Terlebih obat penghenti pendarahan yang dibuatnya belum lama ini sangat efektif dan karena obat itu juga penyakit lama yang diderita Lin membaik!” ucap Leo dengan kagum.


“Penyakit lama?” tanya Zen dengan bingung.


“Ah, Lin memiliki penyakit hemofilia, luka pendarahan yang dialaminya akan sangat susah untuk dihentikan. Terlebih lagi kakak tahu bagaimana keadaan kami. Karena itu aku sangat bersyukur dengan obat penghenti pendarahan yang dibuat olehnya, Lin tidak harus mengalami pendarahan yang hebat setiap kali dia terluka,” ucap Leo.


“Ahhh, begitu,” ucap Zen sambil mengelus kepala Lin yang masih menatap bingung kearah mereka berdua.


'Kak, kamu menyelamatkan orang kembali,’ batin Zen sambil memuji kakaknya dengan bangga.


“Jadi dia yang membuat obat itu,” gumam Lin sambil menundukkan kepalanya.


“Lalu apa hubungannya dengan marga Westerlock yang kakak sebutkan?” tanya Leo yang kembali kedalam topik pembicaraan mereka.


“Hm? Bagaimana jika aku mengatakn dia adalah kakakku?” tanya Zen yang dibalas dengan tatapan bingung Leo dan Lin.


“Dia kakak kak Zen?” tanya Leo dengan tidak percaya.


“Yah, tentu saja kalian tidak akan percaya. Mungkin tidak akan ada orang yang percaya sebelum aku menunjukkan buktinya,” ucap Zen yang dibalas gelengan kuat oleh Lin.


“Tentu saja aku percaya! Lagipula kak Zen tidak mungkin berbohong kepada kami!” ucap Lin dengan keras.


“Itu benar, aku akan percaya kepada kak Zen. Kak Zen adalah orang yang baik, bagaimana mungkin kakak berbohong kepada kami. Hanya saja ini terlalu sulit untuk dipercaya,” ucap Leo yang tiba-tiba membuat Zen sedikit merasa bersalah.


“Aku tidak akan menyalahkan kalian jika kalian tidak percaya, toh memang sangat sulit untuk mempercayainya. Bagaimana dengan foto? kurasa foto akan memberikan bukti yang kuat,” ucap Zen lalu bangkit dari duduknya.


“Kalau begitu kalian harus mengikuti ku kedalam kamarku akan aku tunjukan beberapa fotoku bersama kakakku,” ucap Zen lalu beranjak pergi yang diikuti oleh kedua bersaudara itu dari belakang.


...----------------...


“Ini benar-benar tuan Westerlock!” seru Leo dengan bersemangat sambil menatap kagum kearah pigura yang berada di atas meja belajar Zen.


“Kakak benar-benar adik dari tuan Westerlock?” tanya Lin.


“Ini benar-benar sulit untuk dipercaya,” ucap Lin yang disambut dengan tawa kecil dari Zen.


“Tentu saja! Ah, dan kalian tidak diperbolehkan untuk memanggilnya dengan tuan. Jika dia mendengarnya mungkin saja dia tidak akan menerimanya,” ucap Zen.


“Lalu kami harus memanggilnya dengan sebutan apa?” tanya Leo dengan bingung.


“Hmm, bagaimana jika kalian memanggilnya dengan sebutan ayah? Aku sedikit penasaran bagaimana dengan reaksinya jika kalian memanggilnya seperti itu,” ucap Zen sambil terkekeh geli.


Leo yang mendengarnya hanya merona lalu membalikkan badannya kearah pigura yang berada di atas meja belajar tadi.


“Lupakan saja, aku akan tetap memanggilnya dengan sebutan tuan,” gumam Leo dengan wajah memerah.


“Hahaha, untuk informasi kalian, waliku saat ini juga kakakku. Jadi mulai sekarang kalian harus menganggap ku sebagai saudara kandung kalian. Jika kalian mengalami masalah kalian juga bisa bercerita kepadaku, oke?” tanya Zen yang di angguki pelan oleh kedua bersaudara itu.


“Ja, karena aku sudah menjelaskannya kepada kalian dan kurasa kalian tidak memiliki bantahan. Sekarang kalian harus membersihkan diri kalian. Aku sudah memasakkan air panas untuk kalian tadi. jadi pakailah kamar mandi ku secara bergantian dan pakai baju yang sudah kalian beli di toko baju oke?”


“Dan untukmu Lin, jangan lupa oleskan salep mu di bagian lukamu, jika kamu tidak bisa melakukannya kamu bisa meminta tolong kepada kakakmu, aku akan pergi memasak untuk makan malam,” jelas Zen dengan panjang lebar.


“Ahh, baiklah. Apa kak Zen tidak butuh bantuan untuk memasak? Aku dan kakakku juga cukup pandai untuk melakukan ini,” jelas Lin.


“Itu tidak diperlukan karena aku hanya akan membuat sesuatu yang sederhana untuk makan malam kali ini. Bahan yang ku beli hanya tersisa sedikit dan aku belum berbelanja kembali. Untuk pakaian kalian berdua ada di atas kasur, aku belum sempat untuk merapikannya, kalian bisa merapikannya di dalam lemari bagian ini,” ucap Zen yang dibalas anggukan oleh kedua bersaudara itu.


“Ja, aku akan pergi memasak sekarang dan akan ku bawakan air panas kesini nanti,” ucap Zen.

__ADS_1


“Tidak perlu! Biar aku saja yang memindahkan air panas itu, kak Zen bisa fokus untuk memasak saja,” ucap Leo.


“Uhhh, baiklah kalau begitu, ayo ikut aku ke dapur untuk membawa air panas itu.”


“Baiklah!”


...----------------...


“Aku sudah mengurus kedua bocah itu, lalu sekarang apa yang harus aku buat untuk makan malam?” tanya Zen sambil memandang kulkasnya dengan bingung.


“Semua bahan yang ku punya adalah bahan makanan instan,” gumam Zen sambil mengambil bibimbap instan.


“Ini tidak baik untuk mereka berdua,” ucap Zen.


‘Tapi baguslah karena di sini banyak makanan instan, jadi aku tidak perlu repot untuk persiapan besok. Setidaknya ini cukup untuk kedua bersaudara itu sebelum aku membeli kembali bahan makanan untuk besok,’ batin Zen.


“Baik, pikirkanlah makanan simpel yang bisa kamu buat tanpa harus meledakkan dapur,” ucap Zen pada dirinya sendiri sambil berpikir dengan keras.


“Baiklah! Pertama-tama mari kita buat nasi untuk porsi tiga orang, kurasa aku bisa melakukannya,” ucap Zen lalu mulai bergerak untuk membuat nasi.


“Selesai! Selanjutnya aku mempunya tiga telur dan beberapa sayuran. Hmm, bagaimana jika membuat telur orak-arik dan campurkan beberapa sayuran didalamnya,” ucap Zen lalu mulai memecahkan ketiga telur tersebut dan mengaduknya.


“Tunggu, sayuran apa saja yang harus aku gunakan? Tidak, berpikirlah Zen … mari kita mengingat kembali sayuran apa yang digunakan oleh kakak saat membuat telur orak-arik?”


“Kurasa itu tomat dan sayuran berwarna hijau itu, tapi aku melupakan nama sayuran itu!” Seru Zen dengan frustasi.


“Hufttt, baiklah mari kita gunakan tomat saja untuk saat ini,” ucap Zen lalu mengambil tomat dari dalam kulkas.


“Oh! Bagaimana jika aku tambahkan beberapa sosis? kurasa itu tidak akan buruk,” ucapnya lalu mengambil beberapa sosis.


“Baik sekarang aku hanya perlu memasaknya dengan api kecil, ingat Zen api kecil dan jangan mengosongkan penggorengannya,” ucap Zen lalu mulai memasak dengan hati-hati.


...----------------...


“Kurasa ini tidak terlalu buruk bukan?” ucap Zen sambil melihat mahakarya yang dibuatnya itu.


“Setidaknya nasi yang ku buat sangat bagus! walaupun saat ku cicipi tomat itu sedikit lembek, tapi setidaknya ini semua bisa dimakan!” ucap Zen dengan percaya diri.


“Kakak, apa kakak sudah selesai memasak? Apa kakak membutuhkan bantuan?” tanya Lin yang baru saja bergabung ke dapur.


“Ah itu tidak perlu, aku sudah selesai memasak. Yah, walaupun ini hanya makanan sederhana dan ada beberapa kerusakan tapi setidaknya aku yakin ini masih bisa dimakan,” ucap Zen dengan ragu, entah pergi kemana kepercayaan dirinya tadi.


“Baiklah akan aku coba, selamat makan semuanya,” ucap Lin lalu mulai memakannya.


“Bagaimana rasanya?” tanya Zen dengan ragu-ragu.


“Ini enak,” ucap Lin lalu mulai menyuapkan makanan kembali kedalam mulutnya.


“Syukurlah,” ucap Zen lalu menghela nafas lega.


“Bagaimana menurutmu Leo?” tanya Zen kepada Leo yang sedari tadi diam.


“Ini enak, terimakasih atas makanannya kak,” ucap Leo dengan senyuman tipis.


“Bagus kalau begitu makan lebih banyak,” ucap Zen yang di angguki oleh mereka berdua.


Yah, begitulah kira-kira keadaan harmonis diantara mereka bertiga. Mari kita berikan applaus untuk Zen yang akhirnya bisa memasak tanpa harus mengalami kekacauan seperti gosong, keasinan, ataupun kekacauan lainnya.


...| (❁❁) |...


...•...


...•...


...•...


Maaf jika ada typo yang tidak menyenangkan.


Jangan lupa Like, Vote, Komen nya ya Reader~San o(〃^▽^〃)o


Instagram \= lmnr_vv

__ADS_1


__ADS_2