Survive In The Last Days : My Second Life

Survive In The Last Days : My Second Life
|(48) Ini Ide yang Paling Baik Bukan?|


__ADS_3

Warning : Karya ini hasil orisinal aku dan hanya karangan fiktif semata. Bahasa bisa saja kasar jadi dimohon untuk tidak menirukan nya.


...•...


...•...


...•...


Sebelumnya :


Yah, mari minus kan senyuman yang ada di wajah Zen yang hampir mirip sebelas dua belas dengan milik Max, tapi tentu saja itu tidak menghalangi persepsi Leo yang menganggap jika Zen sangat keren dimatanya.


Ah, sepertinya memang mata kedua anak itu yang sudah salah karena menganggap orang yang sedang membunuh zombie adalah sesuatu yang keren.


...| (❁❁) |...


“Sudah?” tanya Zen sambil mengelap moncong pistol miliknya yang memang terkena sedikit bercak darah milik zombie.


“Seperti yang kau lihat,” ujar Max dengan santai sambil memeriksa setiap inci bajunya takut-takut jika bajunya terdapat percikan darah dari zombie yang dibunuhnya.


“Kalau begitu segera isi botol yang kuberikan dengan bensin, kau tidak ingin para zombie itu kembali merepotkan kita bukan?” tanya Zen yang membuat Max mendengus pelan dan segera melakukan tugasnya.


“Jadi, Max apa yang kau berikan kepada Lin?” tanya Zen memecahkan keheningan yang ada.


“Huh? Memberikan apa?” tanya Max dengan berpura-pura tidak mengerti.


“Huh, kau tahu apa maksudku bukan?” tanya Zen yang membuat Max terkekeh pelan.


“Hanya memberikan alat pertahan diri untuknya, kamu tidak mungkin membiarkannya tidak memegang senjata di dunia yang kacau balau seperti ini bukan?” tanya Max sambil menutup botol yang sudah terisi penuh dengan bensin.


“Alat? Kamu tidak memberikan hal yang macam-macam kepadanya bukan?” tanya Zen sambil menatap Max dengan serius.


“Hanya pisau lipat kecil, memangnya apa yang kamu harapkan? Kamu berharap aku hanya memberikan semprotan cabai kepadanya untuk menyerang zombie? Bisa-bisa dia di makan duluan oleh zombie itu,” ujar Max yang membuat Zen memukul kepalanya dengan penuh kasih sayang.


“Yak! Kenapa kau memukulku?!” tanya Max dengan tidak terima.


“Jangan berbicara buruk mengenai adikku!” peringat Zen yang membuat Max mendengus.


“Kau terlalu posesif dengan kedua adikmu, terutama Lin,” ujar Max yang membuat Zen menghela nafas pelan.


“Dia perempuan dan umurnya baru menginjak 7 tahun!” ucap Zen.


“Aku tahu, kamu kira aku tidak tahu? Tapi kamu juga tidak bisa mengekangnya seperti itu. Jika kamu tidak merubah sikapmu, kamu hanya akan membuatnya merasa seperti dia tidak berguna,” ucap Max yang membuat kening Zen berkerut.


“Kenapa kamu berpikir seperti itu?” tanya Zen yang dibalas dengan acuh oleh Max.


“Karena aku pernah merasa seperti itu? Sudahlah lakukan tugasmu sekarang. Aku sudah mengisi seluruh botol ku,” ujar Max yang membuat Zen segera melakukan tugasnya.


“Apa kamu bisa menjelaskan rencana mu lebih jelas?” tanya Max.


“Tentang racun pelumpuh itu?” tanya Zen yang dibalas dengan anggukan oleh Max.


“Yah, seperti yang kau dengar, aku berencana menyebarkan racun itu menggunakan benang yang cukup tajam seperti benang layangan atau kail pancing,” jelas Zen dengan pelan.


“Lalu dimana kamu akan meletakkan itu semua?” tanya Max yang membuat Zen tersenyum pelan.


“Di atap sebuah gedung tinggi,” ujar Zen yang membuat Max menatapnya dengan aneh.

__ADS_1


“Gedung tinggi? Tunggu kau ingin membunuh kita? Jika itu gedung tinggi maka hanya ada gedung rumah sakit, perusahaan, dan apartment maupun hotel. Dan semua tempat itu memiliki kemungkinan populasi zombie yang tinggi,” jelas Max yang membuat Zen mendengus pelan.


“Aku tahu, kau pikir aku akan mengatakan ini sebelum memikirkan konsekuensinya?” tanya Zen.


“Lalu kenapa kamu tetap memilih ini?” tanya Max.


“Kamu ingin itu menjadi gedung rumah sakit yang kita tuju?” lanjut Max yang membuat Zen tersenyum riang.


“Bingo! Bukankah itu seperti membunuh dua burung dengan satu batu?” ucap Zen yang membuat Max kesal.


“Lalu bagaimana dengan persediaan kita? Kau ingin kita berjalan bolak balik di sana sambil mempertaruhkan nyawa kita kepada zombie yang berkeliaran di luar sana?” tanya Max yang membuat Zen mendengus kesal.


“Kau kira aku cukup kolot untuk melakukan hal kuno seperti itu? Tidakkah kamu pernah belajar mengenai gaya katrol?” tanya Zen.


“Tentu saja aku pernah belajar itu, kau kira aku murid bodoh? Hanya saja kau ingin menerapkan prinsip itu dengan gedung rumah sa-“ ucapan Max terhenti sejenak saat sekelebat ide muncul dihadapannya lalu menatap Zen dengan tatapan gila.


“Bentuk gedung rumah sakit di negara ini rata-rata berbentuk huruf l besar dengan sudut yang terbentuk adalah 90 derajat, dengan tinggi lima lantai yang setara dengan tinggi rata-rata 200 meter. bukankah itu sudah lebih dari cukup untuk mengangkat beban ringan seperti beberapa dus mie dengan menggunakan kain terpal?” ucap Zen yang membuat Max menatapnya seolah dia adalah orang gila.


“Hah! Anggap jika hipotesis mu berhasil. Lalu orang gila mana yang akan menjaga kardus mie itu dan membawanya ke sisi gedung?” tanya Max.


‘Tidak mungkin aku ataupun dia, dengan berat kita, itu hanya akan membuat rencana ini gagal. Ditambah kita juga harus menarik kain terpal itu dari kedua sisi agar bisa membuat itu terangkat keatas dengan sempurna,’ batin Max sambil berpikir sejenak sebelum menatap Zen dengan tidak percaya.


“Bukankah kita memiliki kandidat yang bagus?” tanya Zen yang membuat Max menentang dengan keras.


“Tidak! Mereka masih anak-anak jika kamu lupa!” ujar Max menolak dengan keras.


“Siapa bilang mereka? Aku hanya mengunakan salah satu, sepertinya Lin sangat cocok untuk ini mengingat dialah yang teringan diantara kita,” ucap Zen dengan santai.


“Kutarik kembali perkataan mu yang mengatakan jika kamu terlalu protektif dengan mereka, kamu adalah seorang kakak yang benar-benar gila!” maki Max yang justru membuat Zen tertawa.


“Sejak kapan aku mengatakan jika aku akan terus melindungi mereka, aku harus membuat mereka cepat untuk beradaptasi dan kebetulan ada tugas yang cocok untuk mereka jadi kenapa tidak?” tanya Zen dengan santai.


“Tapi darimana kamu ingin mendapatkan terpal sepanjang itu?” tanya Max.


“Maksudku, kamu bahkan tidak mengukur seberapa Panjang terpal yang harus kita gunakan, bagaimana jika kita tidak memiliki itu?” lanjut Max yang memuat Zen terdiam.


“Dan itulah yang sedang ku pikirkan, aku memang sudah mensurvei beberapa toko dan terpal terpanjang yang kutahu hanya memiliki panjang 150 meter dengan lebar 100 meter,” ucap Zen yang membuat Max berpikir sejenak.


“Itu berarti kamu memperkirakan jika panjang sisi gedung itu antara 120 meter dengan lebar 90 meter?” tanya Max yang dibalas dengan anggukan oleh Zen.


“Apa kamu tidak memperkirakan seberapa banyak tenaga yang harus kita keluarkan hanya untuk menarik terpal itu?” tanya Max.


“Ck, kamu bisa memperkirakan beratnya secara kasar adalah 1,5 kilogram, tapi berapa banyak kekuatan yang harus dipakai hanya untuk membuatnya naik keatas dengan tinggi gedung yang hampir mencapai 200 meter itu?!” lanjut Max dengan frustasi.


"Aku sudah mempertimbangkan itu dan kurasa itu bukan hal yang mustahil, walaupun kita tidak berhasil untuk mengangkat terpal itu kita bisa menerapkan prinsip gaya katrol di terpal," ujar Zen yang membuat Max terdiam.


'Aku tahu itu dan aku sadar dia tidak mungkin mengatakan ini jika tidak yakin dengan rencananya setidaknya sebanyak 80%! Hanya saja aku tidak yakin bagaimana dengan perasaan anak-anak,' batin Max sambil terdiam di sana.


“Hahaha, ditambah kita harus menariknya dengan perlahan agar tidak membuat Lin terjatuh dari sana,” ujar Zen dengan kekehan ringan.


“Kamu mungkin harus mengunakan semua energi yang ada di tubuhmu untuk melakukan semua itu,” lanjut Zen sambil menunduk kebawah.


“Ha, andai jika rumah sakit itu memiliki keajaiban dengan helikopter yang ada di sana, bukan tidak mungkin jika aku harus menggagalkan rencana ini,” lanjut Zen yang membuat Max menatap kearahnya.


“Bagaimana dengan lupakan saja rencana ini dan mari lakukan secara manual?” tanya Max membuat Zen menggelengkan kepalanya pelan.


“Itu akan membahayakan kita semua dan menguras energi maupun persediaan senjata kita,” ujar Zen dengan suara pelan.

__ADS_1


“Aku tidak bisa menggambil keputusan bodoh seperti itu, terlebih lagi akulah yang bertanggung jawab atas kalian,” jelas Zen yang membuat Max menghela nafas pelan.


“Hah, kau bahkan tidak memikirkan air panas untuk memasak semua makanan instan itu bukan?” tanya Max yang membuat Zen menggeleng pelan.


“Kau kira mengapa aku memilih rumah sakit? Di rumah sakit banyak sekali zat kimia yang bisa aku gunakan, terlebih untuk membuat api dari zat kimia bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan walaupun itu memiliki resiko yang cukup besar,” ujar Zen.


“Yah, walaupun kau gagal, kantin rumah sakit selalu berada di lantai atas,” ujar Max lalu tertawa pelan.


“Keputusan yang ku ambil tidak salah bukan?” tanya Zen dengan tiba-tiba setelah keheningan singkat.


“Jika aku memikirkannya dengan kepala dingin kurasa itu adalah keputusan paling rasional untuk memastikan kita baik-baik saja tanpa harus mengambil resiko kehilangan anggota maupun harus luntang-lantung dalam pengejaran zombie,” menjawab sambil melihat kearah mobil yang mereka kendarai.


Kini bisa dikatakan jika mobil itu dalam kondisi yang buruk karena memiliki beberapa baret kecil maupun besar dan bercak darah yang memenuhi seluruh bodi mobil.


“Hahh, entah kenapa aku selalu merasa jika ada keputusan yang jauh lebih aman daripada ini,” ujar Zen sambil menghela nafas pelan.


‘Jika itu kakak, maka keputusan apa yang akan dia ambil?’ batin Zen bertanya-tanya.


“Mau bertaruh?” tanya Max dengan tiba-tiba yang membuat Zen tersadar dari lamunannya.


“Aku bertaruh jika Lin akan menolaknya dan Leo menentangnya dengan keras!” ujar Max yang membuat Zen tersenyum tipis.


Dia tahu jika Max sedang mengalihkan perhatiannya untuk membuatnya tidak terlalu memikirkan ini, tapi tidak ada salahnya bukan untuk menanggapi?


“Ingin bertaruh mengenai itu?” tanya Zen yang membuat Max mengangkat satu alisnya.


“Aku bertaruh jika mereka akan menerimanya dengan senang hati,” ujar Zen dengan percaya diri.


“Hah! Jangan bilang jika kamu sudah mencuci otak mereka?” tanya Max yang dibalas dengan tatapan tajam oleh Zen.


“Tentu saja tidak! Jika kamu ingin tahu, mereka sudah lama melakukan hal yang jauh lebih ekstrim dibandingkan saran yang ku berikan ini. Kau kira aku tidak menimbangkan perasaan mereka?” tanya Zen yang hanya dibalas dengan dengusan pelan oleh Max.


‘Tentu saja ini kurang dari semua hal yang sudah mereka lalui, bukankah Leo pernah mencuri uang di umurnya yang baru menginjak 7 tahun dan harus menderita pukulan dari para warga hanya untuk membelikan adiknya susu bubuk?'


'Bahkan Lin sudah berani mengambil resiko untuk mengambil uang kepala panti walaupun dirinya harus mendapatkan hukuman berupa pukulan dari kepala panti brengsek itu. Membuatnya berdiri di ketinggian sejauh 200 meter tidak jauh lebih ekstrim dari apa yang sudah pernah mereka lalui,’ batin Zen.


“Yah, setidaknya aku akan memastikan mereka semua baik-baik saja pada akhirnya,” ujar Zen dengan pelan.


Max yang melihat itu hanya melirik singkat kearahnya sebelum menghela nafas dengan pelan.


“Yah, aku akan memastikan semuanya dengan benar agar kamu bisa benar-benar rileks,” ujar Max yang dibalas dengan senyuman tipis oleh Zen.


“Jadi bagaimana? Apa kamu masih ingin bertaruh?” tanya Zen.


“Hentikan semua omong kosong ini sialan!” maki Max yang membuat Zen kembali tertawa.


...| (❁❁) |...


...•...


...•...


...•...


Maaf jika ada typo yang tidak menyenangkan.


Jangan lupa Like, Vote, Komen nya ya Reader~San o(〃^▽^〃)o

__ADS_1


Instagram : lmnr_vv


__ADS_2